
Mendapat sebuah peringatan gama langsung menatap serius ayahnya " aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, aku akan berusaha bersikap adil antara tujuan dan memprioritaskan gania" tegas gama sangat yakin.
" God. itu baru putra ayah. tapi jika kau teledor tidak lupa kan pesan ayah" sahut Wijaya menaik turunkan alisnya.
" Cih, apa ayah berniat ingin memiliki gania, aku merasa seperti sedang bersaing bersama ayah untuk merebutkan gania" tanya gama menuntut, merasa kesal atas sikap ayahnya yang ikut campur urusan pribadinya.
"slow boy. jangan emosi ayah hanya berjaga jaga sewaktu waktu kau perlu bantuan ayah bersedia membantu mu" ledek Wijaya pada putranya yang sedang menatapnya penuh emosi.
Gama semakin terbakar emosi akan perkataan ayahnya. " jika ayah ingin membuat mood ku rusak lebih baik pulang ke mansion saja, mengganggu pekerjaan ku saja" seru nya memutar bola matanya jengah.
" Ayah hanya bercanda untuk menghiburmu bocah datar tapi tunduk di hadapan gania " seloroh Wijaya tak henti hentinya mengejek putranya itu.
" Bodo amat, aku begini juga berkat faktor gen dari ayah yang tunduk kepada ibu juga" balas gama tersenyum miring mengatakan fakta tentang ayah nya yang bucin dengan telak.
Pipi Wijaya langsung memerah saat sekilas muncul ingatan di kepala nya diwaktu masa muda dulu bersama mendiang istri tercintanya." Hais kau selalu mengungkit nya. itu memang mutlak dan benarnya tapi ayah berbeda darimu, kita sama sama tunduk pada wanita tapi beda cerita " ujar Wijaya menatap serius gama lalu mereka tergelak keras bersama.
"Ehem! permisi tuan ada kabar penting untuk anda" seru Vicky yang tiba tiba masuk kedalam ruangan. tentu membuat dua pria yang lagi tertawa lepas itu langsung menatap nya tajam.
"apa kau tidak bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk" tegur gama pada Vicky yang nyelonong masuk begitu saja keruanganya.
Vicky terdiam tak bisa berkata karena memang salah tidak mengetuk pintu lebih dulu." maaf tuan saya lupa, karena ingin cepat memberi tahu anda jadi tidak sempat mengetuk pintu" jawab nya sangat jujur.
Wijaya menelisik Vicky dengan tatapan penuh tanya." Haha apa sebegitu genting kau sampai lupa " seloroh Wijaya Diiringi gelak tawa.
__ADS_1
Di tatapnya Vicky yang sedang berdiri di samping nya itu. " Cepat katakan ada apa" tanya gama pada Vicky dengan wajah datar nya.
Vicky menarik napas dalam-dalam lalu mengangkat benda pipih di tangan nya dan melangkah mendekat kemeja bosnya. " ini tuan saya mendapat email jika anda harus datang ke tempat ini sekarang dan sangat penting katanya" jelas Vicky menunjukkan tablet miliknya di hadapan gama.
Gama mengambil benda pipih nan kecil itu dari tangan Vicky dan membaca email nya dengan tatapan memastikan." Seperti nya email ini tidak asing? apa ada kaitannya dengan rencana kita?" tebak nya setelah membaca isi dari pesan email tersebut.
"Bisa jadi tuan " sahut Vicky dengan cepat.
Wijaya memandang dua pria muda yang tengah berargumen pendapat. " boleh ayah beri saran" tanya Wijaya dengan serius.
Gama memberikan tablet nya kepada Vicky lalu menatap ayahnya cepat." untuk ?" jawab gama dengan kebingungan.
Wijaya mengusap wajah nya kasar tidak habis pikir akan pertanyaan polos putranya itu." Astaga gama kau itu seorang CEO. tapi berpikir terlalu lama untuk melakukan tindakan tegas" ujar nya mengejek putranya itu.
Wijaya menarik napas panjang." ya jika kau tau itu penting maka cepat lakukan jangan menundanya. dan ingat gunakan akal yang cerdik dan sehat untuk berpikir. jangan otak dan napsu karena itu akan menjerumuskan mu kejalan yang salah" Wijaya memberikan wejangan untuk putranya itu agar tidak salah jalan.
Vicky menahan tawa ketika melihat ekspresi bosnya yang sedang di gembleng oleh ayah." anda dengar itu tuan" ucap nya pelan.
gama langsung menatap tajam pada Vicky." tutup mulut mu atau ingin ku buat memar itu mulut" ancamnya melotot sengit.
"Baik bos" jawab Vicky patuh tak berkutik bergidik ngeri jika bosnya sudah mengeluarkan aura marahnya.
"Baik ayah aku akan ingat pesan ayah, tapi aku juga ada pertemuan penting dengan clien benar kan Vicky, apa ayah bisa membantu ku untuk mewakili menemui clien itu" balas gama yang bingung harus membagi waktu nya bagaimana?.
__ADS_1
"Siapa clien barumu itu biar ayah yang menghandle nya" tanya Wijaya dengan serius.
Gama mengambil ponsel lalu mengirim email pada ayahnya." sudah ku kirim data nya ke ponsel ayah, dia menawarkan proposal dengan keuntungan besar untuk perusahaan kita dengan kerja sama nantinya. tapi aku tidak yakin karena perusahaan nya itu masih kecil, bisa di katakan seperempat dari kekayaan perusahaan kita" jelas gama.
"Dan kamu ingin memastikan langsung bagaimana mana perusahaan sekecil mereka memberi tawaran dengan harga fantastis?" tebak Wijaya cepat.
"Tepat sekali ayah" sahut gama dengan cepat.
Wijaya membaca sebentar email itu." kau serahkan pada ayah, pak beni pemilik restoran terkenal di Jakarta dan perusahaan yang belum lama di rintis nya memiliki satu putri bernama susan, anaknya belum lama ini pulang dari luar negri setelah menyelesaikan studinya yang kedua, itu hasil informasi yang ayah cek langsung " jelas Wijaya setelah berhasil menggali informasi tersebut lewat ponselnya dengan cepat.
Gama di buat syok akan kegesitan ayah nya yang dengan cepat mendapatkan informasi itu." wow kau lihat Vicky ayah sangat handal sekali" serunya dengan bangga nya.
"kau benar tuan, dan anda kalah satu langkah dari tuan besar" balas Vicky tanpa sadar ucapan nya membuat gama langsung tersadar akan ejekan asisten nya itu.
kletak...
gama langsung melempar pulpen di tangan ke arah Vicky di sampingnya yang langsung mengenai kening mulus Vicky."berani kau mengatakan nya sekali lagi heh!" umpat nya penuh emosi.
"Aw. sakit bos" Vicky mengusap keningnya yang memerah.
" mau lagi !" ucap gama sinis.
"Tidak tidak, ini sudah merah tuan" lirih Vicky dengan wajah memelas nya.
__ADS_1
Gama tersenyum smirk kearah Vicky, dia sangat puas melihat ekspresi kesedihan asisten nya itu seperti bocah habis kalah bertarung dari temannya.