
Setelah Gama sudah pergi berangkat kekantor dan bi Inah kembali kedapur, Wijaya segera menghampiri Gania di meja makan yang tengah menangis tersedu-sedu. sesampainya di dekat menantunya Wijaya kembali menghela napasnya.
" Kalau kau terus menangis bisa-bisa mansion ini di penuhi genangan air seperti lautan dan menjadi tempat berselancar para turis. " kelakar Wijaya mencoba menghibur wanita itu dan usahanya pun berhasil terlihat senyum kecil diwajahnya yang sembab.
"Hhh, Ayah bisa saja," Gania tersenyum mendengar lawakan ayahnya rasa sesaknya sedikit menghilang. " Em-Ayah mau makan sama apa biar aku ambilkan," gania berusaha tetap tegar, ia hendak akan mengambil nasi, namun Wijaya menahan tangannya.
" Gania, ayah masih bisa mengambilnya sendri," Wijaya menggeser piring berisi nasi itu. " Jangan buang waktu mu hanya berdiam diri disini, lebih baik kau cepat susul suamimu nak."
" Menyusul ?" Gania yang belum tanggap itu menatap ayah mertuanya dengan bingung.
" Iya, Apa kau lupa kalau suamimu itu seminggu ini mengabaikan mu, sebaiknya cepat kau susul suamimu ke kantor." Jelas Wijaya penuh arti. Jujur, ia tidak sanggup menutupi kebenarannya kenapa putranya itu berubah, karena sebenarnya Gama ingin memberi sebuah kejutan untuk istrinya itu.
"Oh iya, Ayah benar, kenapa aku tidak berpikir sampai kesana." Gania merutuki dirinya sendiri, kenapa tidak terpikir olehnya mencari tahu penyebab suaminya berubah sejak kemarin-kemarin. Wijaya yang melihat itu tersenyum tipis.
__ADS_1
Bahkan berapa hari lalu Gania sempat menemani Vivi fitting baju di butik. Tapi, semenjak hari itu nomer Vivi tidak bisa di hubungi ketika Gania ingin bertukar cerita lewat telepon.
Dengan langkah terburu-buru Gania hanya melambaikan tangannya kearah Wijaya melewati pria itu setelah berhasil membawa ponsel dan tas kecilnya. satu tujuannya yaitu ingin segera sampai di perusahaan Wijaya Crop dimana sang suami berada.
Wijaya hanya tertawa kecil melihat tingkah polos menantunya, ia segera mengirimkan pesan teks pada gama jika dirinya tidak lagi ikut campur dalam rencananya dan hal tersebut membuat seorang pria di sebuah ruangan nampak frustasi.
Di ruang direktur utama.
" Apa! " Betapa terkejutnya Gama saat membaca pesan masuk di ponselnya yang di kirim Ayahnya barusan. " Bagaimana Vicky apa semuanya berjalan sesuai rencana, istriku sedang menuju kemari, aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun ." Ucap Gama dengan paniknya menatap Vicky dengan tajam.
Vicky menelan ludah nya bersusah payah, jika tuanya itu sudah marah maka kesalahan kecil pun akan di besar-besarkan. Apalagi ini menyangkut kejutan istimewa untuk istrinya. Bahkan beberapa hari ini dirinya harus lembur menemani tuanya kerja di kantor untuk menyibukkan diri supaya bisa pulang larut malam. sedangkan Seli sang wakil sekretaris itu harus rela pura-pura menjadi wanita penggoda di depan mata staff kantor terutama pegawai resepsionis yang tentunya akan menjadi tujuan pertama Gania pastinya.
" Aku dan Seli sudah mempersiapkan segalanya dan semuanya sudah beres tuan."
__ADS_1
" Iya tuan." Timpal seli ikut bicara membenarkan perkataan Vicky.
" Baiklah, Ayo kita pergi sekarang sebelum dia sampai. " Gama bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan diikuti oleh Vicky dan Seli, mereka akan pergi ke gedung hotel yang berada di kota Jakarta.
.
.
.
Di perusahaan Wijaya Crop.
" Pak, saya masuk dulu kedalam, jangan pergi sebelum saya kembali kesini, ya." Gania berkata dengan nada pelan pada pak sopir.
__ADS_1
Dengan di antar oleh supir pribadinya Gania sudah sampai di perusahaan suaminya dan kini berdiri di samping mobil sedan warna hitam sembari menatap gedung perkantoran yang menjulang tinggi di depan matanya.
" Siap nona." jawab pak supir sembari menatap kepergian nona nya memasuki loby kantor. Meskipun nonanya itu sedang banyak masalah, karena selama diperjalanan tadi nonanya itu terus melamun dan menangis lirih. Tapi sikap lembut nona mudanya terhadap para pelayan dan semua yang bekerja di keluarga Wijaya itu tidak pernah pudar semenjak dari pertama kali nonanya itu menginjakkan kaki di mansion Wijaya.