Cool But Love

Cool But Love
bab 103


__ADS_3

Keesokan harinya


Kabar kecelakaan Wijaya pun terdengar oleh Lilia Andre dan Vivi, dan pagi ini mereka berkunjung ke mansion Wijaya untuk melihat keadaan pak Wijaya.


" Bagaimana keadaan Ayah mu ?" Tanya Andre menghampiri Gama dan Gania yang berada di ruang tamu.


" Masuk saja ke kamar, Ayah ada didalam ." Sahut Gama dengan suara dinginnya. " Sayang antar mereka ke kamar ayah," Ucap Gama menatap Gania, Gaia yang mengerti mengangguk lalu mempersilahkan mereka masuk kedalam kamar ayah Wijaya.


Selang beberapa menit Gama yang memang duduk di sofa melirik kearah Andre yang berjalan keluar dari kamar lalu Gama kembali melihat ponselnya.


" Aku akan menghancurkan siapa pun yang berani melukai orang yang aku sayangi, lihat saja!" Sarkas Gama dengan sorot mata membunuhnya, ia tahu Andre hendak protes padanya.


" Itu harus bro, hhh aku kasihan melihat keadaan ayahmu, apa kau.."


" Tuan...!" Seru Vicky yang berlari kearah sofa membuat Gama dan Andre menatapnya dengan tajam.


" Vicky...!" Pekik ke-dua pria bersahabat itu bersamaan.


" Maafkan saya tuan, saya lupa" Ucap Vicky cengengesan. Dia lupa jika Gama tidak suka di kagetkan.


Gania, Lilia dan Vivi yang berada didalam kamar Wijaya mendengar keributan di luar kamar segera keluar dari ruangan untuk mengecek situasi yang terjadi.

__ADS_1


" Ada apa ini sayang," Tanya Gania duduk di samping suaminya." Vicky kapan kau datang?" Tanya nya lagi pada Vicky membuat ketiga pria itu menghela napasnya. Vivi dan Lilia pun ikut duduk di sofa.


Vicky langsung menjelaskan kepada Gama hari ini mereka akan menemui pria yang menculik istrinya, sudah di temukan dan berada di tempat penyekapan.


" Oh, ya aku sampai lupa Vicky!" Ujar Gama dengan dinginnya.


" Aku dan Vivi juga harus balik ke kantor bro, semoga om cepat sembuh ya,"Andre menepuk pundak Gama sambil melirik jam tangannya.


" Thanks Brader," Gama bersyukur memiliki sahabat seperti Andre, meski Andre mantan kasanova tapi Andre selalu membantu dirinya saat dirinya sedang kesulitan. Gama memandangi mobil Andre yang mulai menghilang dari pandangan.


" Sayang aku dan Vicky pergi dulu, kau baik-baik di rumah, jika mau pergi bawa pengawal," Ucap Gama mengecup bibir Gania sekilas.


"Oh mataku, mata suciku!" Pekik Vicky dalam hati. ia memilih segera keluar menunggu di mobil dari pada melihat bosnya yang mesum tak tahu tempat itu.


" Ishh kau itu malu ada Vicky disini," Gania mencubit perut Gama dengan gemas ." Aku pasti bisa jaga diri sendiri." Gania berkata dengan yakin Gama pun menoel hidung mancung istrinya lalu bergegas menuju mobilnya. Gania terkekeh geli dengan sikap mesum Gama ia memandangi mobil suaminya yang mulai menjauh.


Gania langsung memanggil bodyguardnya untuk menemani dirinya membeli perlengkapan bayi nanti siang, sambil menunggu dokter Ranti datang memeriksa Ayah Wijaya terlebih dahulu.


Di dalam mobil Gama terus menengok kesamping kearah jalanan sampai matanya terhenti saat terlihat seorang wanita memakai celana Jeans, dan hoddie menutupi kepalanya dan juga masker di mulutnya berjalan di pinggir trotoar terlihat menengok ke kanan dan kiri memperhatikan situasi sekitar.


" Bukankah itu Reni Vicky!" Pekik Gama menatap kearah depan.

__ADS_1


" Dimana tuan!" Vicky yang terkejut mendengar nya langsung menoleh kearah Gama di sampingnya.


" Itu di sana!" seru Gama Vicky pun mengikuti arah pandang Gama ke trotoar sekilas namun tidak melihat siapapun.


" Cepat sekali wanita itu menghilang!" pekik Gama terheran.


" Mungkin anda salah lihat tuan," ujar Vicky melirik bosnya yang terlihat jelas raut penasaran di wajah dingin itu. seingat nya Reni sudah pindah ke luar kota.


" Kau mungkin benar! " Sahut Gama dengan dingin sambil melihat mobil hitam yang melintas di seberang jalan. " Apa iya aku salah orang?" Gumam Gama. ia mencoba menepis pikiran buruk, itu mungkin bukan Reni dan hanya orang yang kebetulan mirip saja, Tapi, Gama masih ingat betul postur tubuh Reni yang tinggi dan ramping.


" Huff.. hampir ketahuan, untung gue masih hapal mobil Gama" Gerutu Reni keluar dari balik pagar sambil mengelus dadanya merasa lega tidak terlihat oleh Gama, lalu menoleh ke kanan dan sebuah mobil hitam berhenti di depan nya, iapun langsung memasuki mobil tersebut dan mobil itu langsung berjalan kembali.


" Bodoh! kenapa kau lama sekali, hah. kakiku pegal berjalan sejak tadi!" Maki Reni dengan sorot mata tajam kepada pria bertato yang duduk di jok pengemudi di depan.


" Sorry bos!" pria itu tersenyum penuh arti sambil tetap fokus menyetir. " Tapi anda cukup licik dan aku akui cerdik bisa cepat bersembunyi," Ujar pria itu semakin menyulut emosi Reni. ia ingin tertawa saat ingat Reni berlari tergopoh-gopoh mencari tempat sembunyi tadi.


" Kau ingin ku potong leher mu hah! Sudah cepat kita ke pusat perbelanjaan, dan setelah itu adalah tugasmu!" Reni berbicara dengan seringai licik di bibirnya. Tanpa berkata apa-apa pria bertato itu langsung menambah kecepatan mobilnya.


Ya, Niat nya pindah keluar kota Reni urungkan, hancurnya keluarga nya masih terekam jelas di ingatannya, dan beberapa bulan ini saham perusahaan Reni berkembang pesat di bidang properti dengan nama baru yaitu Exxon Crop meski tidak sebesar perusahaan Gama yang mempunyai saham dimana-mana.


Perasaan Reni kembali hancur ketika ibu dan ayah tercinta nya meninggal sebulan yang lalu karena penyakit darah tingginya dan pikiran stress. Dan Rani pun menutupi dari konsumsi publik kabar kematian orang tua nya itu.

__ADS_1


Suatu ketika saat ia terpuruk di titik terendah dan mabuk-mabukan di sebuah klub kemudian bertemu pria bertato tersebut, pria mantan preman itu merasa iba pada Reni dan bersedia membantu Reni.


__ADS_2