Cool But Love

Cool But Love
bab 109


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit kini Gama tengah terjaga di samping wanitanya ia menatap wajah pucat istrinya dengan penuh rasa sesak di dadanya, sudah satu jam setelah dokter OBGYN melakukan pemeriksaan medis pada wanitanya, namun Gania belum juga tersadar.


" Bahkan dalam tidur pun kau bermimpi buruk, maafkan aku sayang," Gumamnya dengan wajah sendu melihat raut wajah Gania yang pucat dan keringat bercucuran di keningnya. Dibelainya puncak rambut wanitanya penuh cinta. "Cukup ini yang terakhir tidak aku biarkan siapapun melukai mu lagi" Janji Gama dalam hati.


" Tuan, ini hasil pemeriksaan medis nya," Ucap Dokter wanita itu yang baru saja memasuki ruangan sembari menyerahkan amplop berwarna coklat pada Gama. Gama menoleh sekilas lalu mulai membaca isi dari hasil tes Obyn istrinya tak lupa juga melihat foto USG kandungan istrinya.


" Putra ...." Gama menatap dokter wanita itu tak percaya bercampur rasa bahagia, sang dokter pun menganggukkan kepalanya membenarkan dengan apa yang diucapkan oleh Gama seraya tersenyum lebar.


" Kau boleh pergi, terimakasih sebelumnya," Ucap Gama dengan wajah dingin lalu menciumi seluruh wajah wanitanya mencurahkan seluruh rasa bahagianya, kini mereka akan memiliki seorang putra pewaris penerus Wijaya Crop nantinya.


Kalau saja Gama itu bukan pemilik rumah sakit tempatnya bekerja saat ini, sudah dipastikan dokter Ranti ingin mencabik-cabik pria dingin dan datar itu, ia terus menggerutu sambil berjalan keluar dari ruangan setelah pamit dengan ramahnya pada Gama. Tanpa disadari oleh Ranti, vicky yang melihat sikap dokter Ranti justru ingin tertawa karena tahu penyebab kekesalan dokter Ranti adalah tuan nya.


" Ngh..." Gania membuka ke-dua matanya merasa tidurnya terusik. " Kak ... anak kita..." lirihnya mulai menangis mengingat kembali kejadian Reni begitu sadis menganiaya dirinya, kini rasa trauma kian melanda di pikirannya.

__ADS_1


" Putra kita pasti baik-baik saja, kau jangan menangis." Ujar Gama sembari menyelipkan anak rambut kebelakang telinga milik Gania yang menutupi kecantikan mata bening milik wanitanya.


" Putra ...." beo Gania yang semakin menangis histeris entah karena bahagia atau terkejut. Gama pun mendekap erat tubuh istrinya. Lama keduanya berpelukan hingga sampai Gama melihat Gania kembali tertidur pulas setelah kehabisan tenaga karena terlalu lama menangis.


" Bagaimana keadaan ponakan Tante." Tanya Lilia begitu khawatir ketika mendapat kabar dari Andre kalau Gania telah dirawat di rumah sakit, ia bersama tuan Wijaya dan juga Vivi datang ke rumah sakit dengan dijemput oleh salah satu bodyguard Gama.


Gama beranjak sambil memberi kode pada mereka untuk mengecilkan nada bicaranya karena istrinya baru saja tertidur.


" Syukurlah ...."


Baik Lilia, tuan Wijaya maupun Vivi bisa bernapas dengan lega setelah mendengar penjelasan Gama barusan, setidaknya anak yang berada dikandungan Gania masih selamat.


" Aku titip Gania sebentar, ada hal penting yang harus aku selesaikan dulu," Gama menitipkan Istrinya pada ayahnya dan juga mereka, ia percaya pada ayahnya karena ayahnya selalu mendukung dan juga menyayangi menantunya seperti putrinya sendiri.

__ADS_1


" Pergilah," Ujar pria tua itu mengerti dengan apa yang dikatakan putranya. Setelah menaruh beberapa bodyguard nya untuk berjaga didepan pintu ruang rawat inap Gania, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Gama dan Vicky langsung pergi meninggalkan rumah sakit dengan menaiki mobilnya mereka berdua menuju ketempat Feri.


.


.


.


.


.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, kini Gama sudah duduk berhadapan dengan Reni dan juga Be yang duduk di kursi dengan tubuh terikat di tambah keadaan keduanya terlihat berantakan dan juga bonyok terutama Be kondisi Wajah nya hancur tak berbentuk.

__ADS_1


__ADS_2