Cool But Love

Cool But Love
bab 115


__ADS_3

" Gania tidak bersalah aku yang memintanya untuk bertemu disini." Reni mencoba menengahi ." Kau sangat beruntung mendapatkan wanita sebaik dia." Lanjut Reni tersenyum pada Gania.


Gama bergeming menatap mata Reni untuk mencari kebohongan dimata itu tapi ternyata Reni tidak sedang berbohong semua yang dikatakan oleh Reni benar.


" Kak, Reni sudah berubah dia bukan Reni yang dulu iya kan Ren." Ujar Gania menyentuh tangan Gama sambil melirik kearah Reni.


" Baiklah-baiklah aku percaya," Jawab Gama tanpa ekspresi sembari mengusap jemari istrinya dengan lembut.


" Ehem.." Be berdehem keras menyenggol lengan Reni agar segera pergi dari sana karena ia merasa tidak nyaman dengan suasananya. Reni menatap Be yang terlihat murung.


" Em, Aku rasa Aku harus segera pergi, karena masih ada urusan penting dan sekalian mengunjungi ibu dan ayah, kalau begitu aku permisi dulu Gania, Gama." Ucap Reni sembari mengulurkan tangannya.


" Iya Ren, hati-hati ya, kita ikut berduka cita maaf tidak bisa datang di hari berkabung." Sahut Gania menyambut uluran tangannya dengan wajah tidak enak hati terhadap Reni.


" Hei, jangan bersedih, aku memahami nya. Jaga kesehatan mu Gania." Ucap Reni dengan tersenyum bahagia hendak menyalami Gama namun Be segera menarik tangannya.


" Kita pulang duluan Tuan Gama." Pamit Be langsung menyalami Gama tanpa mempedulikan keterkejutan pria itu. Lalu Be menarik Reni pergi keluar dari kafe tersebut.


Gama hanya mematung menatap punggung kedua orang yang sudah menghilang dari pintu kafe.


" Tuan kita mau pulang sekarang atau nanti." Seru Vicky yang sedari tadi hanya diam berada di sana akhirnya bersuara.


" Tentu saja pulang. Ayo baby," Gama yang tersadar merangkul pinggang Gania posesif dan berjalan keluar dari Kafe dan diikuti oleh Vicky dibelakang nya.


" Malu kak," Gania membisik pelan karena semua mata para pelanggan Kafe menatap kearah mereka.

__ADS_1


" Abaikan saja Sayang." Balas Gama mencium pipi istrinya yang langsung mendapat cubitan kecil di perutnya. " Aw, sakit baby." Desis Gama sembari membuka pintu mobilnya kemudian mereka masuk kedalam mobil begitu juga dengan Vicky yang ikut masuk pintu mengemudi.


Setelah itu mobil mereka pergi dari lokasi kafe dan kembali pulang menuju kediaman mansion Wijaya.


.


.


.


"Be..." Panggil Reni menatap Be dengan intens yang sedang menyetir mobil nya.


" Reni, Kau tenang saja aku tidak ada niatan untuk merusak kebahagiaan mereka. Hanya saja aku tidak suka dengan Gama yang menganggap mu buruk." Be membeberkan perasaan nya yang ia tahan selama di kafe tadi.


Reni tersenyum lega dan bahagia ternyata Be mencemaskan dirinya, setidaknya masih ada pria yang mau menerima dirinya dengan tulus.


Tangan kiri Be terulur menggenggam erat tangan Reni memberi semangat untuk wanita rapuh dan pendosa seperti Reni.


" Maaf Ren, bukan maksudku-"


" Kau tidak bersalah Be, aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kau mau menerima diriku yang kotor ini."


" Hey, Jangan menangis kau adalah wanita terhebat yang pernah aku temui." Be menghapus air mata di pipi Reni." Aku menerima semua kekurangan mu, jadi jangan berpikir bahwa aku terpaksa. Mari membuka lembaran baru bersama ku." Ajak Be dengan tulus sembari mengecup punggung tangan Reni dengan penuh kasih.


Reni semakin menangis lalu menghambur memeluk Be yang masih mengemudi mobil. Dan dengan lembut Be membalas pelukan Reni sembari satu tangan memegang setir kemudi dan tangan satunya mengelus rambut pendek Reni kemudian Mereka berdua bertukar cerita dengan hangatnya.

__ADS_1


.


.


.


Di apartemen Andre.


Seorang wanita tak lagi muda nampak menyeret kopernya berjalan keluar dari loby apartemen bersama dua orang lainnya yang sedang berjalan dengan saling bergandengan tangan. Mereka bertiga memasuki mobil yang terparkir di bastmant apartemen kemudian Andre melajukan mobilnya dari tempat tersebut.


" Tante yakin mau pulang kampung."Tanya Andre yang ke sekian kalinya kepada Tante Lilia. Ya sejak beberapa hari ini Tante Lilia meminta resain dari Andre namun baru hari ini Andre mengiyakan keinginan Lilia.


" Iya, Tante rindu kampung halaman. Lagi pula disana Tante punya usaha kecil-kecilan. Dan Gama juga membolehkan Tante pulang." Jawab Lilia tersenyum pada Vivi yang tengah menoleh kearah nya, Ya, dua hari lalu Lilia berbicara dengan Gama bahwa ia ingin kembali ke kampung.


" Aku pasti bakal rindu sama tante." Seloroh Vivi dengan wajah lesu.


" Sama aku tidak," Andre yang menjawab sembari mencubit gemas dagu Vivi." Lihatlah Tante, dia mengabaikan aku." Goda Andre yang menahan tawanya.


" Lihat Tan, dia itu tidak punya perasaan seenaknya mencubit orang." Adu Vivi mengerucutkan bibirnya.


" Eh, mana ada seperti itu. itu tidak benar ya kan Tante." Sangkal Andre meminta pembelaan dari Lilia.


" Sudah-sudah kalian ini seperti Tom and Jerry, Tante harap setelah tiada Tante kalian harus akur menjaga satu sama lain. ingat Andre." Sela Lilia melerai perdebatan pasangan sejoli di depannya ini. Ya, seperti itulah mereka ketika bersama pasti bertengkar walau hanya sebentar.


.

__ADS_1


,


__ADS_2