Cool But Love

Cool But Love
bab 68 mengingat kejadian waktu lalu


__ADS_3

Setelah berdebat kecil akhirnya wijaya ikut kekantor bersama putranya. Wijaya merasa bosan berada di mansion. Selain itu dia juga ingin melihat sepeti apa kemajuan perkembangan perusahaan nya. di bawah kepemimpinan putra tunggal nya itu. Sudah setengah jam lebih Wijaya berada di satu ruangan bersama putranya itu tetapi tidak ada pembicaraan di antara mereka.


Sejak memasuki ruangan direktur utama gama tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Pria dewasa itu sibuk dengan segala pikiran di kepala nya.


Wijaya yang duduk di sofa itu pun menghela napas berat." Gama! kenapa kau terdiam, tidak kah kau ingin menjelaskan pada ayah soal perusahaan!" bentak Wijaya pada putranya yang terdiam dari tadi. Pria tua itu sangat kesal di abaikan oleh putranya.


Suara keras Wijaya yang memekik di telinga Gama, tentu membuyarkan lamunannya sontak gama langsung mendongakkan wajahnya." hah, ada apa ayah?" tanya nya dengan wajah datarnya melihat kemarahan ayah nya yang duduk sofa.


Wijaya menggeram putranya justru menjawab nya dengan datar." huff. sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? sejak masuk kesini kau tidak mengeluarkan suara sedikitpun. sampai ayah pun kau anggap patung di sini?" ujar Wijaya menghela napas panjang. bukankah seharusnya putranya itu membicarakan perkembangan bisnisnya tapi justru melamun.


Gama yang mendengar celoteh ayahnya itu langsung tersadar akan tujuan ayah nya datang kekantor nya." Oh astaga! aku melupakan nya ayah, aku panggilkan Vicky untuk menemani ayah berkeliling dan mengontrol perusahaan" ucap nya yang hendak menelpon Vicky lewat ponselnya.

__ADS_1


"Tidak! nanti saja, cerita kan pada ayah apa yang mengganggu pikiran mu melamun sejak tadi, masalah kantor bisa di tunda dulu cepat katakan!" cegah Wijaya yang melihat gama akan menghubungi asisten nya.


Gama sedang duduk di kursi kerja nya itu mengusap wajah gusarnya sebelum menceritakan kegelisahan dirinya.


"Tidak kah ayah tau, pertemuan ku dengan gania, semakin aku mengingat nya semakin aku tidak bisa melupakan nya" ucapnya memainkan pena di tangan nya itu. sembari senyum mengembang di wajah nya.


kening Wijaya berkerut tidak paham akan ucapan gama, yang dimana memang belum tahu jelas nya seperti apa perkenalan putra nya itu dengan gania." ayah tidak mengerti? maksudnya kau dan gania bertemu dimana?" tanya nya antusias.


Pikiran Wijaya berjalan lambat tidak bisa mencerna dengan baik penjelasan putranya itu."What. jadi kau sudah memaksa gania mengandung begitu, astaga dari mana kau mendapat ilmu bejat seperti itu. ayah tidak pernah mengajarimu menjadi pria perusak anak orang hah!" pekik Wijaya menatap tajam putranya itu.


"Ck, bukan kah ayah sudah pernah mendengar penjelasan ku kenapa masih terkejut mendengar nya" decak gama dengan suara beratnya.

__ADS_1


"Apa..." sarkas Wijaya melototi putra nya.


Gama menarik napas dalam-dalam." Ya meskipun pertemuan awal kita yang kurang baik, karena mabuk berat membuat gania sekamar dengan ku. Tapi aku tidak menyesal justru sangat beruntung bisa bertemu gania. dia takdirku, anugerah terindah yang ku miliki ayah, dia yang selalu menjadi rumah untuk keluh kesah ku di saat lelah. Entah lah jika tiada dia di samping ku saat ini. mungkin aku tidak sekuat seperti sekarang" ucap gama dengan raut wajah senang.


Wijaya langsung tersenyum lebar kearah gama." maka dari itu cepat lah nikahi gania. karena wanita tidak suka menunggu terlalu lama, karena ibumu pasti tidak suka melihat mu mempermainkan perasaan wanita. apalagi wanita selugu dan sebaik gania" pinta Wijaya pada putranya itu untuk segera menghalalkan gania.


"Tanpa ayah suruh aku pun akan menikahinya. tapi setelah semua nya beres" balas gama dengan wajah gusarnya.


"iya ayah tahu, tapi ingatlah jangan mengesampingkan tujuan mu dengan melupakan kewajiban mu pada gania. jangan sampai nanti kau menyesal atau dia yang lelah menunggu mu" ujar Wijaya menatap wajah penuh luka putranya itu.


Jika di ingat lagi betapa buruknya masa lalu yang kelam penuh luka, putranya itu yang sangat terluka akan kepergian mendiang ibu nya dan harus kekurangan kasih sayang dari seorang ibu. Wijaya sangat memahami akan perubahan sikap gama hingga saat ini.

__ADS_1


__ADS_2