
"Ini pak " Gania membayar taksi nya, lalu berbalik dan di lihatnya rumah sederhana yang sudah nampak ramai disana, banyak tetangga yang datang berkumpul untuk melayat. dengan langkah cepat Gania masuk ke dalam rumah itu.
lilia yang sedang duduk di samping jenazah melihat keponakanya datang segera menyambutnya."Gania sayang.."
"bibi lili.." sahut Gania memeluk erat lilia mereka terisak bersama meluapkan rasa rindu dan sedih berduka kehilangan pamannya sekaligus suami bibinya itu.
"maaf tidak sempat menjawab telpon dari bibi, sungguh Gania baru melihatnya, aku lagi bekerja bi" ujar Gania menjelaskan tentang dia dirinya tak menjawab sambungan telpon bibi nya. Gania mengusap air matanya, ya walaupun pamannya itu kejam tapi Gania tetap menyayangi pamannya.
"tidak papa sayang, bibi mengerti kamu harus bekerja keras untuk bibi dan paman, maafkan pamanmu ini sayang" jawab lilia melonggarkan pelukannya, lalu mengusap air matanya dan mengelus punggung Gania, meskipun suaminya itu selalu menyusahkan dia namun lilia tetap saja merasa kehilangan dapat di lihat mata yang sembab akibat menangis.
"hanya kalian yang ku miliki saat ini, aku sudah memaafkan paman, dia adalah pria yang baik mau merawat ku sampai sebesar ini bersama bibi" ujar Gania menggenggam tangan bibinya saling memberi kekuatan untuk mereka berdua.
Gania dan lilia mengantarkan diron hingga ketempat peristirahatan terakhirnya. kini mereka berada di pemakaman umum setempat. semua warga sudah kembali, hanya tinggal lilia yang masih setia berada di samping makam suaminya menitihkan air matanya lagi. Gania dengan lembut mengusap bahu bibinya dan memeluknya erat.
"Ayo kita pulang bi, sebentar lagi waktu sore" ajak Gania agar bibinya mau kembali ke rumah.
"hm" jawab lilia mengangguk sendu raut wajah sedih lalu berdiri menggandeng Gania dan mereka melangkah pergi meninggalkan pemakaman tersebut.
Setibanya di rumah lilia dan Gania sudah di tunggu oleh anak buah dari bos bandar. lilia masuk ke dalam rumah bersama Gania.
"Cepat kau lunasi hutang suami mu sekarang!!" para lelaki tubuh kekar itu memaksa lilia melunasi hutang suaminya.
"Tuan maaf saat ini kami belum punya uang nya, beri saya waktu untuk melunasinya" ucap lilia meminta tambahan waktu untuk melunasi hutang suaminya itu.
"Enak saja, tidak bisa..! hutang suami mu itu lima ratus juta, dan kau minta tambahan waktu untuk melunasinya" pria itu tak percaya jika lilia bisa membayar semua hutang suami nya meskipun di beri tambahan waktu. apa lagi keadaan mereka yang hanya memiliki warung kecil sampai berapa lama mereka mengumpulkan uang sebanyak itu.
__ADS_1
"satu bulan..! beri kami waktu satu bulan untuk melunasinya, jika dalam waktu tersebut kami tidak melunasinya kalian boleh membawaku." sahut Gania menggenggam tangan bibinya agar tak mengeluarkan suara. lilia hanya menatap Gania penuh kesedihan. melihat keponakanya harus berkorban lagi untuk suami nya.
"Wow, mau jadi pahlawan kau gadis cantik" seloroh pria kekar itu, menelisik tubuh Gania atas sampai bawah."boleh juga, dirimu jaminannya!" seru pria itu menyeringai menatap Gania.
"Baiklah jika sudah sepakat kalian boleh pergi dari sini!" ucap Gania berpura-pura berani menghilangkan ketakutannya.
"ho ho ho.. berani juga kau cantik mengusir kami, hm" ujar pria itu mendekat menyentuh pipi gania. namun dengan cepat Gania memundurkan tubuhnya.
"Jaga sikap anda tuan" geram Gania mencoba menahan emosinya.
"oke, oke tunggu kita kembali gadis cantik!" ujar pria itu berlalu pergi dari sana.
"Gania apa yang kamu lakukan, bagaimana kita melunasi nya dalam waktu satu bulan sayang"
"Bibi tidak perlu khawatir, aku janji akan membantu bibi berjualan untuk mengumpulkan uang itu" balas Gania mengelus punggung bibinya, tak kuasa dirinya ikut terisak. lalu mengusap air matanya.
" jadi kamu akan di sini bersama bibi, makasih sayang bibi tidak kesepian lagi. tapi bagaimana pekerjaan mu di kota, apa bosmu tidak marah?" lilia melonggarkan pelukannya, di tatapnya bola mata Gania yang bening namun menyimpan banyak beban kesedihan.
Gania yang di tatap oleh bibi nya segera memalingkan wajahnya. " Hah, Tidak bi dia orang yang baik jadi tidak marah jika aku cuti untuk sementara, apa bibi sudah makan ?" kilah Gania mengalihkan pembicaraan tentang bosnya itu.
"Syukurlah, belum kamu pasti juga belum makan kan, bibi masak dulu kamu istirahat lah di kamar hm" balas lilia mengelus lengan Gania. lilia tau ada yang di sembunyikan oleh Gania, tapi lilia menunda untuk menanyakan lebih baik nanti saat mereka sudah sama dalam keadaan hati yang lebih tenang.
"Baiklah bi, aku ke kamar dulu" Gania mengangguk patuh, lalu berdiri dari duduknya melangkah masuk kedalam kamar.
Gania menjatuhkan tubuhnya ke kasur busa tipis di kamarnya. menatap langit-langit kamar itu. memejamkan mata sejenak, sedetik berikutnya membuka matanya kembali. bayangan gama yang possesif padanya melintas. "Oh ya ampun, kenapa wajah pria menyebalkan itu selalu muncul di benak ku" lirihnya tangannya mengucek mata nya supaya bayang bayang gama hilang dari pikirannya.
__ADS_1
*****
Di perusahaan WJ Crop
Di dalam lift lima bodyguard itu merasa tubuhnya bergetar hebat, seperti akan masuk kedalam ruang eksekusi tahanan bagai mana tidak. Mereka sudah membangunkan seekor singa yang sedang tertidur.
"berdoalah agar kakimu tidak patah huh"
"Diam lah aku sedang berdoa pada Tuhan agar bos tidak terlalu kejam pada kita"
"Haha itu hanya mimpi mu saja bodoh"
"kau bisa tertawa di kondisi seperti ini kau yang lebih bodoh"
mereka pun saling berdebat dan sahut sahutan membicarakan bos mereka.
Di ruangan manajer itu suasana semakin tegang dan dingin, lima bodyguard kepercayaan nya berdiri tegap menunduk kan kepala tidak berani menatap ke arah tuanya. sedangkan di kursi kebesaran manajer pria tampan itu sedang menatap bodyguard nya dengan tatapan membunuhnya.
"Tuan maaf kan kami, kami sudah berusaha sekuat tenaga menjaganya, tapi non....?"
Salah satu dari mereka akhirnya buka suara setelah setengah jam di tatap tajam oleh tuannya, dan belum sempat meneruskan ucapannya sudah di potong oleh asisten nya Vicky.
"Diam.! berani sekali kau menyalahkan nona Gania hah..." bentak Vicky pada bodyguard itu dan menatap tajam. Vicky secepatnya memotong ucapan para bodyguard, khawatir jika anak buahnya berbicara aneh-aneh tentang gania. justru akan membuat gama semakin marah pada mereka.
...jangan lupa like komen favorit hadiah ya kk ππ love you ππ kalian semua...
__ADS_1