
" Tidak. Sekarang waktunya hanya untuk kita berdua, Baby. Jangan pikirkan orang lain saat kita sedang berdua cukup ingat aku saja." Setelah menjawab cepat, Gama sendiri tangannya sibuk melepaskan dress yang melekat di tubuh istrinya lalu membuangnya asal.
" Akh. Setidaknya jawab dulu pertanyaan ku, kak." Kekeh Gania tertawa sampai menitihkan air matanya karena menahan geli, karena Gama mulai menggelitik tubuhnya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.
Beruntung Gama sudah mengunci pintu kamarnya sebelumnya, jadi tidak akan ada yang bisa masuk mengganggu kegiatan bercinta nya nanti.
" Untuk kali ini aku tidak akan melepaskan mu." Gama terus mencumbunya dengan gemas dan menciumi seluruh tubuh molek istrinya yang terpampang jelas dibawah tubuh kekarnya.
Belum sempat Gania menjawab, Gama kembali membungkam bibirnya dengan ciuman begitu lembut dan semakin menuntut, Tidak hanya sampai disitu, tangan Gama pun bergerilya menyentuh setiap titik sensitif ditubuhnya dan membuat Gania ikut terhanyut akan sentuhan Gama yang memabukkan.
__ADS_1
" Gama..." Desah Gania dengan Lirihnya, menatap mata Gama dengan tatapan mata berkabut gairah. Gejolak hasratnya sudah diposisi puncak mengharapkan hal lebih.
" Kau sangat cantik." Bisik Gama, memandangi wajah Gania yang berkeringat terlihat menggoda dan sayu dimatanya. Tanpa membuang waktu, Gama Dengan segera memposisikan diri dan perlahan mulai memasuki milik Gania, setelah sebelumnya melakukan pemanasan terdahulu agar istrinya tak terkejut ketika mereka bercinta. Kini keduanya pun saling mencium dan ******* dengan penuh nafsu mencurahkan segala kerinduan yang tertunda.
Seakan lupa waktu, berjam-jam lamanya keduanya bercinta tanpa jeda hingga Gama berkali-kali melakukan pelepasannya, terlihat dari peluh keringat yang bercucuran membasahi tubuh keduanya menandakan bahwa mereka telah mencapai puncak kenikmatan surga duniawi. Gama membelai wajah lelah Gania disisinya, yang sudah tertidur dengan pulasnya karena kelelahan setelah melayani hasratnya.
Gama mengecupi kening wanitanya lama." Terima kasih sayang." Gama tersenyum, perasaannya kini lega dan juga bahagia akhirnya hasratnya tersampaikan dengan Hari ini.
Dengan mata yang masih terpejam, Gama meraba-raba sisi kasur nya mencari sosok Gania namun hanya bantal yang ia pegang dan ternyata sudah kosong tidak mendapati istrinya di sisinya. Dengan spontan Gama mendudukkan dirinya dan menatap ruang kamarnya yang sunyi.
__ADS_1
" Gania... Kemana dia?" Dengan menggunakan bokser saja, Gama langsung turun dari ranjang dan keluar dari kamar nya mencari keberadaan istri nya.
" Bi Inah, lihat Gania tidak?" Tanya Gama, pada bi Inah di dapur yang tengah mengupas buah mangga. Bi Inah langsung menatap tuan Gama yang berdiri didekat meja dan dia berteriak terkejut.
" Allahuakbar... Tuan, Non-nona ada di belakang." Jawab bi Inah malu dan kembali menunduk tanpa berani menggerakkan wajahnya sedikitpun. Setelah melihat tubuh atletis Tuan Gama yang hanya mengenakan bokser.
CK.
" Duh Gusti, punya majikan mesumnya tidak ketulungan." Batin bi Inah, ya, sudah tiga hari ini kedua majikan nya itu sering mengurung diri didalam kamar dan hanya akan keluar ketika saat makan saja.
__ADS_1
Bi Inah pun mengelus dadanya dan bisa bernapas lega. Saat Tuannya sudah pergi ke taman belakang mansion dengan berdecak kesal.
" Istri ku ini sekarang mulai bandel ya, sudah ku katakan berkali-kali. Sebelum aku bangun kau dilarang keluar kamar." Setelah puas berceloteh, Gama mengecupi pipi wanitanya sembari duduk bersila di hadapannya. " Kenapa diam?" Tanyanya kemudian, saat dirinya berbicara banyak tetapi Gania justru tak menanggapi nya dan malah memandangi dirinya tak terbaca.