
Setelah keluar dari mobil gama menurunkan tubuh Gania dari gendongan nya." inikan yang kau mau, ayo ikut aku" ucap gama setibanya di depan gedung KUA seraya menunjuk kedalam gedung.
Dengan tubuh gemetar detak jantungnya berdegup kencang bibirnya seakan terkunci tak bisa berkata, gania yang syok pun hanya mematung tidak menyadari tangan nya di tarik oleh gama memasuki gedung bertingkat tersebut.
"Kak.... ? inikan kantor agama? kenapa kau membawa ku kemari" mata nya menyapu setiap sudut ruangan gedung tersebut tanpa sadar pertanyaan bodoh itu pun keluar dari mulut gania.
Vicky dan lilia masih berada diluar gedung itu segera berlari masuk kedalam.dengan perasaan khawatir bercampur bahagia lilia tersenyum samar.
Gama memilih bungkam tak bergeming dengan tidak melepas tangan gania, gama terus berjalan membawa gania masuk ke salah satu ruangan di dalam gedung tersebut.
Klek.
Gama memutar handle pintu ruangan itu kemudian masuk kedalam. sementara didalam pria berseragam itu tidak kaget akan kehadiran gama disana. karena sudah di hubungi oleh gama sebelum tiba di tempat itu.
" Mari silakan duduk dulu tuan gama dan nona" sapa pria berseragam tersebut seraya tersenyum kearah gama.
"Duduk lah baby" ujar gama dengan wajah datar nya menuntun gania mendekat kearah kursi. " mana berkas yang saya minta ?" ucap gama menatap dingin kearah pria berseragam di hadapannya itu.
Masih bingung dengan keadaan di ruangan tersebut, apalagi tindakan gama yang tiba-tiba membawanya ketempat itu. Gania memandangi pria di sampingnya yang sedang memasang wajah dingin.
" Nak gama jelaskan pada tante apa maksud mu membawa dia kesini" dengan perasaan takut lilia memberanikan diri bertanya pada gama, setelah tiba di ruangan tersebut.
" Tante saya saranin tahan dulu pertanyaan nanti tuan semakin marah tunggu sampai proses nya selesai " bisik Vicky pada lilia yang berdiri tak jauh darinya.
Kening nya berkerut menoleh pada Vicky" yang benar nak, tapi..."
__ADS_1
"Ehem!" gama berdehem keras membuat Vicky langsung menjauh dari lilia.
Lilia yang tersentak langsung terdiam sedang kan Vicky tersenyum kaku kearah bosnya.
"Kak, jawab dong kita mau ngapain disini" Tanya gania mendekat kan wajahnya kearah gama, seketika wajah mereka bertemu dapat di lihat begitu dingin tatapan pria itu padanya.
Deg.
Detak jantung gama langsung berpacu cepat, merasakan deru nafas hangat gania menerpa wajahnya. tapi tidak merubah ekspresi nya berusaha menahan diri untuk tidak terbawa suasana yang membakar gejolak di tubuhnya. gama memundurkan wajahnya.
" Diam nanti juga kau tau sendiri, seharusnya kau mengerti dengan ku yang tidak suka berbagi apapun dengan orang lain tapi kau tanpa bersalah berdekatan dengan pria lain" jawab gama tersenyum kecut, dirinya sangat kecewa dengan sikap acuh gania padanya.
"Apa bisa kita mulai tuan, ini surat nya tolong isi dulu datanya" tanya pria berseragam duduk berhadapan dengan gama itu menyodorkan sebuah lembar kertas dan dua kartu pra nikah keatas meja.
Gama menganggukkan kepalanya kemudian melabuhkan tanda tangan ke kartu tersebut dan menuliskan data data nya yang di perlukan, lalu menoleh kesamping menatap tajam gania supaya cepat membubuhkan tanda tangan di sana, dengan perasaan kesal tanpa menunggu lama gania melabuhkan tanda tangan nya di kertas tersebut, seulas senyum mengembang di wajah gama.
"Baik semuanya lengkap dan beres. Selamat untuk tuan gama Aditya Wijaya dan nyonya gania Aditya Wijaya kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri " ucap pria yang bertugas sebagai manajer ketua di kantor tersebut. kemudian menjabat tangan gama sebagai ucapan selamat.
Gama tersenyum sumringah." terimakasih pak atas kerja sama nya dan waktunya" balas gama seraya tersenyum kearah gania.
deg
duaaar
Bak tersambar petir dan berhenti bernapas, seakan napasnya menyangkut di tenggorokan hati berdebar kencang degup jantung berpacu dengan cepat antara syok terkejut dan bahagia menerima kenyataan begitu mudahnya gama menikahinya hanya dengan tanda tangan tanpa ada resepsi seperti halnya pernikahan pada umumnya.
__ADS_1
Sebegitu hebat kah gama hanya dengan menjentikkan jari apa pun yang di inginkan pria itu selalu terlaksana. tanpa sadar bulir bening mengalir di ujung mata bulat nya membasahi pipi chubby itu " sungguh ini nyata kan bukan mimpi kak, apa! aku,aku menjadi istri seorang gama hah... rasanya seperti mimpi?" ucap gania gagap, sembari menatap gama serius dengan wajah masamnya yang masih tak percaya dengan status nya saat ini.
Gama mengangguk setuju seraya ke-dua tangan nya merangkul tubuh gania sangat erat, melabuhkan kecupan bertubi tubi ke wajah wanitanya." kau tidak bermimpi sayang. mulai sekarang kau adalah nyonya gama Aditya Wijaya, apa kau sudah merasa bahagia dan junior kita " jawab gama seraya menggesekkan dagunya lembut ke atas kepala gania sembari membelai rambut panjangnya.
Hisk hisk...
" kau tau aku sangat tersiksa selama ini karena kau kak, tidak kah kaka sadar aku sangat menantikan ini dari dulu, tapi kenapa baru sekarang Kaka melakukan nya"
Gania langsung terisak didalam pelukan hangat gama, pelukan yang sangat dirindukan nya selama ini, begitu ingin dan di nantikan oleh gania saat saat seperti ini dimana sesungguhnya dia sangat butuh perhatian seorang suami pada istri nya yang sedang hamil, seperti pada umumnya keinginan ibu mengandung yang ingin di temani saat tidur, selalu di dampingi suami ketika bepergian.
"Hei, maafkan aku baby aku akui salah, tapi semua ini demi kebaikan mu dan kau harusnya percaya padaku dan tetap di samping ku. sudah jangan menangis ini hari bahagia kita, sebaiknya kita segera pulang hm, nanti ruangan ini bisa banjir karena air matamu itu" ujar gama seraya mengusap pipi gania dengan ibu jari, kemudian mengecup dalam kening wanitanya itu untuk sesaat.
"hhhh lawak mu tidak lucu tauk. mana mungkin air mata ku bisa membuat banjir ruangan ini" dengan tertawa lirih gania memukul dada bidang gama kesal sembari menyembunyikan wajahnya di sana Lantaran malu di tatap oleh semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Ehem ehem.." Vicky pura pura berdehem keras sontak membuat gama menatap kesal membuat suara bising.
"Uhuk...." petugas kantor itupun ikut menggoda pasangan suami istri baru menikah itu merasa terpojokkan oleh keuwuan mereka.
"Apa kalian lagi sakit tenggorokan!" sentak gama dengan wajah kesalnya. membuat semua orang di ruangan terkekeh geli melihat nya.
Lilia terkekeh geli melihat pertengkaran kecil di ruangan tersebut hatinya merasa hangat dan bahagia." selamat nak gama dan gania semoga kalian selalu langgeng hingga tua nanti tetap bahagia terus ya tante ikut senang melihat nya" lilia memberikan selamat pada pasangan tersebut, sembari tersenyum lebar kearah mereka.
"Makasih doanya tante" jawab gama tersenyum pada lilia. gania langsung berlari memeluk bibinya itu.
" bibi lilia... aku sangat menyayangimu" balas gania manja sembari memeluk erat Tante nya dengan wajah cute face nya membuat gama melihat nya merasa gemas, andai mereka di rumah mungkin sudah di terkam nya wanitanya.
__ADS_1
...kasih semangat untuk author nya dong guys πΉπΉπΉπ...