
"Mas! gimana sudah ketemu putra kita!?" seru nya raut wajah cemas dengan nafas ter sengal Hanum berlari kecil menghampiri suami nya di pertigaan jalan area taman, ia sudah berkeliling mencari gama anaknya namun tidak menemukan nya.
"Sama sayang, kemana anak itu perginya?". sahut Wijaya memijit pelipisnya kepalanya terasa pusing memikirkan putranya sejak tadi belom kembali.
" ini minum lah Dulu" Wijaya memberikan air mineral yang ia pegang kepada istri nya. melihat Hanum kelelahan Wijaya mengajak istrinya istirahat di kursi tepi jalan taman.
"makasih mas" Hanum langsung meneguk minum pemberian suaminya.
"Kita istirahat dulu, ayo duduk disana". tunjuk Wijaya kearah kursi taman terbuat dari batu. di pinggir jalanan taman. Hanum pun mengangguk mengikuti langkah suaminya.
"mas aku sangat khawatir sama gama" ucap Hanum ketika sudah duduk di bangku taman, ia mengedarkan pandangannya di area sekitar sana. berharap menemukan anaknya.
"kau tidak perlu cemas, kita pasti menemukan putra kita" ujar Wijaya mengusap bahu istrinya lembut.
"mas apa kau mendengar suara" tanya Hanum menoreh kearah Wijaya dengan menajamkan pendengaran memastikan mencari asal suara.
"Suara apa sayang aku, tidak mendengar nya?" Wijaya celingukan mencari asal suara yang di maksud hanum. karena banyak orang yang lewat, berbincang jadi sedikit berisik di sekitar sana.
ketika Hanum memutar tubuhnya, ia menatap tajam kearah dua anak kecil sedang asyik bermain di balik tanaman bunga. dengan susah payah ia mencari kemana mana justru yang di cari berada di belakang mereka dan dengan bahagia nya bermain.
"mas lihat itu putra kita" Hanum menoel lengan suaminya."Tapi siapa gadis kecil itu"
"Oh God! kita lelah mencarinya, bocah itu bermain disana!" seketika mengikuti gerakan istrinya Wijaya terkejut.
"Gama kau kemana saja sayang, ibu memcarimu sejak tadi!?" panggilnya Hanum
Setelah menemukan keberadaan gama Hanum dan Wijaya segera berjalan mendekati kedua bocah yang sedang tertawa lepas itu.
Gama berhenti mengejar adiknya di depan nya. yang sedang tertawa terbahak bahak menghindari kejaran kakaknya itu. ia berbalik seperti mendengar suara ibunya memanggil
"hahaha, sudah kak aku cangat lelah!" Gania berhenti berlari ketika tidak mendengar gelak tawa sang kakak, ia pun berbalik seketika mematung melihat gama terdiam dan sepasang suami istri yang sedang menatap tajam kearah nya.
__ADS_1
"ibu ayah!! em itu aku tidak sengaja bertemu dengan nya dia tadi menangis jadi aku ajak bermain di sini" sontak Gama langsung berkata jujur sedikit gugup takut jika ayahnya memarahinya ia pun sedikit menunduk. Gania tampak berkaca kaca hendak menangis melihat ketakutan kakak nya kepada dua orang dewasa tersebut.
"Sayang kau jangan takut ya, kami tidak akan memarahi kalian" Hanum berlutut dihadapan gadis kecil yang hampir menangis ketakutan,ia segera berlari menghampiri nya lalu memeluk lembut. Gania terdiam ketika mendapat pelukan hangat dari wanita yang umurnya mungkin sama dengan ibunya jika masih hidup.
"Seharusnya kau bilang pada ibu atau ayah jika ingin mengajak nya bermain gama, kau sudah membuat ibumu bersedih karena menghilang!" Tegur Wijaya mengelus kepala putranya. Sebenarnya ia merasa bangga melihat perilaku putranya yang peduli sesama orang lain, namun juga Cemas putranya tidak meminta izin terlebih dahulu.
"Maaf ayah, ibu!" cicit gama mendongak memohon agar kedua orang tuanya memaafkan nya.
" kali ini kita maafkan, jangan sampai terulang lagi kau dengar!" Tegas Wijaya pada putranya lalu beralih menatap kearah dua wanita yang sedang berpelukan. "Cantik sekali Gadis ini, andai saja aku punya putri secantik ini aku sangat bahagia" gumam nya dalam hati.
"Siapa namamu nak?". tanya Hanum tersenyum lembut mencubit gemas pipi gembul gadis kecil yang menjadi teman baru putranya itu.
Setelah menemukan putranya dan anak kecil yang bersama gama Wijaya mengajak mereka kembali di kursi taman tempat pertama mereka datang kemari.
"Gania tante" jawab Gania tersenyum sumringah Gania merasa sangat bahagia menikmati makan bersama mereka. ternyata orang tua kakak barunya itu sangat baik, walaupun orang kaya tapi tidak sombong. Gania belom pernah bertemu orang sebaik mereka.
"Ibu tau tidak Gania itu...." sahut gama menceritakan semua tentang adik barunya itu dengan semangat kepada kedua orang tuanya.
"Oh ya ampun putra ibu ternyata hebat juga " sambung Hanum ikut tertawa bahagia, Gania pun merasa bingung menatap satu persatu orang di hadapan nya itu dengan mimik wajah penuh penasaran pipi bulatnya yang mengembung ketika makan, mata bulatnya berkedip kedip.
"kenapa semua teltawa kak?" menoreh kakak baru nya, rasa penasaran yang tinggi membuatnya menatap dalam wajah gama. " kak gama tampan cekali coba aku punya Kakak sepelti dia wah". gadis kecil itu membatin.
Gama sedang makan pun menoleh sontak muka mereka bertemu gama terdiam menikmati mata bening dan bulat Gania yang sangat indah rasanya gama ikut masuk kedalam sana merasakan kepedihan di ujung sana.
"kak kok diam cih.!" panggil Gania sedikit kesal pertanyaan nya tidak di jawab oleh kakak nya itu.
"Eh, apa dek" gama kembali menghadap kedepan dengan ekspresi wajah memerah malu namun juga sedih. Tanpa gama sadari ayah nya mengamati ekspresi dirinya
"kak gama grogi sayang!" seloroh Hanum terkekeh kecil melihat tingkah gugup anak nya itu masih kecil tapi sok seperti remaja puber.
"Ibu...". rengek gama.
__ADS_1
"Glogi itu apa Tante?" tanya Gania antusias menatap Hanum penuh semangat.
"hahaha, sudah lah sayang cepat selesai kan makan nya, kita akan kembali ke Jakarta nanti, kau lihat dia sangat menggemaskan saat tidak mengerti arti yang kau ucapkan" Wijaya tertawa lalu membisik ketelinga Hanum ia ikut gemas melihat tingkah Gania.
"Ibu ayah mengotori pikiran suci Gania saja sejak tadi" imbuh gama menahan tawanya. Gania hanya mengerutkan keningnya bingung dengan orang orang di hadapannya itu tertawa lepas.
"kau itu mas, dan kau gama ini semua ulah mu bukan, lalu bagaimana dengan gadis cantik ini mas". balas Hanum menggelengkan kepala, ia sedikit kebingungan jika meninggalkan Gania di taman sendiri ia tidak Setega itu, lalu mengantar nya pulang tidak tau alamat nya.
Wijaya tersentak terdiam mengangkat bahunya sembari mengelap mulutnya dengan tisu. "Benar juga sayang, tadi saat bertemu dengan nya kau tidak melihat dia bersama ibunya?" imbuh nya lalu bertanya pada putranya gama, Gama pun mendapat pertanyaan dari ayahnya hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Gania.... Gania.... sayang kau dimana nak" teriak seorang wanita di jalanan taman tak jauh dari tempat keberadaan keluarga Wijaya. wanita itu sangat panik dan cemas mencari kesana kemari tidak menemukan ponakannya itu sejak tadi pagi bermain namun tidak kembali.
"Bibi....!!" Beo Gania sedikit keras ketika Gania menoleh ke belakang Gania melihat sosok bibi nya di pinggir jalan taman."bibi lilia...!" imbuh nya berteriak memanggil lilia.
"bibi lilia" beo Wijaya, Hanum mengikuti arah pandang Gania, Gama pun ikut menengok ke belakang.
Lilia menengok ke samping sontak berlari menghampiri Gania yang berada disana bersama beberapa orang. "Gania, ya ampun kau main kemana saja bibi khawatir memcarimu dari tadi" ucap lilia memeluk Gania lalu menggendongnya. keluarga Wijaya pun mendongak kearah bibi dan ponakan itu penuh selidik dan takut.
"maaf kau siapa? Benar kau bibinya anak ini?" Hanum langsung mencecar pertanyaan pada lilia dengan sedikit waspada. Wijaya terdiam menatap intimidasi kearah wanita yang mengaku bibi Gania itu.
Lilia memicing tak terima di tuduh jahat kepada ponakannya sendiri, menatap Gania lembut meminta penjelasan. " meleka kelualga kak gama bi, itu tante hanum, meleka baik cama Gania mengajak makan enak Cate tonton cama beli eclim juga dan tadi Gania belma...". cerita Gania panjang lebar kebahagiaan nya bersama kakak barunya itu, lilia pun tak tega merusak rasa bahagia ponakan nya itu.
"kau sangat senang sayang" potong lilia ia sangat percaya yang di katakan Gania jujur. Gania mengangguk benar yang di tanyakan lilia padanya.
Gama hanya terdiam ia lebih memilih memandangi gadisnya jika nanti Gania pergi ia tak bisa menatapnya. Wijaya dan Hanum kembali duduk merasa lega ternyata wanita itu memang keluarga Gania.
" maaf tuan nyonya sudah merepotkan kalian, terimakasih banyak atas kebaikan nya". lilia membungkuk hormat, ia merasa lega ternyata mereka orang yang baik.
"tidak masalah Bu, saya sangat senang karena Gania sudah menemani kami di sini menambah seru acara kami" balas Hanum tersenyum ramah. Hanum merasa berat saat Gania akan kembali bersama bibinya, memang seharusnya seperti itu, Hanum mengulas senyum ketika melihat putranya tak luput menatap adik sementara nya itu dengan tatapan tak rela jika berpisah.
"Makasih nyonya" balas lilia pun undur diri pamit meninggalkan keluarga Wijaya. Gania melambaikan tangan nya kearah gama dan tersenyum ceria, tak lupa kiss bye untuk kakak sekilas nya itu. gama pun membalas dengan cepat Kiss bye perpisahan mereka ia tersenyum lebar. Wijaya dan Hanum menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya itu.
__ADS_1