Cool But Love

Cool But Love
bab 111


__ADS_3

" Oke, Terimakasih Dokter Ranti."


Setelah menutup ponselnya Gama kembali masuk kedalam kamar nya.Gama pun bisa menghela napasnya dengan lega, tadi Dokter Ranti memberitahu dirinya jika kesehatan ayah dan juga istrinya sudah membaik dan boleh beraktivitas lagi.Ya, sudah tiga Minggu semenjak kejadian Ayah Wijaya sakit dan Gania yang harus melakukan bedrest beberapa hari belakangan kini Gania sedang membaca novelnya di atas kasurnya, ya selama bedrest kegiatan wanita berwajah mungil dan pipinya yang terlihat chuby itu hanya membaca novel dan berada di dalam mansion setiap harinya. karena Gama selalu melarang dirinya untuk mengerjakan pekerjaan apapun.


" Apa kau tidak bosan membaca buku ini, bagaimana kalau kita mencari udara segar." Ucap Gama sembari mengecup mesra pipi Gania lalu berjalan mengambil kunci mobilnya di atas nakas.


Gania meletakkan bukunya di kasur sambil menatap intens wajah Gama didepannya.


" Kau serius? aku kira kau akan mengurungku lagi di rumah." Tanya Gania dengan nada tak percaya apakah suaminya itu sedang berbohong atau tidak. karena biasanya walaupun dia merengek Gama tidak akan mengizinkan dirinya untuk beranjak sedikit pun dari mansion.


Gama yang mendengar Gania mengeluh hanya diam saja seraya mengelus rambut panjang istrinya dengan penuh kasih.

__ADS_1


" Pakai jaketnya nanti tubuhmu kedinginan," Gama membantu Gania memakaikan jaket rajut di tubuh istrinya. Karena hari ini masih sangat pagi Gama tidak mau Gania kembali sakit.


Gania tersenyum ia merasa bahagia karena Gama bersikap lembut meski wajahnya masih tetap terlihat cool. " Kau tidak pernah berubah dasar pria dingin," Seloroh Gania merangkul lengan kekar Gama sembari berjalan keluar dari kamar.


" Apa kau bilang," Gama pura-pura tak mendengar sembari mengecup bibir istrinya sekilas lalu kembali menatap kearah depan dengan wajah cool nya.Gania langsung mencubit perut Gama dengan gemas melihat tingkah laku suaminya yang menjengkelkan.


" Gama, kau mau membawa istri mu pergi kemana? ini masih pagi sekali?" Wijaya yang tengah membaca koran di sofa menoleh sambil bertanya pada putranya yang sedang berjalan kearah ruang keluarga bersama Gania.


" Kami mau pergi keluar sebentar Ayah, menyenangkan menantu Ayah yang manja ini, " jawab Gama yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Gania dan cubitan kecil di perutnya. " Sakit Sayang," Pria itu meringis sembari mengusap perutnya yang sedikit terasa panas.


Gama yang melihat wajah Gania cemberut hanya bisa menggeleng kan kepalanya."Ayah aku pergi dulu." Pamit Gama seraya menggendong Gania lalu segera membawa masuk kedalam mobilnya karena istrinya itu terlalu lambat berjalan.

__ADS_1


" Jangan lupa oleh-oleh nya!" Teriak Wijaya menatap kepergian Gama dan Gania dengan tersenyum bahagia.


" Aku bisa jalan sendiri, kenapa juga harus kau gendong," protes Gania saat mereka sudah berada di mobil.


" Jalan mu sangat lambat seperti siput, kelamaan sayang nanti kita ketinggalan kereta," Balas Gama dengan asal sembari fokus menyetir mobilnya. Membuat Gania mendengus kesal dan lebih memilih menatap kearah jalanan dari pada menatap wajah cool suaminya yang sudah mengatai dirinya seperti hewan, siput.


.


.


.

__ADS_1


.


" Ayo turun," Gama mengulurkan tangannya setelah membukakan pintu mobil untuk Gania. Dengan senang hati Gania meraih tangan suaminya sambil turun dari mobil dan betapa terkejutnya Gania saat melihat sebuah gedung bertingkat yang megah dengan decak kagum dan bahagia.


__ADS_2