
" Aku tidak butuh surprise! Dimana kak gama dan wanita ****** itu ayah, apa kalian bersekongkol melindungi perselingkuhan mereka .... " Seru Gania dengan kepulan asap di atas kepalanya, amarahnya kembali meleduk saat melihat keluarga terdekat nya berada di depan matanya.
Seperti nya akan gagal kejutan ini lebih baik aku gunakan cara lain. gumam Wijaya memijat pelipisnya saat tahu gania begitu marah.
Beberapa saat kemudian
Dan akhirnya Wijaya bersama yang lainnya berhasil merayu dan meredakan kemarahan ibu hamil itu tidak lagi terbawa emosi dan memberi penjelasan tentang tujuan mereka adalah hanyalah ingin memberikan sebuah kejutan ultah untuk dirinya.
Awalnya Gania sangat marah ketika tahu seminggu ini dirinya di kelabui oleh keluarga nya sendiri mengasingkan dirinya terutama suaminya yang bersikap dingin tidak perhatian padanya beberapa hari belakangan, sungguh kesal dan kecewa rasa di hatinya, namun demikian, perasaan nya kembali terharu saat tahu ternyata semua itu mereka lakukan untuk sebuah kejutan ulang tahun untuknya yang ke 21 tahun.
Bahagia itu pastinya, tapi caranya itu membuat psikologis nya sedikit terganggu di tengah kehamilan nya yang memasuki 7 bulan. meskipun belum pernah Gama mengajaknya untuk USG, untuk mengetahui jenis kelamin calon junior mereka. Tapi Gania memaklumi hal itu di kesibukan Gama yang menjadi CEO perusahaan Wijaya Crop, harus menghandle semua pekerjaan sekaligus para karyawan kantor nya.
" Terimakasih buat kalian semua sudah mengingat hari ultah ku, sedangkan aku sendiri saja tidak ingat kapan dan tidak pernah merayakan hari milad ku sendiri. Hiks..." Gania menangis sembari di peluk oleh Tante Lilia dan juga Vivi.
" Sayang jangan berkata seperti itu, meskipun dulu kita tidak pernah merayakan nya semewah ini, tapi, Tante selalu berdoa di setiap hari kelahiran mu agar selalu diberikan kebahagiaan melimpah sayang." Kata Lilia memberikan pelukan hangat untuk Gania.
" Gania ...." Vivi ikut sedih sembari mengusap punggung Gania.
Wijaya dan Andre menjadi pendengar setia perbincangan haru ketiga wanita itu, Wijaya terlihat ingin menangis sementara Andre hanya ikut-ikutan sedih mendalami perannya sebagai pendengar yang baik.
Gama yang sedari tadi bersembunyi di belakang pintu menitihkan air matanya. Hatinya sesak saat melihat dan mendengar kan semua keluh kesah masa lalu Istrinya yang memilukan. Dirinya segera keluar dari persembunyiannya dan menghampiri istrinya di sofa yang kebetulan sofa itu menghadap kearah berlawanan dengan pintu, jadi Gania tak tahu keberadaan dirinya yang sudah berdiri di belakang mereka.
sebab itulah sayang aku merencanakan kejutan ini untukmu walaupun caranya sedikit ekstrim.
" Bibi ... " Gania menatap haru kearah semua orang yang berada di ruangan tersebut. " Ini sangat berkesan bagiku." Gania tampak berpikir seakan melupakan sesuatu. " Eh tunggu dulu?, dimana kak Gama, kenapa dari tadi aku tidak melihat nya Ayah?" Tanya Gania dengan polosnya menatap semua orang di ruangan itu penuh selidik, sementara mereka semua hanya menghela napas berat dan saling pandang, terutama Wijaya pria baya itu melirik tajam pada putranya yang berada di belakang sofa.
" Kok pada diam sih? apa sebe.." Ucapan Gania di potong oleh Gama, yang sudah gatal ingin berbicara sejak tadi dan juga mendapat tatapan tajam dari sang Ayah.
__ADS_1
" Sebenarnya aku sangat merindukan mu sayang." Gama meneruskan ucapan istrinya dengan suara seraknya di telinga Gania.
Deg
Seperti di terjang angin kencang, Gania yang terkaget langsung menengok kebelakang, seketika itu juga Gania menbelalak mendapati suaminya sudah berdiri di depan matanya yang entah sedari kapan muncul di sana.
" Sayang ... " Gania marah lalu berdiri. " Plak,plak,plak," Gania memukul lengan kekar Gama dengan begitu keras sedangkan Gama menerima pukulan dari istrinya dengan lapang dada. membiarkan istrinya mengeluarkan semua kekesalan nya terlebih dahulu.
" Aku akan membuat perhitungan dengan mu lihat saja nanti, kau sangat jahat kak, kau begitu egois! tidak mengerti bagaimana perasaan ku ini." Gania menangis sejadi jadinya tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sedih dan juga bahagia nya.
Setelah itu, barulah Gama berpindah tempat dan dengan segera membawa tubuh mungil Gania kedalam pelukannya.
" Happy birthday yang ke 21 sayang, maafkan suamimu ini sudah keterlaluan membuat wanita secantik mu bersedih dan juga bisa cemburu. " Gama mengecup atas kepala Gania sangat lama.
" Ish.. kau ini senang ya bisa dekat-dekat sama sekretaris mu itu." Gania mencubit pinggang Gama dengan kuat, tapi justru seperti pijatan lembut yang dirasakan Gama.
" Ih.. itu sama saja sayang," Gania memajukan bibirnya kedepan.
" Hahaha.. Apa iya?" Gama tertawa terbahak-bahak.
semua orang yang berada didalam ruangan itu rasanya ingin muntah mendengar bualan dari seorang Gama yang sok berasa cool sendiri, yang tidak lain tak bukan termasuk Andre pria itu mendengus kesal.
" Ckckck, suamimu itu minta di cuci otak nya Gania." Ujar Andre dengan sinis, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Vivi.
" Om ... " Vivi mencubit lengan Andre dengan kuat membuat sang empu meringis kesakitan.
" Sakit Ay." Desis Andre menatap penuh cinta kekasih hatinya yang masih tingting itu. hal itu membuat Gama dan Gania gantian merasa risih melihat kelakuan Andre yang dijuluki buaya darat.
__ADS_1
Lilia dan Wijaya hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkah laku absurd dua pasangan sejoli tersebut.
Disaat semua sedang tertawa, Gama membawa Gania ketengah lalu meraih tangan kiri Gania sembari berlutut di hadapan istrinya.
" Mungkin kata-kata ini terlambat di ucapkan yang seharusnya aku katakan di hari pernikahan kita yang kurang mengenakkan, tapi percayalah kehadiran dirimu di sisiku mengubah kegelapan di hatiku menjadi berwarna. WILL YOU LIVE WITH ME FOREVER GANIA." Ucap Gama dengan yakin sembari membuka kotak kecil berwarna merah kehadapan Gania.
Bahagia bercampur haru, seumur-umur baru kali ini Gania di perlakukan seperti bak ratu kerajaan, bisa Gania lihat sebuah cincin berlian ditengah nya ada permata kecil berbentuk love terlihat sederhana tapi elegan.
" Sayang ini ...." Bukankah itu cincin yang pernah dilihat nya di sebuah pertokoan emas kala itu saat bersama Reni di pusat perbelanjaan.
" Iya sayang, apa kau suka dengan cincin nya dan mau menua bersama ku?." Tanya Gama yang masih setia pada posisinya menatap penuh harap pada Gania.
" Sangat suka Sayang, kenapa kau tidak peka juga, aku ini sudah mengandung benih mu jadi mana mungkin aku menolak nya." Jawab Gania dengan berbinar dan juga kesal karena suaminya itu tidak cepat memasangkan cincin nya
" Cepat pasangkan cincin nya Sayang ." Ujar Gania menyadarkan lamunan Gama.
" Eh, iya sayang."
Gama bangkit berdiri lalu memasangkan cincin itu di jari manis istrinya sembari mencium punggung tangan mulus istrinya penuh cinta." Terimakasih Sayang " Gama menyatukan kening mereka untuk beberapa saat.
" Yeeeaaahh ....."
Semua orang yang berada didalam ruangan bersorak gembira dan juga bahagia melihat Gama dan Gania akhirnya baikan kembali meski ada sedikit drama menuju hari bahagia ini.
Gama memberi kode kepada Ayahnya dan juga yang lainnya supaya meninggalkan kamar apartemen, karena dia ingin menikmati hari spesial di malam ini hanya berdua dengan istrinya.
Tentu saja hal itu membuat Andre sedikit kesal karena Gama mengusirnya dari sana padahal dia belum sempat mencicipi makanannya.
__ADS_1