
" Dengar pak Beni! Kesalahan anda hampir merenggut nyawa orang yang saya sayangi, untung saja saya datang tepat waktu kalau tidak? " Tegur Gama dengan tegas. Rasanya ingin sekali ia menghabisi pria di depannya ini yang menyebabkan istrinya hampir keguguran karena diculik oleh Reni.Tapi, Gama tak setega itu ia berharap pak Beni bisa berubah menjadi orang lebih baik lagi setelah kejadian ini.
" Sekali lagi saya minta maaf tuan Gama. Sungguh semua rencana Reni di luar ekspetasi saya, kami memang bekerja sama untuk menjatuhkan anda tapi tidak sampai menyakiti istri anda, saya tidak tau apapun dengan dendam Reza." Balas Pak Beni yang masih tetap tenang.
Gama yang geram dengan pak Reza masih tidak mau mengakui kesalahannya itu menggebrak meja didepannya membuat semua orang yang berada didalam ruangan terkejut.
" Cih. Kau bilang tidak tahu lalu apa ini?" Sengit Gama melempar kan beberapa foto pak Beni dan Reza ke atas meja dengan tatapan dinginnya.
Beni yang terkejut segera mengambil foto itu dan melihat foto masa kecilnya dengan Reza perasaan ketakutan terlihat di wajahnya yang dipenuhi oleh keringat.
" Tuan.. Bagaimana bisa Anda? "Ucap Pak Beni tergagap. Ia bingung dari mana Gama bisa mendapatkan foto itu. Padahal ia sendiri sudah tidak mempunyai foto tersebut.
Gama tertawa sinis. Lalu mengintimidasi pak Beni. Membuat Vicky dan para bodyguard nya di sana menelan salivanya susah payah.
" Itu hal kecil Pak Beni, bagaimana dengan yang ini," Gama menunjukkan ponselnya pada Pak Beni setelah Vicky memberikannya padanya.
Sontak saja Beni langsung terkejut melebarkan matanya saat melihat Vidio di layar ponsel itu memperlihatkan putrinya sedang disekap di sebuah ruangan dan duduk di kursi dengan tangan diikat sembari menangis dengan keras meminta tolong.
" Bajingan! " Batin pak Beni sembari mengepalkan tangannya dengan kuat. "Lepaskan putriku tuan! dia tidak bersalah" Pinta Pak Beni menggebu-gebu dengan suara menyentak.
" O... tentu saja tidak semudah itu pak Beni," Gama menarik dan memberikan ponselnya pada Vicky dengan seringai tipis di bibirnya." Saya rasa Anda mengerti maksud saya," lanjut Gama dengan suara dinginnya.
Gleg
Beni mendadak gusar dan takut ia mengerti dari kata-kata Gama tersebut. Beni mengakui ia sudah salah besar telah mengusik ketenangan dari seorang Gama Wijaya yang pasti akan berakhir tragis ataupun miris bila berurusan dengan keluarga terkaya di kota ini. Ia tak punya pilihan lain selain menyerahkan restoran miliknya pada tuan Gama asalkan putrinya selamat. Setidaknya ia masih memiliki perusahaan nya meski tidak sebesar perusahaan milik Gama.
" Baiklah Tuan. Saya setuju." Akhirnya Beni memilih mengalah dan menanda tangani berkas-berkas pengalihan hak milik restorannya tersebut menjadi atas nama Gania.
Gama tersenyum penuh kemenangan." Vicky hubungi mereka!" Perintah Gama.
" Baik tuan," Vicky pun mengambil ponselnya lalu segera menelpon anak buahnya yang berada di tempat penyekapan untuk melepaskan putri pak Beni. Setelah selesai menelpon Vicky kembali masuk kedalam ruangan.
__ADS_1
" Ini Tuan, Terimakasih kasih sudah memberikan saya kesempatan." Ucap Pak Beni dengan tulus. Ya, ia mengambil keputusan untuk tidak lagi berurusan dengan Gama dan menghindar dari pria berkuasa tersebut.
Vicky pun langsung mengambil amplop coklat tersebut.
" Kau urus sisanya." Gama mengenakan kacamata hitamnya lalu berdiri dari duduknya.
"Beres Tuan, kita kembali sekarang." Tanya Vicky.
" Ya, senang bertemu dengan Anda Pak Beni. Semoga setelah ini kita bisa bertemu lagi," Setelah berkata seperti itu Gama melangkah pergi dari tempat tersebut.
" Sama-sama tuan..." Jawab Beni tersenyum getir menatap kepergian tuan Gama dan Vicky dari ruangan tersebut. Dan Beni kembali terkejut saat para bodyguard Gama mengepung nya dan berakhir dengan keadaan fisiknya bonyok penuh luka lebam. Ini memang kesalahan dirinya dan ia menerima semua nya dengan lapang dada.
.
.
.
.
" Argh... Aku bisa gila..." Umpat Gama dalam hati. Sudah berapa pekan ia tidak menyentuh istrinya karena terhalang oleh masa bedrest Gania akhir-akhir ini.
" Tuan Anda kenapa?" Tanya Vicky yang melihat pipi tuan nya itu bersemu merah dan senyum-senyum sendiri seperti orang sedang berpikiran mesum." Sabar Tuan, apa perlu saya pesankan lingerie mewah Tuan?" Goda Vicky tepat sasaran. Membuat sang Tuan berjiwa posesif itu langsung menyetujui ide nya.
" Pletak..." Gama menjitak kepala Vicky dengan kuat dan tersenyum penuh arti. Yang mana Vicky langsung mengumpat tuan nya itu.
" Shiitt. Seperti nya aku salah berbicara." Vicky mengusap kepala nya yang rambutnya stylish itu rapi kini berubah acak-acakan. " Sakit Tuan, simpan tenaga Anda buat nanti malam bersama nona, Tuan," Sindir Vicky memasang wajah kesalnya sembari tetap fokus menyetir.
" Boleh juga ide mu itu Vicky," Ucap Gama santai. " Ya, itu hadiah buat mu, Pria jomblo sejati," Ejek Gama tersenyum tipis sembari mencari nomor Gania di ponselnya lalu menelponnya. Tapi, tidak di angkat-angkat hingga berulang kali ia menelpon nya.
"Drrrttt..." Vicky menatap ponselnya lalu mengenakan earpond nya.
__ADS_1
" Hallo ada apa?" Tanya Vicky.
" Bos....?" Kata bodyguard itu yang sedang mengawasi nona Gania dari kejauhan di sebuah kafe.
" Oke.... Kau jaga dengan baik." Sahut Vicky yang langsung mematikan sambungan telepon nya.
" Vicky! Kenapa Gadis polos itu tidak mengangkat teleponnya, kau cari.." Titah Gama dengan menahan kekesalan nya.
" Tuan, Nona tidak pulang kemansion.Tapi, bertemu dengan Reni di kafe Victoria." Kata Vicky dengan cepat saat Gama belum selesai berbicara.
Pletak.. lagi-lagi Gama menjitak kepala Vicky dengan lebih kuat karena sudah berani memotong perkataan nya.
" Tuan...." Protes Vicky.
" Itu hukuman untuk mu Vic. Cepat kita kesana sekarang." Gama mengetatkan rahangnya ia sangat tidak suka mendengar istrinya bertemu dengan Reni.
" Siap Tuan." Tanpa banyak kata Vicky menancap pedal gas kemudinya agar cepat sampai di kafe dimana Gania bertemu dengan Reni.
" Apa lagi yang direncanakan wanita ja-lang itu?" Emosi Gama mencekeram ponselnya dengan erat.
.
.
.
.
Di kafe Victoria.
Setelah menyimpan hpnya di saku celana nya. Bodyguard yang mengenakan baju hitam itupun berjalan terburu-buru kearah Nona Gania saat melihat Reni hendak menampar pipi Nona Gania.
__ADS_1
" Berhenti Nona!" Sentak bodyguard itu yang mencekeram tangan Reni yang mengapung di udara.