
Seminggu kemudian setelah liburan di desa waktu itu berakhir kini Wijaya beserta keluarga nya sudah kembali ke Jakarta. kegiatan Wijaya pun seperti biasa bekerja di kantornya dan gama yang masih sekolah dasar berangkat sekolah selau bersama ayahnya.
"Sayang aku berangkat" Wijaya menyudahi sarapannya beranjak dari duduknya.
"Tunggu sebentar yah aku minum susu dulu" sahut gama yang duduk di sebelah ayahnya di meja makan, ia segera meminum susunya ketika ayah nya itu sudah selesai sarapan hendak beranjak dari meja.
"iya mas, kau itu kebiasaan sayang" Hanum tak heran putranya itu selalu membuat ayah nya harus menunggu ketika akan berangkat. ia segera berdiri mengambil tas kerja suaminya di meja, seperti itulah Hanum selalu mengurus keluarga nya dengan penuh kasih.
"hehe ibu tau saja" gama tersenyum tipis, ia mengambil tas sekolah nya. lalu mengikuti ayahnya yang sudah berjalan lebih dulu bersama ibunya.
"Mas aku nanti mau ke mall belanja bulanan boleh ya" Hanum meminta izin kepada suami untuk pergi ke mall, sambil menggandeng lengan Wijaya mesra. gama tidak risih ia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu setiap hari.
"Boleh sayang, tapi jangan kelamaan belanja nya dan ingat harus hati-hati ya" entah kenapa Wijaya sangat berat dan gelisah membiarkan istrinya itu pergi ke mall hari ini, biasanya ia tak pernah seperti itu.
"Makasih mas, aku akan membawa mobil sendiri sambil ingin jalan jalan sebentar mas". ujar Hanum memberikan tas kerja kepada suaminya. ketika mereka berhenti tepat di dekat mobil.
Wijaya memegang tasnya ia memandangi lekat wajah istri nya itu, seolah tak akan bisa melihatnya lagi esok hari. menarik Hanum kedalam pelukannya memeluk erat istrinya. " cepat pulang jika sudah selesai sayang" ucap Wijaya masih memeluk erat.
"Iya mas, kok manja banget sih kamu hari ini mas aku gak akan pergi jauh kok" balas Hanum membalas pelukan Wijaya mengusap lembut punggung suaminya.
"Ayah ayo berangkat nanti gama telat." teriak gama yang sudah di dalam mobil bibirnya mengerucut sebal melihat sikap menggelikan orang tua nya itu.
"Sebentar boy, diamlah!" sahut Wijaya melonggarkan pelukannya mengecup kening Hanum lalu mencium pipinya lalu secepat kilat mengecup bibir istrinya yang menggoda itu.
"Mas....!" Hanum melototi suaminya yang tidak tau tempat itu. lalu terkekeh geli melihat reaksi putranya yang semakin kesal.
"Dasar menyebalkan" sungut gama bersedekap.
"kenapa kau cemburu! Wijaya meledek putranya, Da... sayang, !" menengok kesamping melambaikan tangan pada Hanum.
"Ck," decak gama.
"Hati hati mas" balas Hanum mengulum senyum manis menatap mobil suaminya mulai menjauh. ia pun bergegas kembali ke mansion bersiap untuk berangkat ke mall, ia tak lupa membereskan pekerjaan nya Dahulu setelah itu pergi ke mall.
Di sisi lain
__ADS_1
"Bagaimana sudah kau lakukan!" tanya seorang di seberang telepon. kepada anak buahnya.
"Sudah bos dia sudah pergi dari mansion, anda tenang saja saya sudah melakukan nya ". balas seorang bertubuh besar bersembunyi di balik pohon tak jauh dari mansion itu. ia yang sudah selesai melaksanakan tugas nya.
"Bagus, jangan sampai ada yang melihatnya, kau ingat" balas seorang di seberang telepon itu.
"Siap bos!" jawab pria bertubuh besar tersebut mengakhiri panggilan nya lalu ia segera pergi dari sana setelah memastikan keadaan sekitar aman.
"Bi.. aku pergi dulu ke mall sebentar tidak lama, aku titip rumah ya" panggil Hanum pada pelayan mansion nya.
"Baik nyonya, hati hati di jalan" balas Bi Inah patuh entah kenapa dia ingin sekali mengucapkan kalimat itu.
"Ya sudah aku berangkat bi" Hanum menautkan kedua alisnya mendengar ucapan bi inah seperti menghawatirkan dirinya. tanpa berpikir banyak Hanum segera pergi keluar mansion menuju mobil, ia menghidupkan mesin mobilnya segera keluar dari gerbang mansion.
Ketika di area jalanan terlihat sepi Hanum sedikit menambah kecepatan laju mobil nya, tak lupa memutar lagu kesukaan dirinya dan suaminya di waktu muda dulu. Hanum mengikuti alunan musik yang di putar di mobilnya. sampai dirinya tak sadar di depannya ada pertigaan dan tiba tiba mobil berkecepatan tinggi dari arah berlawanan melaju kencang.
Tin......tin.....
seketika Hanum membola sempurna, segera menginjak pedal rem namun sayang mobilnya tak kunjung berhenti justru semakin tak terkendali, Hanum pun panik, gugup tak bisa mengerem ia pun akhirnya pasrah tak bisa menghindar. "Mas aku mencintaimu I love you" gumamnya. Hanum memejamkan matanya berharap ia bisa selamat. dan bertemu suaminya kembali.
Suara hantaman keras mobil hanum terpelinting jauh, mobil itu pun terguling berkali kali hingga sampai di tengah pertigaan. orang di sekitar sana pun dengan cepat membantu mengevakuasi kecelakaan itu.
****
Di kantor Wijaya
drrt...drrt.. drrt..
"Hallo... !" Wijaya mengangkat panggilan no privat di ponselnya.
"Benar dengan tuan Wijaya, kami dari pihak rumah sakit pelita harapan memberitahukan bahwa istri anda meninggal akibat kecelakaan tabrakan" jelas pihak rumah sakit dari seberang telepon .
"Hanum.." lirihnya Wijaya langsung terkulai lemas ponselnya terlepas dari genggaman nya pun tidak terasa, wajahnya pucat terduduk di lantai.
"Tuan..., ada apa!" seru feri asisten nya terkejut ketika masuk kedalam ruangan itu melihat bosnya seperti Mayat hidup terkulai lemas di lantai.
__ADS_1
Wijaya tersentak menatap feri detik berikutnya pun langsung berdiri menyeret"Ya tuhan... feri cepat kita ke rumah sakit sekarang!!" sentak nya bergetar di penuhi emosi dan rasa bersalah pada istrinya. Feri pun hanya terdiam mengikuti langkah bosnya yang sedang kalut itu.
"Pasien bernama Hanum cepat.!!" bentak Wijaya kepada perawat rumah sakit setibanya di rumah sakit Wijaya segera berlari kedalam.
"Ma.ri tuan ikut saya" balas perawat bergidik ngeri menghadapi kemarahan Wijaya, dengan cepat ia membawa pria itu ke ruangan mayat di mana Hanum berada di sana. " Silahkan tuan " imbuh perawat itu setibanya di depan kamar mayat. mempersilahkan Wijaya masuk.
Wijaya terdiam menatap sendu feri, feri mengangguk memberi kekuatan kepada bosnya untuk tetap tegar. Wijaya langsung masuk di ikuti oleh feri. Di dalam pun sudah ada dua polisi yang menangani kasus Hanum.
"Hanum..." lirih Wijaya perlahan menyentuh wajah istri nya yang terluka parah. ia sangat menyesal membiarkan istrinya pergi sendiri rasanya setengah jiwa nya hilang melihat istrinya tak bernyawa "bangun lah ayo kita pulang, bukan kah kau ingin melihat putra kita tumbuh dewasa" memeluk erat tubuh Hanum di atas brankas pasien. air matanya meluncur deras begitu saja.
"Tuan saya akan menyelidikinya" ujar feri ia sangat tak tega melihat kondisi istri bosnya, feri ingin mengusut sampai tuntas kasus ini.
"Kau harus habisi pelakunya" Wijaya menutup kembali tubuh istrinya, ia tak akan tinggal diam Wijaya akan memberi pelajaran kepada pelaku yang membuat istrinya meninggal.
"Maaf tuan Wijaya ini surat hasil penyelidikan kasus istri anda, menurut keterangan TKP dan saksi istri anda murni kecelakaan, karena mobil istri anda kehilangan kendali saat mengemudi dan kecepatan tinggi membuat oleng mobil tersebut" seorang polisi memberikan berkas pada Wijaya.
"Pak tolong selidiki ulang kasus ini saya mohon saya akan beri kompensasi berapa pun untuk membayarnya"
Wijaya tak rela jika kasus ini di nyatakan alami, ia berusaha memaksa petugas kepolisian itu, namun itu tak mendapat kan hasil polisi tersebut menggeleng, menepuk bahu Wijaya pelan seraya memberi kekuatan dan maaf tidak bisa membatu lebih lagi.
Di kediaman Wijaya seorang anak laki laki menangis histeris melihat ibunya yang sudah tak bernyawa ketika dirinya pulang sekolah.
"Ibu.....ibu... jangan tinggalin gama hiks hiks.. ibu gama tidak bisa tanpa ibu, kumohon ayah bangunkan ibu yah...". memeluk erat jenazah ibunya beralih memohon pada ayahnya yang sama sama syok kehilangan.
"Sayang kau harus ikhlas doa kan ibu tenang Disana ya, ayah janji akan mencari tau siapa dalang semua ini, kau percaya pada ayah kan!".
Wijaya memeluk erat putra nya memberi sedikit pengertian kepada gama, ia pun merasa jatuh ke dasar jurang atas kepergian istri tercinta.
"Ayah berjanjilah " lirih gama sesegukan meminta ayah nya berjanji padanya untuk menemukan penjahat itu.
"Kau pegang janji ayah sayang". ujar Wijaya mengusap air mata putranya ia pun sedikit meneteskan air mata tanpa sepengetahuan gama, Wijaya berusaha kuat di hadapan putranya itu supaya gama menjadi anak yang kuat.
ya walaupun masih sepuluh tahun gama sedikit banyak nya ia sudah memahami ucapan ayahnya dan sejak saat itu gama berubah jadi pria dingin.
...jangan lupa like komen favorit πβ€οΈ tinggalkan jejak kalian semua π₯° love you kalian π·...
__ADS_1