
Di sebuah ruangan kerja yang sangat luas dengan interior desain modern. suara ******* sepasang suami-isteri yang menggema memenuhi seluruh isi ruang tertutup tersebut. tampak seorang wanita cantik tengah duduk di pangkuan suaminya di sofa dengan rambut tergerai sepinggang dan pakaian yang terlihat berantakan.
"ughh... kak" gania melenguh nikmat saat gama memainkan gunung kembarnya dengan lembut.
Setibanya di ruang kerja miliknya gama langsung mencumbu mesra istrinya penuh cinta. Mendengar istrinya mendesah membuatnya bersemangat, gama semakin memperdalam ciumannya dan sangat menuntut. memberi sentuhan lembut ketitik sensitif sang istri.
" kau sudah basah sayang " bisik gama sensual memainkan lembah indah yang lembab di bawah sana dengan lembut.
"kak jangan disi-ni-ah.." lirih nya terputus putus seraya mendesah mengalungkan kedua tangannya ke pundak suaminya karena mulai bergairah.
suara decapan saling bersahutan menghiasi ruangan senyap yang tertutup rapat tersebut. bibir mereka saling mencaplok berbagi kenikmatan yang menggetarkan jiwa dan mengabaikan ponsel gania yang terus menerus berdering di dalam tasnya.
" sayang aku tidak bisa menahannya lagi" bisik gama merasakan adik kecilnya meronta-ronta ingin segera memasuki rumahnya.
Tok tok tok
__ADS_1
Pintu di ketuk dari luar, Vicky berdiri di balik pintu merasa geram saat ingin memasuki ruangan tapi pintunya terkunci. Niatnya ingin menyampaikan informasi penting. justru di suguhi suara jahanam dari dalam ruangan yang menodai pikiran sucinya.
" kak, itu ada yang da-tang" ucap gania di sela sela ciumannya. suara ketukan pintu dan bunyi deringan ponselnya sangat mengganggu Indra pendengaran nya.
Gama justru semakin menggila dan mengabaikan perkataan istrinya, belum sempat membawa gania kekamar pribadinya suara teriakan Vicky terdengar nyaring di ruangan tersebut.
"Tuan!" teriak Vicky dengan intonasi tinggi membuat karyawan lain di sekitarnya langsung menatap nya aneh. " kembali bekerja atau di PHK" ancam Vicky dengan wajah kesalnya. sontak mereka semua kembali ke meja nya masing-masing.
"Ah sial mengganggu saja" umpat gama terpaksa melepaskan tautan bibir mereka kemudian menurunkan long dress istrinya yang menyingkap keatas.
"bersihkan tubuhmu sayang nanti kita lanjutkan setelah pulang" ucapnya kembali mengecup dan ******* bibir istrinya sekilas rasanya begitu enggan menyudahinya.
" cepat buka pintunya, siapa tau penting kak" ujar gania melototi suaminya ia segera bangkit dari pangkuan gama dan masuk kedalam kamar pribadi suaminya.
Gania tak tega melihat suaminya yang tersiksa karena gagal menyalurkan hasratnya. dia juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Dengan malas gama memutar handle dan membuka pintu nya. tatapan kekesalan dari Vicky menyapanya.
ceklek.
"CK, tidak perlu menatap ku begitu, ada apa kau kesini?" decak gama merasa kesal dan kembali duduk ke kursi kerjanya.
Menatap menyelidik kearah bosnya Vicky melihat banyaknya keringat bercucuran di dahi gama dan pipinya yang memerah, apakah bosnya itu usai bersetubuh dengan istrinya pikirnya bertraveling liar.
" katakan atau keluar dari sini sekarang" ancam gama menatap tajam Vicky.
" pak beni bersama putri nya susan ada di lobi bawah tuan, katanya mereka ingin bertemu dengan anda " sebenarnya karena hal itulah Vicky mendatangi bosnya.
Gama menghembuskan napas dengan kasar, masalah apalagi yang akan terjadi pikirnya. " bukankah mereka sudah bertemu ayah lalu untuk apa mereka datang kesini" ujar gama.
" pak Wijaya belum memberikan taken nya tuan, sebab itu mereka datang kemari ingin melakukan taken dengan anda atas perintah tuan Wijaya" sahut Vicky dengan cepat.
__ADS_1
" what!" pekik gama mengusap wajahnya dengan kasar." suruh mereka masuk " bisa bisanya ayahnya itu berbuat seenaknya dan merepotkan saja gerutunya.
Gama tak sebodoh itu untuk dikelabui, dia tahu rencana licik beni yang sebenarnya. Dengan membawa susan padanya sebagai umpan hanya untuk mendapatkan sebuah teken bisnis proyeknya. Tak pandang putri ataupun spg semua asalkan demi rupiah segala cara akan dilakukan dalam dunia bisnis. Tapi bagi gama itu merupakan perbuatan tak manusiawi tak bermoral dia cukup sering menemui rekan bisnis seperti itu.