
" Sayang dengarkan aku..." Gama berbicara dengan penuh kelembutan, Gama merangkum wajah Gania agar menatap kearah wajah nya.
" Awalnya aku ingin memberitahu mu secara langsung, Tapi, Tante Lilia melarang ku, karena takut nantinya kau akan kepikiran terus dan mengganggu kesehatan mu." Jelas Gama, mengapa ia tidak memberitahu Gania perihal pembicaraannya dengan Lilia tempo hari.
Satu jam yang lalu, Lilia datang ke mansion menemui mereka dan berpamitan untuk kembali pulang ke kota Bogor dimana dulu Lilia dan istrinya tinggal. Dan niatnya Lilia akan menetap disana untuk seterusnya. Dan hal tersebut telah membuat Gania terkejut karena baru mengetahuinya.
Gania menghela napasnya, bukan karena dia tidak suka di bohongi, tetapi ia kecewa karena suaminya menganggap nya lemah dan harus dijaga dengan ketat. Padahal dia sehat-sehat saja, dan tidak sakit separah itu.
" Terima kasih, sudah menghawatirkan ku." Balas Gania, menatap lekat wajah suaminya yang semakin terlihat tampan saja semakin kesini." Tapi, aku ini bukanlah wanita yang menderita kanker stadium akhir, yang tidak boleh mendengar atau pun melakukan hal apapun, kak?" Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca menahan tangisnya. Ia merasa perhatian yang diberikan keluarganya begitu berlebihan menurut nya, padahal dia juga berhak tahu Lilia hendak menetap di-Bogor.
Mendengar Gania yang mengeluh tidak mau dianggap wanita penyakitan tak berdaya, membuat Gama semakin merasa bersalah dan menyesali perbuatannya. Karena tidak jujur apa-adanya dengan Gania.
__ADS_1
" shust..." Gama menaruh telunjuknya dibibir ranum Gania. " Jangan berkata seperti itu, aku tidak suka. Aku janji untuk kedepannya hal seperti ini tidak akan terulang lagi." Gama mendekatkan wajahnya kemudian menyatukan kening mereka berdua, Menyalurkan rasa kasih sayangnya yang begitu besar untuk wanita nya dan putranya yang masih berada di kandungan.
" Janji, Mulai hari dan seterusnya jangan pernah menyimpan rahasia apapun di antara kita." Pinta Gania, memejamkan matanya sambil menikmati napas mint yang keluar dari mulut Gama menerpa wajahnya memberikan sensasi hangat.
" Janji Sayang." Gama mengecup bibir mungil istrinya." Kau tidak marah lagi, kan?" Tanya Gama, Belum sempat Gania menjawab, gama kembali mencium bibir Gania dengan lebih dalam dan lebih lama dari sebelumnya.
" Siapa bilang, Aku masih marah ." Ketus Gania memalingkan wajahnya, setelah ciuman mereka terlepas. Walaupun mereka ber-dua sering berciuman, namun Gania masih suka merasa canggung bila berada diposisi seintim seperti saat ini.
" Sebentar. Aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Gania dengan wajah serius nya.
" Katakan saja, apa yang membuat mu gelisah?" Gama balik bertanya pada istrinya.
__ADS_1
" Bagaimana nasibnya Susan? Putri dari Tuan Beni? kau tidak melakukan hal yang sama dengan Reni pada Susan, kan?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut mungil istrinya.
Gama yang merasa pertanyaan Gania tak begitu penting menurutnya dan mengira bahwa Gania hanya menghindari topik utama mereka yaitu, menjenguk baby boy yang susah sebulan ini tak ia kunjungi.
" Sayang masalah itu nanti saja. yang terpenting sekarang adalah putra kita sudah merindukan Daddy nya." Bisik Gama dengan suara beratnya. Dengan perlahan Gama membaringkan Gania keatas tempat tidur kemudian mengunci tubuh istrinya yang sedikit gemukan semenjak hamil besar di bawah kendali nya.
plak..
Tamparan keras melayang di pundak Gama, sambil Gania menahan dada bidang Gama yang ingin mendekat.
" Dasar mesum tak ada obat! Aku tahu, tapi jawab dulu pertanyaan ku, Sayang?" Ucap nya dengan nada lembut, berharap Gama mau menceritakan semua kejadian nya tempo hari.
__ADS_1