Cool But Love

Cool But Love
bab102


__ADS_3

"Cantik.." Gumam Gania sembari mengusap cincin yang tersemat di jari manisnya dengan mata berbinar-binar. Melihat Gania bahagia Gama tersenyum tidak sia-sia waktu itu ia membeli cincin tersebut di sebuah toko di mall ketika bersama reni.


" Apa kau suka ?" Tanya Gama membuat Gania langsung menatap nya.


" Hem, suka banget!" jawab Gania bersemangat." Eh, ngomong-ngomong bagaimana caranya bisa dapetin cincin ini Sayang?" tanya Gania menatap menyelidik kearah suaminya yang tengah menatapnya nakal. Karena seingatnya saat itu Gama hanya membeli satu cincin saja.


Gama tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan wanita itu, apakah Gania melupakan masa itu dimana dia di ajak menemaninya membeli cincin pertunangan dengan Reni kala itu.


" Apa kau lupa saat itu kau juga ikut ke mall untuk..?"


" Stop! aku malas mengingat kejadian itu, kau itu menyebalkan." Sahut Gania dengan cepat memotong perkataan Gama sambil mencebikan bibirnya kesal.


" Hei.. kau marah," Gama tersenyum menggoda Gania, lalu berdiri mengulurkan tangannya kearah Gania. " Ayo kita berdansa," Ajak Gama setelah menekan remot kontrol diatas meja untuk menyalakan sebuah musik dan lampu-lampu di ruangan tersebut menjadi seperti di pesta-pesta.


"Sayang..ini.." Gania tak bisa berkata-kata hanya menatap takjub ruangan tersebut." Tapi, aku tidak bisa berdansa " Selorohnya dengan polosnya membuat Gama merasa gemas dan kesal.


"Ah!" Pekik Gania saat tubuhnya di tarik oleh Gama.


Gama meletakkan satu tangan Gania di pundaknya lalu menyuruh Gania menaiki kakinya, kemudian ia menahan pinggang Gania dengan satu tangan, sementara satu tangan nya ia takutkan dengan tangan Gania.


" Kau tinggal ikuti gerakan kakiku bisa, kan." bisik gama dengan suara lembut.


" Huff, bisa Sayang, tapi ini sangat sulit, lihat perutku sudah besar, membuat ada jarak, kau pasti tidak senang " Ujar Gania menatap perutnya dan merasa tak enak hati pada Gama, karena tidak bisa seromantis seperti biasanya berdansa.

__ADS_1


Cup


Gama mencium bibir mungil istrinya sekilas sambil terus bergerak mengikuti alunan musik yang mendayu-dayu. Dengan tetap berdansa Gama kembali mencium bibir Istrinya dengan perlahan dan lembut hingga keduanya terhanyut dalam permainan bibir mereka.


"Tuan! permisi..?" Vicky yang memasuki. kamar apartemen itu terkejut melihat adegan pemandangan hot di depan matanya ia segera membalik badan.


" Mau kemana kau!" Hardik Gama setelah melepas ciuman bibir mereka lalu membawa Gania kesofa.


" Ada apa kemari!" Tanya Gama dengan tatapan tajam karena pria itu hanya diam saja.


Gania hendak menegur namun terhenti saat Gama mengangkat tangan nya agar istrinya itu diam.


" Ah... itu.. anu.. bos," Vicky jadi malu dan gagap menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Tapi berita yang ia bawa sangat penting sekali.


" Vicky bicaralah yang benar!" sentak Gama.


" Apa..!" Pekik Gama dan Gania bersama. Gama melotot tajam pada Vicky, Gania yang syok menangis histeris mendengar berita yang di bawa oleh Vicky.


" Kau tidak sedang bercanda.kan "


" Ayo kita pulang sekarang!" Sentak Gania kesal karena suaminya itu hanya mematung saja sedangkan dirinya sudah tidak bisa berpikir jernih memikirkan ayah mertuanya.


Gama yang tersadar dari lamunannya segera menggendong istrinya ala bridal style. Gania tak memberontak sama sekali, ia juga tahu maksud suaminya tidak membiarkan dirinya jalan kaki karena saat ini sedang panik." kita kembali sekarang" Gama berjalan keluar dari ruangan menuju mobilnya di lantai dasar di ikuti oleh mereka langsung menuju mansion. Karena memang Wijaya di rawat di sana.

__ADS_1


.


.


.


" Kenapa kau tidak menelpon ku Feri! kalau terjadi sesuatu pada ayah aku tidak akan mengampuni mu!" Tegur Gama pada Feri yang tidak mengabari nya jika ayahnya kecelakaan. setelah mereka tiba di dalam mansion.


Feri yang bingung hanya diam tak tahu harus menjawab apa karena tuan Wijaya sendiri melarang nya untuk mengatakan kepada tuan mudanya dengan alasan tidak ingin mengganggu acara dinner putranya.


" Ayah yang melarang nya, lagi pula aku tidak apa-apa cuma lecet saja" Wijaya yang menjawab sembari menatap Gama dan Gania penuh rasa syukur.


" Bagaimana mana ceritanya, sampai Ayah bisa di serempet mobil begini?" Tanya Gania dengan nada lembut dirinya yang duduk di bibir ranjang dengan telaten memberi pijatan lembut di lengan mertuanya.


" Kejadiannya sangat cepat Ayah tak memperhatikan keadaan sekitar, mobil itu begitu kencang melaju" Ujar Wijaya memberi kode kepada menantunya untuk berhenti memijatnya ia merasa malu dan takut singa di sampingnya akan marah besar padanya. Dan mau tidak mau Gania menuriti perintah Ayahnya saat Gama menatap nya aneh.


" Aku tidak sekejam itu Ayah.." Gama menjadi sedikit kesal saat Ayahnya seolah mengolok kecemburuan kepada istrinya. " Baby, istirahat lah di kamar, nanti aku menyusul, biar Ayah juga bisa istirahat." Kata Gama mengecup kening Gania sekilas. Tanpa melawan Gania mengangguk lalu berlalu pergi menuju kamarnya di lantai dua.


" Vicky kau tahu apa yang harus kau lakukan." Ucap Gama dengan dingin sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh Ayahnya yang sudah tertidur beberapa menit lalu.


" Baik tuan." Jawab Vicky sembari menyenggol lengan Feri di sampingnya.


Feri memahami kecemasan tuan mudanya tersebut, ia mengakui kesalahannya telah lalai melindungi majikan nya.

__ADS_1


" Saya minta maaf tu--" Feri belum sempat berujar Gama sudah menyelanya dahulu.


" Untuk mu Feri, jaga Ayah, dan bantu Vicky !" Gama berkata dengan tegas mecengkram kuat bahu Feri menatap penuh harap, pria baya itu kaki tangan kanan Ayahnya yang sudah puluhan tahun bekerja di keluarga Wijaya.


__ADS_2