
tin..tin...
"Butuh tumpangan!" seru seorang lelaki paruh baya setelah membuka kaca mobil mewah nya. melihat gadis cantik sedang berdiri di pinggir jalan sendirian.
Gania menengok kesamping di lihatnya pria paruh baya di dalam mobil menawarkan tumpangan padanya.
"emm, tidak usah tuan! saya sudah memesan taksi!" Jawab Gania bola matanya mengamati wajah pria itu. bukan kah dia orang yang hampir tertabrak mobil waktu lalu.
Wijaya tersenyum tipis mendengar penolakan gadis yang ia kenal itu, ketika dirinya tidak sengaja lewat sana dan melihat sosok gadis yang pernah menolongnya, inisiatif menawarkan tumpangan untuk ikut bersamanya."naiklah tidak perlu takut dan sungkan, cepat masuk!" ucap Wijaya menatap Gania penuh keyakinan tidak menerima penolakan.
Gania bingung menggigit jari telunjuk nya, dirinya yang ditatap penuh harap oleh pria itu merasa tidak enak jika ia menolak niat baik nya." baik lah tuan" akhirnya Gania menerima ajakan pria itu dan masuk ke dalam mobil.
"Siapa nama mu?" tanya Wijaya yang ingin tau nama gadis itu sejak menolong dirinya waktu lalu.
"Ga.nia tuan!" balas Gania sembari jari lentiknya meremas tas selempang nya ia merasa sedikit gugup.
" pipimu berwarna merah Gania!"Wijaya melihat ekspresi wajah Gania sedikit pucat dan gugup melalui spion kemudi menjadi khawatir dan mencoba mencairkan suasana didalam mobil.
" benarkah tuan!" Gania reflek menoleh ke jendela mobil bercermin memastikan jika pipinya benar merah atau tidak sembari mengusap pipinya dengan kedua telapak tangan nya. tentu hal tersebut membuat seorang wijaya langsung tertawa lepas.
"hahaha...! kau itu imut dan lucu Gania, saya belum pernah bertemu gadis sepertimu!!" Wijaya merasa kram perut akibat tertawa melihat sikap Gania yang sangat polos.
astaga Gania dirimu kenapa sangat memalukan aaa.!
" hehe, tuan anda tidak papa?" Gania merasa sangat malu membuang pandangannya kesegala arah. dan sedikit keheranan melihat pria di depanya tertawa lepas karena dirinya.
feri sedari tadi mendengar percakapan bosnya dengan gadis cantik itu mengembangkan senyuman. pasalnya baru kali ini tuanya bisa tertawa lepas semenjak istrinya meninggal." tuan sepertinya dia sangat unik" ucap feri melirik tuanya.
"kau benar feri, dia sama Persis mendiang ibu anak dingin itu! aku akan mengajaknya ke mansion untuk makan bersama" balas Wijaya pelan, lalu menoleh ke belakang " Gania kamu ikut saya makan bersama di mansion, anggap saja ucapan terimakasih ku, karena sudah menolong saya waktu itu!"
"eem..... tapi tuan...?". Gania yang lagi memikirkan cara untuk menolak.
__ADS_1
"tidak ada penolakan!!!, kau tidak usah khawatir di mansion saya ada pelayan yang akan menemanimu" Wijaya memotong perkataan Gania yang berusaha mencari alasan untuk menolaknya.
"Baiklah tuan" jawab Gania menganggukkan kepalanya setuju. setelah itu suana hening menemani perjalanan mereka sampai tiba di mansion.
***
Di mansion Wijaya
"Bi inah...!!" Wijaya memanggil bi Inah dari ruang tengah saat dirinya bersama Gania tiba di mansion.
"Gania kamu tunggu disini saja, saya mau ke atas dulu, jika ada yang ingin kamu butuhkan minta saja sama bi Inah, nah... itu bi Inah datang". Wijaya yang sedang berbicara pada Gania menunjuk ke arah bi Inah berjalan kearah mereka.
"Baik tuan!" jawab Gania menatap bi Inah yang sudah di sampingnya sedang menunduk hormat pada Wijaya.
"Bi Inah kenalkan ini Gania, dia akan ikut makan bersama disini, saya mau kekamar dulu, kamu bantu dia! kalau sudah selesai memasak panggil saya!" ucap Wijaya menjelaskan pada bi inah.
"baik tuan" jawab Inah patuh dan membungkuk hormat. setelah bi Inah mengerti Wijaya langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya di atas.
"makasih bi, bibi tidak perlu manggil saya nona, cukup panggil Gania saja, dan tidak perlu menunduk hormat saya menganggap bibi sama seperti ibu saya sendiri" ujar Gania yang tidak mau di panggil nona menurutnya itu tidak pantas untuk nya. walaupun harus menurutnya itu sangat berlebihan. sambil celingukan menatap ruangan mansion yang sangat megah.
"baiklah non.... eh gania!, kalau begitu saya kedapur dulu " pamit Inah kepada Gania tuan anda hebat bisa membawa kembaran almarhum nyonya ke sini sungguh gadis ini sangat polos dan baik.
***
lima belas menit Gania menunggu di sofa merasa jenuh tidak ada yang di lakukan, lalu berdiri dari duduknya kemudian menyusuri tiap sudut ruangan mencari letak dapur setelah menemukan bi Inah yang sedang berkutat dengan masakan nya Gania menghampirinya.
" bi boleh aku bantu, aku pegal hanya duduk saja di sofa sejak tadi, boleh ya aku membantu bibi memasak!" ucap Gania yang ikut nimbrung mengolah bahan masakan di atas meja.
"nanti jika tuan tau saya kena omel non" seloroh bi Inah melarang Gania membantunya, namun Gania tak memperdulikan kekhawatiran Inah, bi Inah yang melihat Gania lihai berkutat dengan bahan masakan tersenyum lebar.
"nyonya saya bertemu anda versi muda lihatlah gadis ini sungguh pintar memasak" bi inah membatin. tanpa mereka sadari dari ruang tengah sepasang mata melihat kegiatan Gania yang lihai memasak di dapur, tidak manja mau membaur dengan pelayan, pria itu mengembangkan senyuman.
__ADS_1
semua hidangan sudah tersaji di meja makan Gania pun mencuci tangan nya di wastafel kemudian menuju ruang makan dimana tuan Wijaya sudah menunggunya di sana.
"Duduk lah Gania, kita makan malam dulu, jangan sungkan makan yang banyak" ucap Wijaya ketika Gania sudah sampai di meja makan.
"Baik tuan" Gania tersenyum tipis, awalnya Gania sungkan namun karena sudah sangat lapar, dengan cepat melahap makanan di piringnya.
"ayah ibumu tidak marah kan kamu pulang kemalaman?" Wijaya merasa cemas jika nanti orang tua Gania memarahinya karena putrinya pulang larut malam.
Gania meneguk air minumnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Wijaya padanya."eem, kedua orang tua saya sudah meninggal tuan, sekarang saya tinggal bersama bibi di kampung, tapi saat ini saya sudah bekerja di...?" Gania terdiam sejenak.
"Maaf bukan maksud saya mengingatkan masa lalu mu!" ujar Wijaya merasa bersalah dan kasihan terhadap gadis di hadapannya itu."lalu kamu kerja dimana..?" imbuh Wijaya menatap Gania yang melamun tak menjawab ucapan nya.
"hah...eh saya bekerja dengan pria yang dingin sok cool dan pemaksa tuan!" Gania langsung membekap mulutnya, dirinya yang kaget berbicara beruntun mengatakan bosnya itu membuatnya kesal tanpa sadar mengatakan nya pada tuan Wijaya.
Wijaya mengernyit heran bisa bisanya gadis ini mengatakan semua tentang bosanya padanya. sedetik berikutnya tertawa kecil." ada ada saja kamu ini, jika bosmu itu pria dingin membuatmu kesal kenapa kamu tidak berhenti bekerja" ujar Wijaya tersenyum geli, lalu mengingat sikap putranya itu.
"hehehe... tuan" Gania menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. dirinya sangat malu karena keceplosan.
"Kamu tau, saya juga punya putra dia juga seperti bosmu itu dingin, dia juga tidak mau tinggal di mansion ini bersamaku, semenjak istriku meninggal sikap putraku berubah" entah mengapa Wijaya merasa senang menceritakan soal keluarganya pada gadis mungil itu.
"eem, tuan mungkin dia merasa kehilangan sosok ibu yang mungkin membuatnya seperti itu" Gania menjawab dengan perasaan yang lembut.
"Mungkin begitu, kamu sudah selesai makan saya antar pulang sekarang!" ujar Wijaya menatap bola mata bening gania yang terlihat teduh.
" Tidak perlu repot-repot tuan, saya bisa naik taksi saja" ujar Gania merasa tidak enak jika harus merepotkan pria itu.
"kamu di antar supir mansion jangan menolak dan sudah larut malam tidak baik kamu pulang naik taksi" ucap Wijaya tegas menatap Gania penuh keyakinan tidak ingin terjadi sesuatu pada gadis itu. dan membuat Gania patuh tak bisa membantah.
"baik tuan" Gania pun menganggukan kepalanya. lalu Wijaya mengantar Gania sampai depan mansion memastikan gadis itu aman masuk kedalam mobil, di antar oleh supirnya.
......jangan lupa like komen ya π kk semua π₯°ππ·π·π·......
__ADS_1