Cool But Love

Cool But Love
Bab 98


__ADS_3

Satu minggu berlalu, dan selama tiga hari terakhir pula Gania di buat gelisah dan resah akan perubahan sikap Gama yang biasanya hangat padanya tiba-tiba berubah cuek dan tidak perhatian seperti biasanya.


Pagi ini wanita dengan kedua pipinya yang semakin bertambah gembul, tubuhnya sedikit gemukan, perutnya yang terlihat buncit karena tengah mengandung itu tengah berdiri di sisi ranjang memandangi wajah meneduhkan suaminya yang masih tertidur pulas.


" Apa yang sedang di sembunyikan olehmu sebenarnya? apa salahku hingga seminggu ini kau begitu mengabaikan ku akhir akhir ini ?" ucap Gania dalam hati dengan raut wajah sendu nya menatap lekat wajah tampan suaminya, setelah bangun sangat pagi sekali dan sudah tampil cantik Gania tak lupa menyiapkan pakaian kerja suaminya.


Gania memalingkan mukanya yang hampir menangis, ia memilih segera pergi dari ruangan dan kembali ke dapur membantu bi Inah menyiapkan sarapan. Kepergian Gania dari ruangan tersebut, perlahan Gama membuka matanya, sebenarnya Gama hanya berpura-pura tertidur saat istrinya memasuki kamar.


" Maafkan aku sayang, semua ini aku lakukan demi dirimu. " Gama menyibakkan selimutnya lalu bangkit turun dari atas kasur dan bergegas mandi bersiap-siap untuk pergi kekantor nya.


Gania terus mengayunkan kakinya hingga sampai ke dapur menghampiri bi Inah yang sibuk memasak ia pun duduk di meja dapur.

__ADS_1


" Ayah dimana bi, dari tadi aku tidak melihat nya," tanya Gania pada bi inah yang sedang berkutat di dapur.


Merasa ada yang memanggil bi Inah menoleh kearah Gania lalu tersenyum. " Eh, nona Gania, tuan lagi menyiram tanaman di taman belakang mansion non, ada apa memangnya, nona tidak apa-apa kan? " Tanya bi Inah merasa cemas saat melihat raut wajah nona Gania yang terlihat murung.


" Aku tidak apa-apa bi ... " Gania berusaha mengalihkan topik pembicaraan. " Sini biar aku saja yang bawa sayurnya ke sana, lebih baik bibi susul ayah di belakang ya, " ujarnya merebut wadah berisi makanan dari tangan bi Inah.


" Baiklah non. " Bi Inah pun menurut dan langsung pergi ke belakang sesekali menoleh memandangi punggung nona Gania. Ia tahu nona nya itu sedang tidak baik-baik saja.


Gania mengalihkan pandangan nya kearah suaminya, di lihatnya Gama yang tengah berjalan terburu-buru menuruni anak tangga sembari membawa tas kerja nya, ekspresi pria itu nampak datar sekali tidak ada senyum sedikitpun di wajahnya.


" Maaf, aku sedang ada rapat penting jadi tidak bisa ikut sarapan bersama mu, tidak apa-apa kan," tolak Gama yang hanya menatap sekilas istrinya lalu berjalan melewati istri nya begitu saja, jujur hatinya sangat nyeri ketika melihat kekecewaan di wajah cantik istrinya itu tapi ia harus bertahan sedikit lagi.

__ADS_1


Dengan napas memburu dan tangan terkepal erat Gania menatap perih kearah suaminya.


" Apa pekerjaan mu itu lebih penting dari segala nya termasuk aku ini!" teriak Gania dengan suara bergetar hebat membuat langkah gama berhenti.


" Tentu saja dua duanya penting, tapi rapat ini lebih penting dari mu untuk saat ini," ujar Gama tanpa melihat kebelakang seraya mengulum senyum.


Sungguh ia pun ingin melihat ekspresi istrinya saat ini pasti sangat lucu saat sedang marah, tapi ia harus menahannya tidak ingin usahanya seminggu ini akan sia-sia jika tidak sabar menunggu.


" Kau jahat, egois!" Seru Gania dengan perasaan emosi yang meledak-ledak dalam hati nya. di tatap nya penuh selidik punggung tegap suaminya yang mulai hilang di balik pintu mansion.


Sedari tadi Wijaya yang berdiri tak jauh dari ruang makan menghela napas panjang, ia merasa tak tega harus melihat menantunya itu di kerjai oleh putranya sendiri, meski ada tujuan tersendiri, tapi tetap saja perasaan was-was terhadap kandungan wanita itu terguncang.

__ADS_1


Dengan berusaha tegar Gania segera menyeka air matanya yang hendak menetes saat kehadiran Ayah mertua nya di sana, ia tidak mau terlihat lemah.


...makasih πŸ™πŸ™πŸ™...


__ADS_2