
Setelah puas berkeliling dan berbelanja di mall, Andre dan Vivi pun memutuskan untuk kembali pulang, namun baru saja keduanya keluar dari dalam lift, dari arah tak jauh Gama, feri, dan beberapa pengawalnya terlihat berjalan kearah Andre dengan raut wajah tegang, Andre yang melihat hal itu tentu saja langsung menghampiri nya.
" Bro, ada apa ini?" Tanya Andre dengan tatapan penuh tanya sembari merangkul pinggang Vivi dengan posesif. membuat Vivi hanya bisa tersenyum kaku dengan sikap Andre yang begitu padanya.
" Seseorang telah menculik Gania, aku baru saja mengecek video Cctv dari pihak mall, " Jelas Gama dengan sendu bercampur emosi. "Semua ini gara-gara mereka yang tidak becus bekerja." Hardiknya menatap tajam kearah semua anak buahnya yang menundukkan kepalanya. ia kembali marah saat teringat video Cctv yang memperlihatkan Gania di seret oleh seorang pria sampai dipertigaan antara kearah gudang, toko dan juga kamar toilet umum setelah itu tidak ada lagi video kemana pria itu membawa Gania.
" Apa?," pekik Andre dan Vivi bersamaan.
" Tante Lilia harus tahu hal ini.." Vivi yang gugup hendak akan menghubungi Lilia itu terpaksa terhenti.
" Jangan! " Cegah Gama dengan tegas.
" kenapa ?..."
Bukan hanya Andre dan Vivi yang bingung, namun para pengawal dan Feri merasa aneh pada Gama begitu pula semua pasang mata pengunjung mall melihat kearah mereka, Menyadari semua mata tertuju padanya Gama menghembuskan napas kasar.
"Sebelum aku menemukan istriku, jangan sesekali kalian memberitahu Tante Lilia, aku tidak ingin dia merasa cemas." Ucap Gama dengan aura dingin sembari mengangkat panggilan telepon dari Vicky.
" Bagaimana?...." Seketika raut wajah nya berubah sangat dingin dengan tangan terkepal kuat, rahangnya mengeras karena menahan emosinya, saat mendengar Vicky mengatakan jika Vicky berhasil melacak mobil yang membawa istrinya tengah berada di salah satu jalanan kota yang menuju ke sebuah vila terpencil.
" Kau terus awasi, aku segara kesana." Ujar Gama.
" Baik tuan." Sambungan telepon terputus begitu saja.
" Apa terjadi sesuatu padanya..." Dengan hati-hati Andre bertanya karena takut semakin menambah emosi Gama yang sedang memuncak.
" Aku tidak punya banyak waktu ," Gama melirik dengan tajam Andre. " kita pergi sekarang!" Serunya yang langsung berjalan pergi dari mall di ikuti oleh Feri dan juga anak buahnya, tanpa mempedulikan Andre dan Vivi yang masih terdiam di tempatnya.
" Tunggu...." Setelah tersadar dari lamunannya Andre segera mengejar Gama sembari menghubungi asisten nya untuk menjemput Vivi, Sementara itu Vivi yang ditinggalkan oleh Andre hanya bisa melihat kepergian Andre dengan perasaan yang cemas.
" Semoga kalian cepat menemukan sahabat ku, ya tuhan lindungi lah dia," Doa' Vivi dengan tulus, ia selama ini tahu Bagaimana Gania menjalani hidupnya yang dipenuhi lika-liku penderitaan dan cobaan, Gania harus bekerja di restoran untuk membiayai hidupnya sehari-hari di kota ini bersama Tante Lilia dan juga melunasi hutang piutang Om nya yang suka bermain judi.
__ADS_1
.
.
.
.
"Nghh..." Gania yang terbangun dari pingsannya mengeliat sambil membuka ke-dua matanya dengan perlahan dan didetik itu juga ia kembali terkejut saat menyadari dirinya berada didalam mobil sembari melihat sekeliling nya." Kau ... " Lagi Gania membelalak lebar sangking terkejut melihat seorang pria bertato disampingnya dan juga Reni mantan tunangan suaminya itu tengah menatapnya dengan tatapan kebencian.
" A-apa yang kalian lakukan.. aargh." Ucap Gania dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan, belum selesai ia berkata Reni sudah lebih dulu mencengkram lehernya dengan kuat.
" Kau masih tanya apa yang ku lakukan, hahaha," Reni tersenyum sengit ." Kau itu sudah menghancurkan semua hidupku, kau sudah merebut orang yang kucintai pergi dari ku Gania!" Sentak Reni penuh amarah, ia tak bisa lagi mengendalikan emosi nya, di otaknya hanya dipenuhi oleh rasa benci dan dendam kepada Gania. tanpa sadar cengkraman di leher Gania semakin kuat hingga membuat wanita itu kesulitan bernapas.
Be yang sedari tadi hanya diam fokus menyetir akhirnya bersuara saat melihat Reni menyiksa Gania dan membuat nya kehabisan oksigen.
" Hentikan Reni! Kau bisa membunuhnya, kendalikan emosi mu," Bentak Be dengan suara keras dengan satu tangannya tetap menyetir sembari tangan yang satunya berusaha melepaskan tangan Reni dari leher Gania. Reni sendiri yang tersadar dari perbuatannya langsung menghempaskan dengan kasar kepala Gania lalu kembali duduk di bangku nya.
" Diam kau...!" Sentaknya dengan intonasi tinggi melayangkan tinjunya keudara karena sangat marah, membuat Gania bergidik ngeri melihat nya.
Disaat Reni sedang menatap haus ingin melenyapkan Gania, Dari spion kemudi Be melihat tiga mobil mewah berwana hitam mengikuti mobil miliknya dari belakang.
"Sial!"
Ia semakin mempercepat laju mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Reni terkejut dan Gania pun begitu ketakutan segera berpegangan pada sabuk pengaman.
" Be ...." Reni hendak memarahi Be tapi tidak jadi saat melihat mobil yang berada dibelakangnya menyalip dan menghadang mobil Be dengan terpaksa Be menghentikan mobilnya.
" Sial!" umpat Reni kebingungan.
" Bagaimana Ren?" Be mencekeram kuat setir kemudinya, dirinya menjadi panik saat melihat beberapa pria berbaju hitam mengepung mobil nya dan menggedor-gedor kaca mobil.
__ADS_1
" Keluar ....!" Teriak salah satu pria berbaju hitam tersebut.
" Tolong aku!" Teriak Gania sambil menghadap kearah jendela berharap pria diluar mobilnya bisa melihat nya. " Ah.." Pekik Gania memejamkan matanya merasakan tarikan kuat di rambutnya yang terasa sangat nyeri namun sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa sakit itu.
Dengan kasar Reni menjambak rambut Gania." Diam atau ku habisi kau," Ancam nya melotot tajam kearah Gania.Be sendiri segera mengambil senjata nya di belakang punggungnya sembari melihat sekeliling nya.
" Lepaskan ren," pinta Gania mencoba melepaskan tangan Reni dari kepalanya sambil melindungi perutnya dengan satu tangannya.
" Be, tabrak mereka, kita tidak punya pilihan lain,"
"kak Gama selamatkan aku, aku takut sekali" Batin Gania dengan menahan sakit di perutnya yang terbentur dasboard.
Disaat Be masih bingung harus melakukan apa begitu juga Reni yang terlihat sangat panik tanpa sadar pintu mobilnya di dobrak dengan kasar.
Braakkk...
Baik Reni maupun Be di seret keluar dari dalam mobil dengan kasar oleh anak buah Gama. Dengan sekuat tenaga Reni dan Be berusaha memberontak tanpa bisa melawan bahkan Be yang bersiap meluncurkan peluru senjata nya di rampas dengan brutal oleh Vicky.
" Bawa mereka !" Perintah Gama dengan aura mematikan.
" Baik tuan .."
Semua anak buahnya bersama feri pun pergi lebih dulu dari sana.
"Gania,"Gumam Gama berlari dan membuka pintu mobil.
" Kak, perutku sakit .." lirih Gania mulai menangis.
" Bertahanlah sayang," Gama mencium wajah wanitanya yang terlihat ketakutan dengan segera membawanya ke mobil miliknya. Setelah Vicky membuka pintu mobil untuk tuan Gama.
" Vicky kita kerumah sakit sekarang!"
__ADS_1
"Baik tuan," Tanpa banyak bicara Vicky segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut. Hatinya kembali sesak dan perih saat diperjalanan istrinya merintih kesakitan membuat rasa bersalah nya semakin menggunung. tidak akan ia biarkan siapapun lagi menyakiti istrinya cukup ini yang terakhir kalinya.