
sesampainya di tempat parkir gama berjalan tergesa-gesa membawa gania memasuki mobilnya dan begitupun Vicky yang juga langsung masuk di kursi kemudi depan.
" cepat jalankan mobilnya " ucap gama dengan bibir bergetar seraya mendekap tubuh mungil istrinya kedalam dada bidang nya.
" baik tuan" Vicky segera menginjak pedal gas kopling melajukan mobilnya dengan segera keluar dari pelataran mall dan menuju rumah sakit.
Gama mengecup pipi gembul istrinya bertubi tubi, ia mengetatkan rahangnya ketika mengingat raut ketakutan di wajah istrinya tadi dan membuatnya semakin murka. ingin rasanya melenyapkannya langsung si penculik saat itu dengan peluru panasnya. gama menggeram menahan sesak di dadanya rasa penyesalan begitu teramat sangat di hatinya.
Vicky yang sedang menyetir hanya bisa terdiam membisu. melihat semburat kemarahan di wajah atasannya ia tak bisa berkata apa-apa secuil doa dalam hati ia panjatkan kepada tuhan berharap nona mereka segera sadar kembali.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit mobil yang di tumpangi gama akhirnya sampai di depan rumah sakit. di angkatnya tubuh lunglai istrinya gama turun dari mobil dan langsung berlari tergopoh-gopoh memasuki rumah sakit.
" dokter.suster. cepat tangani istri saya !" teriak gama menggema di seluruh ruangan rumah sakit. " bersabarlah sayang kau pasti kuat ku mohon sadarlah kau harus bertahan untuk ku dan anak kita" gama mengecup kelopak mata istrinya yang masih terpejam tenang.
seorang dokter wanita yang sedang duduk di kursi direkturnya yang berada di ruangan VIP itu bergegas berlari keluar ruangan. mengecek suara riuh yang sedang terjadi.
" ya tuhan! ada apa ini tuan gama, apa yang terjadi pada no-" pekik nya seorang dokter wanita berdiri di ambang pintu.
" nanti saja bicaranya cepat selamatkan istri ku" sentak gama menatap tajam kearah wanita berseragam putih tersebut.
" a- iya maaf, ayo bawa masuk kedalam" balas dokter itu membuka lebar pintu ruang rawat pasien agar gama bisa masuk kedalam dengan leluasa.
Gama menerobos masuk kedalam ruangan VIP pasien tanpa menghiraukan arahan dari dokter wanita yang berkerja di rumah sakit miliknya tersebut. dengan detak jantung tak karuan gama membaringkan gania di ranjang pasien. ketakutan akan kehilangan istrinya menyeruak di pikirannya.
" ku mohon cepat selamatkan nyawa istri ku dok" pinta gama dengan suara terisak lirih.
dokter wanita itu terbengong menatap tak percaya kearah gama yang mengeluarkan setetes air mata. ternyata pria sedingin gama bisa menangis tapi itu hal yang lumrah saat orang yang di cintainya sedang bertaruh nyawa.
" apa ingin ku hapus namamu dari daftar manajer rumah sakit cepat periksa istri ku!" seru gama membuyarkan lamunan dokter wanita di hadapan nya.
" astaga ma-af tuan. silakan keluar dulu sebentar tuan. mohon kerjasama nya agar aku bisa cepat memeriksa istri anda" ujar dokter itu meminta gama agar mematuhi prosedur yang ada.
Tapi itu tidak terjadi karena pria itu kekeh ingin mendampingi gania. dengan berat hati dokter wanita itu mengalah dan mulai memeriksa gania dengan telaten.
__ADS_1
Dengan gerakan perlahan dokter itu mulai memasangkan selang infus di tangan mungil gania. sambil sesekali memeriksa detak jantung nya. selepas itu ia memberikan suntikan cairan vitamin kedalam botol infus.
Gama yang duduk di sofa netranya terus memandang kearah ranjang di mana istrinya sedang terbaring tak berdaya di sana.
" apa mereka belum mengirim kabar terbaru situasi di gedung Vicky. dan coba kau hubungi si dody, dia berhasil tidak meringkus penculik itu" gama membekap mulutnya seraya menatap Vicky dengan gelisah.
" tuan andre belum mengabari lagi bagaimana keadaan terbaru di sana tuan. Dody berhasil membekuk nya dan membawanya ke tempat biasa tuan" jawab Vicky dengan.
" hm " gama hanya mengangguk dan memijat kepala nya yang terasa pusing.
lima menit terlewati akhirnya dokter wanita itu menyudahi tugas nya. ia membereskan alat medisnya dan menaruh nya di atas meja.
" gimana keadaan istri ku dok, kenapa sedari tadi dia belum juga sadar?" gama mengayunkan kakinya mendekat dan duduk di bibir pasien.
Helaan napas berat dari mulut si dokter pun keluar.
" kondisi tubuhnya cukup stabil tuan, tapi psikis nya sedikit terganggu karena efek syok atau terkejut yang berlebihan akibat melihat kejadian yang mengerikan. apa dia baru saja melihat sesuatu -?"
" astaga jadi? berdoa saja tuan semoga semua baik baik saja. saya permisi dulu. nanti saya buatkan resep obat nya" syok dokter itu menggeleng. ia pun pamit keluar dari ruangan untuk membuatkan resep obat untuk gania.
" iya. biar nanti vicky yang menebus obat nya. kau ikutlah dengan nya" jawab gama melirik kearah Vicky. dan langsung di jawab anggukan kepala dari Vicky. Vicky pun segera mengekor si dokter keluar dari ruangan.
perlahan telapak tangan gama terulur menggenggam jemari lentik istrinya membawa nya di atas bibirnya sangat lama dan menghujani kecupan bertubi tubi di punggung lembut dan putih itu.
" sayang cepatlah bangun. aku sudah sangat merindukan mu dan junior kita. apa kau tau aku begitu tersiksa dua hari ini berjauhan dengan mu. maafkan aku sudah mengabaikan mu" gama mengecup sekilas bibir istrinya yang nampak pucat sambil mengelus puncak rambut sang istri penuh kelembutan.
brak
" tunggu tuan" seru feri berlari mengejar langkah Wijaya.
" dimana cucu dan mantuku !"
bug
__ADS_1
Bogeman mentah mendarat dengan sempurna di pipi mulus dan putih gama.
tanpa persiapan wajah gama terhuyung kesamping hampir membuat nya terjatuh dari atas ranjang pasien.
" aw! apa yang ayah lakukan " pekik gama mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
Wijaya melotot tajam kearah putranya yang duduk di ranjang pasien tersebut.
" kau pantas mendapatkan nya karena sudah membuat cucu dan mantu ayah masuk rumah sakit " ujar Wijaya dengan tajam.
" aku tau aku salah ayah. aku lupa mengatakan pada ayah hari itu karena waktu nya sangat mendesak" jawab gama mengakui kesalahannya.
"aw-"
"Ngh." gania mengeliat perlahan membuka ke-dua bola matanya dengan setengah sadar menyapu seisi ruangan yang nampak asing dari tempat sebelum nya.
Mendengar suara dan pergerakan dari arah ranjang pasien kedua pria tampan yang sedang berdebat itupun menoleh ke arah gania bersamaan.
" sayang kau sudah sadar" gama berlari keranjang menjatuhi kecupan bertubi tubi di wajah istrinya. " maafkan aku sudah membuat mu terluka " imbuhnya dengan wajah memelas.
Gania terpaku dan menggeleng pelan matanya terangkat melihat mata indah suaminya sambil mengelus rahang mulus suaminya.
" aku takut melihat nya kak, aku tidak bisa bernapas saat itu " lirih gania menyeka air matanya seraya terisak.
Gama menggeleng berkali kali segera membawa tubuh mungil istrinya kedalam pelukan hangat nya mendekapnya begitu erat menggesekkan dagunya kepuncak kepala istrinya dengan lembut.
" tidak. tidak akan pernah lagi kau melihat nya aku janji akan memberi pelajaran yang setimpal buat mereka yang sudah menjebak mu sayang. kau tenang lah aku akan selalu di sampingmu " ucap gama mengusap bahu istrinya lembut.
Melihat kondisi gania dan cucunya yang mulai berangsur membaik. Wijaya sekarang bisa bernapas dengan lega.
Dirasa ketakutan istrinya mulai mereda dan tenang gama sedikit mengendurkan pelukannya. selang berapa menit kedatangan lilia bersama vivi tiba di rumah sakit dan meramaikan ruang rawat inap pasien tersebut.
Kedatangan Tante lilia di sana membuat gama lebih tenang dan menitipkan istrinya kepada lilia untuk sementara. karena dia dan Vicky harus segera kembali ke suatu tempat untuk menyelesaikan misinya. sebelum itu gama juga meminta sang ayah untuk ikut serta menjaga gania di rumah sakit sampai ia selesai membereskan urusan nya dengan pak reza.
__ADS_1