
Setelah memastikan Gania menjauh dari sana dan berada di dapur, kini tinggal mereka berdua di ruang tamu apartemen itu. Wijaya langsung memberikan berkas yang ia bawa kepada gama
" Bacalah ini" titah Wijaya mengambil sebuah berkas di samping nya kemudian menyodorkan di atas meja.
"Berkas apa ini ayah ?" tanya gama melihat map di atas meja lalu beralih menatap ayahnya terheran, kenapa ayahnya tidak menjawab pertanyaan darinya, justru memberikan berkas padanya.
"Bacalah dulu nanti juga tau" jawab Wijaya kembali membenahi posisi duduk nya, tanpa ingin menjawab pertanyaan Gama.
Gama menatap sekilas ayahnya, lalu ia buka map itu dan membacanya dengan serius. Di bagian awal gama mengulas senyum, seketika di bagian pertengahan berkas yang gama baca, ekspresi wajah gama berubah datar dan dingin sehingga tangan kekarnya terkepal kuat, sampai di bagian akhir semakin membuat gama mengeraskan rahangnya. dengan kasar gama melempar map itu di atas meja.
"jadi dia penyelamat ayah waktu itu" ucap Gama datar dan dingin.
"iya, jaga dia dengan baik, dan kau harus waspada untuk selanjutnya" Wijaya memperingati putranya itu untuk berhati-hati.
" Aku akan membuat perhitungan dengan mereka" tegas Gama penuh emosi dengan ekspresi datarnya.
"Pihak mereka mendesak untuk mempercepat proses lamaran nya, Ayah tidak mungkin memaksamu Setelah..." ujar Wijaya menatap gama sedikit cemas.
" Laksanakan secepatnya ayah, kita ikuti permainan mereka" balas Gama dengan cepat, dengan tatapan mata berapi api. Gama sangat marah dan geram mengetahui sebuah kenyataan dirinya harus kehilangan kasih sayang di masa kecil dan kepergian wanita yang sangat di sayangi ternyata di rencanakan oleh seseorang.
"Apa kau yakin gama?" imbuh Wijaya ingin memastikan jika gama tidak salah mengambil keputusan.
"Tentu ayah, aku sudah mengantongi beberapa bukti, tinggal sedikit lagi dengan agen FBI rahasia ku pasti dengan mudah menjatuhkan mereka" ucap Gama tegas menggertakan giginya. sorot mata elangnya ingin memakan mangsanya.
"Bagaimana dengan dia!" seloroh Wijaya menengok ke samping menunjuk Gania yang berada di dapur menggunakan dagunya.
Gama mengikuti arah pandang ayahnya seketika sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dapat di lihat dari ruang tamu tempat mereka berada, hanya terhalang penyekat dinding tipis, Gama mengulum senyum, melihat Gania sedang membuat minum di dapur. terlihat sangat menggoda memakai dress selutut dan bagian pundak sedikit terbuka.
__ADS_1
"Ehem, kau tenang saja tidak ada yang mengambil nya darimu kecuali Andre!" Wijaya pura pura tersedak keras, melihat putranya senyum sendiri seperti orang gila. dan perubahan drastis pada gama.
"Tidak akan ku biarkan itu terjadi!!" Gama tersentak menjawab cepat kata kata ayah nya. lalu membenahi posisi duduknya menghilangkan rasa malunya pada ayah nya. sedikit berdehem.
Sontak membuat Wijaya tertawa kecil menggelengkan kepalanya. " dia itu unik dan langka bisa merubah pria dingin seperti mu jadi penurut seperti kelinci " seloroh Wijaya mengatupkan kedua bibirnya menahan tawa.
"Ck, ayah sedang mengejek atau menghinaku, bukankah ayah juga seperti itu pada ibu" decak gama sebal bibirnya mengerucut menatap sinis ayahnya.
" Aku sudah menjadi Daddy dan ayah akan menjadi kakek" imbuh gama melirik ke arah Gania yang berjalan mendekati mereka membawa minuman.
"apa!!! "pekik Wijaya ia tercengang melototi gama Bisa bisa nya putranya itu berkata absurd seperti itu, dan bagaimana bisa punya anak tanpa menikah dulu.
"Ini tuan minumannya " ucap Gania sembari meletakkan dua gelas jus tersebut di atas meja. kemudian ia kembali berdiri.
"tuan anda baik baik saja?" ujar Gania menyadari raut wajah Wijaya yang terkejut.
"iya tuan" Jawab Gania mengangguk lalu hendak berbalik kembali kedapur namun lenganya di cekal oleh gama. sontak Gania berhadapan dengan gama.
"kau istirahat lah di kamar nanti aku menyusul" ucap Gama menatap dalam Gania dengan lembut.
Gania menganggukkan kepalanya menurut lalu membungkuk hormat kepada Wijaya lalu meninggalkan mereka. Wijaya membalas nya dengan senyuman.
"Jelaskan ucapan mu tadi !" ucap Wijaya beralih menatap tajam kearah putranya itu.
"Gania hamil anak ku" jawab gama santai menikmati jus buatan Gania. bibirnya tersenyum membayangkan adegan ranjang nya bersama wanita nya.
"Astaga gama! apa yang kau perbuat, sampai dia hamil, sejak kapan putraku jadi pria brengsek hah! " emosi Wijaya memijat keningnya kepalanya terasa pusing mendengar pengakuan putranya itu menghamili wanita yang belum di nikahi.
__ADS_1
" Sejak kapan kau melakukan itu padanya hah!". Wijaya melempar bantal kecil yang ada di sofa kepada Gama bukanya menjawab malah tersenyum sendiri, sontak hal tersebut membuat gama tersadar dari lamunan dan kesal pada ayahnya.
"Aw, ayah.. " gama mengusap kepalanya terkena timpukan bantal itu.
"kau itu di tanya malah melamun, sejak kapan kau jadi pria brengsek !" Seru Wijaya menghela nafas berat nya.
" Aku akan menikahinya, dan aku tidak se brengsek yang ayah katakan. semua itu penyebab nya ayah waktu itu....". balas gama tak mau di salah kan dia menceritakan soal kronologi kejadian itu bersama wanitanya.
Wijaya menarik nafas panjang, setelah mendengar penjelasan putranya, ternyata dirinya juga terlibat di dalamnya.
"kau harus cepat menikahi nya, lalu bagaimana dengan Reni?" Sahut Wijaya ia tidak ingin Gania dan calon cucunya terlantar, namun hal itu bertolak belakang dengan kasus yang sedang gama hadapi.
" Secepatnya, soal Reni aku juga akan menerima nya agar proses nya cepat clear, aku tidak Ingin masa kebersamaan ku dengan wanita ku dan anak ku terganggu. ayah tenang saja" ucap Gama tegas ia ingin secepatnya menuntaskan pekerjaan nya, dan fokus pada Gania namun ia tidak menyadari di tempat lain ada yang sedang gelisah karena ucapan nya.
Gania berdiri di balik pintu kamar nya, setelah selesai membersihkan tubuhnya, Gania hendak mengambil minum, niat nya ia urungkan karena tidak sengaja mendengar percakapan ayah dan anak di ruang tamu. lalu ia putuskan untuk menguping dari balik pintu kamar. Gania merasa bahagia gama akan menikahinya, secara bersamaan ia juga gelisah.
"Siapa reni, lalu untuk apa menikahi ku jika kak gama juga menikahi wanita lain, Aku tidak mau jika harus di madu, atau jadi istri kedua lebih baik aku tidak punya suami sekalian" benak Gania di penuhi rasa khawatir dan curiga, perlahan melangkah ke ranjang Gania putuskan lebih baik dirinya segera tidur. merasa tubuhnya lelah seharian ini Gania pun akhirnya terlelap.
Setelah kepergian ayahnya gama memutuskan segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket di bathroom kamar nya. kini ia sudah mengenakan piyama tidur, mengedarkan pandangannya di ruang apartemen nya tidak melihat sosok Gania di sana.
Gama segera menyusul ke kamar Gania, gama melangkah kearah ranjang, menatap Gania yang sudah tertidur pulas terlihat sangat cantik menggemaskan, gama secepatnya merangkak ke atas ranjang tidur di samping Gania, menatap lekat wajah Gania jemarinya menelusuri bentuk sempurna ciptaan tuhan yang indah menyentuh alis mata yang tebal, beralih ke hidung mancung , menoel pipi cuby gadisnya, lalu mengusap bibir mungil manis menjadi candunya, perlahan bibirnya menempel lembut di permukaan bibir Gania sedikit ******* menyesap tipis.
Gania merasa tidurnya terusik pun mengeliat "ngh, kak gama kenapa kau disini gumam nya". sayu sayu menatap pria itu yang sudah seranjang dengan nya.
"Tidurlah Hem, maaf kau terbangun "Cup". Gama menarik Gania kedalam pelukannya mengecup lembut bibir mungil itu. di iringi senyuman, Gania yang sangat mengantuk kembali memejamkan matanya tak memperdulikan keanehan bibirnya terasa basah ia pun kembali terlelap, gama tersenyum lebar melihat sikap Gania yang gemas, kembali menciumi bibir manis itu. Hingga gama pun lelah dan ikut terlelap dalam tidurnya menyelami mimpi indah bersama gadis nya.
...jangan lupa like komen favorit π₯°π· tinggalkan jejak kalian love you kalian π·π·...
__ADS_1