
“Katakan kalau kamu masih mencintaiku, Fro. Kamu tidak mencintainya, kan?” tanya Firstan.
“Kamu tidak hamil anaknya, kan?”
Frolline terdiam. Bibirnya terkunci rapat. Iba menyapa saat melihat penampakan Firstan yang tidak biasa. Pria muda itu terduduk lemas seperti kehilangan semangat hidup. Meremas sekaligus menarik rambut pendeknya, melampiaskan sakit di hati yang tiba-tiba menyerang tanpa kompromi.
“Maafkan aku, First. Kamu tentu tahu bagaimana selama ini aku ....”
“Aku tahu,” potong Firstan.
“Aku tahu jelas kamu tidak mencintainya, tetapi memaksa bersama karena komitmen,” lanjut Firstan, sikapnya sedikit lebih tenang.
Menghela napas kasar, Firstan mengangkat pandangan. Mengirim permohonan melalui tatapan memelasnya.
“Seperti dulu saat aku menikahi Angella, kamu menungguku dan bersedia menerima bayi kami. Saat ini aku menawarkan hal yang sama padamu ....” Kalimat itu terputus, Firstan bangkit dari duduknya, berjalan mendekat.
“Andai kamu hamil, aku akan menerima bayimu. Mari kita wujudkan impian kita yang sempat tertunda,” ucap Firstan dengan lembut.
“Kamu masih menyimpan diriku di dalam hatimu, hanya saja kamu tidak mau menunjukannya terang-terangan.” Firstan berkata dengan penuh keyakinan. Mengulurkan tangannya sembari berlutut di depan Frolline.
“Mari kita wujudkan apa yang menjadi impian kita, Fro. Kita menghilang dari semua,” ajak Firstan.
Mata Frolline memanas. Diingatkan tentang impiannya, impian masa kecilnya. Dua cairan bening itu mengalir perlahan. Turun membasahi pipinya.
“Aku tidak bisa ... First. Dari awal aku memutuskan menikahinya, aku sudah mengubur dalam-dalam semua impianku. Mungkin aku tidak mencintainya, tetapi kenyataannya dia suamiku,” tolak Frolline.
“Untuk apa bertahan kalau tidak cinta,” bujuk Firstan.
Tangis Frolline semakin menjadi. Terisak melihat wajah tampan yang belakangan tidak menghiasi hidupnya lagi. Firstan menghilang perlahan seiring waktu berlalu.
“Sama seperti aku menunggu saat kamu menikahi Kak Angell. Aku bertahan menunggumu di tempat yang tidak terlihat.” Frolline berkata.
“Sekarang pun aku bertahan di tempat yang sama, tetapi untuk orang lain, bukan untukmu, First.”
Firstan tertegun mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Frolline. Masih tidak yakin dengan apa yang baru saja ditangkap indra pendengarannya.
“Apa kamu tidak salah, Fro?” tanya Firstan.
__ADS_1
Frolline menggeleng. “Aku mungkin tidak bisa mencintainya dengan rasa, tetapi aku masih bisa mencintainya dengan logika. Memang hatiku tidak setia padanya, diam-diam menyembunyikan pria lain. Namun, setidaknya aku masih setia dengan komitmen pernikahan kami.”
Firstan menggeleng keras, tidak percaya dengan apa yang terucap dari bibir wanita yang dicintainya.
“Lupakan aku. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi yang bisa kuberikan padamu. Aku mungkin masih mencintaimu, tetapi aku memilih setia pada pria yang sudah berkorban banyak untukku. Dan itu, Ditya Halim Hadinata,” ucap Frolline berurai air mata.
“Aku memilih bertahan dengan rumah tanggaku,” tegas Frolline.
Firstan tertawa. “Ini bukan Frolline Gunawan.”
“Ya, sejak mengucap janji suci dengannya, aku bukan Frolline Gunawan lagi. Sekarang aku adalah Nyonya Ditya Halim Hadinata.”
Frolline mengedarkan pandangannya, menyapu sudut kamar untuk mencari anak kunci yang dilempar Firstan sembarangan. Ia bisa tersenyum saat melihat apa yang dicarinya tergeletak di lantai tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
Buru-buru mengambil dan berlari membuka pintu kamar, Frolline mengambil kesempatan di mana Firstan masih meratapi nasibnya. Namun kelegaan Frolline tidak berlangsung lama. Saat pintu kamar terbuka, terlihat Ditya berdiri di ambang pintu dengan tatapan mengerikan. Kedua tangannya terkepal, garis rahang mengeras. Urat- urat menonjol dengan buku-buku memutih di kepalannya.
“Koko ....” ucap Frolline, ketakutan. Ditya menghadang di depan pintu. Membisu dengan aura kemarahan.
“Koko, aku bisa jelaskan.” Frolline berusaha meraih tangan suaminya.
“MATT!” teriak Ditya menggelegar. Memilih mengabaikan semua penjelasan.
“Ditya? Kapan kamu datang?” tanya Marisa masih dengan celemek melekat ditubunya.
Pandangan Marisa beralih pada Frolline. “Loh, kamu belum pulang, Fro?” tanyanya heran.
“MATT! Bawa istriku ke mobil. Aku harus membuat perhitungan dengan keponakanku dulu,” perintah Ditya, bersiap melangkah masuk ke dalam kamar.
“Koko, jangan begini,” pinta Frolline, berusaha menenangkan. Meraih pergelangan tangan Ditya, berusaha menahan suaminya untuk masuk. Tidak ingin terjadi perkelahian antara kedua pria yang sama-sama sedang dilanda emosi. Ditya dengan amarahya dan Firstan dengan perasaan terlukanya.
“Ko, kita pulang sekarang, ya,” bujuk Frolline, merengkuh lengan Ditya setelah sebelumnya genggaman tangannya dihempaskan sang suami.
“MATT!” Asisten yang berdiri tidak terlalu jauh terlihat sungkan saat diminta menyeret sang nyonya.
Tentu saja ia tidak berani. Aturan dari mana? Jangankan menyeret, bahkan Matt tidak berani menyentuh Frolline. Apalagi saat melihat Frolline memeluk erat pinggang Ditya dengan wajah ketakutan. Nyonya majikannya sedang menahan laju Ditya supaya tidak melangkah masuk ke dalam kamar.
“Maaf Bos, bagaimana aku harus menyeretnya. Nyonya menempel begitu erat padamu.” Matt melempar alasan.
__ADS_1
“Ko, sudah jangan bertengkar lagi. Tidak terjadi apa-apa dengan kami,” jelas Frolline.
“Lepas Fro!” perintah Ditya kembali mengurai belitan tangan yang mengunci perutnya.
“Aku tidak mau, Ko. Ayo kita pulang sekarang. Koko bisa memarahiku sepuasnya, tetapi jangan berkelahi, ya,” bujuk Frolline, membenamkan diri di dalam dada bidang suaminya.
Keributan di pintu kamar, tak sedikit pun membuat Firstan bergerak. Terlanjur terkejut dengan jawaban Frolline. Pria itu masih terguncang. Bahkan saat Marisa menyeretnya keluar, Firstan tidak bereaksi apa-apa.
“Lepas, Fro. Aku harus memberinya pelajaran.” Ditya melepas kasar tangan istrinya. Begitu cepat, Ditya melabuhkan kepalan tangannya tepat di rahang Firstan yang hendak keluar kamar.
Tidak terelakan, Firstan yang memang masih shock, tidak memberi perlawanan. Tersungkur saat pukulan telak Ditya bersarang di wajah tampannya.
“Ditya! Itu keponakanmu. Tolong jangan menggunakan kekerasan!” tegur Marisa. Buru-buru membantu putra kesayangannya berdiri.
“Dia harus diberi pelajaran, Kak. Biar tahu jelas dimana posisinya. Bagaimana harus bersikap,” jelas Ditya dengan berapi-api.
“Ya, tetapi tidak perlu memukul,” omel Marisa.
“Itu supaya dia tahu tempatnya di mana. Supaya dia sadar sudah menantang siapa!”
“Ko, sudah,” bujuk Frolline.
“Aku belum mau selesai. Kalau belum mencabut nyawanya,” ungkap Ditya masih dikuasai kemarahan, beralih menatap istrinya dengan sorot mengerikan.
“DIT! Jangan gila. Sadar!” teriak Marisa.
Ditya baru akan memukul keponakannya lagi. Ia sudah tidak bisa menahan cemburu dan murka yang menyatu. Memberi pelajaran setimpal pada Firstan dan Frolline. Setidaknya setelah ini, istrinya tidak akan berani macam-macam.
“Ayo ke sini! Jangan berani curang di belakangku. Kalau berani, ayo lawan aku. Kita bertarung sampai salah satu di antara kita mati!” Ditya sudah akan mencekal kerah baju Firstan, tetapi Frolline sudah menahannya dengan pelukan mesra.
“Ko, jangan begini. Maafkan aku ... aku janji tidak akan mengunjungi mami lagi setelah ini,” bujuk Frolline.
“Aku akan menurut padamu, tidak membantah lagi. Ayo kita pulang, ya.” Frolline melabuhkan kecupan di pipi Ditya, manis sekali.
Tidak ada reaksi. Napas Ditya masih bergemuruh, mata itu pun masih memerah. Setelah tidak berhasil dengan ciuman di pipi, Frolline berjinjit menyapu bibir Ditya, membungkam pria itu dengan cara yang lebih manis.
***
__ADS_1
TBC