
Mobil sedan hitam melaju beriringan membelah ruas jalan ibu kota. Suasana lenggang mewarnai perjalanan kembali ke kediaman Ditya, membuat Zoe memutuskan memacu kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sudah berganti hari, malam telah menyerahkan tugasnya pada si dini hari. Ditya masih mendekap istrinya yang terlelap. Begitu menikmati hingga pria itu hampir menyusul. Seakan tak peduli dengan guncangan kecil dari mobil. Malah sebaliknya, itu membuat tidur semakin dalam.
Dua puluh menit berlalu, mobil hitam itu pun terlihat masuk ke are parkiran. Zoe yang juga mulai mengantuk, tampak menguap berulang kali. Menginjak pedal rem sebagai upaya terakhir untuk menghentikan laju mobil.
"Bos, kita sudah sampai," panggilnya berbalik memandang kursi belakang.
Ia tersenyum menatap sepasang suami istri yang enggan mengurai pelukan. Masih betah berbagi kehangatan. Sungguh hal yang tidak bisa diterima akal sehat. Beberapa jam yang lalu keduanya masih menabuh genderang perang, tetapi saat ini seolah tidak bisa terpisah satu sama lain.
"Bos ...." Panggilan kedua sedikit lebih kencang. Kali ini sanggup membuat Ditya terjaga.
"Ya ...." Terdengar suara serak dari bibir Ditya. Pria itu mengerjap untuk beradaptasi, sebelum mengusap kasar wajahnya.
"Kita sudah sampai, Bos." Zoe menjelaskan.
"Oh ya, tolong aku, Zoe. Aku akan menggendong Fro naik," jelas Ditya. Menatap istrinya yang masih memejamkan mata, seolah tidak terusik dengan keributan di sekitarnya.
Menyelipkan kedua tangan di balik punggung istrinya, Ditya memilih membiarkan Frolline berpetualang dengan mimpi. Iba merayap memenuhi rongga hati saat mendapati wanitanya kelelahan menunggu di parkiran. Ya, menunggunya dengan sabar dan tanpa mengeluh. Di saat ia sendiri sibuk bersenang-senang dengan teman-temannya.
Menggendong ala bridal style, Ditya masuk ke dalam private lift ditemani Zoe. Frolline sempat terusik sebentar saat pergerakan langkah kaki Ditya menguncang tubuhnya pelan.
"Ko, kita di mana?" tanya Frolline dengan mata masih terpejam. Ia mengalungkan kedua tangan di leher suaminya, membenamkan wajah di dada Ditya.
"Ssttt ... tidur saja. Kita sudah di rumah." Ditya berbisik pelan.
Bunyi denting lift menandakan kalau mereka sudah tiba di kediaman. Zoe memilih pulang setelah memastikan dirinya tidak dibutuhkan lagi.
Langkah kaki pria itu terhenti saat baru saja menapaki penthouse mewahnya. Tidak menduga akan penyambutan tiba-tiba dari sang mama.
"Ko, kalian ke mana saja?" tanya Mama Ditya. Ia tidak bisa tidur sejak tengah malam. Menunggu putra dan menantunya yang tak kunjung pulang. Ia khawatir akan terjadi sesuatu di luar perkiraannya. Ia juga takut Ditya membawa istrinya kabur seperti ketakutan suaminya, Halim Hadinata.
"Aku lupa mengabarimu. Maaf." Ditya masuk ke dalam kamar. Tidak mau meladeni mamanya yang masih ingin bertanya lebih. Bahkan tidak ada sedikit pun rasa bersalah telah membuat wanita paruh baya itu menunggu.
"Ko, aku belum selesai bicara." Mama Ditya hendak menyusul, tetapi Ditya sudah menendang pintu kamar dengan kasar.
Bunyi pintu menutup terdengar begitu kencang. Seolah tidak peduli dengan mamanya yang terkejut, berdiri mengelus dada di luar.
__ADS_1
Saat menjatuhkan lembut tubuh istrinya di atas tempat tidur, kembali rasa bersalah menghantamnya. Apalagi saat melihat wajah polos itu seakan tak menyimpan dendam atau pun amarah, meski sudah diperlakukan kasar. Ia bahkan mengabaikan semua permintaan maaf istrinya.
"Maafkan aku, Fro. Koko tidak sungguh-sungguh memarahimu. Koko hanya ingin kamu belajar seberapa pentingnya berpikir sebelum bertindak," bisiknya sembari merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya.
Ditya tersenyum. Mengingat bagaimana sikapnya pada Frolline, tetapi istrinya malah melunak. Memilih mengalah dan menunggu dengan sabar. Mengingat itu, kekesalan dan amarahnya menguap.
"Berumah tangga denganmu, Koko belajar banyak. Ada saatnya Koko marah, ada saatnya Koko harus memaafkan. Ada kalanya Koko keras kepala, tetapi tidak jarang juga harus menurunkan ego dan memilih berdamai denganmu. Menganggap semua masalah kita seperti angin lalu," ucap Ditya, berbicara sendiri.
Membungkuk untuk mengecup kening istrinya, Ditya kembali berbisik, "terima kasih untuk malam ini, Schatzi. Koko minta maaf."
***
Semburat cahaya menerobos masuk melalui celah jendela. Menyorot tegas pada sepasang suami istri yang masih lelap, membalas kekurangan jam tidurnya semalam.
Sang bintang pusat tara surya itu seakan mengamuk, menyemburkan panasnya. Memaksa dua anak manusia itu segera terjaga. Waktu untuk mengais rezeki sudah terlewat beberapa jam, tetapi Ditya dan Frolline masih saja betah bergelung di balik selimut.
Cahaya menyilaukan itu akhirnya sanggup mengusik lelap. Menarik sukma kembali ke raga, berhenti berpetualang ke alam mimpi. Perlahan kelopak mata itu mengerjap. Respon pertama yang dilakukan Frolline adalah duduk dengan kepala pusingnya. Buru-buru memaksa tubuh untuk segera terjaga. Dengan rambut berantakan, menatap pria tampan yang berbaring di sisinga sembari memeluk erat guling berlapis sarung sutra ungu.
"Ko, kita terlambat," seru Frolline merapikan rambut panjangnya yang tergerai acak-acakan. Kemudian menguncang pelan tubuh Ditya supaya segera membuka mata.
"Ko, ini sudah terlambat," panggilnya lagi sedikit lebih kencang.
"Jam berapa sekarang, Fro?" tanya Ditya dengan suara khas bangun tidur. Meraih guling dan memeluknya kembali.
"Jam sembilan, Ko." Frolline menyingkirkan selimut, bergegas ke kamar mandi. Ia harus segera bersiap ke kantor.
Baru saja masuk ke dalam kamar mandi, perut Frolline bergejolak. Tidak seperti biasanya, kali in disertai mual dan muntah hebat. Memaksa keluar semua isi di dalam lambungnya
Suara berisik itu tentu saja tidak terlewatkan oleh Ditya. Buru-buru berlari ke kamar mandi untuk memastikan apa yang terjadi pada istrinya.
"Fro, kamu baik-baik saja?" tanyanya melangkah masuk ke dalam. Istrinya sedang membungkuk ke arah wastafel dengan air kran mengalir deras.
"Ya, sepertinya aku telat makan semalam," ungkapnya sembari memercikan air kran ke wajahnya. Membersihkan bekas muntahannya.
"Serius? Apa perlu kita ke dokter?" tanya Ditya.
Deg--
__ADS_1
Begitu kata dokter terucap, Frolline kembali teringat dengan ucapan Marisa dan mama mertuanya. Berbalik menatap Ditya, Frolline mencoba berterus terang.
"Ko, aku ... aku sepertinya sudah telat ...." Kalimatnya terhenti saat bunyi ponsel Ditya berdering tiba-tiba.
"Bentar Fro, aku terima telepon dulu," potong Ditya, berlari menuju suara yang memecah pagi.
Ditya mengerutkan dahi, setelah memastikan siapa yang menghubunginya. Ada tanda tanya besar saat melihat nama mommy tertera di layar ponsel yang berkedip.
"Yes, Mom," sapa Ditya bersiap menunggu informasi yang ingin disampaikan.
"Ko, pulang ke Surabaya hari ini. Daddy sakit lagi. Sejak semalam memanggilmu terus menerus," cerita sang mommy terisak.
"Hah! Apa yang terjadi, Mom?" tanya Ditya panik. Mendapati daddynya sakit, ia hampir hilang arah.
"Cepat ke Surabaya sekarang, Ko. Sejak semalam daddy sudah memintamu pulang. Mommy masih berusaha membujuk daddy minum obat, tetapi daddy menolak. Hanya mau kamu pulang."
"Ba-baiklah, sebentar lagi aku ke sana. Aku akan menghubungi lagi saat di perjalanan, Mom. Aku bersiap sekarang!" tegas Ditya sebelum mematikan sambungan ponselnya.
Berlari dengan panik, Ditya kembali ke kamar mandi, pria itu memilih menggosok gigi dan mencuci muka. Melewatkan acara mandi paginya untuk menghemat waktu.
"Fro, Koko harus terbang ke Surabaya sekarang," jelasnya sambil meraih sikat gigi.
"Ada masalah apa?" tanya Frolline berjalan mendekat. Tanpa malu-malu memeluk Ditya dari belakang. Mendekap pria itu dengan sikap posesifnya.
"Daddy sakit. Koko harus ke sana. Daddy tidak memiliki siapa-siapa. Hanya Koko putranya. Tidak masalah, kan?" tanya Ditya, menatap pantulan dirinya dengan tangan Frolline mengunci di perutnya.
"Hem ...." gumam Frolline.
"Koko usahakan secepatnya kembali. Mudah-mudahan daddy baik-baik saja." Ditya melanjutkan.
"Ko ...."
"Ada apa?" tanya Ditya, menoleh ke arah belakang.
"Jangan marah lagi. Maafkan aku," bisik Frolline, menempel erat di punggung kekar Ditya.
“Aku janji tidak akan mengulangi. Tidak akan membantah semua ucapanmu. Aku berjanji akan mencintaimu dan menjadikanmu satu-satunya,” lanjut Frolline lagi.
__ADS_1
***
TBC