
“Aku tahu, aku istrimu. Silakan mengambil hakmu,” ucap Frolline tertunduk, dengan suara bergetar.
Ditya membeku di tempat, masih dengan posisi memeluk. Kalau mengikuti prinsipnya, tentunya saat mendengar ucapan Frolline, ia akan melangkah mundur. Namun, ia tidak memiliki jalan lain. Mau tidak mau, ia harus mengambil haknya malam ini meskipun ia tahu Frolline tidak sepenuhnya ikhlas. Dan untuk alasan itulah ia menunda pertemuan dengan kedua orang tuanya, belum mau mengenalkan Frolline pada Daddy dan Mommy hari ini.
“Maafkan aku, Fro. Aku tahu, aku egois,” bisik Ditya lembut mengalun di telinga sang istri, sebelum membalikan tubuh ramping Frolline supaya menghadap ke arahnya. Ditatapnya wajah sayu Frolline yang menahan rasa dan pasrah.
Kedua tangan Ditya dengan leluasa menangkup wajah polos Frolline yang tampak gugup, berusaha menutup kepanikan dengan mengukir senyuman datar.
“Aku akan lembut sekali, kalau sakit tolong beritahu,” bisik Ditya pelan, sebelum mencium bibir Frolline yang membeku dingin menahan takutnya. Ditya tahu, istrinya terpaksa siap, terpaksa mengangguk dan terpaksa menyerah.
Ciuman hangat yang beberapa detik kemudian menjadi dalam dan lebih menuntut. Apa daya, bibir mungil istrinya masih kaku, membeku dan dingin seolah menolak. Sikap Frolline akhirnya memaksa Ditya mengigit kecil bibir tipis merah delima itu, memaksa lidahnya menyusup masuk di dalam sana bagai pencuri tak tahu diri. Menyusuri deretan gigi dan menjamah segala isinya.
Mengajari Frolline dengan sabar, Ditya menghujami kelembutan yang membuat istrinya sedikit melunak dan santai. Ia berharap di tengah keterpaksaan, Frolline tetap bisa menikmati kehangatan yang akan dibaginya sebentar lagi.
Dan benar saja, tidak membutuhkan waktu lama, Ditya bisa merasakan Frolline mulai membalasnya. Partner ranjangnya mulai terbawa suasana. Perlahan, Frolline lupa dengan gugupnya, mulai terhanyut dengan sentuhan dan belaiannya.
Napas keduanya memburu, kulit-kulit mengelenyar penuh damba. Tangan Ditya yang tadi menangkup wajah Frolline saat ini sudah berpindah. Kelima jari itu meraih tengkuk istrinya, menekan perlahan dan tidak memberi kesempatan Frolline menolak lagi di detik-detik penting mereka.
Ciuman panas itu baru berakhir, saat keduanya mulai kesulitan bernapas. Ditya melepaskan sementara istrinya, membiarkan Frolline mengambil udara sebanyak-banyaknya dan mengatur kembali napas yang tersengal.
“Fro, maafkan aku. Aku tahu, kamu tidak sepenuhnya rela, tetapi aku menginginkanmu malam ini,” bisik Ditya, mencium kening Frolline dengan lembut.
“Tolong berpura-pura menikmati apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Aku tidak bisa meneruskannya kalau kamu terlihat terpaksa. Aku tahu ... aku egois saat ini,” lanjut Ditya berbisik lirih. Pria itu memohon di dalam gairahnya yang sudah melayang tinggi.
“Setidaknya saat kita menyatu, tunjukan kamu benar-benar mengikhlaskannya untukku. Karena ini malam pernikahan kita, setidaknya buatlah menjadi yang terindah untuk dikenang.”
Frolline mengangguk. Bibir mungil merah mudah yang basah oleh saliva Ditya itu merekah indah.
“Aku tidak masalah kalau di dalam sini ada bayangan orang lain, tetapi aku ingin melihat cinta di matamu saat kita berdua melakukannya meskipun cinta itu bukan untukku saat ini,” pinta Ditya, menunjuk ke dada Frolline.
“Maafkan aku Fro. Aku lelaki paling egois, tetapi apa yang aku lakukan karena aku mencintaimu. Aku tidak bisa melepasmu,” batin Ditya.
Dengan ragu, Frolline memeluk pinggang Ditya. Dan sedikit berjinjit, ia mencium suaminya untuk pertama kali. Tentu saja Ditya bahagia mendapat perlakuan semanis ini dari istrinya, meski pun ia tahu kenyataannya seperti apa.
Menyambut bibir mungil yang sekarang sedang belajar menciumnya dengan mata terpejam, tangan Ditya pun ikut memeluk pinggang ramping istrinya, perlahan menyeret Frolline ke tengah kamar. Keduanya masih menikmati satu sama lain, saat kaki Frolline membentur sisi tempat tidur. Dengan dorongan perlahan, Ditya berhasil menjatuhkan tubuh berbalut pakaian tidur itu berbaring dengan pasrah di atas ranjang.
Tidak lama, lelaki itu menyusul. Menindih sekaligus menguasai tubuh mungil tanpa perlawanan di bawah kungkungannya. Lelaki tampan itu kembali melabuhkan kecupan demi kecupan di wajah Frolline yang mulai bisa menikmati perlakuannya. Tersenyum di sela ciuman bibir mereka saat Ditya merasakan kedua tangan Frolline melingkar manja di lehernya. Begitu posesif dan indah, Ditya merasa dimiliki saat ini.
__ADS_1
Pertautan bibir itu terhenti kala Ditya merasa istrinya sudah kehabisan udara meladeni ciumannya yang semakin panas. Ujung bibirnya terangkat ke atas, saat mendapati wajah Frolline yang sudah tidak gugup dan panik.
“Buka matamu, Fro,” bisik Ditya dengan lembut.
Kelopak mata itu perlahan membuka, saling beradu pandang, berbincang dalam kebungkaman. Saat Ditya tersenyum untuk kesekian kalinya, Frolline mengangguk dengan ikhlas.
Cukup mengerti dengan anggukan istrinya, Ditya memulai dengan kecupan di kening, yang berpindah ke bibir dan berakhir di leher jenjang putih mulus yang menengadah kala mendapat sapuan bibir. Mengelinjang saat tangan kekar yang sekarang ikut aktif mengeksplor kulit tubuh yang masih tertutup pakaian, menyusup di dalam sana.
“Aku mohon izin membukanya,” bisik Ditya lembut setelah tangannya puas menyelinap, bermain di balik pakaian tidur.
Tidak menunggu jawaban, lelaki itu melepas satu persatu benang yang melapisi tubuh istrinya dan melemparnya seenak hati. Ditya tergelak pelan saat mendapati Frolline menutupi sebagian tubuh telanjangnya dengan kedua tangan.
“Aku malu,” bisik Frolline. Rona pipi kemerahan dengan mata terpejam, menahan malu dan sungkan dalam waktu bersamaan.
Sang lelaki segera melepas kaos dan bertelanjang dada. “Bukankah kita sama,” bisik Ditya menenangkan.
Frolline menggigit bibirnya saat tangan suaminya mulai menjelajah ke setiap jengkal tubuhnya, menyingkirkan tangan Frolline supaya tidak menganggu kesenangannya yang saat ini sedang menikmati gundukan kembar. Aset tersembunyi yang kini terpampang nyata di depan mata.
Rasa malu itu perlahan hilang seiring sentuhan demi sentuhan Ditya. Lelaki tampan itu benar-benar membuat Frolline melambung ke udara, memberikan pengalaman baru dan sensasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Penolakan di hati yang sempat muncul di awal, menguap entah ke mana. Frolline sedang menikmati sensasi baru saat bisa merasakan pelepasan pertama. Merapatkan bibir agar suara nikmatnya tidak terdengar keluar.
“Memalukan! Kenapa aku jadi semurah ini!” keluh Frolline dalam hati, saat tanpa sengaja terbawa arus permainan Ditya.
“Buka matamu! Lihat aku dan mendesahlah saat kita melakukan penyatuan pertama. Aku ingin kamu mengingat jelas, kalau Ditya Halim Hadinata adalah suamimu. Orang yang mengambilnya haknya atas dirimu dan bertanggung jawab untuk hidupmu,” pinta Ditya.
“Selipkan namaku di dalam desahmu kalau kamu merasa aku pantas mendapatkan penghargaan itu,” ucap Ditya.
Frolline membuka mata, membeku saat melihat lelaki di atas tubuhnya sudah sama polos dengan dirinya.
“Sedikit sakit, tetapi aku akan berusaha selembut mungkin. Aku tahu, aku yang pertama,” ucap Ditya sebelum memulai.
Perlahan tetapi pasti penyatuan indah itu terjadi, penyatuan yang belum didasari cinta, hanya sebatas tanggung jawab memberi dan menerima karena sebuah status yang orang-orang sebut suami istri.
Wajah cantik dengan bulir keringat itu mengernyit, menengadah ke atas, dengan tangan kiri meremas seprai dan tangan kanan meremas punggung suaminya, menancapkan kuku-kuku runcingnya di sana.
Semakin rasa sakit itu menyeruak, semakin juga Ditya merasakan perih di kulitnya. Sebenarnya tidak tega, bahkan Frolline tidak berani bersuara. Diam dalam nikmat dan kesakitan yang menyerang bersamaan.
__ADS_1
“Sakit?” tanya Ditya lembut, berhenti memaksa. Jeda di pertengahan usahanya.
Frolline mengangguk.
“Maaf,” ucap Ditya pelan, mengecup kening istrinya. Bersamaan dengan itu, tanpa permisi mengentak dengan sedikit lebih keras dan menjadikan penyatuannya sempurna.
“Ah ... Ditya sakit!” pekik Frolline tertahan, buru-buru menggigit pundak suaminya supaya suara jeritnya menghilang.
Frolline memekik kesakitan untuk pertama kali, menengadah, menahan rasa yang sulit diungkapan. Nyeri, perih dan sedih menyatu saat Ditya sudah memilikinya, menjadikannya seorang istri seutuhnya.
Dua bulir air mata jatuh menetes melewati pelipisnya, ia mengingat janji-janjinya pada Firstan.
“Maafkan aku, First,” batinnya sembari menangis dalam hati.
Di sisi lain, ada kebahagiaan mengisi hati Ditya. “Terima kasih,” bisiknya, nalurinya bisa merasakan ia baru mendapatkan sesuatu berharga dari istrinya. Harta yang selama ini dijaga Frolline mungkin untuk lelaki lain, tetapi pada akhirnya ia adalah pemenangnya, ia yang mendapatkannya.
Kembali menyelesaikan, apa yang sudah dimulainya. Menghujam dan mengentak bertubi-tubi dengan irama yang tetap sampai akhirnya mencapai puncak kesempurnaan. Menyemburkan benih-benihnya ke dalam rahim istrinya, berharap akan tumbuh dan berbuah secepatnya.
Setelah pergulatan panas mereka, Frolline terkulai dalam kelelahan di dekapan Ditya. Melepas kegadisannya pada pria yang sudah sah menjadi suaminya dalam keterpaksaan dan keikhlasan yang hanya sebatas bibir.
Samar-samar, ia masih bisa mendengar ucapan lembut suaminya yang mengusap keringat di dahinya, menghadiahkan kecupan terima kasih.
“Aku mencintaimu, Fro. Bersedia menunggumu mencintaiku dengan bodoh,” bisik Ditya pelan.
Lelaki itu bangkit dari tidurnya setelah memastikan Frolline sudah benar-benar terlelap. Menyelimuti tubuh polos yang memerah hampir di sekujur tubuh karena ungkapan cintanya. Matanya menyimpan haru saat melihat noda merah di seprai putih.
“Aku akan memperjuangkanmu untuk apa yang sudah kamu berikan padaku malam ini,” ucap Ditya pelan.
“Tidak akan kubiarkan kamu bernasib sama seperti mamaku,” lanjut Ditya lagi.
***
T b c
Love You all
Terima kasih
__ADS_1