Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 49 : Dia belum pantas menjadi menantuku


__ADS_3

Ditya mengobrak -abrik seisi rumahnya. Setelah hampir seluruh ruangan dan taman luar ditelusuri bersama kedua asisten setianya, Ditya memilih mencari tahu dari ruangan tempat puluhan cctv di rumah besar itu dipantau dan direkam.


Masih dengan ditemani kedua asistenya, Ditya melangkah masuk ke ruangan yang didominasi dengan puluhan layar monitor di salah satu di dindingnya. Masih terlalu pagi, belum ada pekerja yang bertugas menjaga di ruangan itu.


“Cari rekaman cctv koridor di depan kamarku!” titahnya pada Matt.


Asisten itu menurut, tanpa banyak bertanya. Mulai bekerja sesuai perintah. Menarik mundur rekaman itu dan memutar ulang. Jantung Ditya bergemuruh saat, menangkap visual istrinya yang mengendap-endap keluar tengah malam. Netranya langsung berpindah menatap angka-angka yang menunjukan jam digital di layar.


“Ya Tuhan, Schatzi..,” ucapnya pelan, meremas rambutnya. Saat menyadari istrinya pergi dari kamar saat tengah malam.


“Matt, tolong ikuti pergerakan Fro, aku ingin tahu dimana dia? Bagaimana bisa?” titah Ditya. Pikirannya kacau, belum bisa berpikir jernih sebelum memastikan semuanya.


Terlihat Frolline yang berjalan tanpa membawa apapun, masuk ke dalam lift dan turun ke lantai satu. Yang membuat Ditya nyaris tidak percaya adalah Frolline benar-benar keluar dari rumah yang begitu banyak penjaga dengan santai.


“Cek cctv di luar dan gerbang paling depan,” perintah Ditya dengan tangan terkepal. Sorot matanya memerah menahan perasaannya saat ini.


Tubuh kekar itu melemas saat melihat dengan mata kepala sendiri, Frolline keluar dari gerbang, tanpa ditahan penjaga. Padahal tidak semudah itu untuk bisa lolos dari kawanan sekuriti yang bertampang mengerikan, menjaga lapis terdepan kediaman Halim Hadinata.


Deg—


Setelah semua kejadian dan peristiwa terangkai sempurna. Ditya bergegas menemui pemilik rumah yang tidak lain adalah daddynya sendiri.


“Matt, bersiaplah. Aku akan mencari Frolline di seluruh Surabaya. Minta orangmu juga untuk membantu mencari istriku secepatnya. Dia sendirian di tempat ini. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya,” perintah Ditya sebelum melangkah keluar.


***


Ditya menggedor keras kamar daddynya. Hal yang tidak pernah dilakukannya bahkan tidak pantas. Lupa sudah dengan semua tata krama, sopan santun, protokoler ataupun etika. Saat ini, dia hanya ingin meminta kejelasan sang daddy. Tidak mau membuang-buang waktu percuma, karena diluar sana bisa saja istrinya dalam bahaya.


“DAD!” teriaknya kencang, memukul pintu kamar dengan kepalan tangannya.


“DAD!” teriaknya lagi, mengulang.


Tak lama, bukannya Halim yang keluar, sebaliknya sang asisten Joe. “Ada apa tuan muda?” tanyanya pada Ditya, sedikit membungkuk dengan tangan menyentuh area perutnya.

__ADS_1


“Si tua itu dimana? Aku sudah bersabar, tidak mau jantungnya kumat, tetapi sepertinya dia mau mencari gara-gara denganku.”


Amarah Ditya meletup setelah memastikan istrinya kabur dan keluar sampai ke pintu gerbang depan. Itu tidak mudah, untuk sampai kesana Frolline harus melewati penjagaan berlapis. Tidak mungkin Frolline bisa mencapai jalan raya tanpa izin dari penghuni rumah yang memiliki kuasa. Kalau tidak izin darinya berarti atas izin dari daddy.


“Maaf,” ucap Joe.


Asisten sekaligus orang kepercayaan Halim itu segera menarik tangan Ditya untuk menyingkir. Menjauh dari majikannya yang terlelap. Halim baru saja bisa tidur setelah hari menjelang pagi. Semalaman pemilik rumah itu terjaga.


“Nyonya muda sudah keluar dari rumah sejak semalam. Tuan Halim tahu dan memberi izin pada penjaga untuk tidak menghalanginya,” jelas Joe, yang tahu detail kejadiannya.


Mendengar itu, emosi Ditya semakin menjadi. “Daddy tahu dan memberi izin?” tanya Ditya, memastikan.


Joe menangguk. “Gadis itu yang menginginkannya, dia tidak berhak untuk menghalanginya. Begitu kata tuan semalam.”


Ditya sudah tidak bisa bersabar. Dengan langkah kasar, bergegas ke kamar tidur daddynya, meskipun berusaha dicegah asistennya.


Laki-laki itu bahkan menendang kasar pintu jati kamar utama, tempat dimana daddynya beristirahat.


Suara pintu terbuka membentur menimbulkan suara berisik. Otomoatis, lelaki renta yang sebenarnya sudah sakit-sakitan itu terbangun.


Joe segera berlari masuk ke dalam kamar, menghampiri sang majikan untuk menenangkannya. Tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Lima belas menit Ditya berdiri kaku, membeku di tempat awal dengan tangan terlipat di dada. Sengaja menunggu, untuk meminta konfirmasi dari daddy atas apa yang telah terjadi.


“Dimana istriku?” tanya Ditya tanpa basa basi.


Daddy baru saja mencuci muka dan menggosok gigi dibantu asistennya. Bahkan belum duduk dengan benar, tetapi Ditya sudah memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


“Aku tidak tahu, Tuan muda Ditya,” sahut Daddy. Terlihat memanggil Joe untuk menyediakannya secangkir air hangat.


“Bagaimana daddy tidak tahu. Aku sudah melihat semua rekaman cctv dan aku yakin daddy terlibat dengan perginya istriku!” tuding Ditya.


“Aku terlibat membantu gadis liar itu kabur, tetapi aku tidak memaksanya, memintanya atau menyuruhnya. Aku hanya membuat jalannya lebih mudah. Bahkan aku masih meminta orang mengawasinya supaya tidak bertemu dengan orang jahat di luar sana,” jelas Halim dengan santai.

__ADS_1


“Bagaimana pun dia keluar dari kediaman Halim, aku tidak mau terjadi sesuatu padanya dan kita harus terlibat,” lanjut Halim lagi.


Senyum mengejek tersungging di bibir membiru dan keriput. Tak lama Joe sudah datang kembali dengan secangkir besar air hangat dan mempersilahkan majikannya.


“Katakan dimana Fro sekarang!”


“Aku tidak tahu, tetapi kamu bisa meminta Joe membantumu menghubungi orangku. Mungkin bisa membantu,” jelas Halim, menyesap air hangat untuk membasahi tenggorokannya.


Senyum lagi-lagi muncul di wajah Halim. “Gadis seperti ini yang ingin masuk ke keluarga Halim. Bukan hanya bibit bebet dan bobotnya saja. Bahkan kelakuannya tidak menunjukan kelasnya,” cemooh Halim, tersenyum sinis menatap putra semata wayangnya,


“Aku tidak memintamu menceraikannya. Aku tidak kekurangan uang untuk menghidupi istri-istrimu. Dua, tiga bahkan sepuluh istri sekalipun aku tidak masalah, tetapi tolong pilih yang layak dan pantas saja yang akan kamu tunjukan pada dunia, siapa menantu keluarga Halim yang sesungguhnya,” ucap Halim.


“Gadis berkualitas tidak akan kabur dan memilih cara tidak sopan ini untuk keluar dari rumahku. Ada banyak cara terhormat untuk keluar dari sini!” tuding Halim lagi, membuat Ditya kehabisan kata-kata, jujur saja, dia tidak bisa membela istrinya saat ini.


“Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu. Aku memang tidak setuju pada istrimu, tetapi aku masih menghargai statusnya sejauh ini. Meskipun aku menolak, tetapi aku masih menghargai tempatnya. Kemarin aku hanya memberi penawaran bukan? Bicara baik-baik padanya bukan mengusirnya.”


“Sebagai orang tua, aku merasa wajar kalau menginginkan yang terbaik untuk putraku, pewarisku. Namun sikap istrimu membuatku tidak bisa mempertimbangkan apapun yang ada pada dirinya, yang kuanggap pantas untuk bersanding denganmu.”


Ditya tertunduk. “Maafkan sikap istriku. Tolong beri kesempatan padanya,” pinta Ditya.


“Ketika seseorang menilaimu dan kamu merasa penilaian itu salah. Cara terbaik untuk membungkam orang itu adalah dengan menunjukan kualitas terbaik kita!” tegas Halim, menyesap sisa air hangat di cangkirnya.


“Dunia ini kejam. Tidak semua orang bisa menghargai orang lain. Kalau memang mau dihargai, tunjukan kalau kamu memang pantas dihargai.”


“Aku yakin mommy sudah menjelaskan banyak hal pada wanitamu, tetapi tetap saja otaknya tidak bisa digunakan. Menghadapi kata-kataku saja dia sudah tidak sanggup, apalagi menghadapi pemberitaan negatif dari orang-orang di luar sana, yang setiap saat mencari kelemahan dan kekurangan keluarga Halim.”


“Aku pamit, aku harus mencari istriku!” ucap Ditya.


“Jangan pernah membawanya menemuiku! Dia mungkin istrimu, tapi saat ini dia belum pantas menjadi menantuku. Bukan hanya karena latar belakang keluarganya, tetapi sikapnya belum layak menjadi menantu keluarga Halim.


***


T b c

__ADS_1


Love you all


Terima kasih.


__ADS_2