Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 120. Musim semi di Netherlands


__ADS_3

Halim Hadinata duduk di sofa sembari menggenggam erat tongkat kayu berlapis vernis halus miliknya. Sorot mata pria tua itu begitu mengiris, menatap tajam pada istri keduanya. Tarikan napas berat menandakan kalau ia sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Asisten dan dokter pribadinya terlihat berjaga tidak terlalu jauh dari tempat ia duduk.


Ya, saat ini ia sedang berada di kediaman Ditya, putra kesayangan yang menghilang beberapa jam lalu. Ditemani istri pertamanya, ia terbang ke Jakarta untuk memastikan sendiri apa yang terjadi setelah mendapat laporan dari orang-orangnya.


Pagi hari, pria renta itu dikejutkan oleh berita yang memenuhi televisi tentang kecelakaan mobil Lamborghini Aventador merah dengan nomor polisi yang sangat dikenalinya. Mencoba menghubungi ponsel Ditya, tetapi sudah tidak aktif. Orang-orang yang dipekerjakannya untuk mengawasi putra dan sang menantu pun tidak bisa memberi informasi berguna. Ia kecolongan.


“Panggilkan Zoe dan Matt ke sini!” Suaranya bergetar, tetapi tetap terdengar mengerikan. Berusaha berdiri, Halim gemetar menahan berat tubuhnya pada tongkat kayu. Kedua istrinya hanya bisa menatap dalam diam. Duduk bersisian, siap menerima kemarahan dan hukuman.


“Hati-hati, Tuan.” Joe buru-buru mendekat dan menopang tubuh majikannya.


Tak lama, Matt muncul dengan wajah tertunduk. Ia tahu saat ini dirinya dan Zoe akan diminta pertanggungjawaban.


“Katakan apa yang terjadi?” tanya Halim saat kedua asisten itu menghadapnya.


“Aku tidak tahu apa-apa, Tuan,” sahut Zoe.


Halim tersenyum sinis. “Berarti kamu yang paling tahu!” tuduh Halim, menelanjangi Matt dengan sorot mata menakutkan.


“Maaf, Tuan ....”


“Jangan katakan kamu tidak tahu apa-apa, Matt! Aku tahu kamu paling setia pada Ditya,” tukas Halim, melempar tongkat kayu ke arah Matt. Beruntung asisten itu sempat menghindar. Kalau tidak, bisa dipastikan tongkat itu akan meremukan tubuhnya.


“Maaf, Tuan ....” Matt melirik pergelangan tangannya. Ditya dan Frolline sudah tidak ada di Indonesia. Kemungkinan sudah berada di Changi, Singapura untuk menunggu penerbangan selanjutnya menuju ke Schiphol, Belanda. Asisten itu menghela napas lega.


“Katakan!” teriak Halim dengan suara serak.


“Orangku sudah mencari ke seluruh rumah sakit. Tidak ada Ditya. Mobil itu jelas-jelas mobilnya. Katakan!” teriak Halim.


“Maaf, Tuan, aku tidak tahu. Aku hanya mengantar Nyonya Frolline ke bandara. Tuan Ditya tidak bersamaku. Dia membawa mobil sendiri. Jadi aku tidak tahu di mana majikanku sekarang.”


“Breng’sek!” Halim mengumpat sembari menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. Dadanya mulai sesak dan terasa nyeri.


Derap langkah terdengar berjalan mendekat seiring pintu lift terbuka. Seorang pria berbadan tegap masuk dengan sepucuk surat dan ponsel di tangan.


“Tuan, aku menemukan ini di kantor,” jelasnya tanpa basa basi. Menyodorkan barang temuannya saat menggeledah kantor Ditya.


“Mobil juga sudah ditarik dari lokasi. Semuanya sudah diselesaikan orangku.”


“Cek ke bandara. Ditya mengirim istrinya ke bandara, kemungkinan mereka keluar dari Indonesia. Kirim orang ke Inggris dan Jerman. Minta alamatnya dari Joe. Kemungkinan anak itu akan membawa istrinya ke kedua negara ini. Dia mau ke mana lagi,” perintah Halim, sembari menyodorkan ponsel pada Joe. Asisten pribadinya itu sudah sangat paham apa yang harus dilakukan. Usia Halim sudah tua, kepalanya akan bertambah pusing saat harus mengacak-acak ponsel pintar Ditya.


Dengan tangan gemetar, Halim membuka surat di dalam amplop. Jantungnya terasa makin nyeri saat mendapati surat pengunduran diri Ditya. Kertas itu terjatuh ke lantai, napas Halim makin sesak. Tangan meremas dada, ia berusaha untuk menguatkan diri. Dokter pribadi yang sejak tadi diam, buru-buru mendekat dan memeriksa.

__ADS_1


“Ada rekaman video dari Tuan Muda Ditya,” ucap Joe. Sontak saja, Halim langsung bersemangat.


“Sambungkan!” perintah Halim sembari bersandar di sofa. Diteguknya segelas air hangat yang baru saja disodorkan istri pertamanya. Perasaannya jauh lebih tenang, meskipun kondisinya belum membaik.


Joe mengangguk.


Layar smart tv di ruang tamu sudah menampilkan video yang disambungkan dari ponsel Ditya. Video itu belum berjalan, tetapi tampak Ditya sedang berlutut di lantai dengan setelan kerja lengkap. Dilihat dari latarnya, sudah bisa dipastikan kalau Ditya mengambil rekaman itu di ruang kerjanya.


“Dad ....” Terdengar suara Ditya begitu Joe menggeser layar ponsel dan menjalankan gambar gerak dan suara itu.


Mama dan Mommy Ditya sontak mengangkat pandangannya. Reaksi berbeda terlihat dari wajah kedua wanita itu. Kalau Mama Ditya tampak terpukul, sedih dan kecewa. Reaksi berbeda ditunjukan Meliana Hadinata. Wanita yang terlihat cantik di usia senja itu tampak biasa saja. Bahkan kalau diteliti lebih jauh, ada binar bahagia di wajah keriputnya.


“Maafkan aku, Dad. Aku tidak bisa menjadi putra yang diandalkan, apalagi dibanggakan. Aku tidak bisa berbakti padamu.”


“Aku tahu aku salah. Aku sudah mengambil langkah yang membuatmu kecewa dan terluka, Dad. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anakku. Seperti kata-kata Daddy padaku selama ini. Apa yang Daddy lakukan, semata-mata karena rasa sayang dan ingin memberi yang terbaik untuk anak-anak Daddy. Dan aku pun melakukan hal yang sama.”


Tampak Ditya menangis di dalam rekaman video, tertunduk sambil mengusap air matanya.


“Istriku tidak nyaman dengan situasi ini. Dan tentu saja akan mempengaruhi kehamilannya. Aku hanya ingin membuat mereka nyaman. Aku hanya ingin memastikan anakku ... yang juga cucumu lahir dengan selamat.”


“Aku sudah bicara dengan Kak Marisa ... dia setuju untuk kembali padamu dan membantu mengurus perusahaan. Aku tidak keberatan kalau Daddy ingin memberi tempatku padanya atau cucumu, Firstan. Aku sungguh tidak keberatan.”


“Tidak perlu mencariku, Dad. Aku pasti pulang membawa anak dan istriku untuk memohon ampun dan restumu kembali. Selamanya aku tetap Ditya Halim Hadinata. Aku tetap Lim Rung Wei. Anakku pun akan membawa namamu di dalam namanya. Akan membawa nama keluarga kita di dalam dirinya. Aku seorang Lim dan anak-anakku akan terlahir menjadi generasi berikutnya dari keluarga Lim. Walaupun sekarang aku tidak bersamamu, aku akan tetap mengingat semua nasehatmu. Di mana pun aku berada, aku akan tetap menjaga nama baikmu. Aku tidak akan mempermalukanmu, Dad.”


Rekaman video itu berakhir dengan Ditya yang berlutut dan menunduk dan memberi hormatnya untuk sang daddy.


“Aku mungkin akan mendapatkan putriku, tetapi harus kehilangan putraku.” Suara Halim tercekat, menatap Meliana.


“Selamat untukmu. Akhirnya putrimu kembali,” ucap Halim. Mata pria tua itu memanas. Bulir-bulir air mata jatuh di pipi keriputnya. Ia menangis, menyesali keputusan Ditya.


“Mulai sekarang aku akan mengambil alih kepemimpinan Halim Group. Kalau putrimu kembali, silakan menempati posisi sebagai wakil.”


Meliana tersentak. Tidak menyangka sedikit pun kalau suaminya akan kembali aktif di perusahaan. Tidak menyangka sama sekali kalau Marisa hanya akan menempati posisi kedua, bahkan di saat Ditya sudah mengumumkan pengunduran dirinya.


“Ko, kamu yakin dengan keputusanmu?” tanya Meliana ragu.


Halim mengangguk. “Halim Group milik keluarga Lim. Milik ayahku. Ini adalah perjuangannya. Aku tidak bisa membiarkan Halim Group jatuh ke tangan orang lain, di saat keturunanku masih ada.”


“Andaikan Ditya tidak menginginkan posisi ini, aku akan mewariskannya pada cucu laki-lakiku dari Ditya. Dia lebih berhak menduduki posisi ini dibandingkan Marisa. Karena anak Ditya seorang Lim, berbeda dengan putra Marisa. Walaupun Firstan cucuku, dia bukan seorang Halim Hadinata lagi. Firstan bukan bagian dari keluarga Lim,” tegas Halim.


“Ko, Marisa putrimu. Firstan juga cucumu.”

__ADS_1


“Aku tidak keberatan mereka bergabung, bahkan kalau kamu mau membagi saham milikmu pada mereka, aku tidak keberatan. Namun, kamu harus ingat, aku adalah pemegang saham mayoritas. Dan Ditya hanya mengundurkan diri. Putraku itu tidak membahas masalah kepemilikan sahamnya. Ditya masih tetap memiliki saham di perusahaan meski sudah mengundurkan diri dari jabatannya. Aku tahu, kamu diam-diam menyerahkan 10% saham milikmu pada Frolline. Dan kamu jangan lupa, 10% saham yang dipegang pihak luar ... mereka juga orang-orangku. Keputusanku sudah bulat,” tegas Halim.


“Yang akan menduduki posisi puncak hanya mereka yang membawa nama Halim Hadinata di dalam dirinya, kalau kamu tidak setuju, silakan menjegal keputusanku dengan caramu sendiri. Aku bukan tidak mengakui Marisa sebagai putriku, kamu tentu paham alasanku,” tegas Halim.


Halim beralih menatap istri keduanya. “Kembali ke Jerman, cari putramu. Bujuk dia pulang! Jangan pernah menginjakan kakimu ke Indonesia sebelum Ditya menemuiku!”


***


Belasan jam di udara, melintasi malam di langit Asia dan Eropa, akhirnya Ditya dan Frolline melangkahkan kakinya di Bandar Udara Internasional Schiphol, yang terletak di selatan Amsterdam atau persisnya di gemeente Haarlemmermeer. Bandara Schiphol ini juga merupakan salah satu pintu masuk ke benua Eropa.


Suasana pagi itu masih remang-remang saat pesawat mendarat mulus di negara yang terkenal dengan kincir angin dan bunga tulipnya itu. Lampu apron pun masih menyala terang, meskipun waktu sudah menunjukan pukul enam pagi.


Angin musim semi menyambut keduanya saat berjalan keluar dari kabin pesawat menuju ke ruang kedatangan. Ditya dan Frolline masih harus mengurus segala sesuatunya dengan petugas imigrasi sebelum melangkah menuju ke ruang kedatangan.


“Ko ....” Frolline yang masih menahan kantuk, merengkuh lengan suaminya dengan manja. Ia tidak bisa tidur nyenyak di pesawat, alhasil sekarang matanya mengantuk hebat.


“Sebentar lagi, Schatzi. Setelah ini kita harus mencari temanku. Aku memintanya membawa mobil untukku sekalian menjemput kita.”


“Emm ....” Frolline bergumam sembari menyandar di pundak Ditya. Matanya terpejam.


“Kamu sudah lapar, Sayang?” tanya Ditya. Kehadiran buah hati mereka di dalam rahim Frolline membuat perhatian Ditya semakin bertambah.


“Nanti saja, Ko. Aku mengantuk sekali,” sahut Frolline.


“Ya sudah. Kemarilah.” Ditya yang sudah mengenakan mantel panjang, membentangkan kedua sisi jaket tebalnya itu dan membiarkan Frolline menyusup di dadanya.


“Koko ....” Frolline menurut. Membelitkan kedua tangannya di pinggang Ditya. Dan Ditya pun menghangatkan sang istri dengan pelukan erat.


“Apa nyaman seperti ini?” tanya Ditya.


Frolline mengangguk.


“Kita cari hotel, setelah itu kamu bisa tidur sepuasnya, Fro. Nanti siang, Koko akan mengajakmu ke Taman Keukenhof.”


“Hah? Tempat apa itu, Ko?” tanya Frolline


“Koko akan mengajakmu melihat hamparan bunga tulip di kota Lisse. Itu taman bunga terbesar. Ada banyak jenis bunga yang sedang bermekaran. Kamu beruntung tiba di Belanda saat musim semi ....” Ditya menjelaskan.


“Aku ingin melihat salju, Ko.” Frolline berkata pelan. Selama tinggal di Indonesia, hal yang paling ingin dilihatnya adalah salju.


“Hahaha, salju masih lama, Schatzi. Ini baru spring. Saat kamu melahirkan nanti baru masuk winter. Kita akan melihat salju di UK. Winter itu tidak ada apa-apa, Sayang. Semua tempat tertutup salju. Kita tidak bisa ke mana-mana, hanya di rumah saja, duduk di depan perapian. Paling bermain-main dengan salju. Saat itu kamu akan melahirkan atau jangan-jangan bayi kita sudah lahir. Sudah tidak bisa saling menghangatkan di atas tempat tidur.”

__ADS_1


***


TE


__ADS_2