
Entah harus bahagia atau kecewa, Ditya tidak sanggup berkata-kata. Ketika belitan di perut kotaknya semakin erat, air mata itu pun tumpah ruah tak bisa tertahan.
Berusaha menyembunyikan kecewanya, Ditya menangkup lembut tangan Frolline.
"Koko akan menunggumu, istriku ... Frolline Gunawan. Koko akan menunggumu, Ibu dari anak-anakku"
Ditya berbisik lirih, sekuat tenaga mempertahankan suaranya tidak terdengar bergetar dan janggal. Menyimpan kecewa seorang diri, menyembunyikan tangis di balik kuat dan tegarnya.
Terkejut, Frolline yang tidak menyangka suaminya sudah terjaga tentu saja terperanjat.
"Ko, kamu sudah bangun?" tangan lentik itu membelai mesra area berotot di perut suaminya. Tubuhnya pun semakin melekat, mencari kehangatan.
Berbalik secepat kilat setelah menghapus air mata, hal pertama yang dilakukan Ditya adalah menempelkan punggung tangannya di dahi istrinya.
"Masih sedikit panas. Minum obat lagi, ya." Ditya bangkit dari posisi tidurnya. Laki-laki itu menyambar sebotol air mineral dan menyerahkannya pada Frolline bersama dengan sebutir obat.
"Ko, kalau aku sudah baikan ... apa aku bisa ke kantor?" tanya Frolline, memulai pembicaraan.
Seharian di kamar hotel, dia baru merasakan penjara itu seperti apa. Terkurung tidak bisa apa-apa.”
"Sembuh dulu, baru pikirkan yang lain." Tepukan hangat di pucuk kepala Frolline, Ditya menyuguhkan senyuman hangat menenangkan.
Tepat saat laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur empuk beralas seprai sutra, gawai di atas nakas berteriak kencang memecah kesunyian malam.
Fokus pasangan suani istri itu teralihkan, menoleh ke arah yang sama.
"Kak Marisa ...." Ditya berucap datar dan mengambang. Dahi berkerut menandakan tanya besar di dalam penasaran akan panggilan mendadak di tengah.
Jam di dinding hotel, menunjukan pukul 01.35 dini hari. Waktu potensial untuk berdayung ke alam mimpi, menjelajah dimensi lain di alam bawah sadar. Atau waktu tepat untuk bereproduksi bagi pengantin baru yang tidak kenal lelah dan waktu.
"Ada apa, Kak?" tanya itu terasa menggantung saat jawaban masih sebatas helaan napas berat. Marisa terdiam sejenak sebelum menyampaikan berita selanjutnya.
"Daddy sudah sadar, barusan. Ingin bertemu denganmu, putra kesayangannya. Aku bahkan tidak dizinkan masuk oleh pasukan berbadan tegap di depan pintu. You know, lah." Marisa bercerita.
Deg—
Bahagia itu menyelimut sukma, meresap mengisi relung hati yang kosong. Perasaan bersalah yang sempat hinggap, berangsur pergi kala kondisi daddy sudah membaik.
__ADS_1
"Aku tidak bisa sekarang, Kak. Fro sakit." Ditya beralasan.
Lebih tepatnya menghindar sementara sembari menyiapkan hati dan jawaban akan mengapa dan kenapa yang butuh kejelasan. Dia tahu jelas, Daddy mencarinya untuk apa.
Jawaban Ditya, sontak memercikan panik baru dari suara setengah berteriak Marisa.
"Putriku sakit!!" Marisa terperanjat dengan jerit panik yang keluar dari gawai mahal Ditya.
"Adik ipar, Kak. ADIK ... IPAR!" Ketegasan terdengar jelas dari intonasi Ditya.
"Ketika Fro masih sendiri dan berstatus calon menantumu, tentu saja dia putrimu. Sekarang dia istriku, tentu saja statusnya berganti adik ipar," lanjut Ditya masih tidask terima.
Frolline yang mendengar perdebatan tak berguna itu memaksakan dirinya bangkit. Bangkit dengan pusing memenuhi kepalanya, Frolline buru-buru memeluk pinggang suami yang saat ini berdiri di atas nakas. Menempel erat di dada bidang Ditya.
"Ada apa?" melempar tanya tanpa suara. Hanya gerak bibir yang bisa terbaca.
Ditta menggeleng, memeluk pinggang ramping istrinya dengan tangan yang tersisa.
"Besok pagi-pagi aku akan ke rumah sakit. Aku tidak bisa meninggalkan istriku malam ini, Kak."
Hening menyapa, sejenak waktu serasa berhenti berdetak.
Frolline yang berjinjit, ikut mendengar dengan menempelkan telinganya di sisi belakang gawai sontak tersenyum.
"Aku mau, Ko. Aku bosan di kamar hotel sendirian. Biarkan mami menemaniku."
"Sssttt ... kakak ipar, bukan mami." Ditya merapikan kembali panggilan istrinya kepada sang kakak yang terlanjur sesat selama ini. Ada kecemburuan terselip di penolakannya, setiap mendengar hubungan ibu dan anak yang terjalin di antara keduanya.
"Ya, Mam ... eh ... Kak Marisa, biarkan Mami ... eh Kak Marisa menemaniku sementara kamu mengurusi daddy." Frolline melempar pendapatnya.
Suara nyaring Frolline tentu saja tertangkap pendengaran Marisa dari seberang.
"Dit! Tega kamu! Putriku, kamu penjara seharian di kamar hotel. Kamu terlantarkan. Kelewatan!" omel Marisa.
"Share lokasi kalian sekarang! Aku akan menemui Frolline dan kamu bisa bertemu daddy. Kamu tahu, bahkan daddy menolakku di saat tubuhnya saja sudah sulit bernafas."
"Ko, izinkan aku bertemu mami." Frolline memohon. Memeluk erat pinggang Ditya, membujuk dengan segala daya upaya. Bahkan Frolline memberanikan diri mengecup bibir suaminya sebagai upaya terakhir.
__ADS_1
"Ya." Ditya menjawab singkat. Pertahanan dirinya tumbang.
"Koko akan ke rumah sakit setelah Kak Marisa ke sini," lanjut Ditya tersenyum.
"Cium aku dulu," pinta Ditya tersenyum, mengusap bibirnya yang basah karena kecupan singkat yang dilabuhkan Frolline.
***
Tak sampai setengah jam, Marisa sudah mengetuk pintu kamar hotel. Wanita 48 tahun itu sudah berdiri di depan pintu kamar adiknya.
"Kamu terbang, Kak. Kenapa cepat sekali?" tanya Ditya, mengedar pandangan di luar kamarnya. Mencari sosok lain yang biasa mengekor di belakang Marisa.
"First menunggu di mobil. Jangan khawatir.” Marisa menjelaskan. Hanya melihat tingkah laku Ditya, dia tahu jelas apa yang dipikirkan laki-laki 35 tahun itu.
“Temui daddy sekarang! Aku akan menjaga putri ....” Ditya menatap tajam, sontak membuat Marisa tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
“Ya, istrimu!” gerutu Marisa, kesal. Ditya terlalu berlebihan. Apalah arti sebuah panggilan.
“Fro, Koko ke tempat daddy sebentar. Jangan lupa diminum obatnya. Love you,” pamit Ditya, mengecup kening Frolline yang sedang duduk di atas tempat tidur.
Langkah kaki Ditya sudah tidak terdengar seiring pintu kamar hotel yang tertutup sempurna. Marisa yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, berjalan memangka jarak dengan tempat tidur. “Fro, kamu sakit apa?” tanyanya dengan panik.
“Demam, Mi.”
“Semua akan baik-baik saja. Mami sudah pernah merasakan ini 28 tahun yang lalu,” hibur Marisa, memeluk erat putrinya. Matanya menatap nanar ke sekeliling kamar. Ruangan itu sungguh tidak nyaman. Marisa tidak bisa membayangkan bagaimana Frolline melewati harinya di sini sendirian tanpa sang suami.
“Kemasi barang-barangmu, ikut Mami pulang ke rumah. Di sini kamu bukannya sembuh, malah akan bertambah sakit.”
“Mi ....” Frolline ragu. Bukannya tidak mau, tetapi saat ini semua keputusan ada di tangan Ditya. Tidak mungkin dia pergi begitu saja tanpa izin suaminya.
“Kemasi barang-barangmu. Sementara Ditya mengurus daddy, kamu tinggal di tempat Mami. Nanti Mami yang akan mengabari suamimu itu.” Marisa bersikeras.
“Bukan begitu, Mi ... tetapi ... aku ....”
“Sudah, menurut saja sekarang. Tinggal bersama Mami sampai apartemen kalian siap ditempati.”
***
__ADS_1
TBC