Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 118 : Lamborghini Aventador


__ADS_3

"Serius, Ko?" tanya Frolline. Kedua tangannya membelit erat leher Ditya dengan kedua kaki melingkar di pinggang kokoh sang suami.


"Ahhhh ...." pekik Ditya. Nyaris tumbang saat tubuh Frolline menumpang padanya dengan tiba-tiba. Buru-buru pria itu mendekap erat tubuh mungil istrinya agar tidak terjatuh. Ia tidak menyangka Frolline akan naik ke gendongannya.


“Serius, Sayang.” Ditya menjawab setelah berhasil berdiri tegak kembali.


"Kenapa ke Belanda?" tanya Frolline. Dari posisi bergelayut manja seperti ini, ia bisa meneliti wajah sang suami dari jarak dekat. Mencari kejujuran dari mata bening Ditya.


"Kita kabur tanpa sepengetahuan siapa pun," bisik Ditya di telinga Frolline.


"Koko serius?"


"Hmmm ...." gumam Ditya mengangguk.


"Kalau ke Jerman atau Inggris, pasti Daddy akan mengirim orang untuk mencari kita. Jadi sementara kita ke negara lain. Kita keliling Eropa sepuasnya. Bukankah kita belum honeymoon. Anggap saja honeymoon yang tertunda," jelas Ditya.


“Babymoon, Koko,” tegas Frolline.


“Terserah apapun namanya. Koko mau menghabiskan waktu lebih lama denganmu. Hanya kita berdua, Fro. Tidak perlu membawa banyak pakaian. Cukup bawa semua dokumen-dokumen pentingmu, Fro," lanjut Ditya.


"Kenapa mendadak sekali, Ko?" tanya Frolline bingung. Jemarinya memainkan daun telinga sang suami.


"Tidak, ini tidak mendadak. Koko sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Memang perjalanan ke luar negri seperti ke mall, tinggal bawa tas tangan. Ada banyak dokumen yang harus disiapkan, Fro," jelas Ditya sambil melangkah ke arah tempat tidur dan menjatuhkan perlahan Frolline di atas ranjang empuk mereka.


"Kenapa sampai aku tidak tahu?" tanya Frolline tampak berpikir.


"Surprise, Sayang." Ditya berdiri menatap Frolline dengan penuh cinta.


"Aku serius, Koko," protes Frolline.


"Karena Matt yang mengurus semuanya untuk kita, Fro. Aku juga sudah berpamitan pada Kak Marisa."


Frolline terbelalak, menutup mulutnya yang terngaga dengan telapak tangan. Teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Mendadak Ditya memintanya menemui dokter kandungan, padahal belum lama mereka kontrol bulanan.


"Jangan katakan Koko memintaku ke rumah sakit, untuk ini ...."

__ADS_1


"Ya, Koko khawatir diperlukan surat dokter. Jadi untuk berjaga-jaga. Koko tidak pernah terbang dengan wanita hamil. Kalau disuruh turun dari pesawat saat burung besi itu masih mengudara, tidak lucu, kan," canda Ditya.


"Lalu ... Daddy?" tanya Frolline mulai ragu. Terpikir dengan ayah mertuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Andaikan Ditya benar-benar membawanya pergi tanpa pesan pasti pria tua itu akan terpukul.


"Bagaimana dengan perusahaan, Ko?" tanya Frolline lagi.


"Jangan dipikirkan. Daddy masih punya anak lain yang akan membantunya. Untuk sekarang, kita nikmati saja apa yang sudah Koko rencanakan." Ditya ikut duduk di atas ranjang. Membelai wajah polos Frolline sambil tersenyum.


Pria tampan yang sudah bertelanjang dada itu menurunkan wajahnya perlahan. Dengan kedua tangan membingkai wajah Frolline, ia mengecup bibir tipis istrinya. Begitu lembut, begitu dalam dan penuh perasaan.


"Koko mencintaimu, Fro. Mencintai kalian," ucap Ditya sesaat setelah melepas ciumannya.


"Mulai sekarang percayakan hidupmu pada Koko. Aku Ditya Halim Hadinata, berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu dalam kondisi apa pun, Fro. Kita akan melaluinya bersama-sama," ungkap Ditya.


Frolline mengangguk, tanpa sadar memeluk erat Ditya dan melabuhkan kecupan di pipi sang suami.


***


Pukul lima pagi, Ditya yang sudah bersiap dengan tampilan casualnya, membangunkan Frolline untuk ikut bersiap. Mereka harus segera ke bandara. Tidak bisa berangkat terlalu siang, yang akan membuat Mama Ditya dan orang suruhan Daddy mengetahui semua rencananya. Dua koper besar miliknya dan Frolline sudah dibawa Matt keluar saat tengah malam, di mana orang-orang sedang terlelap.


"Aku mengantuk, Ko," ucap Frolline dengan suara serak. Matanya masih enggan terbuka.


"Tidur di mobil, Sayang. Kita harus keluar sekarang, kalau tidak akan ketahuan Mama." Ditya menjelaskan.


"Hmmm." Frolline bangkit dengan wajah bantalnya. Tak lama, ia pun bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Hanya butuh waktu lima belas menit, keduanya sudah bersiap.


Mengendap-endap, Ditya dan Frolline keluar dari kediaman mereka layaknya pencuri. Ditya dengan tampilan biasa, demikian juga Frolline.


"Fro, kamu ikut dengan Matt," perintah Ditya setelah mereka berada di parkiran.


Frolline terkejut. "Koko tidak ikut bersamaku?" tanya Frolline heran.


"Koko bawa mobil sendiri." Ditya menunjuk Lamborghini Aventador merah yang terparkir tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.


"Kenapa tidak berangkat sama-sama, Ko." Frolline masih bersikeras.

__ADS_1


"Koko ada sedikit urusan, Fro. Ayo masuk ke dalam." Ditya membuka pintu belakang Mercedes Benz E-class hitam dan mendorong istrinya masuk.


"Koko tidak bermaksud mengirimku ke luar negri sendirian seperti mama, kan?" tanya Frolline tiba-tiba. Begitu mendengar permintaan Ditya, pikiran buruk menyerang ibu hamil muda itu. Terbayang nasibnya yang mungkin saja sama seperti mama mertuanya.


Sebaliknya Ditya tersentak. Ucapan Frolline seperti belati yang menusuk tepat di jantungnya. Kalau sebelumnya masih ada keraguan untuk mengambil keputusan ini, sekarang Ditya menjadi semakin yakin melangkah. Keputusannya untuk pergi bersama Frolline adalah keputusan tepat. Kepercayaan Frolline padanya semakin hari, semakin menipis. Halim dengan pendapat dan cara pandangnya sudah merecoki pikiran istrinya sampai sejauh ini.


"Tidak, Sayang. Koko bersumpah akan menyusulmu ke bandara." Ditya menepuk pelan pucuk kepala Frolline, kemudian memeluk istrinya sebentar.


"Aku menunggumu, Ko."


"Percaya pada Koko, Fro." Ditya tersenyum dan berlari kecil menuju ke mobil.


***


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, saat Frolline duduk menunggu kedatangan Ditya di bandara sambil mengutak-atik ponselnya. Berita di salah satu media online menarik perhatian wanita muda itu. Telah terjadi kecelakaan tunggal, sebuah mobil Lamborghini Aventador merah. Melihat plat nomor kendaraan, sudah bisa dipastikan pemilik mobil mewah berlogo banteng tersebut bukan orang biasa.


Informasi yang disampaikan media, diduga pengemudi mengantuk sehingga menabrak pembatas jalan dan tiang listrik di sekitar pintu keluar tol di daerah Jakarta Barat. Bagian depan mobil mewah itu rusak parah.


Sampai berita itu diturunkan, belum diketahui bagaimana kondisi korban. Info terakhir yang didapat dari saksi mata di lapangan kalau korban dilarikan di sebuah rumah sakit, di sekitar lokasi kecelakaan.


Jantung Frolline berdetak kencang, bergemuruh hebat saat membaca rangkaian kata yang menceritakan kronologis kecelakan dari ponselnya. Belum diketahui kondisi korban dan siapa korban yang sebenarnya.


"Apa ini, Koko?" tanya Frolline dengan tangan gemetar. Dia bisa melihat jelas mobil merah dengan bagian depan menghantam pembatas jalan dan tiang listrik itu begitu mirip dengan mobil milik suaminya.


Frolline berusaha mencari berita dari sumber lainnya. Tubuhnya melemas saat memastikan waktu kejadiannya belum lama. Sekitar satu jam yang lalu. Dan yang membuat wanita itu yakin, sampai sekarang Ditya belum muncul di bandara. Padahal mereka berangkat bersama-sama, hanya berbeda mobil saja.


Air mata Frolline mengucur kian deras saat melihat lebih jelas plat nomor polisi di mobil yang hancur parah itu. Di situ terbaca jelas nama Ditya.


"D 1 TYA ..." Frolline mengeja sembari menangis.


"Ya Tuhan, ini Koko," ucap Frolline. Tangisnya semakin kencang, tubuhnya bergetar hebat. Pikirannya kacau, serasa bagai mimpi.


"Koko ...." pekik Frolline di sela isakannya.


***

__ADS_1


To be continue


__ADS_2