
Senyum di bibir Ditya mengembang sejak keluar dari ruang praktek dokter SpOG. Perasaan bahagia itu tercetak jelas di wajah tampannya. Ia akan menjadi papa untuk kedua kalinya. Frolline dinyatakan positif hamil enam minggu. Tanganya terus mengenggam, seakan takut terjadi sesuatu pada istri dan anaknya yang baru seukuran kacang polong di dalam rahim.
“Fro, duduk dulu. Biarkan Koko yang mengantri,” pintanya saat melihat petugas rumah sakit di bagian kasir dikerubungi banyak orang.
Pewaris Halim Group itu terpaksa mengikuti kemauan sang istri yang ingin diperiksa oleh dokter kandungan yang menangani kehamilan pertama Frolline dibandingkan dokter kandungan yang bergabung dengan rumah sakit milik Halim Group. Mau tidak mau, demi kenyamanan Frolline akhirnya Ditya memilih mengalah. Ia rela mengantri dan berdesakan dengan pasien lain. Bahkan untuk melakukan pemeriksaan, mereka harus rela mendaftar dulu dan menunggu jadwal kunjungan. Kekuasaan Ditya tidak berlaku di sini, tetap saja harus melewati semua prosedur.
Setelah meletakan secarik kertas di atas meja kasir, Ditya ikut duduk di samping Frolline. Mata berbinar itu tak henti-hentinya mengamati wajah cantik istrinya, dengan tangan mengusap perut yang masih rata.
“Fro, aku pikir sebaiknya melahirkan di rumah sakit milik Halim Group. Pemeriksaan tidak masalah di sini. Akan lebih nyaman untukmu. Melihat antriannya, Koko pusing. Apalagi Koko tidak bisa meminta bantuan Matt.” Ditya berkata.
“Lihat nanti saja, Ko. Masih lama. Daddy dan Mommy jadi pulang ke Surabaya hari ini, Ko?” tanya Frolline memastikan.
“Jadi. Setelah ini, Koko akan mengantar mereka ke bandara.”
Frolline tersenyum lega. Ia bisa bebas merdeka dengan kepulangan kedua mertuanya ke Surabaya. Sudah terlalu lama ia menahan hati, ia ingin bisa menikmati hari-harinya tanpa merasa sungkan. Mau jungkir balik tanpa merasa tidak enak hati. Sejak seatap dengan mertuanya, Frolline merasa hidupnya tidak bebas. Meski Daddy dan Mommy tidak pernah mempermasalahkan, tetap saja ada rasa tidak nyaman di dalam hati.
Obrolan suami istri itu terhenti saat terdengar suara tangisan anak kecil yang meraung dan berbaring di lantai ruang tunggu rumah sakit. Dua orang pengasuh tampak berdiri membujuk gadis kecil yang menghentakan kedua kakinya di lantai dan berteriak kencang.
“Bundaaaa ....” pekiknya. Teriakan bercampur tangisan itu mengalihkan perhatian para pasien yang didominasi oleh ibu hamil dan anak-anak. Rumah sakit ini memang dikhususkan untuk melayani ibu dan anak-anak.
“Ayo, Sayang. Bangun. Nanti dimarahi Ayah.” Terdengar salah satu pengasuh dengan seragam putih berjongkok membujuk.
“Bundaaa ....” teriak sang gadis balita, menghempaskan tangan orang dewasa yang berusaha menenangkannya.
Ditya tersenyum, pandangannya beralih pada Frolline. “Kamu bisa bayangkan ... kalau itu anak kita, Fro?” tanya Ditya tergelak.
Frolline menggeleng. “Aku tidak tahu ... tidak terbayangkan seandainya Dragon kita bersikap seperti itu,” sahut Frolline berbisik pelan. Terlihat ia merebahkan kepalanya dengan manja di pundak Ditya, mengamati amukan gadis kecil yang masih saja betah menangis.
Tak lama, tampak seorang pria muda berjalan keluar dari ruangan prakter dokter anak dan menghampiri gadis kecil yang sedang tantrum.
“Wira ....” Ditya berucap pelan saat matanya menangkap sosok familiar yang sangat dikenalinya. Sahabatnya, sesama di komunitas mobil sport dan klub golf. Teman berpesta dengan para gadis setiap malam, sekaligus rekan bisnisnya.
“Siapa, Ko?” Frolline bereaksi.
“Wira. Kamu ingat dengan sahabat Koko yang mau Koko jodohkan dengan Angella. Itu orangnya.” Ditya menegakan duduknya. Telunjuknya mengarah pada pria tampan yang sedang menggendong balita yang tadi mengamuk.
“Itu orangnya. Kenapa beda dengan di foto? Aslinya lebih tampan ....” Kalimat Frolline menggantung begitu saja saat melihat suaminya berdiri dan berjalan mendekat untuk menyapa sahabatnya. Terlihat Ditya mengobrol sejenak, sebelum akhirnya memanggil supaya ia mendekat.
__ADS_1
“Kenalkan ini istriku, Frolline Gunawan.” Ditya menepuk punggung Frolline
“Schatzi, ini Wira. Yang aku ceritakan padamu,” lanjut Ditya.
Frolline mengulurkan tangannya, menyambutkan uluran tangan Wira sembari tersenyum.
“Kenapa menangis?” tanya Frolline, mengalihkan perhatiannya pada gadis kecil yang mencuri perhatiannya sejak tadi. Mengusap pipi gembul putri sahabat suaminya itu, Frolline tersenyum. Gadis kecil itu masih saja menangis dan menjerit.
“Ayah ... mau Bunda ....” isak sang balita. Kedua tangan mungilnya terulur.
“Ya, Kak. Sebentar lagi Bunda selesai,” bujuk Wira sembari mengusap punggung putrinya.
“Mau ... Bunda ....” isaknya lagi.
“Apa yang diinginkannya, Wir?” tanya Ditya heran.
“Mau ikut bersama bundanya.” Wira menjawab sambil berusaha menenangkan putrinya.
“Ayah ... mau Bunda,” isak gadis balita yang terus menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya dibalik ceruk leher Wira.
“Bundanya di mana, Sayang?” tanya Frolline ikut membujuk. Tersentuh saat melihat wajah memerah dan berurai air mata yang menyerukan bundanya sejak tadi. Di detik ini, Frolline merasakan ingin memiliki anak perempuan.
“Namanya siapa, Sayang?” tanya Frolline lagi.
“Wina, Tante. Namanya Wina ya, Kak,” sahut Wira berusaha mengajak bicara putrinya.
“Aku sudah lama tidak mendengar kabarmu, Mr. Ditya Lim. Terakhir aku dengar dari teman-teman di klub kalau kamu menetap di Eropa.” Wira memulai percakapan saat tangis putrinya mulai reda.
“Tidak lagi. Aku sudah kembali ke Indonesia. Kamu sendiri, apa kabarnya? Sudah menikah lagi?” tanya Ditya.
Wira hanya tersenyum dan mengangguk.
“By the way, kenapa bisa sampai ke sini?” tanya Wira, menatap Frolline dengan buku pemeriksaan kehamilan di tangan.
“Hamil?” tanya Wira memastikan.
“Yes.” Ditya menjawab singkat.
__ADS_1
“Congratulation, Bro.” Wira menepuk lengan Ditya.
“First?” tanyanya Wira lagi.
“Anak kedua. Yang pertama ... Laki-laki, baru berusia enam bulan.” Ditya menjawab dengan bangganya.
“Wow! Kejar setoran,” canda Wira.
“Berlomba dengan umur, Bro. Aku sudah tidak muda lagi. Kalau dijarak terlalu jauh, takutnya anakku tidak bisa membedakan mana papanya, mana opanya.” Ditya menjawa sambil tergelak.
Obrolan singkat mereka terhenti, saat seorang wanita menyapa Wira dari jarak beberapa meter.
“Mas, Adek sudah selesai disuntik,” ucap perempuan berambut panjang dengan suara lembut, tersenyum hangat sambil mendekap bayi di dalam gendongan. Di sampingnya tampak seorang babysitter, berjalan menenteng tas bayi.
“Bundaaa ....” Wina berteriak.
“Istriku. Aku permisi dulu,” pamit Wira menepuk lengan Ditya dan menyunggingkan senyuman. pada Frolline. Pria itu bergegas menemui perempuan yang diakui sebagai istrinya.
***
Kediaman Halim Hadinata, Menteng.
“Positif hamil?” tanya Halim sembari memangku Dragon di sofa ruang tamu. Terlihat Matt, Zoe dan Joe sibuk memasukan koper-koper besar ke dalam mobil. Sebentar lagi sepasang suami istri berusia senja itu akan pulang ke Surabaya.
“Ya, Dad.” Ditya menjawab dengan pasti, menjatuhkan bokongnya di sofa.
Frolline tampak duduk di sebelah Ditya. Memandang putra kesayangannya yang sedang dikuasai Halim.
“Berapa minggu?” tanya Halim sembari mencium pipi Dragon tanpa jeda, membuat cucu kesayangannya itu menjerit karena merasa tidak nyaman.
“Aih ... cuma dicium saja, cucu Ye ye sudah tidak terima,” ucap Halim tergelak. Sejak kehadiran Dragon, fisik rentanya terlihat sehat.
“Frolline hamil enam minggu, Dad.”
Halim tersenyum. “MATT! MASUKAN KEMBALI KOPER-KOPER ITU KE KAMARKU. MENANTUKU HAMIL LAGI, AKU AKAN MENUNDA KEPULANGANKU KE SURABAYA!” teriak Halim pada Matt yang berdiri di teras rumah.
Kelegaan yang menghuni hati Frolline terusik seketika dengan kalimat terakhir mertuanya. Kemerdekaan dan kebebasan yang akan direguknya sebentar lagi, kembali harus tertunda dengan pernyataan Halim.
__ADS_1
“Yang sabar ya, Fro. Koko mengerti perasaanmu.” Ditya berbisik di telinga Frolline.
***