
Di salah satu sudut ballroom hotel berbintang, tampak perempuan cantik duduk sembari mendekap bayi di dadanya. Gaun putih panjang terurai ke lantai menutup mata kaki, tampak serasi dengan setelan hitam sang bayi yang baru saja tertidur setelah lama menangis.
Ya, mereka adalah Frolline dan bayinya, Dragon. Ibu dan anak itu memilih duduk di sudut untuk menghindari keramaian tamu undangan yang sedang menghadiri resepsi pernikahan cucu pemilik Halim Group dengan cucu pemilik Wangsa Group. Bisa dikatakan perjodohan bisnis kedua cucu yang berakhir dengan pernikahan bisnis dan mungkin saja akan ada kerja sama dua perusahaan raksasa itu ke depannya.
Tepukan lembut Frolline berulang di punggung mungil putranya. Ia sengaja duduk di dekat pendingin ruangan untuk membuat putra semata wayangnya merasa nyaman. Sejak acara dimulai, Dragon menangis dan tidak mau digendong pengasuhnya. Hanya ingin berada di dalam dekapannya.
“Fro, Dragon sudah tidur?” Pria bertuksedo hitam muncul dengan segelas jus guava di tangannya.
“Sudah. Tidurnya tidak lelap, sebentar-sebentar menangis. Apalagi di sini panas dan berisik. Kasihan, Ko.” Frolline bercerita, wajahnya terlihat meredup. Sebagai mama, ia benar-benar tidak tega melihat putranya seperti ini.
“Sabar, ya. Sebentar lagi kita pulang,” ucap Ditya. Ia ikut mengusap punggung mungil Dragon. Pria itu tersenyum, menyodorkan gelas jus miliknya ke bibir merah sang istri.
“Minum, Sayang. Mau aku ambilkan sesuatu? Kamu tidak mengisi perut sama sekali sejak acara dimulai.” Ditya bertanya. Putranya rewel dan hanya ingin berada di pelukan sang mama, membuat Frolline kewalahan. Gaun cantik dengan riasan menawan, ditambah perhiasan mahal yang melekat di tubuh indah Frolline seakan sia-sia. Ibu muda itu harus rela mendekap putranya sepanjang acara.
Mencecap dengan ujung bibir, Frolline membasahi kerongkongannya yang kering.
“Habiskan saja, Fro,” pinta Ditya. Dengan sabar membantu Frolline meneguk habis jus buah jambu biji yang tersisa di gelas kaca.
“Sudah, Ko.”
“Masih mau?” tawar Ditya. Tersenyum sembari mengusap sudut bibir istrinya.
“Cukup.” Frolline menggeleng pelan.
Tampak Ditya menarik kursi dan duduk di sebelah istrinya. Tangan kanannya menelusuri pundak seksi Frolline yang malam ini terbuka sempurna. Gaun model backless yang memamerkan lekuk tubuh sekaligus kulit punggung Frolline, membuat Ditya meradang walaupun akhirnya mengalah dan menerima dengan berat hati.
Gaun putih rancangan desainer langganan keluarga Halim itu membuat Ditya naik darah. Punggung putih mulus istrinya terekspos sampai ke pinggang. Hanya pria gila yang rela saat lekuk tubuh wanitanya menjadi tontotan ratusan pasang mata. Kalau saja bukan karena harus mengenakan seragam dengan anggota keluarga lainnya, Ditya akan membuang gaun Frolline ke tempat sampah.
__ADS_1
“Aku kecolongan kali ini,” ucap Ditya sembari meremas pelan pundak Frolline. Ia kembali kesal mengingat istrinya yang memilih model gaun tanpa kompromi padanya.
“Ke depan ... aku harus membuat aturan cara berpakaian yang jelas untuk wanita keluarga Halim. Jangan sampai pengalaman burukku ini terulang lagi,” celetuk Ditya menatap tajam istrinya. Rasanya ia masih belum puas melampiaskan kekesalannya.
“Ko ....” protes Frolline.
“Hmmm.” Ditya bergumam. Tatapan seksi itu terlihat mengiris, Frolline mengulum senyuman, batal mengungkapkan keberatannya.
“Jangan marah-marah lagi,” pinta ibu muda itu sembari bersandar di pundak suaminya.
“Ya.”
Ditya memejamkan mata, ikut menempelkan kepalaya pada Frolline. Berada di tengah pesta seperti ini, mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka dua tahun silam.
“Fro, masih ingat bagaimana kita bertemu?” tanya Ditya, membuka mata. Menatap lalu lalang para tamu undangan yang sedang menikmati sajian pesta.
Frolline tersenyum. “Di pesta pernikahan Firstan. Aku menangis di pojok dan Koko datang menemuiku.” Frolline menjawab tanpa beban.
“Kalau mengingat dulu, apa kamu menyadari betapa bodohnya dirimu?” tanya Ditya.
“Apa aku terlihat bodoh saat itu?” tanya Frolline dengan sorot mata kesal.
“Tidak, hanya saja kalau sekarang diingat kembali ... em ... bisa dikatakan bodoh sekali.” Ditya menjawab dengan yakin, sembari menyentil kening Frolline.
Mata Frolline membulat. “Apa maksudmu, Ko?”
“Kamu menangisi pria yang sudah resmi menjadi suami wanita lain, menangisi jodohnya wanita lain dan mengabaikan jodohmu sendiri. Padahal Koko sudah berdiri dengan gagah di depan matamu. Apa kamu tidak merasa kalau tangisanmu itu sia-sia. Pada akhirnya, yang kamu tangisi tetap saja menjadi milik orang lain,” jelas Ditya tergelak.
__ADS_1
“Apa itu bukan bodoh namanya,” lanjut Ditya.
“Aku tidak mau membahasnya.” Pipi Frolline merona merah saat diingatkan kembali.
“Jangan melakukan itu lagi. Kita tidak pernah tahu jalan hidup seperti apa yang disiapkan Tuhan ke depannya. Jangan tertawa berlebihan, menangis secukupnya saja. Kita hanya butuh waktu untuk menyembuhkan luka dan setelahnya, kamu akan tersenyum, Fro. Ketika kamu merasa hidup tidak adil untukmu ... cukup percaya satu hal, keadilan itu belum datang padamu. Waktu akan menjawab semuanya,” ungkap Ditya.
“Ketika kamu terluka, coba sedikit bersabar. Waktu akan menyembuhkan semua. Koko juga begitu. Saat kita menikah, tidak ada cinta untuk Koko di matamu. Percaya saja pada waktu. Waktu akan membayar semua perjuangan dan usaha Koko itu dengan hasil setimpal. Hanya butuh waktu, bertahan dan bersabar. Sama seperti saat kita berjuang untuk restu Daddy. Kita hanya butuh waktu.”
“Waktu ... waktu ... dan waktu ....” Ditya mengetuk pelan kening istrinya tiga kali.
“Mengerti?” tanya Ditya lagi.
“Hmmm.” Frolline mengangguk.
“Kalau sekarang kamu merasa hidup bersama Koko berat karena ada aturan keluarga dan Daddy. Tenang saja! Suatu saat semua akan berubah seiring waktu. Nikmati saja apa yang ada di depan kita. Koko akan berjuang untuk keluarga kecil kita. Cukup percaya pada Koko. Sejak awal Koko selalu mengatakan ini. Ada saatnya Koko berjuang, ada saatnya Koko juga harus mengalah pada aturan keluarga. Kamu mengerti, Fro?”
“Ya, Ko.”
“Karena Koko bukan hanya suami untukmu, bukan hanya Papa untuk Dragon saja, tetapi Koko juga putra Halim Hadinata dan pemimpin Halim Group. Ada banyak yang harus Koko jaga. Kedua tangan Koko bukan hanya untuk memelukmu dan Dragon saja, tetapi harus merangkul semua orang yang bergantung pada Koko. Otak Koko bukan hanya untuk memikirkan kebahagiaanmu dan Dragon saja, tetapi harus memikirkan kesejahteraan semua yang bergantung hidup di Halim Group. Setahun ini, Koko melepas semuanya untukmu dan Dragon, dan sekarang saatnya Koko membayarnya. Tolong berdiri di samping Koko dan tetap mendukung. Kesuksekan Koko di masa depan adalah keberhasilanmu sebagai istri dari Ditya Halim Hadinata.”
“Dan kegagalan Koko, juga akan menjadi kegagalanmu sebagai istri.”
Frolline mengangguk. Sebuah kecupan mendarat di pipi Ditya.
“Ich liebe dich,” ucap Frolline pelan.
“Hah! Sejak kapan kamu bisa mengucapkannya, Fro?” tanya Ditya tergelak mendengar pernyataan cinta sang istri.
__ADS_1
Frolline tidak menjawab, sebagai ganti ia memeluk erat Ditya dan putranya bersamaan.
***