
Jari jemari lentik itu saling meremas, paras cantik itu pun tampak menyimpan cemas. Berulang kali mencuri tatap pada sosok tampan dengan mata terpejam, tidur telentang memenuhi sisi kanan ranjang.
Setiap memandang Ditya, Frolline seolah diingatkan dengan status nyonya yang baru beberapa jam disematkan di depan namanya. Belum lagi kekhawatirannya saat melihat kamar mandi transparan di tengah kamar mereka. Ah, bagaimana ia bisa melewatkan malam ini dengan selamat. Itulah yang ada di dalam pikirannya saat ini.
“Fro, kamu tidak mau tidur? Kamu tidak lelah?” tanya Ditya, bersuara. Setelah lama, hanya mengintip dengan mata tertutup. Ia bisa melihat jelas kecemasan yang tidak bisa disembunyikan perempuan yang sekarang menyandang status Nyonya Ditya Halim Hadinata. Perempuan yang membuatnya melepas status bujangan selama 35 tahun ini dipertahankannya dengan penuh kebanggaan.
“Aku tidak mengantuk,” tegas Frolline, buru-buru menjawab.
“Tidur saja dulu, persiapkan tenagamu untuk bertempur denganku nanti malam,” goda Ditya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
Ada sensasi tersendiri ketika melempar candaan-candaan vulgar pada istrinya. Rona merah jambu di pipi Frolline, membuatnya merasa beruntung bisa memiliki gadis polos yang bisa setia dengan satu hati meskipun lelaki itu telah berkhianat padanya.
Kalau boleh jujur, salah satu alasan Ditya menjatuhkan hati pada Frolline adalah karena kesetiaannya. Frolline bisa setia dan menerima Firstan meskipun lelaki itu sudah menyakitinya. Istrinya adalah perempuan yang bodoh, tetapi ia memang butuh perempuan yang bisa mencintainya dengan cara bodoh. Dan Ditya akan berjuang untuk mendapat cinta Frolline.
Ditya membutuhkan cinta Frolline yang buta dan bodoh, supaya Frolline tetap mau bertahan di sisinya meskipun dunia memisahkan mereka. Kehidupannya keras dan tidak semua kaum hawa akan sanggup bertahan di sisinya.
“Bagaimana? Kamu sudah siap, kan?” goda Ditya kembali.
Diingatkan seperti itu, Frolline bergidik. Ia bukanlah anak kemarin sore yang polos dan tidak mengerti apa-apa. Tentu ia tahu jelas, dengan keputusannya menerima pinangan Ditya ada hak dan kewajiban yang harus dijalankan dan diterimanya sebagai seorang istri.
“Dit, bisakah kita mengundurnya sampai aku siap?” tawar Frolline, mencoba bernegosiasi.
Ditya membuka mata, menekuk kedua tangannya bertemu di belakang kepala, menampilkan otot-otot dadanya yang tampak sempurna dengan pose seperti ini
“Apa yang kamu takutkan?” tanya Ditya.
Frolline menggeleng. “Semuanya,” bisiknya pelan.
Dengan sekali tarikan, Ditya berhasil membuat Frolline terjerembab di atas tempat tidur, tepat di sampingnya. Mengisi sisi ranjang yang kosong.
“Kalau begitu, mari kita saling mengenal dulu,” ujar Ditya. Secepat kilat merengkuh tubuh Frolline dan mendekapnya erat.
Gadis itu tidak berkutik, hanya diam-diam meringkuk dalam kehangatan pelukan Ditya. Debar jantungnya memburu, berpacu saat kulit wajahnya menempel di dada telanjang pria yang sekarang berstatus suaminya.
Dengan posisi seperti sekarang, Frolline bisa mendengar jelas jantung Ditya yang berdetak teratur. Ia tidak berani bergerak, hanya diam menghitung detik demi detik berjalan. Berdoa semoga waktu segera berlalu.
Frolline bisa merasakan, kulit tubuh mereka makin menempel seiring dengan tangan Ditya makin mengeratkan belitannya.
“Dit ...." Frolline memberanikan memanggil.
“Ssttt ... tidur saja. Aku mengantuk,” bisik Ditya, mengecup pucuk kepala istri yang sekarang pasrah tanpa perlawanan di dalam dekapannya.
“Dit, bisakah kita pindah kamar saja,” pinta Frolline.
__ADS_1
Ditya terkejut. Dengan ujung telunjuknya, menaikan dagu lancip Frolline agar menatap ke arahnya.
“Ada apa dengan kamar ini? Kenapa selalu meminta pindah? Apakah kamu merasakan ada aura-aura negatif di sini?” tanya Ditya heran, mengerutkan dahi.
Frolline menggeleng. “Aku tidak bisa mandi di kamar mandi itu,” tunjuk Frolline.
Ditya mencoba mengikuti arah telunjuk Frolline. Tawanya pecah saat memahami keberatan sang istri.
“Kenapa memang? Kita suami istri, tidak ada salahnya 'kan kalau saling berbagi, saling memahami, saling terbuka dan saling mengenal satu sama lain,” sahut Ditya.
“Dan kamar mandi itu memiliki konsep yang sama dengan hubungan kita sekarang. Mari kita belajar berbagi, memahami, terbuka dan mengenal pribadi kita masing-masing. Dan itu bisa kita mulai dari sana,” lanjut Ditya kembali terbahak.
Debat kusir keduanya berakhir dan mereka pun tertidur dengan saling memeluk. Entah lelap itu sudah berlangsung berapa lama, tiba-tiba dering ponsel milik Ditya di atas nakas mengejutkan Frolline, memecahkan keheningan yang sebelumnya mengisi kamar mewah itu.
Frolline meraba-raba mencari asal suara, sampai matanya menangkap benda pipih berderit, bergetar bergesekan dengan nakas kayu.
“Dit, ponselmu,” panggil Frolline, menepuk pelan dada bidang suaminya.
Ditya yang terusik, akhirnya membuka mata, meraih ponsel dan meletakan gawai pipih itu ke telinganya.
“Bos, gawat! Bodyguard kiriman daddy-mu sudah menunggu di lobby hotel,” cerita Matt.
Deg—
“Ada apa, Dit?” tanya Frolline heran.
“Tidak apa-apa. Jam berapa sekarang?” tanya Ditya dengan suara serak, mematikan panggilan Matt sepihak.
“Jam enam.”
“Ayo bangun, bersiap-siap. Perutku sudah lapar,” ucap Ditya, mendorong kecil tubuh Frolline dan segera bangkit dari tidurnya.
Tanpa malu-malu, lelaki itu melepas celana panjangnya, bergegas masuk ke dalam kamar transparan persegi dan bersiap membersihkan diri.
Melihat ketidaktahumaluan Ditya, Frolline menjerit. Menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan memilih memejamkan mata kemudian mengintip perlahan.
“Ish! Kamu lebih tidak tahu malu, Fro!” umpat Frolline pada dirinya sendiri saat menyadari ia sendiri mengintip dan mengagumi tubuh telanjang Ditya yang sedang menikmati kucuran air kran yang menghujam ke tubuh kekar suaminya.
***
Ditya memilih menikmati makan malam di restoran yang ada di hotel dengan pertimbangan kalau orang suruhan daddy-nya sudah mengintai. Lelaki itu mencari aman demi ketenangan istrinya yang tidak tahu apa-apa.
“Dit, bisakah tinggalkan aku di kamar sendirian. Aku mau mandi tetapi tidak mau kamu menontonku,” pinta Frolline. Tubuhnya gerah, setelah seharian belum menyentuh air.
__ADS_1
Keduanya sudah berdiri di depan pintu kamar setelah menyelesaikan acara makan malamnya.
“Satu jam saja,” pinta Frolline lagi, memohon.
Setelah lama berpikir, Ditya mengalah. Menyerahkan cardlock ke tangan Frolline. “Satu jam, tidak lebih,” tegas Ditya, berbalik badan. Berjalan menuju ke arah kamar asistennya.
“Aku di kamar Matt,” ucap Ditya lagi.
***
Frolline sedang mengeringkan rambutnya di depan cermin saat pintu kamar diketuk pelan. Tak lama, terdengar suara Ditya yang mengalun lembut di depan pintu.
“Kenapa lama sekali?” tanya Ditya, begitu pintu kamar terbuka. Lelaki itu sudah melenggang masuk, menjatuhkan bokongnya di tempat tidur.
Frolline menolak menjawab, meneruskan mengeringkan rambutnya. Tidak peduli dengan tatapan Ditya yang sudah mulai sedikit aneh.
Sejak masuk, lelaki itu teralihkan perhatiannya dengan gaun tidur satin istrinya. Meskipun tidak seksi dan terbuka, tetapi lumayan mempertontonkan bentuk tubuh ramping Frolline.
Frolline yang fokus dengan rambutnya, tidak menyadari sama sekali terjadi pergerakan di belakangnya, sampai kedua tangan membelit erat pinggangnya. Tidak sampai di situ, Ditya sudah menjatuhkan dagu di pundak Frolline.
“Aku mencintaimu,” bisik Ditya, menatap lembut ke arah cermin.
Frolline membeku di tempat, sudah paham arah selanjutnya seperti apa. Meskipun sudah berusaha menerima Ditya dengan menyetujui pernikahan ini, tetapi hati terdalamnya masih menyimpan Firstan.
Tidaklah mudah, bertahun-tahun ia mencintai Firstan. Bahkan dari belum paham arti cinta itu sendiri. Setelah pengkhianatan Firstan pun, cintanya masih tidak berkurang. Cinta itu masih tetap sama.
“Aku masih mencintai First,” bisik Frolline, setetes air mata itu jatuh tanpa bisa ditahan. Frolline tahu, ia tidak berhak mengucapkan kata yang begitu menyakitkan di depan suaminya.
“Aku tahu, aku salah. Masih menyimpan orang lain di dalam hatiku,” lanjut Frolline tertunduk.
Ditya tersenyum getir. Sebenarnya sudah tahu, tetapi ucapan Frolline seperti menamparnya untuk kembali ke kenyataan dan tidak mimpi berlebihan.
“Saat ini aku belum bisa mencintaimu dengan hati dan perasaanku, tetapi aku berjanji mencintaimu dengan logikaku.”
“Aku tahu, aku istrimu. Silakan mengambil hakmu,” ucap Frolline tertunduk, dengan suara bergetar.
***
T b c
Love you all
Terima kasih.
__ADS_1