Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 132 : Dragon Hadinata Lim Jīn Lóng


__ADS_3

Menginap sehari semalam di rumah sakit pasca melahirkan, Frolline akhirnya pulang ke apartemen mereka bersama sang bayi yang belum diberikan nama oleh Ditya. Semilir angin musim gugur menyapa kulit, membawa semangat baru bagi pasangan papa mama baru yang bahkan belum terlatih mengganti popok jagoan kecil mereka.


“Fro ... apa yang harus kita lakukan?” tanya Ditya berdiri bersebelahan dengan sang istri menatap bayi mungil yang terlelap di atas tempat tidur. Senyum terkembang di bibir keduanya, dengan sorot mata memancar kebahagiaan.


“Aku tidak tahu, Ko. Bahkan aku masih belum lancar menggendongnya. Bagaimana memandikannya, mengganti bedong, menyusuinya. Aku benar-benar belum paham.” Frolline berterus terang. Ia belum pernah memegang bayi sebelumnya, tidak ada orang tua yang mengajari. Frolline hanya bisa mengandalkan teori yang dipelajarinya dari buku dan bacaan di media online.


“Ya sudah. Kita belajar bersama-sama.” Ditya tersenyum sembari merangkul pundak istrinya. Kebingungan sepasang suami istri yang bahkan tidak tahu apa-apa saat menangani bayi mungil mereka. Jauh dari sanak keluarga, jauh dari orang tua. Dan yang lebih menyedihkan, mereka ada di negeri orang.


“Sebaiknya kamu istirahat saja, Fro. Kamu baru saja melahirkan. Temani jagoan kita. Aku akan mengurus semuanya.” Ditya membantu sang istri berbaring di ranjang. Tubuh Frolline belum sepenuhnya sehat. Masih dalam masa pemulihan yang membutuhkan istirahat cukup dan asupan makanan bergizi.


Baru saja memastikan Frolline berbaring nyaman, tiba-tiba ponsel Ditya berdering. Keduanya saling menatap heran, sebelum menjatuhkan pandangan pada gawai hitam di atas nakas.


“Apa itu Kak Angel?” tanya Frolline tersenyum bahagia.


Ditya menggeleng. “Mama.” Ditya menjawab setelah memastikan si penelepon.


“Ada apa?” sapa Ditya begitu ponsel menempel di telinganya.


“Kalian masih di rumah sakit atau sudah diusir pulang ke apartemen?” tanya Mama Lily asal.


“Di apartemen. Kenapa, Ma?” tanya Ditya heran.


“Mama masih di ruang tunggu bandara. Setengah jam lagi penerbangannya. Kamu masih di apartemenmu yang lama, kan?” tanya Mama Lily memastikan.


“Ya ....” Ditya ragu. Baru saja kemarin menghubungi mamanya dan belum ada kepastian, tiba-tiba saat ini sang mama sudah siap terbang.


“Serius? Mama akan terbang ke sini?” tanya Ditya lagi. Kedatangan sang mama akan membantunya dan Frolline. Tadinya ia berencana mencari pengasuh bayi, yang bisa membantu mengurus anak mereka sampai Frolline mengerti banyak hal.

__ADS_1


Menjadi ayah dan ibu muda tanpa bimbingan orang tua, membuat keduanya kebingungan. Ada banyak kekurangan yang sebelumnya lupa disiapkan karena masih belum berpengalaman.


“Ya. Daddy-mu mengomel kalau aku tidak secepatnya terbang menemui kalian. Andai dokumen belum siap, si tua bangka itu memintaku berenang melewati selat Inggris supaya bisa masuk ke UK. Yang benar saja ... pasti dia menginginkanku mati konyol jadi santapan hiu supaya tidak pusing membagi warisannya.” Mama Lily menumpahkan kekesalannya.


Sejak tahu Frolline melahirkan, Halim merecoki hidupnya setiap waktu. Bahkan pria tua itu tidak membiarkannya tidur dengan tenang. Ponselnya berdering tanpa jeda. Suara Halim menggelegar bagai petir memecah gendang telinga. Memarahinya tanpa spasi maupun titik koma. Berlanjut dan berulang-ulang, membuatnya muak. Tidak puas mengomel, Halim masih mengirim video putra Ditya yang menjerit dan menangis kencang untuknya.


“Ya sudah. Kalau mama sudah di bandara, kabari. Aku akan menjemputmu.”


“Tidak perlu. Aku bisa naik taksi sendiri. Em ... kalau mau menjemput, cukup kirim Pangeran Charles saja menjemputku di bandara,” ucap Mama Lily tergelak. Di saat seperti ini pun, perempuan paruh baya itu masih bisa bercanda.


“Ma, you jangan gila!” Ditya menggeleng kepala dengan keusilan sang mama.


“Aku cukup sadar diri. Bersaing pun harus berkaca lebih dulu. Kalau diminta bersaing dengan Jeng Camilla, aku tidak keberatan. Asal jangan diminta rebutan dengan Kate Middleton.” Lagi-lagi Mama Lily tergelak sebelum mematikan ponselnya.


“Mama kenapa, Ko?” tanya Frolline penasaran.


***


“Dragon Hadinata Lim.” Ditya berdiri sembari menggendong putra kesayangan. Untuk pertama kali ia mengenalkan nama putranya setelah seminggu hadir di dunia, sang jagoan tanpa identitas.


Mereka sedang menikmati waktu santai di ruang keluarga setelah sebelumnya sempat mendapat kunjungan midwife dari rumah sakit tempat Frolline bersalin. Salah satu fasilitas yang didapatkan saat melahirkan di Inggris. Pasca melahirkan, ibu dan anak tidak perlu repot melakukan pemeriksaan ke rumah sakit, tetapi sebaliknya, midwife yang akan mengunjungi pasiennya di rumah.


Frolline dan Mama Lily terbelalak saat mendengar nama sang jagoan yang singkat, dengan nama keluarga Hadinata di tengah dan marga di bagian belakang.


“Kenapa tidak kompromi denganku dulu, Ko. Aku tidak menyukai nama itu. Kenapa terdengar mengerikan?” gerutu Frolline.


“Koko hanya menyesuaikan dengan nama chinese yang diberikan Daddy,” jelas Ditya dengan santai. Tampak ia mengusap punggung bayi mungilnya dengan lembut.

__ADS_1


“Hah? Maksudnya bagaimana, Ko?” tanya Frolline bingung.


“Lim Jīn Lóng. Daddy memberinya nama itu. Artinya naga emas.” Ditya menjelaskan.


“Baiklah, kalau sudah membawa nama daddy, aku tidak mau ikut campur, Ko.” Berdiri perlahan dengan dibantu mama mertuanya, Frolline segera mengambil alih tubuh putranya dari gendongan sang papa.


“Ke kamar saja. Aku mau istirahat. Sebentar lagi Dra ....” Frolline terdiam sejenak, bingung harus memanggil putranya.


“Dragon, panggilannya Dragon. Anak kita akan dikenal dengan nama Dragon Lim.” Ditya mengucapkannya dengan penuh kebanggaan. Seminggu ini, tanpa diketahui Frolline, ia sibuk mencari nama dan mengurus dokumen putranya. Pasti ada perbedaan administrasi saat anak lahir di Indonesia dengan di luar negeri. Ada prosedur yang harus dilewatinya untuk mendapatkan dokumen resmi, termasuk izin tinggal bayinya yang masih merah.


“Aku menyukai nama Dragon, selain karena sesuai dengan nama yang diberikan Daddy. Dragon juga memiliki arti yang lumayan bagus. Nama Dragon berarti naga. Konon katanya ... orang yang menggunakan nama ini memiliki kemauan keras, bakat bisnis dan berwibawa. Entah benar atau tidak, aku melihat nama ini bagus dan cocok untuk putra kita,” jelas Ditya, menatap punggung mungil yang kini sudah berpindah tempat di gendongan Frolline.


“Aku tidak mau pusing. Yang terpenting saat kita memiliki bayi perempuan, Koko harus membiarkan aku yang memberi nama. Untuk Dragon ... aku tidak masalah, meskipun aku tidak menyukainya. Terlalu maskulin.”


“Berarti ... kita ....” Ditya menggantungkan kalimatnya. Sebagai ganti, ia memainkan kedua alisnya untuk menggoda sang istri.


Kalimat Frolline membuat perasaan Ditya semakin bahagia. Itu artinya akan ada anak lain selain Dragon. Tentu saja ia tidak keberatan. Kehadiran anak akan membuat hubungan pernikahan mereka semakin kuat, cinta itu pun akan semakin kokoh meski belum bisa terucap dari bibir Frolline. Bagi Ditya, tidak masalah. Ucapan cinta itu bukan hal yang penting di dalam rumah tangga mereka, tetapi penggambaran cinta dalam sikap manis dan manja sang istri yang membuat Ditya yakin kalau dirinya sudah menempati hampir seluruh hati Frolline.


“Ah, jangan menggodaku, Ko.” Wajah Frolline memerah, bergegas ke kamar tidur. Ditya yang mengekor di belakang hanya sempat memberi kode pada sang mama untuk tidak mengganggu.


“Baru juga puasa seminggu, otak kotornya sudah mulai bertamasya. Kita lihat saja nanti dalam hitungan ke sepuluh pasti anak itu diomeli istrinya.” Mama Lily terbahak sambil menunggu detik-detik putranya terusir dari kamarnya sendiri.


Dan benar saja, tak lama tampak Ditya muncul dengan wajah kesalnya. “Aku lupa kalau Fro baru melahirkan.” Ditya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


***


Detik-detik menuju ending, ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2