
Ditya dan Frolline sudah duduk di dalam private jet yang akan membawa mereka ke Surabaya. Ditya membawa semua asisten dan bodyguard-nya, termasuk Zoe dan bodyguard sang istri.
Frolline yang baru pertama kali menikmati sensasi dan kemewahan penerbangan dengan private jet, tampak mengedarkan pandangannya. Ia masih belum puas menyapu pandangannya, sampai Ditya menariknya duduk di pangkuan.
Lelaki dengan setelan branded dari ujung kepala sampai ujung kaki itu sudah duduk nyaman dengan mengulum senyuman saat menangkap basah wajah Frolline yang merona di perlakukan semesra ini.
Jujur saja, sebelum menandatangani surat nikah, Ditya tidak pernah melakukan hal-hal kecil yang terlihat manis. Perlakuan Ditya tidak jauh dari genggaman tangan atau pelukan hangat dengan sesekali kecupan di kening atau pun bibir. Itu pun sangat jarang terjadi, kalau tidak ada momen-momen tertentu.
Selamat datang, Mrs. Ditya Halim Hadinata,” ucap Ditya melepas kacamata hitam yang sejak tadi menghiasi wajah tampannya.
“Dit, aku duduk di situ saja,” bisik Frolline, menunjuk tempat kosong di sebelah Ditya. Matanya mengedar ke sekeliling, melihat para asisten dan bodyguard yang membuang pandangan ke jendela dengan senyum tertahan.
“Bisakah jangan memanggilku Dit Dit Dit lagi!” protes Ditya. Sejak lama ia ingin protes, tetapi ia belum memiliki hak untuk mengajukan protes itu. Dan sekarang, ia merasa sudah mengantongi hak untuk itu.
“Aku harus memanggil apa?” tanya Frolline.
“Setidaknya lebih manis dari sekedar Dit,” sahut Ditya, merengkuh pinggang Frolline agar tetap duduk di pangkuannya.
“Nanti aku pikirkan, tolong biarkan aku duduk di situ saja,” pinta Frolline lagi. Dengan bergerak ke sana kemari, Frolline berusaha melepaskan diri.
Ditya mengalah, setelah melihat raut ketidaknyamanan yang tercetak jelas di wajah cantik Frolline. Ditya membiarkan Frolline duduk di sebelahnya. Bahkan ia menyumbangkan bahunya dengan sukarela untuk Frolline bersandar di sana.
Lama terdiam tanpa suara, Frolline menikmati perjalanan udara termewah yang belum pernah dilakukannya selama ini sampai ia lelah sendiri dan tertidur. Hanyut ke alam mimpinya.
Melihat itu, Ditya meraih tangan Frolline, membawa ke atas pangkuannya. Lelaki itu tersenyum menatap cincin nikah yang sekarang terselip di jari manis Frolline.
“Maafkan aku, tidak bisa memberikanmu pernikahan indah seperti impian semua orang,” bisik Ditya, mengecup pelipis Frolline yang tertidur, melemas di pelukannya.
“Kita harus mengantongi restu kedua orangtuaku dulu baru bisa membuat pesta mewah dan mengakuimu sebagai istriku pada dunia,” lanjut Ditya, merapikan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi sebagian wajah Frolline, dan menyelipkannya di belakang telinga.
__ADS_1
Perjalanan udara satu jam lebih itu tidak terasa. Ditya yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengatur kalimat di dalam otaknya untuk menghadapi kedua orang tuanya itu membiarkan Frolline tidur pulas. Ia tahu, sebentar lagi mereka akan berperang, terlebih istrinya akan ditelanjangi semua orang.
“Aku berubah pikiran!” ucap Ditya, begitu pesawat mereka mendarat dan menginjakan kaki ke Surabaya.
Semua pasukan bodyguard yang terdiri dari tiga pria berbadan kekar dengan tato hampir memenuhi seluruh permukaan kulit, ditambah Matt dan Zoe, asisten baru Frolline sekaligus sepupu jauh Matt itu menghentikan langkahnya. Saling beradu pandang selanjutnya mengalihkan pandangan mereka pada kedua majikannya yang baru saja menyandang status barunya.
“Bagaimana maksudnya, Bos?” tanya Matt, memberanikan diri bertanya. Bingung akan berubah pikiran yang dimaksud majikannya.
“Kita ke hotel saja hari ini, besok baru menemui Daddy,” ucap Ditya, menggandeng tangan Frolline, melangkah dengan tersenyum.
Mendengar kata hotel, jantung Frolline hampir copot. Padahal, ia sudah terbiasa tinggal bersama dengan Ditya. Akan tetapi, entah mengapa beberapa jam menyandang status istri dari Ditya Halim Hadinata pikirannya jadi kacau saat memikirkan harus berbagi kamar dengan pria yang masih terasa asing di hatinya.
***
Bunyi roda koper yang ditarik berkolaborasi dengan derap langkah bergema sepanjang koridor menuju kamar presidential suite yang dipesan khusus oleh Matt, asisten yang sekarang sedang menarik koper-koper majikannya dan mengekor di belakang.
Ditya yang berjalan paling depan dengan mengandeng lekat tangan istrinya, tampak menggerakan kepala ke kiri dan kanan, mencari nomor kamar berlapis keemasan yang menempel di pintu yang cocok dengan nomor cardlock di tangannya.
Tanpa menunggu lama, pintu itu terbuka. Gelap gulita menyambut, belum tampak kemewahan yang membuat mata terbelalak mengagumi.
Ditya melangkah masuk seiring dengan lampu kekuningan yang menyala sempurna, mempertontonkan kemewahan kamar dengan view kota Surabaya. Lelaki itu melempar cardlock di atas nakas, sembari menghempas tubuhnya duduk di ranjang empuk dengan bantal bulu angsanya berbungkus kemerahan sebagai penghias.
Matt dengan menarik koper, ikut masuk ke dalam kamar mewah majikannya itu tampak tersenyum menggoda. Mengagumi kamar bulan madu pilihannya, yang pasti akan menuai pujian.
“Bos, aku bawakan tolak angin. Aku sisipkan di tumpukan pakaianmu,” goda Matt, bergegas keluar setelah melempar candaan. Cukup tahu diri, sang pengantin baru pasti ingin menikamti waktu berdua.
Bunyi pintu kamar tertutup, membuat jantung Frolline kembali berdegup kencang. Sejak tadi, ia hanya berdiri mematung di tepi ranjang. Dengan malu-malu, menyusuri kamar mewah nan luas yang akan menjadi kamar pengantinnya malam ini.
Membayangkan malam ini akan menjadi malam pertamanya dengan Ditya, Frolline bergidik. Menggeleng kasar kepalanya, supaya pikiran menyeramkan itu segera enyah dari otaknya.
__ADS_1
“Kamu tidak lelah, Fro?” tanya Ditya.
Frolline tertegun. Namun, belum sempat menjawab, Ditya sudah menariknya mendekat. Pria itu memeluk erat pinggang Frolline dengan posisinya yang masih duduk di tepi ranjang.
“Kamu suka kamar kita?” tanya Ditya, menatap istrinya,
“Suka, kamarnya cantik,” sahut Frolline, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun, baru saja bibirnya mengatup, mulutnya kembali membuka dan terkejut saat melihat di tengah kamar ada bathtub lengkap dengan shower dan kloset hanya terhalang dinding kaca transparan tanpa penutup.
“Dit, kita pindah kamar lain saja, ya,” ajak Frolline dengan nada lembut, memohon. Matanya masih saja tertuju pada kamar mandi transparan di tengah kamar.
“Kamu tidak suka?” tanya Ditya heran. Perasaaannya mengatakan kalau kamar ini sudah termasuk mewah dan berkelas. Namun, kenapa istrinya meminta pindah kamar lain.
“Bagaimana aku mandi kalau begini caranya,” keluh Frolline dalam hati.
Mata indah itu masih saja menatap ruangan persegi berdinding kaca transparan dengan wajah meringis. Frolline membayangkan mandi di dalam di sana, kembali ia bergidik.
“Dit, kita pindah hotel lain saja, ya,” ajak Frolline.
“Aku lelah, Fro. Aku mau tidur sebentar. Jangan berpikiran yang aneh-aneh,” sahut Ditya yang masih belum menangkap keberatan istrinya. Tanpa berpikir lagi, Ditya melepas pakaiannya, melemparnya asal. Dengan bertelanjang dada, langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
“Ya Tuhan ... bagaimana aku melewatkan malam ini,” bisik Frolline pelan.
“Kita akan melewatkan malam ini bersama, Fro,” sahut Ditya dengan suara nyaring membuat Frolline tersentak. Mata lelaki itu terpejam, tetapi bibirnya menyeringai penuh kemenangan.
***
T b c
Love You all
__ADS_1
Terima kasih.