
Penghujung Oktober, di pertengahan musim gugur ( autumn ). Saat dedauan tua luruh tertiup angin kencang, terkulai memenuhi jalanan dan taman kota. Sinar matahari yang menerpa pohon maple jingga dan kuning keemasan di sudut-sudut kota, membuat musim gugur menjadi tak kalah indah di banding dua musim sebelumnya di tahun ini. Suhu udara pun menurun hingga 20 derajat ke 10 derajat celcius.
Hyde Park, taman terbesar di kota London ramai dikunjungi warga dan pelancong yang ingin menikmati sinar matahari senja. Tidak jauh berbeda, Oxford Street dan kafe-kafe di pusat kota pun dipenuhi pejalan kaki dan pengunjung yang ingin menikmati cuaca yang masih bersahabat dengan kulit tubuh mereka. Sebelum akhirnya mereka harus bermantel tebal dan mendekam di rumah saat winter tiba. Menikmati hamparan salju tebal yang menutupi jalanan dan pepohonan dari jendela rumah.
Waktu baru menunjukan pukul empat pagi, saat Frolline terbangun ketika perut besarnya mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Sudah sejak kemarin sore, ia mengeluh kalau area perut bawahnya terasa kencang dan tegang. Memutuskan untuk tidak mau membangunkan Ditya, Frolline berjalan pelan menuju dapur setelah sebelumnya keluar dari toilet berulang kali.
Sempat mengeluh saat merasakan ada sesuatu yang menarik isi perutnya ke bawah. Calon ibu itu berpegangan pada kulkas besar di dapurnya.
“Ssshhh ... aduh!” Frolline meringis sembari mengusap pelan perut besar yang mengeras.
Tiba-tiba terdengar suara maskulin, saat tangan Frolline sedang mencengkeram pinggiran lemari.
“Schatzi, are you okay?” tanya Ditya dengan wajah mengantuk dan kaos tidurnya.
“Sshhh ... sepertinya bayi kita sudah mau keluar, Ko.” Frolline bercerita.
“Benarkah? Kontraksi?”tanya Ditya berusaha tenang. Mereka hanya tinggal berdua di luar negri.
Frolline mengangguk. “Ya.”
“Jeda berapa menit?” tanya Ditya lagi.
Frolline menggeleng. “Aku harus memastikannya dulu.”
Frolline memasang timer di ponselnya. Ia harus melakukan pengecekan sebelum menghubungi pihak rumah sakit yang sudah dipilihnya sebulan yang lalu. Saat kandungan baru berusia delapan bulan. Seperti yang disampaikan midwife yang menanganinya, ia harus melakukan banyak persiapan untuk menghadapi kehamilan pertamanya.
“Sepertinya antara sepuluh menit sampai dua puluh menit, Ko.” Frolline menjawab sambil meringis. Ketika sakit perut itu hilang, ia mulai melakukan aktivitas dapur untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Tampak ia memasukan piring-piring kotor sisa semalam ke dalam mesin pencuci piring. Berbeda dengan di Indonesia, di Eropa rata-rata menggunakan mesin ini untuk membersihkan peralatan makan.
__ADS_1
“Kalau tidak kuat, biarkan saja. Kamu bisa tinggalkan,” ucap Ditya memeluk erat tubuh Frolline dari belakang. Berusaha menguatkan istrinya.
“Ssshhh ... ini sudah sakit lagi, Sayang.” Frolline meringis untuk ke sekian kalinya.
“Perlu telepon rumah sakit?” tawar Ditya.
“Nanti saja. Sakit perutnya masih bisa ditahan. Jaraknya juga masih panjang.” Frolline berjalan tertatih-tatih ke arah ruang tamu dan menyalakan robot pembersih lantai.
“Fro, kalau sudah tidak kuat, kamu tidak perlu mengerjakannya.” Ditya berjalan mengekor istrinya.
“Kalau aku tidak bergerak, sakitnya akan semakin terasa, Ko.”
“Baiklah.” Ditya mengalah.
***
“Masih belum, Fro. Katanya itu masih lama baru melahirkan,” ucap Ditya setengah putus asa melihat istrinya duduk bersandar di sofa. Tampak Frolline menarik napas dalam dan menghembuskannya berulang kali untuk mengurangi rasa sakit.
“Cuma ditanya jarak waktu kontraksi per kontraksi, lalu ada pendarahan atau tidak. Em ... ketuban sudah pecah atau belum. Kita baru bisa ke rumah sakit kalau ada masalah dengan hal-hal tersebut. Atau kamu merasa tidak ada pergerakan lagi di dalam perut.” Ditya menjelaskan.
“Kalau mau, Koko diminta ke rumah sakit untuk mengambil parasetamol. Kalau tidak, disarankan berendam di air hangat.” Ditya menjelaskan apa yang disampaikan pihak rumah sakit padanya.
“Ya sudah ... Cassandra sudah datang?” tanya Frolline terbata. Cassandra adalah private midwife yang dipakai Ditya untuk menemani Frolline selama masa kehamilannya.
“Masih on the way. Koko terlambat menghubunginya.” Ditya menjelaskan.
***
Waktu berlalu begitu lambat. Frolline memilih berendam air hangat untuk meredam sakit perutnya. Ia hanya bisa menikmati detik demi detik rasa sakit itu datang dan pergi sesuka hati. Sampai malam tiba, tidak ada tanda-tanda ketuban pecah atau pendarahan. Hanya jarak kontraksinya semakin lama semakin pendek. Sakit perutnya semakin lama semakin menjadi.
__ADS_1
Di pagi hari Frolline masih bisa berkata lantang, sampai malam tiba ia cuma bisa memejamkan mata dan bicara pelan dengan napas pendek. Beruntung ia selalu ditemani Ditya dan Cassandra yang terus menyemangati. Kehadiran Cassandra benar-benar membantunya untuk tetap berusaha kuat dan tidak larut dengan kesakitannya.
Frolline baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah setelah beredam lagi di air hangat.
“Fro, Koko baru menghubungi rumah sakit lagi. Kita bisa pergi sekarang.” Ditya memberitahu sesaat setelah istrinya keluar dengan bathrobe menutupi tubuh. Waktu menunjukan pukul 20.45 waktu London.
“Benarkah? Syukurlah.” Frolline bisa bernapas lega. Matanya tertuju pada hospital bag yang sedang dikeluarkan Ditya. Isinya tentu saja perlengkapan ibu, bapak dan si bayi.
***
Frolline terbaring di brankar rumah sakit dengan beberapa peralatan medis menempel di lengan dan perut besarnya. Kamar yang mereka tempati tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman. Dengan berbagai alat medis lengkap tersedia di sana. Bunyi detak jantung yang terdengar seperti derap langkah kaki kuda sedang berlari terus mendominasi ruangan. Alat pendeteksi tekanan darah selalu menunjukan kondisi ibu dan bayi setiap saat supaya tetap terpantau.
Frolline masih menahan sakit perutnya ditemani Ditya dan Cassandra hingga hari berganti. Pukul 01.00 dini hari waktu London, pembukaan masih tetap sama seperti awal masuk ke rumah sakit. Setia di pembukaan enam. Tidak ada tanda-tanda ketuban akan pecah, tidak ada masalah serius dengan ibu dan bayinya.
“Ko ....” panggil Frolline pelan.
“Ya, Sayang.” Ditya yang duduk di sisi brankar, buru-buru menegakan posisi duduk dengan wajah mengantuk dan stressnya.
“Yang kuat, Fro.” Ditya menyemangati. Tangannya terus menggengam tangan sang istri.
“Ya ... apa masih lama?” tanya Frolline lemah dengan suara terbata pelan. Tenaganya sudah terkuras habis menahan rasa sakit hebat yang menyerang tubuhnya.
“Kalau masih belum ada tambahan pembukaan, dua jam lagi dokter akan memecahkan ketubannya.” Ditya menjelaskan. “Hasil tes urine juga belum keluar. Sepertinya ada sedikit masalah dengan posisi kepala bayinya ... tetapi sejauh ini bukan masalah besar. Kamu tetap bisa melahirkan normal,” ucap Ditya menjelaskan pelan.
“Hmmm ....” gumam Frolline, tidak sanggup lagi berkata-kata.
***
T.e
__ADS_1