Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 136 : The end


__ADS_3

“Kenapa menikah kalau tidak mencintainya?” tanya Frolline di tengah ketakutannya. Ia sedang berusaha mengalihkan perhatian Firstan, bagaimana pun ia harus berjuang untuk keluar dari toilet. Tidak mau bermasalah dengan Ditya dan membuat suaminya dalam masalah.


“Bagaimana denganmu? Kenapa mau menikah dengan si Breng’sek itu? Kamu juga tidak mencintainya, kan?” tanya Firstan, tersenyum licik. Pandangannya tidak beralih sedikit pun dari wajah cantik dengan sorot mata penuh ketakutan.


“Karenamu. Kamu yang mencampakanku. Kamu yang tidak mau mendengarkan semua penjelasanku. Walaupun ... kamu menikahi Angella, tidak sekali pun hatiku berkhianat darimu. Kamu yang melepaskanku, bukan aku yang meninggalkanmu,” ungkap Frolline.


“Itu karena tipu muslihatnya.” Firstan menjelaskan.


“Tetap saja, First! Intinya ... kamu tidak cukup percaya padaku. Ketidakpercayaanmu yang menghancurkan semuanya. Bertahun-tahun kita bersama, tetapi kamu tidak mengenalku dengan baik. Jangan menyalahkan siapa pun ... karena kepercayaan itu mahal. Satu kata itu yang membuat hubungan kita tetap bertahan atau berakhir dengan kesalahpahaman.” Frolline menjelaskan.


“Kamu mencintainya?” tanya Firstan. Ia terpukul dengan kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Frolline.


“Aku tidak tahu, First. Dia suamiku, sekarang. Dia papa dari anakku. Cinta tidak menjadi prioritasku lagi. Saat aku memutuskan menerimanya di dalam hidupku, aku sudah membuang jauh-jauh yang namanya cinta. Satu kata yang bisa membuatku tersenyum seperti orang gila, menangis seperti orang tidak waras. Yang menghempaskan otak dan logikaku selama ini. Aku sekarang hidup untuk anak dan keluargaku. Kalau aku menemukan cinta di dalamnya, anggap saja itu bonus dari perjuanganku untuk tetap berkomitmen dan bertanggung jawab di dalam pernikahanku. Kalau tidak, aku tetap akan bertahan selama pernikahan dan suamiku masih layak untuk dipertahankan.”


“Setahun berumah tangga dengan Ditya, aku belajar banyak. Cinta tidak cukup untuk membuat rumah tangga itu bertahan. Perjuangan, pengorbanan, kesabaran dan kepercayaan yang membuat rumah tangga itu tetap ada dan utuh. Menikah dengan cinta ataupun tanpa cinta, pada akhirnya tetap saja harus berjuang untuk mempertahankannya.”


Firstan meremas rambutnya, menahan kesal, dengan tangan yang lain mencekal pergelangan Frolline.


“Masih mencintaiku?”


Frolline menggeleng. “Aku tidak tahu. Sama seperti aku tidak tahu mencintai Ditya apa tidak, aku juga tidak tahu masih mencintaimu atau tidak.” Jeda sejenak, Frolline menarik napas pelan.


“Tapi, aku masih menyimpanmu ... di dalam sudut hatiku.” Mata Frolline memanas.


“Hanya saja di salah satu sudut yang tidak terlihat. Aku juga tidak ingin semua orang bisa melihatnya.” Frolline menunjuk dadanya. Setetes air mata jatuh di pipi kirinya.


“Terima kasih, Sweet.” Firstan berkata sembari tersenyum. Panggilan sayangnya untuk Frolline yang masih berkesan sampai sekarang.


“Heart ....” Frolline berkata pelan.


Sepatah kata terakhir yang keluar dari bibir Frolline, membuat Firstan tidak bisa mengontrol emosinya. Pria itu merengkuh tubuh Frolline dan memeluknya erat. Memangkas jarak yang selama ini mereka bangun.


“Aku mencintaimu, masih mencintaimu. Aku akan menikah beberapa hari lagi, tetapi aku masih menyimpan harapanku untuk bisa berjodoh denganmu. Kalau memang cinta tidak bisa menyatukan kita sekarang, aku berharap takdir bisa menyatukan kita nanti,” bisik Firstan, menahan tangis.


Frolline mematung, tangannya terjuntai di sisi tubuh.


“Lepaskan aku, First. Aku sudah menikah,” pinta Frolline setelah berhasil menguasai diri.


Bukannya melepaskan, Firstan melabuhkan sebuah ciuman hangat di bibir Frolline. Ciuman yang sudah lama dirindukannya. Rasa bibir itu masih sama manisnya, tetapi Frolline tidak membalasnya.


Mata Frolline membulat, emosinya terpancing begitu lepas dari keterkejutan. Terlalu mendadak, ia tidak bisa menghindar saat Firstan memaksa mencium bibirnya. Mendorong tubuh maskulin yang sedang menguasainya, Frolline menampar Firstan dengan keras.


“Kamu kelewatan, First!” Frolline mengusap kasar bibirnya, buru-buru keluar dari toilet setelah berhasil mendorong Firstan menjauh.


Deg—


Firstan membeku di tempat, separuh dirinya terbang. Ia benar-benar tidak menyangka berani mencium bibir Frolline. Entah apa yang merasuki dirinya sampai bisa senekat itu.


***


Keluar dari toilet sembari mendengus kesal, Frolline dikejutkan dengan kehadiran Ditya yang berdiri menunggunya dengan sorot mata kesal. Dragon menangis dan susah ditenangkan. Putranya membutuhkan sentuhan tangan mamanya.


“Ko ....” Frolline menyapa ragu.


“Kenapa lama sekali? Apa yang kamu lakukan di dalam?” tanya Ditya.


“Ti ....” Frolline menggantungkan kalimatnya saat mendengar derap langkah kaki di belakangnya. Tubuh ibu muda itu melemas saat mendapati Firstan berjalan keluar sembari mengusap pipinya yang memerah terkena tamparan.


“Brengs’ek! Dia lagi! Apa yang kalian lakukan di dalam berdua?” tanya Ditya, meneliti istrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Tidak ada.” Frolline buru-buru menjawab.

__ADS_1


“Nostalgia. Tidak mungkin kami mengumbarnya di depan umum. Jadi memutuskan bertemu di toilet,” sahut Firstan dengan santainya.


Tangan Ditya sudah terkepal. Rahangnya mengeras dengan mata memerah. Pemimpin tertinggi Halim Group itu sudah mengangkat kepalannya ke udara sembari menarik kerah pakaian Firstan.


“Ko, aku mohon jangan begini. Ada banyak orang di sini, semua akan melihat dan itu memalukan,” bujuk Frolline berusaha menggapai tangan Ditya yang menggantung di udara.


“Brengs’ek! Kamu membelanya?” tuduh Ditya.


“Tidak, aku membelamu, Ko. Kalau sampai Koko memukulnya, semua orang akan menonton kebodohanmu. Sudahlah, aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya,” bujuk Frolline, memeluk erat pinggang Ditya dan bersandar dengan manja di tubuh suaminya.


“Ko, aku mohon. Akan sangat memalukan kalau sampai Koko bertengkar. Dragon juga pasti malu punya papa ... tukang pukul.”


Mendengar nama putranya, Ditya melepas cekalan. Tangannya pun ikut turun dan melemas.


“Pergi! Jangan pernah mendekati istriku lagi!” ancam Ditya seperti biasa.


“Kita akan sering bertemu. Karena kita keluarga, bukankah begitu, Sweet?” tanya Firstan, membuat emosi Ditya terpancing.


“Sudah pergi sana! Suamiku sedang marah besar. Aku tidak mau terjadi kekacauan.” Frolline mendorong tubuh Firstan agar menjauh.


Sepanjang acara, Frolline masih berusaha membujuk suaminya. Meskipun Ditya berusaha untuk tidak terpancing amarah, sorot mata pria itu tidak bersahabat. Bahkan kata-kata manis dan rayuan Frolline bagai angin lalu.


***


Frolline baru saja menidurkan putranya saat Ditya keluar dari kamar mandi dengan wajah datar. Pria itu masih kesal dengan istrinya. Ada banyak kecewa, marah dan sakit hati yang mengumpul di dadanya. Ia tidak ingin bertengkar saat ini. Mereka masih menumpang di kediaman Daddy.


“Ko, aku mau bicara ....” Frolline berkata pelan. Sejak tadi ia merasa bersalah, karena tidak bisa menjaga diri sampai bibirnya tercemari oleh pria lain. Ia ingin berterus terang, tetapi tidak mau membuat emosi Ditya terpancing di tengah acara.


“Ada apa? Dragon sudah tidur?” tanya Ditya berjalan mendekat sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Nada bicaranya masih ketus dan tidak bersahabat.


“Sudah. Sepertinya Dragon kelelahan. Aku hanya menyusuinya sebentar, anak itu langsung tertidur,” cerita Frolline.


“Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Ditya. Pria itu masih setia dengan wajah kaku, memainkan handuk yang menghiasi pundaknya.


“Ko, maaf ... tadi Firstan menciumku.” Frolline buru-buru menunduk.


“Hah! Kamu membiarkan si brengs’ek itu melakukannya?” Amarah Ditya terpancing seketika saat mendengar kejujuran dari bibir istrinya. Ia berusaha keras untuk menahan agar kemarahannya tidak sampai menyakiti Frolline. Kalau menuruti egonya, sudah ingin menampar istrinya saat itu juga.


“Maafkan aku, Ko. Aku sudah berusaha menolaknya. Aku bahkan menamparnya.”


Ditya menggeleng kesal. Melempar kasar handuk basahnya.


“Katakan pada Koko ... apa yang terjadi di dalam? Koko belum sempat menanyaimu.” todong Ditya dengan mata memerah. Urat-urat menonjol di pelipisnya.


“Tidak ada, Ko. Kami hanya bicara dan tiba-tiba, First menciumku.”


“Apa yang kalian bicarakan. Jawab jujur!” Suara Ditya mengeras.


“Tidak ada apa-apa, Ko.”


“Koko tidak percaya padamu, Fro.” Tampak Ditya mengusap kasar saja wajahnya berusaha untuk tetap tenang.


“Kita menikah hampir 1,5 tahun ... apa kamu masih ada rasa padanya?” tanya Ditya, menatap tajam.


Frolline menggeleng.


“Jawab! Koko memintamu menjawab bukan menggeleng. Masih mencintainya?” tanya Ditya. Suaranya tidak terlalu kencang, tetapi mata Ditya melebar seakan hendak menelan Frolline bulat-bulat.


“Katakan kalau kamu tidak mencintainya! Koko ingin mendengarnya sekarang,” pinta Ditya.


“KATAKAN! Koko ingin mendengarnya langsung dari bibirmu. Katakan kalau kamu sudah tidak mencintainya,” ulang Ditya. Pria itu sedikit melunak saat melihat mata Frolline berkaca-kaca.

__ADS_1


“Katakan, Fro. Aku ingin mendengar kalau ka ....”


“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Ko,” potong Frolline, menatap Ditya yang membeku di tempat saat mendengar ucapannya. Air matanya mengucur deras. Pertama kalinya Ditya marah padanya selama pernikahan mereka.


Butuh waktu beberapa detik untuk Ditya menguasai diri sampai akhirnya ia memeluk Frolline dengan erat. Hilang sudah amarahnya, lenyap sudah emosinya. Semuanya meredup hanya dengan sepatah kata cinta dari Frolline.


“Katakan lagi,” pinta Ditya.


“Tidak ....” tolak Frolline.


“Please ....”


“Tidak,” tolak Frolline kembali.


“Baiklah. Itu sudah cukup untukku.” Ditya tersenyum bahagia sembari mengusap punggung sang istri yang masih betah meringkuk di pelukannya. “Koko juga mencintaimu, Schatzi.”


“Sudahlah, Ko. Jangan marah-marah lagi,” bujuk Frolline.


“Koko tetap akan membuat perhitungan dengannya. Beraninya bajingan itu mencium istriku. Dia sengaja mencuri kesempatan,” ucap Ditya, kesal.


"Ikut Koko!" Ditariknya lengan Frolline menuju ke kamar mandi. Dengan kasar dihempaskannya di bawah shower air yang baru dinyalakannya dengan kencang.


"Ko, jangan begini. Aku sudah mandi." Frolline memohon saat merasakan dinginnya air menembus kulit.


"Tidak! Mandi yang bersih. Aku tidak mau ada jejak bajingan itu di tubuh istriku. Kurang ajar, aku ingin membunuhnya. Bisa-bisanya dia mencium istriku ...." Ditya tersentak. Ingatannya kembali ke beberapa waktu yang lalu.


"Ya Tuhan, apa ini karmaku karena mencium istri Pram. Dan sekarang Tuhan menghukumku. Dia ingin aku juga merasakan bagaimana sakitnya hati Pram saat aku dengan bangga mengatakan kalau aku mencium istrinya." batin Ditya.


"Ko, aku mohon. Bajuku basah kuyup. Nanti Dragon bangun dan mencariku."


"Mandi yang bersih! Bajingan itu juga memelukmu, kan?" tuduh Ditya sembari menuangkan sabun mandi di pundak Frolline.


Begitu aroma buah-buahan segar dari cairan sabun itu tertangkap hidung, Frolline merasakan sesuatu yang berbeda di perutnya.


Buru-buru menutup mulutnya, Frolline berjongkok menahan rasa yang bergejolak di lambungnya dan memaksa keluar.


Ditya terperanjat saat melihat istrinya menyemburkan semua isi perut di lantai kamar mandi. Tubuh menggigil itu kedinginan dan melemas.


"Fro, kamu baik-baik saja?" tanya Ditya sesaat setelah menghentikan kucuran air shower.


"Ya, aroma sabun mandi itu benar-benar tidak mengenakan, Ko."


Ditya mengerutkan dahi, aroma sabun yang menyegarkan sanggup membuat perut istrinya mengamuk.


“Kamu hamil lagi, Fro?” tanya Ditya.


“Aku tidak tahu, Ko. Sejak melahirkan, aku belum mendapatkan haidku lagi.”


Ditya tersenyum. Keinginannya untuk memiliki anak lagi mungkin saja sudah terkabul.


***


The End


Bagi yang ingin menantikan extra part, tetap difavorit.


Terima kasih untuk dukungannya selama ini.


Love you all,


Wety S. Hartanto

__ADS_1


__ADS_2