
Waktu baru menunjukan pukul 05.10 pagi, saat Ditya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk melilit di pinggang. Perut berkotak ciri khas pria tampan itu terpampang nyata, menggoda netra dan membangkitkan gairah ibu muda yang masih bersembunyi di balik selimut.
“Ko, kenapa pagi-pagi sekali?” tanya Frolline dengan suara serak. Matanya mengawasi pergerakan sang suami yang terlihat keluar dari walk in closet dengan menenteng pakaian.
“Koko harus tiba di Palembang sebelum pukul 08.00 pagi, Fro. Acara peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit Halim Group akan dilakukan pukul 09.00. Koko sengaja meminta dijadwalkan pagi. Setelah dari acara itu, Koko berencana meninjau proyek perusahaanmu.” Ditya menjelaskan sembari melepas handuk dan mulai berpakaian.
Tubuh polos Ditya semakin membuat Frolline menggila. Hormon kehamilan yang terkadang membuat Frolline malu sendiri. Selain ingin menguasai suaminya sepanjang hari, ia menyukai aroma suaminya yang bercampur keringat. Itu bagai candu dan obat mualnya. Bahkan sekarang Frolline menyimpan parfum milik Ditya di dalam tasnya untuk mengurangi mual setiap mencium aroma yang tidak sejalan dengan indra penciumannya.
Ditya sedang mengenakan celana panjang hitamnya saat dua tangan membelit pinggang dan mengunci perutnya dengan posesif. Bahkan retsleting celana katun hitam itu belum terpasang sempurna.
“Ko, aku merindukanmu.” Frolline berbisik sembari menempelkan tubuhnya di punggung telanjang Ditya. Ibu hamil itu menghadiahkan kecupan basah di kulit punggung dingin suaminya.
Ditya menyunggingkan senyuman. Pergerakan tangan Ditya terhenti saat merasakan jemari Frolline sedang menggelitik perut berototnya. Ia sadar sejak hamil anak kedua mereka, sikap Frolline berubah drastis padanya. Selain bertambah manja, istrinya tidak segan-segan meminta bahkan memulai lebih dulu.
Di kehamilan kedua ini, kondisi Frolline drop. Ibu hamil muda itu tidak bisa ke kantor setiap hari. Sering pusing dan mual sekaligus muntah hebat. Tidak seperti kehamilan pertama, Frolline tidak merasakan apa-apa. Kehamilan anak kedua, si jabang bayi membuat ibunya kerepotan bahkan semakin parah saat masuk trimester kedua.
“Kamu tidak lelah?” tanya Ditya sembari menggenggam tangan nakal Frolline.
Tidak ada jawaban, Ditya hanya mendengar gumaman tak jelas seiring dengan pelukan di pinggangnya kian mengerat.
“Koko pulang cepat hari ini. Koko usahakan pulang sebelum malam.” Ditya berjanji.
“Aku ingin ikut denganmu saja, Ko. Aku bisa memelukmu sepanjang hari.” Frolline berkata dengan manjanya. Lagi-lagi Frolline mengecup punggung Ditya.
Ditya tergelak. Dengan sekali sentak, ia menarik istrinya supaya berdiri di depannya. “Kamu sedang hamil, Fro. Selama Koko di Palembang, kamu bisa bermain dengan Dragon. Hari ini tidak perlu ke kantor, beristirahat di rumah saja. Koko khawatir terjadi sesuatu padamu di saat Koko tidak di Jakarta,” pinta Ditya melingkarkan tangannya di pinggang berisi Frolline.
Kehamilan kedua Frolline yang meresahkan semua orang. Tidak hanya menjadi super manja dan ingin menempel pada suaminya. Kondisi fisik Frolline menurun, berat tubuh ibu hamil itu tidak banyak bertambah. Susah makan dan sangat cerewet. Tidak semua menu makanan bisa masuk ke dalam lambung ibu hamil itu. Beruntung, perkembangan janin di dalam rahim tetap normal dan tidak terpengaruh.
“Ah ....” Frolline membenamkan wajahnya di dada Ditya, kembali menikmati aroma tubuh sang suami yang memabukan.
__ADS_1
“Hahaha ....” Ditya hanya sanggup tergelak.
“Koko pulang cepat. Koko berusaha untuk menyelesaikan semua pekerjaan sebelum kamu melahirkan, Fro,” jelas Ditya menangkup wajah ibu hamil yang masih berani mengenakan gaun tidur tipis super pendek, memamerkan paha putih mulus dan kaki telanjang. Bahkan tak segan-segan memamerkan perut membesarnya di kehamilan yang memasuki usia empat bulan.
“Jangan lupa belikan aku pindang patin seperti biasanya,” pinta Frolline.
“Ya, minta Zoe bantu mengurus perusahaanmu untuk hari ini. Koko membawa Matt ke Palembang, jadi dia tidak bisa membantumu.”
“Ya, Ko,” sahut Frolline, meraih kemeja putih sang suami dan membantu Ditya mengenakannya.
“Ingat, Fro. Jangan pergi ke kantor hari ini. Urus pekerjaanmu dari rumah saja,” ulang Ditya.
“Ya, Ko. Aku mendengarnya,” jawab Frolline, mengancingkan kemeja putih kemudian memasukan ke dalam celana kain hitam. Setelah rapi, ia membantu memasangkan ikat pinggang.
“Tampan!” ucap Frolline tersenyum.
“Xie xie ni. Wo ai ni,” bisik Ditya memberi kecupan di pipi Frolline.
***
“Fro, Ditya ke mana? Dia tidak ikut sarapan tadi pagi.” Halim bertanya sembari duduk di sofa, menemani Dragon yang mulai belajar berdiri di usia sembilan bulan. Bayi laki-laki itu terlihat merambat sepanjang sofa, dijaga oleh dua pengasuhnya.
“Ke Palembang, Dad.” Frolline menjawab singkat. Ia masih fokus pada tablet di tangan, sedang mengecek pekerja lapangannya. Ada beberapa proyek yang harus serah terima dan diselesaikan dalam beberapa hari ke depan.
“Oh, menginap?” tanya Halim. Ia sudah tidak mengurusi masalah perusahaan sama sekali. Saat ini hanya menikmati masa tuanya bersama dengan anak dan cucunya.
“Tidak, Dad.” Frolline menjawab singkat sembari menikmati secangkir teh hangat.
“Bukannya kemarin katanya mau ke Yogya untuk menghadiri pembukaan pabrik susu pertama Halim Group?” tanya Halim mencari tahu. Sepak terjang putranya memang luar biasa. Selain membangun belasan rumah sakit yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, Ditya juga mulai merambah ke produk susu dan makanan bayi.
__ADS_1
“Mungkin besok, Dad. Sekalian ada dua proyek perusahaanku di sana yang sudah sampai tahap serah terima. Koko akan mewakilinya. Koko tidak mengizinkanku ke luar kota lagi sampai melahirkan.” Frolline menjelaskan.
“Oh. Aku dengar dari Ditya, kamu mulai menerima proyek HVAC dari luar Halim Group?” tanya Halim, mencari tahu.
“Ya, Dad. Ada dua proyek di Cikarang sudah aku tandatangani. Yang sekarang masih dalam tahap nego adalah pabrik jelly di Gunung Putri, Bogor.” Frolline meletakan tabletnya dan tersenyum saat merasakan tangan mungil putranya memeluk lututnya.
“Sayang, ada apa?” tanya Frolline, meraih tubuh Dragon dan memangkunya.
“Papapapa ...” celoteh bayi Dragon.
“Ya, sebentar lagi Papa pulang,” ucap Frolline, melirik jam besar di dinding. Waktu sudah menunjukan pukul 15.30.
“Papapa ....” lanjut Dragon. Tangan mungilnya meremas wajah Frolline dengan gemasnya.
***
Siang berganti senja, malam pun akhirnya tiba. Frolline semakin resah saat gelap menjemput hari. Suaminya belum tiba di kediaman mereka. Ia berusaha menghubungi Ditya dan Matt, tetapi keduanya tidak menjawab panggilan. Entah ke mana keduanya, percakapan terakhir mereka saat hendak terbang menuju Jakarta.
“Fro, apa yang terjadi?” tanya Halim. Sejak makan malam, ia sudah mencium gelagat aneh menantunya.
“Koko belum pulang. Teleponnya tidak diangkat. Koko janji pulang sore, ini sudah malam.” Frolline berkata dengan wajah hampir menangis. Berdiri di dekat jendela sambil menggengam ponselnya.
“JOE!” teriak Halim pada asistennya dengan suara kencang. Dragon yang hampir tertidur di pangkuannya menjerit dan menangis kencang.
“Huaa ... huaaa ....” teriak Dragon, terkejut dan menangis.
“Astaga aku lupa ... cucu Ye Ye,” ucap Halim memeluk erat cucunya. Ia tidak sadar saat ini Dragon bersamanya.
***
__ADS_1
HVAC adalah Heating Ventilation Air Conditioning, yang umumnya berkaitan dengan pemanasan dan pendinginan indutri. HVAC umumnya digunakan dalam bangunan komersial dan industri.