Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 69 : Koko dinyatakan pailit


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Ditya memilih bungkam. Mendekap Frolline dengan erat, menjatuhkan kepalanya di pundak sang istri. Lelaki itu terlihat kuat, tetapi jiwanya terguncang hebat. Mengambil langkah ini dan meninggalkan daddynya yang sakit-sakitan menanggung malu di atas podium bukanlah keinginannya. Bagaimanapun, dia ada di dunia karena Halim Hadinata.


“Ko, kamu baik-baik saja?” tanya Frolline, setelah melihat sendiri bagaimana suami yang biasanya bersuara tiba-tiba bungkam diam seribu bahasa.


“Hmmm,” gumam pelan itu terdengar nyata di telinga Frolline. Saat ini, Ditya sedang menikmati hangatnya ceruk leher istrinya.


“Maafkan aku, Ko. Semua terjadi karena kamu memilihku.” Rasa bersalah menyibak dada. Saat ini gadis menahan haru. Ditya berkorban semua untuk bisa tetap berada di sisinya.


“Sudah, Fro. Jangan dipikirkan. Ini pilihkanku. Kenapa istriku jadi harus merasa bersalah,” ucap Ditya, mengenggam erat tangan Frolline, menautkan jemarinya pada jemari lentik sang istri.


Hening menyapa keduanya, baik Ditya maupun Frolline memilih diam sembari berbagi kehangatan lewat sentuhan. Berbagi rasa lewat tatapan mata.


Malam itu jalanan di pusat kota terlihat ramai lancar. Han yang sejak tadi diam, tersenyum saat melihat kemesraan kedua majikannya dari spion. Pemandangn yang jarang terjadi, bagai musim salju di daerah tropis.


“Bos, kita kembali ke rumah?” tanya Han, setelah sekian lama tidak mendapat perintah.


“Kita ke hotel!” pinta Ditya. Laki-laki itu sudah bersandar, merentangkan tangan di sandaran kursi mobil, membiarkan Frolline menyimpan tanya dalam hati.


Sebuah hotel bintang lima yang tidak terlalu jauh dari kediaman mereka, menjadi pilihan Ditya. Laki-laki itu memesan sebuah kamar presidential suite untuknya dan sang istri menghabiskan malam. Bukan bulan madu dadakan atau kejutan romantis lainnya. Ini hanya sebuah pelarian kedua anak manusia yang sedang memperjuangkan cinta mereka.


***


“Schatzi Sayang, kamu tidak keberatan kita tidur di sini malam ini?”


Ditya sedang bersusah payah melepas atribut pesta yang dikenakan. Satu persatu bagian dari tuksedo itu terlepas dari tubuh. Sampai akhirnya, tersisa kemeja putih dengan celana panjang hitam gelap.


“Ya, Ko.” Jawaban singkat tetapi menenangkan. Frolline duduk di atas ranjang empuk hotel dengan gaun putih menjuntai ke lantai.


“Kamu tidak gerah, Fro?” tanya Ditya mengerutkan dahinya saat melihat istrinya masih betah dengan gaun mahalnya.


“Aku tidak punya baju ganti,” cicit Frolline pelan.


“Kamu tidak perlu memakai apapun malam ini,” goda Ditya, mengedikan sebelah matanya.


Laki-laki itu sudah berdiri di samping istrinya, melepas kancing lengan kemeja kemudian melipatnya sebatas siku. Perlahan mengeluarkan isi kantongnya.

__ADS_1


Gadgetnya mendarat mulus di atas nakas, kemudian meraih dompet kulitnya dari saku celana. Ditya mengeluarkan satu per satu kartu sakti yang selama ini digunakannya. Ada belasan kartu yang akhirnya dipatahkan, kemudian dilemparnya ke tempat sampah.


“Aku sekarang sudah tidak punya apa-apa, Fro ....” bisik Ditya pelan. Menyisihkan satu-satunya kartu pribadi. Kartu debit tempat menyimpan semua jerih payahnya selama membuka usaha kuliner di Inggris.


“Kamu tidak keberatan, kan? Kalau harus hidup susah bersamaku. Kita pindah ke apartemen dengan fasilitas biasa. Tidak ada lagi pengawal dimana-mana, tetapi kita harus tetap bersembunyi dari pemburu berita,” ucap Ditya tersenyum menatap wajah lelah istrinya.


Frolline mengangguk dan tersenyum. Melempar pandangan sendu menenangkan. Dia tiba bisa banyak berkata-kata, tetapi sorot mata indah itu cukup mengirimkan banyak kata yang ingin disampaikannya pada sang suami.


Hening itu terusik dengan dering ponsel di atas nakas. Ditya menyunggingkan senyum saat nama Matt muncul di layar.


“Ya, Matt. Bagaimana?” tanya Ditya. Laki-laki itu sejak tadi menunggu informasi dari asistennya.


“Aman Bos. Aku on the way ke tempatmu, Bos!” sahut Matt.


“Ya, jangan bawa banyak orang, jangan sampai ketahuan wartawan. Aku tidak mau Frolline terganggu,” pinta Ditya. Sejak di tempat acara, sebisa mungkin Ditya menyembunyikan identitas Frolline. Bukan apa-apa, saat dunia tahu Frolline adalah istrinya, saat itu juga kebebasan Frolline menghilang. Dia tidak mau Frolline mengalami hal itu. Pasti istrinya tidak nyaman.


Melempar ponsel mahalnya ke atas tempat tidur.


“Fro, suamimu tidak punya apa-apa lagi sekarang. Aku bukan siapa-siapa lagi saat ini. Aku hanya Ditya tanpa Halim Hadinata,” ucap Ditya. Tersenyum hangat menatap, saat ini Ditya merasa menjadi dirinya sendiri.


Ucapan sang suami mencubit perasaan Frolline seketika. Terbayang, betapa beratnya untuk Ditya saat ini mengambil keputusan. Frolline tahu jelas, seberapa besar Ditya memaknai arti keluarga, seberapa besar Ditya menghormati daddy dan mommynya.


Gadis yang sudah melepas heel tingginya itu berdiri sembari mengangkat gaun panjangnya. Menghampiri dan mengalungkan kedua tangannya di leher Ditya. Laki-laki yang sekarang seutuhnya menjadi miliknya. Laki-laki yang melepas semua demi dirinya.


“Aku tetap bersamamu, apapun yang terjadi padamu, Ko.” Dengan berjinjit gadis manis itu mengecup bibir Ditya yang sedikit terbuka.


Deg—


Tentu saja Ditya terperanjat. Kali pertama, istrinya begitu manis dan bersedia menciumnya terlebih dulu. Biasanya, laki-laki itu harus bersusah payah membujuk, merayu bahkan mengancam hanya demi sebuah ciuman, tetapi saat ini Frolline begitu baik hati. Melakukannya dengan sukarela.


“Wo shi zhen de zhen de hen ai ni.” ( Aku benar-benar sangat mencintaimu )


Ditya berucap pelan, sesaat setelah Frolline melepaskan ciumannya. Laki-laki itu tersenyum, memiringkan wajahnya menatap sang istri yang malu-malu padanya.


“Kenapa harus malu, Fro. Aku suamimu. Kamu bebas menciumku kapan saja,” ucap Ditya sesaat mendapati pipi merona merah bak delima.

__ADS_1


Kedua tangan kekarnya sudah merengkuh tubuh istrinya, dalam hitungan detik tubuh mungil itu melayang ke udara dan mendarat mulus ke atas tempat tidur.


“Ahhh ....” pekit Frolline, terkejut. Tiba-tiba, Ditya mengangkat tubuhnya dan merebahkannya ke atas peraduan.


“Kamu sudah memulainya, setidaknya sekarang aku harus menyelesaikannya.” Ditya mengedipkan mata. Tangannya dengan cekatan membuka kancing kemeja putihnya. Dari kancing teratas hingga terbawah, mempertontonkan dada bidang dengan otot menggoda. Melempar asal kemejanya tanpa melihat lagi. Tatapan laki-laki itu sudah terkunci pada wajah gugup istrinya.


“Ayolah Fro, kenapa wajahmu seperti ini?” tanya Ditya, sesaat setelah mengunci tubuh Frolline dengan kedua lengan kekarnya.


“Tatapanmu itu, Ko. Mengerikan,” sahut Frolline pelan, menelan salivanya. Apalagi saat merasakan jemari tangan Ditya yang mengukir lekuk wajahnya, kemudian turun menggelitik pundak telanjangnya. Ada sensasi yang membuat gadis itu meremang.


“Gaunmu ini apa tidak merepotkamu, Fro? Hanya membayangkannya saja, aku sudah tidak sanggup,” tanya Ditya meneliti tubuh indah yang terbalut gaun mahal.


Memang dia yang memilihkannya untuk Frolline, tetapi sekarang keindahan gaun ini sudah tidak penting. Akan lebih menarik saat melihat Frolline tanpa apa-apa.


“Tidak, aku nyaman-nyaman saja, Ko.”


“Aku lebih suka kamu melepasnya sekarang. Lebih cantik,” komentar Ditya. Kedua tangannya sudah berada di belakang leher istrinya, melepas kalung berlian hadiah sang mommy.


Dari leher, tangan laki-laki itu beralih menyusup di balik punggung. Membuka pengait dan menarik turun retsleting gaun panjang yang membungkus tubuh indah yang menggoda hasrat lelakinya.


Dalam sekejap gundukan kembar dengan kedua puncak merah muda menggoda itu terpampang nyata di depan mata Ditya. Salah satu aset berharga istrinya yang sejak tadi terpenjara sekarang bebas merdeka.


“Astaga, Fro. Kamu tidak mengenakan bra selama di pesta tadi. Kalau sampai melorot, koko bakal rugi besar,” gerutu Ditya, menangkup salah satunya dengan lembut.


Frolline menaikan kedua alisnya, berbaring pasrah menatap Ditya yang sedang menindih tubuhnya.


“Bra menempel langsung di gaunnya, Ko.”


“Koko sudah tidak memiliki apa-apa sekarang. Satu-satunya harta yang tersisa hanya dirimu, Fro. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, Koko dinyatakan pailit,” ucap Ditya tertawa.


Ada haru menyusup dalam relung hati Frolline, saat kata-kata indah Ditya mengalun di telinganya. Mungkin cinta itu belum sampai padanya, tetapi Frolline berharap, secepatnya cinta itu menenggelamkannya. Dia tidak bisa mengecewakan laki-laki yang saat ini begitu posesif menjaganya. Berkorban banyak untuknya. Meskipun di sudut hatinya masih tersimpan Firstan, Frolline berharap ruang yang tersisa hanya menjadi milik Ditya.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2