
Lima bulan berlalu, Dragon sudah menginjak usia enam bulan. Sudah mulai diajarkan makanan pendamping asi. Ada banyak lagi hal-hal baru yang dikuasai bayi kecil itu. Mulai bisa duduk, mencengkeram mainan dan makanan dan mulai memasukan segala sesuatu ke dalam mulutnya.
Sesuai dengan janjinya pada Halim, Ditya memboyong anak dan istrinya kembali ke Indonesia empat bulan setelah tahun baru Cina berlalu. Firstan akan melangsungkan pernikahannya beberapa hari lagi. Sempat diundur dari jadwal seharusnya, tetapi pernikahan itu akhirnya terlaksana juga.
Menempuh perjalanan belasan jam dari London-Jakarta dengan menumpang British Airways menuju Singapura, keluarga kecil itu tertahan sejenak di Changi Airport sebelum akhirnya terbang ke Jakarta dengan Singapore Airlines. Mereka tiba di Jakarta keesokan harinya.
Beruntungnya, Dragon tidak rewel sama sekali di dalam gendongan Frolline. Selama penerbangan bayi laki-laki itu hanya menangis saat kelaparan menyerangnya.
“Fro, Koko harus mengurusi koper-koper kita.” Ditya menjelaskan sembari menggandeng tangan ibu muda dengan Dragon meringkuk nyaman di dada Frolline, terikat gendongan bayi hipseat.
Menginjakan kaki kembali ke Jakarta setelah hampir setahun lebih berada di Eropa, Frolline benar-benar ingin menangis. Ia sampai lupa rasa bakso dan soto kesukaannya. Ada banyak hal yang ingin dilakukannya, terutama melepaskan rindu pada kedua orang tuanya. Sekaligus ia juga mengenalkan putra pertamanya pada opa dan omanya.
“Ya, Ko.”
“Jangan berdiri di keramaian. Kasihan Dragon.”
“Ya, Papa ....” ucap Frolline dengan nada manja khas anak-anak, sembari menggengam tangan mungil putranya.
Bepergian saat masih berdua jauh berbeda dengan membawa bayi mungil mereka. Satu koper yang tadinya cukup untuk mereka berdua, sekarang sudah tidak memungkinkan. Terbang dari London membawa tiga koper besar, dua koper hanya untuk anak mereka, Dragon.
***
“Bos!” Matt berlari memeluk Ditya begitu melihat majikannya keluar dari pintu keluar bandara. Tak lupa memamerkan senyum kebahagiaan pada sang nyonya yang sedang menggendong Dragon.
“Jangan pergi lagi, Bos.” Matt meminta dengan wajah memelas. Pelukannya begitu erat, seolah takut Ditya akan segera menghilang
Tampak Zoe mengekor di belakang Matt, mengambil alih koper-koper dari tangan Ditya.
“Sudah, aku tidak ke mana-mana,” sahut Ditya, mendorong kasar tubuh Matt.
“Aku serius, Bos. Aku tidak mau mengawal tuan besar lagi. Sejak memiliki cucu, tuan besar uring-uringan. Apalagi kalau Bos tidak bisa dihubungi, satu kantor diomeli.” Matt memulai keluh kesah yang selama ini berusaha ditahannya. Sudah mengumpul terlalu lama, butuh tempat pelampiasan.
__ADS_1
“Hah!” Ditya terkejut.
“Aku heran, Bos. Biasanya suka sakit-sakitan. Setahun ini tidak pernah sakit.” Matt bercerita kembali.
Matt mengalihkan pandangannya pada Dragon. Bayi itu berceloteh tak jelas saat melihat Matt. Kedua tangannya ikut menggapai apa saja yang bisa disentuhnya dengan air liur membasahi sekitaran mulutnya.
“Ini mirip sekali denganmu, Bos. Bagaimana kamu mencetaknya sampai bisa mirip sekali.” Matt kembali berkomentar.
“Dragon anakku, tentu saja mirip denganku,” cerocos Ditya.
“Pokoknya aku bahagia Bos pulang. Aku terbebas dari omelan tuan besar Halim. Daddymu itu kelewatan, Bos. Aku sudah tidak bisa bercerita lagi, terlampau menyesakan,” keluh Matt sembari mengajak majikannya menuju ke mobil.
***
Land cruiser hitam yang ditumpangi keluarga kecil Ditya masuk ke sebuah rumah mewah 2 lantai di kawasan Menteng. Untuk Ditya sudah tidak terkejut lagi, berbeda dengan Frolline yang baru kali pertama menginjakan kaki di kediaman Halim Hadinata di Jakarta.
“Ko?” Frolline kebingungan. Ia mengira akan pulang ke penthouse mereka.
“Maaf, Bos. Tuan besar Halim meminta Bos tinggal di sini. Kamar bayi dan pengasuh untuk tuan kecil Dragon sudah disiapkan.” Matt menjelaskan.
Frolline terkejut. Tidak terbayang harus tinggal seatap dengan mertuanya selama di Jakarta. Meskipun begitu, Frolline mencoba menghempaskan kerisauannya. Dengan senyuman di bibir, ia melangkah turun dari mobil dan mengikuti pergerakan Ditya.
Keduanya berdiri bersisian di depan pintu utama yang berukuran raksasa. Dua daun pintu solid jati motif kayu itu masih tertutup rapat. Jantung Frolline berdegup sembari mendekap putranya di dalam gendongan ala koala.
Tampak Matt mendorong pintu rumah itu perlahan. Begitu pintu terbuka, mereka sudah disambut oleh senyuman Marissa.
“Mami, apa kabar?” Frolline bersiap menghambur ke dalam pelukan Marisa dengan Dragon yang berguncang di dalam pelukannya.
“Ssttt .... panggil Kak Marisa di depan Daddy kalau kamu tidak begitu paham harus memanggil apa. Setidaknya itu lebih pantas.” Untuk pertama kalinya Marisa menolak dipanggil Mami oleh Frolline.
“Maaf ... aku lupa, Mi ... eh Kak Marisa,” ucap Frolline pelan, melepas putranya yang sudah diambil paksa oleh Marisa.
__ADS_1
Tampak di belakang Marisa, Halim dan istrinya tersenyum sumringah menatap ke satu titik yang sama, yaitu Dragon.
“Aih Jin Long, ini Ye-ye.” Halim yang berdiri tanpa tongkat begitu bahagia menyambut cucu laki-lakinya. Demikian juga Meliana, perempuan tua dengan status Nai-nai itu ikut menggoda Dragon yang menangis kencang karena dipaksa berpisah dari ibunya.
Ketiganya fokus pada bayi enam bulan itu sampai mengabaikan Ditya dan Frolline yang berdiri membeku di tengah pintu. Bahkan ketiganya tidak peduli dengan jerit tangis Dragon.
“Kalau begini caranya, Koko yakin ... kita bisa produksi banyak anak, tanpa pusing mengurusnya.” Ditya berbisik pelan di telinga istrinya.
“Ayo, kita making love ... tidak akan ada yang peduli. Bahkan tak akan ada yang mencari keberadaan kita.” Ditya tergelak.
***
Sampai menjelang sore, tetap saja Dragon menjadi pusat perhatian semua orang. Apalagi Halim, untuk pertama kalinya pria tua itu bersedia menggendong bayi. Dulu, dengan kedua anaknya, Halim tidak pernah melakukan itu.
Meliana, sang istri sampai terbelalak. Pemandangan aneh, melihat kecanggungan Halim memangku Dragon. Bahkan sampai duduk di meja makan pun, Halim tidak mengizinkan cucunya menjauh darinya.
Tangisan Dragon yang memekak telinga, akhirnya terhenti. Halim tidak mau mengalah, dan tetap memaksa menggendong sampai bayi mungil itu kelelahan menangis dan berhenti memberontak.
"Dad, biarkan Dragon duduk sendiri." Ditya baru saja hendak mengambil alih putranya dari pangkuan Halim dan meletakan Dragon di kursi khusus bayi untuk menikmati biskuitnya sendiri.
"Biarkan saja. Aku masih ingin bersamanya," tolak Halim.
"Dad, Dragon sudah terbiasa duduk sendiri dan menikmati makanannya sendiri. Kami sedang melatihnya mandiri meskipun berantakan," jelas Ditya berusaha memberi pengertian tentang kebiasaan anaknya selama tinggal di London yang memang jarang digendong.
"Cucuku ini baru berusia enam bulan. Masih banyak waktu mengajarkannya mandiri." Halim beralasan mengibas kasar tangannya meminta Ditya menjauh. Ia tetap tidak mau melepaskan Dragon dari dekapannya.
"Dad ...." Ditya memohon. Ia tidak mau semua kerja kerasnya dan Frolline selama di London hancur karena kekerasan hati Halim.
"Mau pergi atau kupukul pakai tongkatku!" ancam Halim, sembari tersenyum melihat Dragon yang mengotori pakaiannya dengan biskuit. Tangan dan mulut cucu kesayangan berantakan dan kotor.
***
__ADS_1