
“Koko tidak boleh ke mana-mana. Ikut aku pulang!” tegas Frolline, memeluk pinggang Ditya dengan erat sembari menempelkan tubuhnya pada dada bidang yang terbungkus kemeja hitam.
Ditya bergeming. Memilih bungkam, menikmati kecewa yang masih mengerogoti relung hatinya. Selain itu, ia juga ingin memberi sedikit pelajaran pada istrinya yang sering membantah untuk hal yang dianggap sederhana, namun bisa berakibat fatal tanpa diketahuinya.
“Ko, maafkan aku,” pinta Frolline, mengecup pipi Ditya yang dingin disembur pendingin mobil.
Tak mendapat respon, Frolline kembali menautkan jemarinya pada jemari tangan Ditya yang tergeletak di atas paha.
“Ko, pulang ke rumah, ya. Jangan ke club. Aku akan menurut padamu, tidak akan membantah lagi,” bujuk Frolline.
“Ya?” Rayuan yang terdengar manis manja, mengalun lembut di telinga.
Bukan jawaban yang didapat, sebaliknya Ditya membuang pandangan ke arah jalan raya. Petang itu suasana jalanan ramai, dengan kemacetan di beberapa titik. Perjalanan yang harusnya cukup setengah jam, namun hingga hampir satu jam mereka masih terjebak di salah satu ruas jalan protokol.
Kalau biasanya Frolline akan mengomel, kali ini perempuan dengan setelan kerja itu tampak menikmati perjalanan dengan berucap syukur. Ia bisa memiliki banyak waktu membujuk dan mengumbar kata maafnya.
Pukul tujuh malam sudah terlewat jauh saat mobil sedan hitam yang dikendarai Han masuk ke area parkir penthouse. Di belakang, tampak sedan dengan warna dan tipe yang sama dikendarai Zoe ikut menyusul.
“Ko ....” Rayuan kian gencar, Frolline membuang setengah gengsi dan malunya demi sang suami ikut pulang ke rumah.
“Koko masih ada janji dengan sahabat lama. Ada rekan di club mobil yang berulang tahun, Fro.” Ditya bersuara setelah sejak tadi memilih menutup rapat mulutnya.
“Ko ....”
“Koko mohon kali ini, izinkan Koko. Sudah lama tidak menyapa mereka. Sejak menikah, Koko menghilang tanpa pamit,” jelas Ditya mengurai belitan sang istri yang mengunci erat tubuhnya.
“Ko, aku ikut ....” Setengah merengek, namun Ditya tidak peduli. Sebaliknya, pria itu turun dan membuka pintu. Mempersilakan istrinya turun dari kendaraan beroda empat itu.
“Masuk segera, ini sudah malam. Koko masih ada sedikit urusan. Minta Zoe pesankan makan malam untukmu,” pesan Ditya mengecup hangat kening istrinya sebelum meninggalkan Frolline membeku di tempat.
__ADS_1
Frolline sudah ingin menangis saat melihat ekor mobil suaminya menjauh. Setengah berlari, ia mengejar mobil yang dikendarai Zoe.
“Zoe, ikuti suamiku!” pintanya, menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di kursi belakang.
“Hah?”
Zoe kaget. Tentu saja, ia tidak memiliki persiapan apa pun, tiba-tiba sang majikan sudah memberi perintah.
“Ikuti suamiku, Zoe! Cepat! Jangan sampai kehilangan jejak.
***
Zoe memacu mobilnya dengan kencang, membelah ruas jalan yang ramai. Bunyi klakson mobil berteriak tanpa henti dari mobil sedan yang dikendarainya. Berusaha berkonsentrasi agar mobil yang diikutinya tidak menghilang di gelapnya malam, di tengah hiruk pikuk lalu lintas ibu kota. Belum lagi ucapan keras Frolline lebih mengarah ke omelan setiap kendaraan suaminya lenyap dari pandangan mata.
“Zoe! Ayo cepat! Nanti mobil Koko tak berjejak,” gerutu Frolline. Duduk tegang di kursi belakang sembari meremas kasar kursi si pengemudi.
“Mana? Aku tidak melihatnya,” protes Frolline. Matanya masih mengawasi jalanan di depannya.
“Tuh, jarak tiga mobil di depan,” sahut Zoe sedikit santai melihat mobil yang dikendarai rekannya Han melambat.
“Ayo Zoe, Koko mau masuk ke sana! Ikuti segera. Aku tidak bisa membiarkan suamiku berkeliaran. Aku akan menyeretnya pulang."
Sebuah gedung yang sering dilewati Frolline setiap berangkat ke kantor. Cafe, diskotik dan club malam terkenal di jantung kota. Bukan hanya cafe biasa yang menyajikan hidangan Amerika modern, Frolline yakin di dalam sana juga menyajikan dentuman musik kencang, menggoda pengunjung untuk melantai. Meskipun ia belum pernah masuk ke dalam sana, Frolline tahu pasti ada banyak gadis cantik dan seksi siap menebar pesona pada para pria.
“Zoe, ayo cepat!”
Frolline sudah tidak sabar. Apalagi saat melihat mobil suaminya sudah terparkir rapi. Matanya mengawasi dari jauh, pria tampan miliknya yang melangkah masuk ke dalam dengan tampilan berbeda. Ditya sudah berganti pakaian. Tidak ada lagi kemeja hitam, sekarang tubuh kekar suaminya hanya berbalut kaos putih yang melekat rapat di tubuh. Memamerkan otot-otot dada yang begitu menggoda.
“Zoe, kamu tunggu di sini!” Frolline meloncat turun, mengekor langkah suaminya masuk ke dalam.
__ADS_1
Namun, keberuntungan tidak berpihak padanya. Sampai di dalam, ia tidak menemukan suaminya. Gedung itu sangat luas. Banyak kursi dan meja yang ditata rapi siap menyambut pengunjung cafe. Beberapa tampak duduk berbincang sembari menikmati menu pesanan yang terlihat menggugah selera.
Hampir setengah jam berputar-putar, ia tidak menemukan apa pun. Mencari ke sana kemari, tak tampak sosok Ditya di dalam sana. Hanya pengunjung yang sedang menikmati santapan malam, berbincang dengan rekan kerja atau kolega.
“Zoe, aku kehilangan jejak suamiku,” ucap Frolline, menatap nanar gedung tinggi menjulang dengan gemerlap lampu memecah kegelapan malam. Ia hanya bisa berdiri di parkiran mobil. Mengadu dan berkeluh kesah pada asistennya.
“Nyonya sudah mencari ke semua ruangan?” tanya Zoe memastikan. Bahkan ia sendiri belum pernah masuk ke sana. Berbeda dengan Matt yang sudah melalang buana bersama Ditya. Selama ini, ia termasuk pria alim yang lebih banyak mengawal Halim atau istrinya di Surabaya.
“Sudah semua. Hanya saja ada satu ruangan ... em ... aku tidak diizinkan masuk, karena tidak memiliki undangan. Sedang ada perayaan, jadi dibooking dan tidak terbuka untuk umum,” jelas Frolline. Pundaknya melemas, pikirannya pun kacau balau. Terbayang Ditya sedang bersenang-senang memeluk para gadis di dalam sana.
Saat berkutat dengan pikiran buruknya tanpa sengaja ekor mata Frolline menangkap sosok yang familiar, seperti dikenalnya.
“Sandra? Itu Sandra, kan?” tanyanya, menunjuk pada dua orang gadis yang baru turun dari mobil sport. Meski hanya bermodal lampu menguning di parkiran, Frolline yakin kalau tebakannya tidak salah.
Sandra ditemani seorang gadis tinggi semampai dengan rambut panjang tergerai. Lekuk tubuh indah bak gitar spanyol tanpa dawai, melangkah teratur dengan heel 9 cm yang terlihat indah di kaki jenjangnya. Keduanya berjalan masuk ke dalam gedung.
Frolline bagai tertampar, saat langkah kaki membawanya mengekor pergerakan keduanya. Di dalam gedung, ia bisa melihat jelas penampakan kedua gadis itu. Sandra tampak cantik dengan rambut pendek dicat pirang. Gaun hitam tertutup sebatas lutut dipadankan dengan tas hermes hitam keluaran terbaru. Frolline yakin outfit yang dikenakan Sandra tidak sebanding dengan pakaian kerja yang dikenakannya sekarang.
Sandra begitu berkelas dan mahal, jauh berbeda dengan dirinya. Bagaikan bumi dan langit. Tampak Sandra menyapa beberapa orang yang mengenalinya dengan ramah. Bahkan tidak cukup menamparnya dengan gemerlap penampilan mewah, Sandra masih memukulnya dengan sikap dan keramahan yang menunjukan tempatnya berpijak.
Frolline jadi malu sendiri saat menyadari siapa dirinya, siapa wanita yang disiapkan Halim untuk suaminya. Frolline semakin terbelalak saat gadis yang menemani Sandra berbalik.
Deg—
“Bukankah dia artis sekaligus sosialita kelas atas yang sedang jadi perbincangan karena gaya hidup mewah dan kedekatannya dengan salah satu putra konglomerat dari negri seberang,” ucap Frolline, menutup mulutnya.
***
TBC
__ADS_1