
Bagaimana kisah itu dimulai, tidak ada seorang pun yang tahu. Pasangan suami istri yang awalnya hanya berpelukan hangat, berbagi kenyamanan itu entah sejak kapan saling menuntut satu sama lain. Dari belaian lembut, menjadi usapan memancing hasrat. Frolline yang mulai terbiasa dengan sikap intim sang suami, ikut hanyut dengan setiap perlakuan manis Ditya.
“Fro ....” ucap Ditya di tengah napas memburu. Kedua tangan kekar itu sudah mengunci tubuh istrinya, menggulingkan perlahan dengan tatapan menggoda. Tak sedikit pun netra pekat itu berpaling menatap wajah cantik istrinya.
Tidak terdengar suara, Frolline menjawab dengan belitan tangan mengunci di tengkuk suaminya. Seulas senyum, sebelum akhirnya pasrah pada pemilik hak atas dirinya. Wanita dengan piyama hijau pucat itu hanya bisa menerima kemanjaan yang menyerang bertubi-tubi, membayarnya dengan desah nikmat memancing hasrat sang putra mahkota Halim Group.
Suami istri yang sudah siap terbang ke awang-awang itu sedang menyelami lautan gairah. Ketika tubuh saling melekat, rasa bertaut menyatu dalam indahnya pernikahan. Ikatan suci yang melegalkan cucu adam dan hawa itu untuk saling mengambil hak dan melaksanakan kewajiban sesuai dengan hakikat berumah tangga.
Ketika kecup itu bertemu, manis terasa di bibir. Ditya dengan posesif, menghujani istrinya dengan semua cinta. Napas memburu bersama cumbu rayu, dekapan pun mengerat, kedua bibir itu enggan melepas.
“Ko ....” sepatah kata ini lolos juga dari bibir tipis Frolline setelah bermenit-menit keduanya saling beradu bibir.
“Hmmm ....” Bergumam tak jelas, setelah menjauhkan jarak wajah mereka. Ditya bisa menatap jelas, lekuk wajah istrinya yang bersemu merah dengan napas naik turun.
“Di sini?” tanya Ditya, bertanya sekaligus meminta izin sebelum memulai. Laki-laki itu terpana menatap pakaian istrinya yang sudah berantakan tak beraturan. Tersingkap menggoda iman, memancing sisi laki-lakinya untuk menuntut lebih.
Frolline mengangguk, menatap dalam manik hitam suami yang sekarang menindihnya. Laki-laki bertelanjang dada itu menurunkan kembali wajahnya, memulai kecupan di bibir. Baru sedetik bibir mereka bertemu, suara pintu terbuka mengalihkan perhatian.
Reflek keduanya menoleh ke titik yang sama. Marisa dengan raut terkejut, terpaku di pintu menatap tak berkedip. Butuh beberapa detik, barulah kesadaran menyapanya.
“Ma-maaf ....” Marisa terbata. Segera berbalik badan, malu sendiri.
Menyusul di belakang, Firstan yang sudah berpakaian rapi dengan raut tanpa dosa, setelan kerja hitam lengkap dengan dasi motif. Laki-laki itu tidak kalah terkejut kala pintu kamar yang terbuka sempurna tidak sanggup menyembunyikan pemandangan tidak layak di dalamnya.
“Mi ... aku harus ke kantor ... sekarang.” Firstan terbata. Lidahnya keluh seiring dengan otak yang tiba-tiba buntu. Tontonan gratis, sepasang suami istri sedang tumpang tindih di atas tempat tidur sungguh-sungguh membuat harinya tiba-tiba memburuk.
Tanpa menunggu jawaban, Firstan ikut berbalik badan. Tidak mau mengisi ingatannya dengan hal menyakitkan. Bagaimana tidak, dia melihat orang yang dicintainya bersama laki-laki lain dalam posisi yang bahkan dia malu untuk sekedar membayangkan. Meskipun dia sadar, kenyataannya Frolline sudah menjad istri orang, wanita milik orang lain, tetapi tetap saja sakit itu enggan pergi.
Berbeda dengan Marisa dan putranya, Ditya buru-buru bangkit dari posisinya. Laki-laki itu ikut menarik istrinya berdiri bersama.
“Kak, ada apa?” tanya Ditya menutup gugup dan malu yang menyerang bersamaan. Keadaannya tadi memang tidak pantas menjadi konsumsi umum.
__ADS_1
“Makanan sudah siap. Frolline belum makan sejak tadi. Ajak istrimu makan dan minum obat, setelah itu silakan melanjutkan apa yang sempat terhenti.” Marisa menjelaskan tanpa menatap Ditya. Malu itu bukan hanya milik Ditya dan Frolline, sang kakak ipar juga merasakan hal yang sama.
Ya, Mi.” Frolline menjawab dengan wajah bersemu tertunduk malu.
***
Seminggu sudah Ditya memboyong istrinya kembali ke penthouse. Kondisi Frolline juga sudah membaik dan bisa beraktivitas kembali. Tujuh hari beristirahat di rumah, di hari ke delapan Nyonya Ditya Halim Hadinata kembali bekerja ke kantornya.
Halim Hadinata? Kondisi pemilik Halim Group itu melejit drastis sehari setelah Ditya kembali ke penthouse dan memutuskan mengambil alih tampuk pimpinan Halim Group. Beliau sudah pulang ke Surabaya begitu kondisi perusahaan stabil.
“Fro, Koko akan mengantarmu ke kantor, setelah itu koko harus menemui Sandra.” Ditya keluar dari dalam kamar dengan tampilan rapi, bersiap memulai harinya. Tangan kekar itu pun sudah menarik kursi makan dan menjatuhkan bokongnya tepat di depan sepiring sarapan pagi yang disediakan Frolline untuknya.
“Koko tidak ke kantor?”
Frolline mengerutkan dahi, heran. Wanita dengan kemeja putih dengan celana kain biru dongker itu ikut duduk di sebelah sang suami.
“Koko harus menemui Sandra sebentar, membereskan semuanya, menyelesaikan masalah kami berdua yang menggantung sampai saat ini,” Ditya menjelaskan. Tangan kanannya sudah mulai mengayunkan sendok ke dalam mulutnya.
“Hmm ....”
“Ko, apa yang akan Koko lakukan? Koko tidak akan menikahi Sandra, kan? Aku mendengar Matt mengobrol dengan Zoe, kalau koko sudah mengambil alih pucuk pimpinan Halim Group.”
“Koko sudah berjanji padamu, kan?”
Frolline mengangguk.
“Believe me!” Ditya mengucap dengan nada memohon. Laki-laki itu butuh kepercayan sang istri untuk memulai semuanya. Ada banyak rencana mengisi otaknya beberapa hari ini. Dan untuk itulah, dia memutuskan menemui Sandra.
“Ko ....” Panggilan manja kembali mengalun dari bibir berlipstik merah muda.
“Aku tidak mau koko menikah lagi. Aku ....” Kalimat itu belum terselesaikan, sesendok penuh nasi goreng dengan potongan telur mendarat masuk ke dalam mulut. Frolline hanya bisa pasrah menguyah cepat semuanya.
__ADS_1
“Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Koko milikmu. Selamanya akan begitu.” Ditya tersenyum kecil. Hatinya menghangat saat mendapati sikap-sikap posesif Frolline yang ditunjukan tanpa malu-malu.
“Aku ....”
“Habiskan sarapanmu sekarang. Jangan banyak bicara. Koko terlambat nanti,” potong Ditya, kembali menyuapkan istrinya sesendok penuh nasi goreng.
“Ko ....”
“Apa lagi, Frolline sayangku?” Bertanya dengan nada sedikit menekan, senyum Ditya itu mengembang sempurna saat mendapati Frolline mencemburuinya. Sejak tadi dia memerhatikan senyum asam kecut menghiasi wajah cantik istrinya.
“Aku ... boleh ikut denganmu?” tanya Frolline ragu-ragu.
“Ikut?” tanya Ditya heran, mengulang inti kalimat istrinya.
Frolline mengangguk kecil.
“Ah Fro, kenapa harus semanis ini. Pagi ini kamu membuat duniaku menjadi indah.” Bunga bermekaran di hati Ditya saat mendapati cemburu itu secara nyata di mata indah istrinya.
“Aku serius.” Frolline bersikeras.
“Nanti, bukan sekarang. Untuk saat ini, percaya pada koko.” Dengan tangan kanan menangkup wajah cantik istrinya, yang sekarang bersikap sangat manis dan penurut.
“Ya?” Ditya bertanya. Meminta kepastian Frolline. Dia juga butuh dipercaya, karena masalahnya dan sang ayah memang bukanlah sederhana.
Mengangguk kecil, Frolline berusaha memberi dukungannya sebagai istri dengan menuruti apa yang diinginkan suaminya. Mencoba percaya meski masih tersimpan tanda tanya dan ragu.
***
“Aku menyetujui pernikahan kita!” tegas Ditya, sesaat setelah gadis dengan potongan rambut pendek itu duduk manis. Sebuah restoran bintang lima di pusat kota jadi tempat yang dipilih Ditya untuk berbincang serius mengenai kelanjutan perjodohan mereka yang sudah diatur keluarga keduanya jauh-jauh hari. Bahkan sebelum dua anak manusia itu lahir ke dunia.
TBC
__ADS_1