
“Dad ....” sapa Ditya dengan sedikit penekanan. Pria itu menggenggam erat tangan Frolline yang basah oleh keringat.
“Kalian istirahat saja dulu. Kasihan istrimu sedang hamil.” Halim mengalihkan pembicaraan. Ia paham apa yang ingin disampaikan Ditya. Maksud dan tujuan Ditya membawa istrinya, ia sangat paham.
“Dad ....” ulang Ditya dengan tatapan memohon.
Halim terdiam sejenak, memandang putra dan menantunya bergantian. Pengusaha farmasi yang sepak terjangnya sudah tidak perlu diragukan itu terlihat menghela napas kasar. Memainkan tongkat kayu di tangan kanannya.
“Aku mau istirahat sekarang. Panggilkan Joe untuk membantuku, Ko,” usir Halim mengibaskan tangan kirinya. Ia meminta putra dan menantunya keluar dari kamarnya.
“Baiklah, Dad,” sahut Ditya mengalah. Cukup paham akan bahasa tubuh daddy yang tidak mau diganggu.
“Ayo Fro, kita istirahat saja dulu,” ucap Ditya, mengajak Frolline keluar dari dalam kamar.
Baru saja kaki mereka melangkah, tiba-tiba pria lanjut usia itu membuka suara kembali. “Ko, sebelum makan malam, tolong temui aku di ruang kerja. Kita perlu bicara empat mata,” titah Halim.
“Baik Dad. Kami permisi.” Ditya berpamitan keluar sambil mengangguk pertanda mengerti. Sebagai putra Halim Hadinata, tentu ia sangat paham arti kalimat yang disampaikan daddynya. Kode yang dikirim daddy lewat sepenggal kalimat sederhana.
Kalau boleh jujur, tubuhnya sudah melemas, jiwanya hampir kosong. Setengah semangatnya menguap bersama langkah kaki yang semakin berjalan menjauh dari kamar utama pemilik rumah. Ada yang ingin disampaikan daddy, tetapi hanya padanya. Daddy tidak ingin percakapan mereka didengar Frolline, artinya kalimat yang akan disampaikan daddy bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Bahkan bisa saja menyakiti hati istrinya.
Satu-satunya hal positif yang bisa ditangkap Ditya adalah sampai sejauh ini Daddy masih menjaga perasaan Frolline, masih menghargai keberadaan istrinya. Tidak seperti pertemuan pertama mereka, di mana Frolline dihina dengan dilempar tas berisi uang.
...***...
“Keputusanku tetap sama.” Halim membuka suara sesaat setelah Ditya masuk dan berdiri di hadapannya.
Ditya menghela napas kasar. Lelah menyelimutinya, letih akan perjuangannya yang selalu berakhir sama. Ia menatap sekeliling ruang kerja Halim yang didesain dengan nuansa oriental berwarna gold bercampur kecoklatan. Lukisan dan ornamen ciri khas negeri Tirai Bambu mendominasi salah satu dinding ruangan yang berukuran 6 x 10 meter itu.
Halim tersenyum memandang putranya yang berdiri membeku dengan kedua tangan saling menggengam. Pria tua dengan jubah labuh itu tampak gagah duduk di singasananya. Kursi kerja yang didesain khusus untuk kenyamanannya yang sudah tidak muda lagi.
Hari ini penampilan Halim terlihat istimewa. Jubah labuh berwarna merah yang dikenakannya adalah pakaian khas yang memang hanya dipakai saat acara tertentu. Sulaman benang emas berbentuk naga di bagian dada kirinya, Halim tampak gagah berbalut pakaian dari bahan sutera dan brokat yang dijahit dengan benang emas dan perak.
“Kamu tentu sangat mengerti apa alasanku, Tuan muda.” Halim tersenyum. Mata bening itu sedang meneliti sosok tampan putranya yang berbalut changsan modern berwarna merah menyala dipadankan dengan celana kain berwarna hitam.
“Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah, tentu kamu mulai paham apa yang aku lakukan semata-mata untuk melindungi keluargaku termasuk istrimu. Jangan katakan masa lalunya tidak mengganggumu. Bukankah kamu sudah mulai melakukannya dengan melakukan pertemuan dengan pemilik RD Group,” cerocos Halim.
“Dad ....” ucap Ditya dengan nada memohon.
“Aku bukan tidak merestuinya, hanya saja aku merasa untuk saat ini lebih baik keluarga kita menutupi keberadaannya. Kalau kamu bertanya sampai kapan, aku juga tidak tahu. Ini yang terbaik untuk keluarga besar kita dan perusahaan. Apalagi yang kamu inginkan dariku? Merayakan pernikahanmu dan memamerkan istrimu pada dunia? Lalu mereka ramai-ramai mencari tahu identitas dan masa lalu menantuku. Halim Group akan jadi sasaran empuk semua orang. Kamu mau melihat masa lalu istrimu muncul di pemberitaan atau majalah gosip? Jejak itu akan tetap ada sampai anak cucumu. Kamu mau seperti itu?” tegas Halim.
__ADS_1
“Tidak Dad.”
“Aku rasa kita tidak perlu membahasnya, Tuan muda Ditya Lim Rung Wei. Kamu sudah tidak muda lagi, tentu kamu sangat paham dan bisa memperhitungkan semuanya,” lanjut Halim, menyebut nama lain Ditya Halim Hadinata.
“Kamu akan menjadi seorang ayah sebentar lagi. Kamu akan mengerti apa yang aku rasakan. Aku yakin kamu juga akan melakukan hal yang sama untuk melindungi anak-anakmu. Rumah tangga bukan hanya sekedar cinta, tetapi pengorbanan dan kesabaran. Pada akhirnya apa pun yang kita lakukan itu untuk anak cucu. Kita orang tua hanya akan menikmati sebagian persen dari hasil perjuangan yang sudah kita lakukan, selebihnya untuk anak-anak dan keturunan kita selanjutnya.”
Ditya terdiam.
“Tolong jangan hanya melihat yang di depan matamu saja, Ko. Setiap melakukan sesuatu pertimbangkan sejauh mungkin. Masalah Frolline ini jadi pelajaran untukmu, untuk kita. Apapun yang kamu lakukan hari ini, baik-buruk itu akan berimbas pada anak-anakmu.” Halim melanjutkan.
“Sama seperti mamamu. Sampai detik ini aku tidak pernah membahas tentang mamamu. Aku pikir, kamu cukup mengerti kenapa aku menyembunyikannya selama ini. Aku bukannya tidak tahu semua tingkah lakunya di belakangku, tetapi sejauh ini aku masih menghargainya sebagai ibu kandung dari putraku meskipun aku tidak pernah mengungkapkannya pada semua orang.”
“Tidak bisakah menerima istriku seperti mertua lainnya yang dengan bangga menerima menantunya. Istriku membutuhkan itu, Dad.”
“Apakah yang dilakukan mommy dan mamamu tidak cukup mewakili? Apa aku juga harus melakukan hal yang sama? Jujur, aku masih terlalu kecewa untuk pilihanmu. Sejauh ini aku masih belum bisa menerima Frolline. Aku masih menyimpan harapan kalau kamu bisa memilih wanita yang sekelas denganmu, Ko. Yang bisa mendukungmu untuk tetap berkembang dan mengerti jelas kehidupan kita,” jelas Halim.
“Maafkan aku, Dad.”
“Aku bisa apa, kalau putraku lebih mengedepankan cinta dibanding logikanya. Aku sudah kehilangan Cicimu, Marisa. Tentu itu juga pelajaran untukku. Aku tidak bisa terlalu memaksa anak-anakku berpikir dan melakukan seperti apa yang aku inginkan.” Halim tertunduk. Awan mendung tiba-tiba bergelayut di wajahnya. Untuk pertama kali, ia membahas tentang Marisa setelah sekian tahun tidak pernah menyinggung nama itu lagi.
“Kamu tidak merindukannya, Dad?” tanya Ditya memberanikan diri.
“Ayo kita makan malam. Mereka sudah menunggu kita sekarang,” ajak Halim sesaat sesudah mengusap air matanya.
...***...
Ruang makan di kediaman Halim sudah ditata sedemikian rupa. Meja panjang dengan 12 kursi itu sudah dipenuhi sajian mewah. Sajian khas yang memang selalu ada di setiap acara-acara penting keluarga. Mangkok-mangkok porselin dengan motif oriental berwarna biru putih begitu mendominasi di atas meja. Semuanya sudah tersusun rapi dengan sendok dan sumpit, dilengkapi lap putih bersulam benang perak yang terlipat indah. Seorang koki dan asistennya yang memang dipekerjakan Halim khusus untuk malam ini tampak berdiri tidak terlalu jauh dari meja makan, bersiap menjelaskan menu-menu yang tersaji malam ini.
Meliana Hadinata, nyonya rumah itu tampak masuk ke ruang makan dan tersenyum melihat semuanya sudah sesuai dengan instruksinya. Makan malam hari ini diatur sendiri oleh nyonya Halim untuk menyambut kehamilan Frolline. Wanita yang masih terlihat bugar di usia senjanya itu tampak elegan dengan qipao merah berwarna senada dengan jubah labuh yang dikenakan Halim.
Frolline yang menyusul masuk, tersenyum menyapa ibu mertuanya. Malam ini Frolline tampak cantik dengan cheongsam merah menyala. Sulaman benang emas dengan motif burung hong di sisi kiri gaunnya begitu mencolok dan terlihat glamour.
“Duduk saja, Sayang,” pinta mommy Ditya.
Begitu menjatuhkan bokongnya di kursi, Frolline terpana menatap meja makan yang tertata indah. Jujur saja, makan malam keluarga Halim berbeda sekali dengan makan malam sederhana di keluarganya.
“Kita tunggu sebentar lagi. Akan ada tamu penting malam ini.” Suara berat Halim tiba-tiba mengisi keheningan di ruang makan. Sang tuan rumah berjalan masuk, tertatih-tatih dibantu Ditya.
Tak lama setelah Halim Hadinata duduk nyaman di kursi kebesarannya, koki dan asistennya membuka penutup hidangan di atas meja sambil menjelaskan.
__ADS_1
“Makanan pembuka ada sup hisit dengan kepiting dan asparagus,” jelas koki menunjuk semangkok sup di tengah meja.
“Aku juga menyiapkan sup sarang burung walet.”
Halim mengangguk pertanda mengerti.
“Di sini juga ada angsio haisom. Dimasak seperti biasa, kesukaan Tuan,” lanjut sang koki.
“Steamed fresh abalone.” Koki menunjuk kerang yang ditata di atas piring keramik.
“Sesuai dengan permintaan Nyonya, malam ini ada tambahan menu bebek peking,” lanjut sang koki tersenyum sebelum melanjutkan ke menu selanjutnya.
Frolline menyimak menu-menu yang disebut koki dengan seksama. Sebagian ia pernah mencobanya, sebagian lagi hanya mendengar saja. Ada lobster dan olahan seafood lainnya yang umum di temukan di restoran chinese food. Ada cah sayuran sederhana beraneka rupa dan tak ketinggalan mi goreng jawa yang merupakan makanan favorit Ditya. Frolline benar-benar excited dengan makan malam pertamanya bersama keluarga Ditya.
“Mommy sudah menyiapkan makanan khusus untuk istrimu, Ko. Mungkin sebagian menu tidak cocok untuk Frolline yang sedang hamil.” Nyonya Halim menjelaskan, tersenyum memandang menantunya.
“Ya, Mom.” Ditya mengangguk.
Di tengah persiapan makan malam, tiba-tiba terdengar suara feminim yang sangat familiar. Halim dan yang lainnya sontak mengalihkan pandangan pada sumber suara.
“Maaf, aku terlambat.” Wanita dengan baju shanghai keemasan itu tersenyum manis. Kecantikannya mengalihkan keempat orang yang sudah lebih dulu duduk mengelilingi meja makan.
To be continue.
***
Jubah labuh adalah salah satu jenis pakaian tradisional Cina yang dipakai oleh kaum pria keturunan Tionghoa pada acara tahun baru Cina atau acara-acara tertentu. Terbuat dari kain sutera dan brokat, dengan perpaduan warna terang dihiasi benang emas dan perak.
Cheongsam adalah pakaian tradisional Cina dikenakan oleh wanita. Versi modern dari Qipao
Qipao adalah pakaian tradisional Cina yang dikenakan wanita. Ini merupakan versi awal dari cheongsam.
Changsan adalah pakaian tradisional Cina untuk kaum pria. Changsan artinya adalah baju panjang dan menjadi baju formal yang dikenakan pada acara-acara tertentu oleh orang-orang Cina kalangan menengah ke atas.
Hisit adalah bahan makanan olahan yang berasal dari sirip ikan hiu. Biasanya makanan ini dikenal sebagai salah satu hidangan untuk merayakan imlek. Menu ini berawal dari dinasti Zhou. Sebagian negara sudah melarang hidangan ini karena berkontribusi terhadap punahnya ikan hiu.
Haisom adalah sea cucumber alias timun laut atau dikenal juga dengan nama teripang.
Abalone adalah suatu spesies kerang-kerangan dari famili Haliotidae dan genus Haliotis. Dikenal juga sebagai kerang mata tujuh atau siput balik batu. Abalone menjadi salah satu makanan yang dihidangkan di acara tahun baru China. Teksturnya kenyal bak permen karet, tidak ada rasa yang bisa dicecap dari dagingnya.
__ADS_1
***