Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 80 : Siasat Ditya


__ADS_3

“Aku menyetujui pernikahan kita!” tegas Ditya, sesaat setelah gadis dengan potongan rambut pendek itu duduk manis. Sebuah restoran bintang lima di pusat kota jadi tempat yang dipilih Ditya untuk berbincang serius mengenai kelanjutan perjodohan mereka yang sudah diatur keluarga keduanya jauh-jauh hari. Bahkan sebelum dua anak manusia itu lahir ke dunia.


Suara Ditya terdengar begitu keras dan lantang. Laki-laki itu yakin kalau saat ini orang-orang yang dibayar daddynya untuk mengikuti pergerakannya akan segera melaporkan kabar gembira ini pada Halim Hadinata.


Tentu saja Sandra terkejut. Sejak acara ulang tahun Halim Group, dia tidak pernah berhubungan lagi dengan Ditya. Pikirnya, semua sudah berjalan lancar dan sesuai rencana laki-laki sang tunangan gadungannya itu.


Pengunduran diri Ditya dari Halim Group, cukup menjawab semuanya. Tidak perlu membatalkan pertunangan secara terang-terangan, tetapi itu cukup menjawab semuanya. Pemberontakan Ditya dengan cara elegan ini menunjukan kualitasnya yang seorang keturunan Halim Hadinata.


“Apa maksudmu?”


“Daddyku sakit dan aku sudah tidak bisa menentangnya lagi.” Ditya mengungkapkan semua masalahnya.


“Kamu jangan bercanda, Honey! Aku tidak akan menyetujuinya. Aku bahkan berencana kembali ke Amerika dalam waktu dekat ini,” protes Sandra.


“Kalau itu maumu, coba saja bicarakan dengan papimu. Aku sudah tidak bisa apa-apa.” Ditya beralasan. Kedua bahunya terangkat menunjukan keputus-asaan.


“Kalau tidak ada jalan lain, terpaksa aku akan menikahimu.” Ditya menegaskan kembali.


Sandra Wangsa, gadis itu kembali mendengus kesal. Tadinya, dia pikir cukup diam dan membiarkan Ditya yang bergerak dan dia tinggal menikmati hasilnya. Namun ucapan Ditya membuatnya harus ikut memutar otak, menggagalkan perjodohan mereka yang sebentar lagi akan sampai pada tahap pernikahan.


“Bagaimana, Dear? Kamu setuju?” tanya Ditya tersenyum licik. Dia bisa menangkap kegusaran Sandra. Terlihat gadis itu duduk dengan gelisah, meremas serbet putih di atas meja.


Sandra menggeleng. “Aku tidak bisa menikah denganmu.”


Ditya tergelak.


“Apa kurangnya aku. Tampan, mapan, menawan. Coba kamu cek, berapa banyak gadis di luar sana yang ingin menikah denganku, menjadi Nyonya Ditya Halim Hadinata,” ucap laki-laki yang juga terkenal di kalangan crazy rich dengan nama Ditya Lim.


“Jangan gila. Aku sudah memiliki calon suami,” cerocos gadis dengan nama lengkap Sandra Wangsa atau dikenal dengan nama Sandra Wang.


“Sssttt! Jangan bicara keras-keras, San. Aku tahu apa isi hatimu, tetapi tidak perlu diucapkan keras-keras."


"Aku tidak setuju dengan ide gilamu!" Sandra masih berusaha menolak.


“Kalau begitu, coba saja kamu bicarakan dengan papimu. Siapa tahu Om Wangsa sanggup menaklukan Halim Hadinata. Secara mereka teman baik.” Ditya memberi saran.


Ditya terlihat santai, mencampur kopi hitam dengan gula kemudian mengaduk pelan dengan sendok kuning keemasan.


“Aku tidak berani. Kamu tahu papiku bagaimana mengerikannya. Pulang dari acara itu, papi masih sempat marah-marah padaku. Apalagi sewaktu kamu mengenalkan istrimu.” Sandra bergidik ngeri membayangkan amarah sang ayah beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


“Ya sudah. Kalau kamu tidak berani bicara.” Terlihat Ditya memanggil pelayan restoran, meminta pena dan kertas kosong.


Sambil menunggu, Sandra terlihat sibuk menyeruput jus alpukat yang dipesannya. Mengaduk perlahan agar lelehan susu coklat di dalan gelas tercampur rata dan menyeruputnya kembali.


Menulis di atas kertas putih dengan pena yang baru saja dipinjamkan dari sang pelayan. Ditya terlihat menyodorkan hasil guratan penanya ke depan Sandra.


Mata gadis itu hampir melompat keluar saat membaca apa yang tertulis.


Mari kita pura-pura menikah. Tiga bulan kemudian, kita menyatakan kalau kita sepakat bercerai!


“Jangan gila, Honey!” omel Sandra, melotot.


“Stttt! Jangan bicara keras-keras. Dibelakang kita ini ada orang-orang daddy. Aku bahkan tidak bisa berbicara denganmu, takut kata-kataku bisa didengar.”


“Serius?” tanya Sandar, mengedarkan pandangan ke sekeliling.


“Pura-pura tidak tahu. Bersikaplah biasa saja. Mereka hanya memata-mataiku. Bukan untuk mencelakai kita.”


“Bagaimana bisa kamu hidup seperti ini, Honey?” tanya Sandra, nyaris tidak percaya.


Ditya tersenyum sinis. “Coba saja kamu pikir sendiri. Apa menurutmu ada wanita yang sanggup menemaniku, menjadi istriku dengan semua pengawalan ini. Kamu mau hidup seperti ini?” tanya Ditya.


Sandra menggeleng.


“Bagaimana?” bisik Ditya lagi, menunjuk ke atas kertas putih yang baru saja dicoretnya kembali.


“Aku pikir-pikir lagi,” sahut Sandra.


“Kalau kamu setuju, aku akan menekan daddy supaya pernikahan abal-abal ini dilangsungkan secara tertutup, tanpa diketahui orang lain. Dan aku akan memalsukan akta nikah.” Ditya berbisik pelan.


“Maksudmu?” tanya Sandra.


“Aku akan membuat akta nikah palsu dan pulang ke Surabaya. Kita tinggal menunjukan akta nikah itu kepada daddy dan mengatakan kalau kita sudah menikah. Bagaimana?” tawar Ditya.


“Lalu?” Sandra masih belum paham.


“Lalu, kita katakan pada daddy setelah tiga bulan, kalau kita sepakat bercerai.”


Sandra menggeleng. “Kamu tahu, idemu ini terlalu beresiko. Kalau sampai ketahuan, aku pasti akan dipaksa menikah sungguhan denganmu. Aku tidak mau.”

__ADS_1


“Memang kamu pikir aku mau. Aku mencintai istriku!” tegas Ditya, berbisik. Senyum keduanya terukir bersamaan.


“Hidup ini sebenarnya sederhana. Orang-orang seperti orang tua kita ini yang membuatnya menjadi rumit,” ungkap Ditya pelan.


“Aku akan memikirkan idemu, Honey, Nanti aku kabari lagi.” Sandra sudah siap berdiri dan meninggalkan meja.


“Tunggu, peluk aku sebentar.” Pinta Ditya, merengkuh lengan dan menghentikan langkah Sandra.


“Apa-apaan ini?” tanya Sandra mengerutkan dahi.


“Orang-orang itu butuh bukti untuk diserahkan kepada daddyku.” Ditya bangkit dari duduknya, sebelumnya sempat meremas kasar kertas berisi tulisan tangannya dan menyimpan di saku celana.


Dengan langkah pasti, laki-laki yang terlihat tampan dengan setelan kerjanya itu berjalan mendekati Sandra dan memeluk gadis itu dengan erat.


“Lima menit, nikmati saja pundakku!” bisik Ditya pelan.


“Sebelum aku muak dengan semua ini,” lanjut Ditya, masih memeluk mesra Sandra.


“Parfummu membuatku mual, San,” ucap Ditya.


"Apa ini? Kenapa baunya seperti ini." Buru-buru Ditya menutup mulut, menahan gejolak di dalam perutnya.


Tidak sampai lima menit, laki-laki itu sudah berlari ke toilet, tanpa permisi. Menyimpan tanda tanya besar di otak Sandra, apa gerangan yang terjadi.


“Aneh? Perasaan ini parfum yang biasa aku gunakan” Sandra berjalan pergi, meninggalkan Ditya tanpa berpamitan. Hanya sempat melempar senyuman pada Matt, sang asisten setia Ditya Halim Hadinata.


***


“Bos, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu pucat sekali?” tanya Matt panik. Asisten itu ikut masuk ke dalam toilet, menyusul sang majikan.


“Aku tidak tahu, tiba-tiba mual setelah mencium aroma parfum Sandra.” Ditya memijat pelipisnya. Lelah setelah menyemburkan semua isi perutnya ke dalam wastafel.


“Bos salah makan? Atau belum sarapan?” tanya Matt lagi.


“Istriku begitu luar biasa. Mana mungkin membiarkan aku pergi dengan perut kosong. Tadi, aku hanya memesan kopi hitam. Harusnya tidak akan ada masalah dengan lambungku.” Ditya mengusap perutnya.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2