Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 90 : Belum kembali


__ADS_3

Masih tergolek di atas tempat tidur super mewah, Frolline menurut saat Ditya meminta dengan lembut. Merelakan kemeja kerja dicampakan paksa dari tubuhnya, berakhir menemani permadani dingin di atas lantai. Bergabung dengan boxer milik Ditya, suaminya.


Deru napas itu masih terdengar jelas, keduanya baru saja menuntaskan hasrat di penghujung pagi. Melewati jam berangkat ke kantor begitu saja, keduanya melepas tanggung jawab sebagai pimpinan perusahaan. Takluk pada gairah, menuruti nafsu duniawi yang membuat sepasang suami istri itu menggila sampai siang menjemput.


Jam di dinding menunjukan saat ini hampir pukul sepuluh pagi. Napas tersenggal, naik turun bercampur peluh.


“Fro ....” Ditya memanggil mesra istrinya. Kedua tangannya masih mendekap lembut tubuh telanjang istrinya.


“Hmmm.” Bergumam tak jelas, masih bermanja di dada bidang Ditya.


“Koko mencintaimu.” Ditya mengecup pucuk kepala istrinya hangat, sebelum melepas pelukannya.


“Fro, koko mau mandi. Bersama?” tawar Ditya. Bangkit dari tidur, setelah menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.


“Nanti aku menyusul, Ko.” Frolline masih mengatur napasnya yang memburu dengan buliran keringat sekujur tubuh. Terlalu lelah setelah melaksanakan tugas negara, Frolline benar-benar malas bergerak. Masih betah bergelung di balik selimut, menikmati lelah dan penatnya.


“Koko menunggumu.” Berjalan dengan tubuh telanjang, memamerkan punggung kekar berotot dan mengkilap basah karena keringat.


Ada luka cukaran di kulit punggung putih mulus itu. Frolline menelan saliva. Bekas kuku yang menancap sempurna dengan buliran peluh seakan menunjukan bukti nyata seberapa panas permainan mereka tadi.


Tak lama, suara gemericik air terdengar dari kamar mandi yang pintunya sengaja dibuka lebar. Ditya serius dengan tawarannya. Bahkan pria itu, memanggil istrinya berulang kali, meminta menyusul.


“Fro, kemari Sayang.” Teriakan pelan bercampur alunan air mengalir deras.


“Ya, Ko.”


“Cepat Sayang!” Suara Ditya kembali menggema di empat penjuru kamar mandi mewah mereka. Lima menit menunggu, masih saja belum tampak batang hidung istrinya.


“Sebentar lagi, Ko.” Frolline masih memejamkan mata. Bergeming di tempatnya berbaring. Menikmati sensasi empuknya ranjang, melepas penatnya karena ulah Ditya yang mengajaknya mengeksplor berbagai macam gaya. Frolline hampir tertidur saat merasakan titik-titik air membasahi wajahnya.


“Fro, aku menunggumu sejak tadi, ternyata kamu masih di sini!” gerutu Ditya. Pria itu sudah berdiri di sisi ranjang dengan bulir-bulir air menetes deras dari tubuhnya. Sebagian membasahi wajah bantal yang masih saja betah bergelung.


“Koko! Kamu menghancurkan kamar tidur kita. Kenapa masuk ke dalam kamar basah kuyup seperti ini?” gerutu Frolline mengomel. Menyisir postur gagah dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Pria tak tahu malu itu berdiri dengan kepercayaan dirinya, tidak peduli saat ini sedang polos tanpa benang. Bahkan semuanya basah kuyup, menetes turun membasahi permadani Turki yang menghiasi ubin kamar.


“Ayo, ikut ke kamar mandi!” seru Ditya, menarik lengan Frolline.


“Aaaa! Sebentar Ko!” seru Frolline saat tubuhnya ikut terangkat paksa karena tarikan keras Ditya. Terseret ke kamar mandi, berusaha menyeimbangkan langkah kakinya.

__ADS_1


“Anak malas! Ini sudah jam berapa! Bukankah kamu masih ada kerjaan di kantor, masih harus ke proyek!” Setengah mengomel, Ditya membawanya di bawah kucuran stand shower dengan pengucur raksasa di atas mereka. Berada di bawah sana, serasa sedang menikmati air hujan yang turun deras.


“Aaaaah!” pekik Frolline saat sapuan air dingin mengenai kulit tubuhnya. Seketika menggigil sembari mendekap kedua tangan di dada yang bertebar karya cinta pahatan Ditya. Memar memerah di beberapa titik dari leher jenjang yang putih mulus merambat turun memenuhi area dada.


“Sudah! Jangan banyak protes. Koko sedang ingin menikmati sensasi berbeda,” jelas Ditya. Mulai lupa dengan beban masalahnya, pria itu mendekap wanitanya dari belakang, menikmati terjangan air yang menghujam deras ke tubuh mereka.


Hampir lima belas menit memeluk erat, menikmati sapuan air bersama, Ditya menjatuhkan kepalanya dengan manja di pucuk kepala Frolline sambil merasakan kenyamanan kulit punggung istrinya.


Tangan kekar itu mulai memutar pangkal shower, menghentikan aliran air. “Fro, andai suatu hari kita harus meninggalkan Indonesia, kamu tidak akan keberatan, kan?” bisik Ditya berkata tiba-tiba di telinga istrinya. Sejak tadi diam, Ditya bersuara dan melontarkan pertanyaan yang tidak biasa.


“Hmmmm,” gumam Frolline sembari mengangguk.


“Danke.” Pelukan itu semakin erat, kuncian tangan di perut rata Frolline pun semakin rapat.


“Ko, aku mau ... kita menunda memiliki bayi.” Sejak tadi merapatkan bibir, Frolline mengeluarkan suara. Beban yang sejak beberapa jam yang lalu mengisi otaknya, terlontar keluar begitu saja.


Deg—


Ditya terdiam, membeku di tempatnya berdiri. Kalimat Frolline adalah sesuatu yang tak pernah terlintas di benaknya. Bahkan di saat mamanya mengancam, dia memilih tak gentar sama sekali. Asal Frolline percaya padanya, rela menderita batin bersamanya, semua tidak akan menjadi masalah.


“Tidak ....” jawab Ditya pelan, menyibak rambut basah tergerai itu perlahan, mengecup puncak telanjang Frolline dengan penuh perasaan.


Kedua mata indah itu terpejam mendengar deretan kalimat keputusan Ditya. Suara bariton itu terdengar lembut, tetapi tegas dan tidak terbantahkan.


***


Siang itu, terik matahari hangat menyengat. Frolline baru saja melangkah keluar dari kantornya untuk berburu makan siang yang terlewat setengah jam. Menunggu hampir lima menit di depan lobi kantor berbekal gawai di tangan dan sebuah tas munggil tergantung membelah dada, Frolline menunggu asistennya, Zoe yang masih belum muncul dengan mobilnya.


Sembari memainkan ponselnya, ekor mata perempuan dengan setelan kerja hijau tosca itu tertuju pada taksi yang mengosongkan diri setelah menurunkan penumpang, tak lain adalah karyawan kantornya.


Tersenyum, Frolline tanpa ragu mengejar taksi kosong itu sembari berteriak kecil dan melambaikan tangannya ke udara.


“Taksi!” pekiknya, berlari mengejar sedan biru yang berhenti beberapa meter di depannya.


“Ke mana, Bu?” tanya pria si pemegang kemudi. Dengan setelan biru, menanyakan arah tujuan penumpangnya.


“Ke apotek terdekat, Pak.” Frolline menjawab tanpa menatap si penanya. Terlalu sibuk mencari informasi tentang kontrasepsi, dia bahkan tidak memiliki waktu untuk sekedar menatap sopir taksi.

__ADS_1


“Ok!” Jawaban singkat, sesaat sebelum menginjak pedal gas. Mobil roda empat itu meluncur keluar dari halaman kantor.


Zoe, aku pergi dengan taksi. Kebetulan ada sedikit keperluan.


Frolline mengirim pesan pada asistennya, mengabarkan supaya pria itu tidak panik saat tidak melihatnya di lobi kantor.


***


Di kantor pusat Halim Group.


Matahari perlahan merayap turun di lembayung senja. Memerah di ufuk barat, pemilik sinar terang itu bersiap pulang ke peraduannya. Ditya baru saja keluar dari ruang rapat setelah hampir dua jam bergelut dengan permasalahan sekaligus terobosan-terobosan baru perusahaannya.


Rapat internal yang diikuti para manajer yang menduduki posisi penting di kantor pusat Halim Group, berlomba-lomba menelurkan ide brilian yang akan mendukung kemajuan perusahaan ke depannya.


Melangkah gontai dengan langkah setengah menyeret, Ditya berjalan menuju ke ruanganny dengan diikuti asisten setianya, Matt.


“Matt, ada pesan dari Fro?” tanya Ditya, berjalan dengan tangan kiri terselip di saku celana. Sejak masuk ke ruang rapat, pria itu sengaja menitipkan gawai mahal dan canggihnya pada tangan sang tangan kanan.


“Tidak, Bos. Pesan terakhir dikirim jam 1.30 siang tadi.” Matt bercerita.


“Apa katanya, Matt?” tanya Ditya, memijat kepalanya yang pusing dengan pandangan berkunang-kunang. Sejak tadi sibuk dengan pekerjaan, bahkan dia mengabaikan pesan istrinya.


“Nyonya hanya mengabarkan kalau mau keluar makan siang,” sahut Matt, masih sibuk mengejar langkah Ditya yang lebar-lebar.


“Matt, kamu sudah mengurus visa untuk Fro? Aku butuh visa schengen untuk istriku.” Ditya berkata pelan.


“Sudah Bos. Siap terbang kapan saja!” Matt menjawab, tersenyum puas menunggu pujian majikannya.


“Good job!” Ditya tersenyum, bersamaan dengan dering ponselnya yang masih tertinggal di tangan Matt.


“Zoe, Bos ....” ucap Matt, pelan. Asisten itu mengerutkan dahi, menyembunyikan herannya.


“Ada apa?” tanya Ditya, tak kalah heran. Menyambar ponselnya tanpa permisi.


Raut wajah Ditya berubah seketika, saat mendengar kabar yang disampaikan Zoe padanya.


“Bos, Nyonya belum kembali dari makan siang. Ini sudah jam pulang kantor,” adu Zoe, panik bercampur takut.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2