Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 68 : Mengundurkan diri


__ADS_3

“Malam ini, aku akan mengumumkan pernikahan putraku Ditya Halim Hadinata dengan tunangannya Sandra Wangsa, putri dari Wangsa Group ....”


Halim menghentikan ucapanya, memberi waktu untuk para tamu bertepuk tangan merayakan kabar bahagia ini. Dari kejauhan laki-laki tua itu bisa melihat jelas putranya yang panik menenangkan sang istri.


Ada senyum tipis di bibir keriput Halim. Seperti biasa, Frolline akan terlihat seperti orang bodoh saat membuat kehebohan yang pada akhirnya akan mempermalukan diri sendiri.


“Schatzi Sayang, tenangkan dirimu. Jangan terpancing emosi,” bisik Ditya, meremas tangan istrinya berusaha menenangkan sekaligus menguatkan.


“Tarik nafas hembuskan. Buang semua emosimu. Serahkan semua di pundakku. Kamu cukup mempercayakan semuanya padaku, gengam tanganku dan ikuti langkah suamimu,” ucap Ditya, tersenyum dengan tenang.


Sorot lampu kamera pemburu berita yang sejak tadi duduk di pojok ballroom, begitu menyilaukan. Menyorot Halim Hadinata sekaligus Ditya yang duduk di meja utama bersama petinggi Halim Group dan mommynya. Sejak tadi mereka tidak berani mendekat, hanya menyimpan tanya dalam hati sambil diam-diam mengambil gambar dari kejauhan. Kehadiran Frolline malam itu sejak awal sudah menyimpan banyak tanya, tetapi mereka tidak berani mendekat. Keduanya dikawal diam-diam oleh asisten dan orangnya Halim.


Belum lagi ratusan pasang mata yang saat ini sedang menatap pada Ditya Halim Hadinata. Laki-laki itu terlihat tenang, berbeda dengan sang istri yang menunduk, tidak sanggup beradu pandang orang-orang.


“Ko, apa-apaan ini,” bisik Frolline, rona wajahnya berubah. Senyum yang sejak tadi menghiasi sudah tidak nampak lagi. Berganti tatapan memerah menahan kesal dan amarah


“Nikmati saja, Fro. Aku akan selalu menggengam tanganmu,” ucap Ditya pelan.


“Suamimu tetap Ditya, dengan embel-embel Halim Hadinata di belakangnya atau pun tanpa itu,” lanjut Ditya lagi.


Dari podium terdengar sang daddy memanggil ulang namanya dan Sandra bersamaan. Pemilik Halim Group itu sengaja membuatnya tidak berkutik dan tidak berani membantah. Didikan yang diterimanya sejak kecil, yang selalu mengedepankan menjaga nama baik keluarga, membuat Ditya tidak berkutik selama ini.


Tepat di panggilan ketiga, Ditya berdiri setelah lama memikirkan langkah apa yang akan diambilnya di saat terdesak seperti ini. Daddy benar-benar tidak kompromi dan mengambil tindakan sepihak, tanpa mempertimbangkan keadaannya.


Laki-laki itu berdiri, merapikan kancing tuksedo hitamnya. Setelahnya meraih tangan Frolline, membawa serta istrinya naik bersama.

__ADS_1


“Ko, aku tidak mau ke sana,” tolak Frolline, menahan langkah kakinya. Tidak ingin dipermalukan di depan ratusan pasang mata malam ini. Cukup mertuanya saja yang menghinanya, tetapi jangan sampai orang lain, Frolline tidak akan sanggup


“Fro, dengarkan aku. Cukup berdiri di sampingku. Dukung apa saja yang aku lakukan, mungkin ini waktuku memperjuangkan tempat dan hakmu,” tegas Ditya.


Dengan terpaksa, Frolline menurut. Sandra yang melihat Ditya membawa istrinya naik ke atas panggung, mengulas senyuman hangat. Dia tidak perlu bersusah payah, karena sepertinya Ditya siap mengambil sikap.


Tatapan Halim terlihat aneh, saat melihat putranya berani mengambil tindakan menentangnya, sikap yang selama ini tidak pernah dilakukan Ditya. Putra kesayangannya selalu menurut, meskipun ada yang tidak disukai, Ditya akan mengambil langkah paling menyenangkan semua pihak.


Ditya tetap akan menjaga nama besar Halim Hadinata apa pun terjadi, tidak pernah sekalipun putranya membangkang meskipun Ditya termasuk badboy, suka berpesta dengan para gadis, tetapi sejauh ini Ditya masih tahu batasannya. Tidak ada cerita sampai wanita-wanitanya di luar sana datang ke rumah dan minga pertanggung jawaban atau minta dinikahi.


“Dad, ini yang kamu inginkan, bisik Ditya, menggengam erat tangan istrinya yang hanya menunduk dan diam.


Kedua laki-laki berbeda generasi itu sudah berdiri bersisian. Saling melempar bom molotov lewat tatapan mata. Joe, sang asisten pribadi Halim membeku di tempat menyembunyikan panik, bersiap menunggu kekacauan yang akan terjadi selanjutnya. Entah apa yang dilakukan bosnya sampai berani mengumumkan hal yang paling sensitif di tengah keluarga besar Halim Hadinata.


Padahal Halim tahu jelas, masalah perjodohan dan pernikahan tuan muda mereka merupakan hal yang paling rumit, sampai sekarang belum menemukan titik sepakat.


“Berani sekali kamu tuan muda Halim?” ancam Halim Hadinata, mengertak dengan tangan terkepal yang gemetaran.


“Ehem ... selamat malam semuanya, perkenalkan saya Ditya Halim Hadinata, mungkin sebagian rekan-rekan di sini sudah mengenalku.”


“Saya hanya ingin menyampaikan ... terhitung mulai saat ini ...” Ditya tersenyum menatap daddnya sekilas.


“Saya Ditya Halim Hadinata, mengundurkan diri dari Halim Group. Maaf sekali, saya tidak bisa berjuang lagi bersama Halim Group. Terimakasih.” Informasi singkat, tetapi sanggup membuat semua orang terperanjat.


Wajah keterkejutan terlihat mendominasi, para tamu undangan malam itu tampak berbisik-bisik satu sama lain, melempar tanda tanya apa yang terjadi dengan putra mahkota Halim Group. Baru saja pemilik perusahaan raksasa itu mengumumkan berita bahagia, tiba-tiba semuanya berbalik dengan berita pengunduran diri sang penerus satu-satunya.

__ADS_1


“Dad, aku akan mengirimkan surat pengunduran diriku besok melalui Matt. Maafkan aku sudah menjadi anak yang tidak bisa membanggakanmu. Maaf untuk semua kekacauan malam ini. Aku permisi, Dad.” Ditya masih sempat membungkuk sebentar sebelum menggandeng istrinya turun.


“Fro, pamit pada daddy mertuamu. Kita harus pulang sekarang,” pinta Ditya. Di saat-saat seperti ini, laki-laki itu masih berusaha menjaga sopan. Sikapnya terlihat tenang, tetapi dalam hatinya bergejolak menyimpan amarah.


“Dad, aku pamit.” Frolline berkata pelan, tidak berani memandang raut mengerikan mertuanya.


Wajah kaku Halim Hadinata dan senyum Sandra yang berdiri tidak jauh dari mereka, mengiringi langkah pasangan suami istri itu meninggalkan tempat acara.


“Mom, aku pulang sekarang,” pamit Ditya sebelum keluar dari pintu ballroom. Menyempatkan memeluk nyonya Halim.


“Mom, aku akan mengirim alamatku. Kalau sempat temui aku besok, Mom. Aku akan membawamu menemui Cici,” bisik Ditya di sela pelukannya.


**


Begitu keluar dari ballroom, Ditya dan Frolline sudah disambut pemburu berita. Pengunduran diri sang putra mahkota memancing sisi penasaran banyak orang. Apalagi ada sosok manis yang menyimpan tanya semua orang.


“Maaf Pak Ditya, kenapa mengajukan pengunduran diri begitu tiba-tiba?” tanya salah seorang di tengah kerumunan.


“Maaf.” Ditya hanya menjawab sepatah itu saja, masih dengan menggengam erat tangan Frolline yang ketakutan melihat keramaian.


Maat dan Zoe, berusaha membuka jalan. Terdengar keduanya meminta maaf sembari merentangkan tangannya. Terjadi desak-desakan, yang membuat Ditya harus membantu mengangkat gaun panjang Frolline yang menyusahkan mereka di saat darurat seperti ini.


“Maaf ....” Matt sudah membuka jalan menuju lift yang akan mengantar majikannya menuju basemant. Han sudah menunggu keduanya di mobil, bersiap mengantar majikannya keluar dari kerumunan para wartawan.


***

__ADS_1


TBC


Yang ingin masuk group chat bisa ketik Ditya Halim di alasan masuk supaya bisa cepat di acc admin dan author.


__ADS_2