
Setelah perdebatan panjang pasangan suami istri itu, akhirnya Ditya mengalah. Tidak ingin membuat masalah semakin meruncing.
“Baiklah, kamu boleh menginap di sini,” ucap Ditya, melangkah masuk ke dalam, mencari keberadaan kakaknya.
Bagaimanapun sebagai suami Frolline, dia merasa perlu berbasa-basi, meski dia tahu, Marisa pasti akan menerima kehadiran istrinya dengan senang hati.
“Kak, Fro mau menginap di sini kalau kakak tidak keberatan,” ujar Ditya saat menemui Marisa di dapur.
“Tentu tidak,” sahut Marisa, tersenyum dengan wortel di tangannya.
Frolline yang mengekor di belakang hanya tersenyum, sembari memeluk Marisa dengan erat.
“Terimakasih, Mami,” ucapnya, mengecup pipi wanita yang sudah dianggap mamanya sendiri.
“Mami sedang membuat apa?” tanya Frolline, melihat tumpukan bahan makanan dan sayur-sayuran di atas meja island.
“Mami mau membuatkan makan malam.”
“Aku boleh membantu?” tawar Frolline. Sudah lama sekali tidak menyentuh peralatan tempur ini, rasa rindunya begitu menggebu saat penciuman menangkap aroma bawang merah yang berenang di minyak panas.
“Kamu tidak capek?” tanya Marisa, menatap Ditya yang masih mematung di depannya. Memandang interaksi sang istri dengan kakaknya.
Frolline menggeleng.
“Baiklah, tolong buatkan sapo tahu,” pinta Marisa, tersenyum licik menatap Ditya.
Dan Ditya, tentu saja tidak mau berpindah dari tempatnya berdiri. Memandang sang istri yang sedang bergelut dengan alat dapur. Pemandangan langka untuknya. Dia terlahir dari keluarga berada, jangankan mommynya, sang mama yang tinggal di Jerman pun, tidak pernah melangkahkan kaki ke area dapur.
Sejauh ini, para wanita Halim Hadinata hanya duduk manis, di atas meja menyentuh sendok dan garpu berlapis emas, menyantap makanan mewah hasil tangan personal cheff yang dipekerjakan di kediaman mereka.
Bahkan, Nyonya Halim hampir tidak pernah menyentuh sayur-mayur dan teman-temannya. Tanyakan padanya, dia tidak akan sanggup menyebut nama-nama sayuran hijau itu dengan baik dan benar. Namun di perusahaan, kehebatan sang mommy cukup diperhitungkan, hampir setara dengan suaminya, Halim Hadinata.
Dan Ditya cukup kagum dengan kakaknya sekarang. Yang berani keluar dari zona nyamannya. Hidup bagai putri saat masih tinggal di kediaman Halim, sekarang menjadi orang biasa. Dulunya dilayani, sekarang harus melayani. Di tidak pernah menyangka akan menyaksikan Marisa Halim Hadinata memasak dan memakai celemek.
__ADS_1
Tentu saja Ditya merasa beruntung, bisa mendapatkan Frolline dari keluarga biasa. Memberinya pengalaman baru, yang tidak pernah ditemui di keluarganya.
Kalau tidak ada Marisa disana, sudah pasti dia memeluk Frolline, meskipun harus dipukul Frolline, tidak menjadi masalah untuknya.
“Dit, kamu pulang atau ikut menginap disini?” tanya Marisa.
Belum sempat lelaki itu menjawab, Frolline sudah terlebih dulu memotong. “Tidak Mi, koko pulang ke apartemen,” ucap Frolline. Hampir setiap hari berinteraksi dengan Ditya, lidahnya mulai lentur memanggil lelaki itu.
Kakak adik itu saling bertatapan dan tersenyum mendengar panggilan sayang Frolline pada Ditya. Tidak semua orang diizinkan Ditya memanggilnya seperti itu. Karena panggilan itu hanya berlaku di keluarga besar mereka. Yang sering memanggil seperti itu hanya mama dan mommy Ditya.
“Aku pulang ke apartemen, setelah memastikan istriku tidur,” jelas Ditya.
***
Makan malam keluarga Samudra, sedikit berbeda hari ini. Mereka kedatangan tamu, yaitu Frolline dan Ditya. Bunyi denting sendok dan garpu membentur piring kaca memecah keheningan di meja makan. Masing-masing memilih diam dan tak mau banyak bicara. Hanya Ditya yang berulang kali, menatao istri yang duduk di sebelahnya dengan senyum terkulum.
“Dit, sapo tahu buatan istrimu bagaimana? Sesuai dengan lidahmu?” tanya Marisa, membuka percakapan di meja makan. Dia tahu jelas makanan kesukaan Ditya sejak kecil.
Dulu setiap liburan sekolah, Ditya akan dibawa asisten ayahnya berkunjung ke Indonesia. Setahun hanya beberapa bulan saja Ditya menghabiskan waktunya di Indonesia. Selebihnya Ditya bersama mamanya di Jerman.
“Perfect!” sahut Ditya, mengulas senyum untuk istrinya.
“Papi, apakah besok aku bisa membantu di perusahaan?” tanya Frolline, sembari menyuapkan sesendok nasi dan lauknya ke dalam mulut.
Tentu saja Marisa dan suaminya saling bertukar pandang. Tidak bisa memberi jawaban. Karena keputusan tentu saja ada di tangan Ditya.
“Papi tidak keberatan, tetapi itu tergantung suamimu,” ucap suami Marisa.
Lagi-lagi Frolline harus menghela nafas. Sekarang setiap mengambil keputusan atau melakukan sesuatu, semua orang meminta pendapat suaminya. Dia sudah tidak bisa mengemukakan pendapatnya sendiri.
“Aku tidak keberatan, kalau Fro ingin bekerja,” sahut Ditya, tersenyum. Lelaki itu tampak tenang.
Semua mata tertuju pada Ditya, tidak terkecuali Firstan yang duduk di sebelah mamanya.
__ADS_1
“Frolline bisa kembali mengurus perusahaan papanya. Aku akan meminta Matt mencari orang untuk membantunya,” lanjut Ditya.
“Aku tidak mau. Itu bukan perusahaan keluargaku lagi. Aku akan bekerja di perusahaan papi saja. Aku tidak masalah digaji berapa pun,” tolak Frolline, masih bersikeras.
“Aku akan menjadikan perusahaan keluargamu itu menjadi milikmu,” jelas Ditya, tersenyum menghadapi sikap keras kepalanya Frolline.
“Aku tidak mau. Sepeser pun tidak mau memakai uang Halim Hadinata,” jelas Frolline, meletakan sendok dan garpu di atas piringnya dengan rapi. Menyudahi makan malamnya.
“Itu uangku, bukan uang daddy. Aku punya bisnis sendiri, aku tidak butuh uang daddyku untuk bertahan hidup, tetapi jelas aku butuh restu dan doanya supaya semua usahaku bisa berkembang,” jelas Ditya, berharap ucapannya cukup membuat Frolline paham poin dari semua permasalahan rumah tangga yang mereka hadapi.
Frolline diam tidak bisa berkata-kata. Menjalin jemari tangannya di atas meja yang tak luput dari sorotan Ditya.
Begitu semua pandangan mata sibuk dengan makanan di piring masing-masing, Ditya mengambil kesempatan. Meraih tangan istrinya, tentu saja mengengam penuh kelembutan dan menyembunyikannya di bawah meja. Upaya melunakan kekerasan hati Frolline yang tidak mempan dengan kata-kata, berharap aksi dan sentuhannya bisa menggetarkan hatinya Frolline.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Frolline, menatap sinis. Saling tarik menarik dan tolak menolak di balik meja.
“Maafkan aku, please..,” bisik Ditya, dengan bahas bibir.
“Tidak! Kamu harus menerima hukumanmu. Baru ada kata maaf setelah itu,” ucap Frolline, ikutan berbisik.
Kesibukan keduanya saling berbicara dengan pandangan dan bahasa bibir tidak luput dari pengamatan Marisa. Tentu saja sebagai kakak, dia mendukung adiknya untuk memperjuangkan pernikahan yang baru berumur beberapa hari.
Sejatinya rumah tangga memang harus diperjuangkan. Menyatukan dua karakter yang berbeda saja sudah cukup sulit, apalagi dua karakter dengan perbedaan umur yang terlampau jauh ditambah terlahir dari dunia yang berbeda. Butuh perjuangan dan saling mengalah dari kedua belah pihak.
“Ehemmm!” Marisa tersenyum, berusaha mengalihkan perhatian kedua tamu mereka.
“Schatzi, terimakasih. Sapo tahumu yang terbaik sejauh ini,” puni Ditya.
“Aku berharap, besok aku masih memiliki kesempatan menikmati makanan dari tangan lembut ini,” lanjut Ditya, memamerkan gengaman tangan yang tadinya disembunyikan dibawaah meja. Secara terang-terangan menggengam di atas meja, di depan beberapa pasang mata.
***
TBC
__ADS_1