Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 45 : Segeralah hamil


__ADS_3

Keluar dari kamar mereka yang terletak di lantai tertinggi rumah itu, Ditya membawa Frolline di sisi lain dari bangunan megah itu. Mereka menyurusi koridor panjang dengan kaca di kiri kanannya, mempertontonkan pemandangan taman luar rumah yang menghijau dan kolam renang indoor di sisi kiri kanan koridor.


Diujung, terdapat ruangan cukup luas dengan sofa berukuran besar di tengah ruangan. Banyak lukisan menempel hampir menutupi ketiga sisi dinding. Dan seperti biasa rumah yang selalu dilengkapi kaca ini, tetap menyisahkan sebidang dinding kaca tempat dimana cahaya matahari masuk dan menampilkan pemandangan di luar rumah yang asri dan menghijau.


Tepat di depan dinding kaca, terdapat kanvas berukuran besar berdiri kokoh di atas kaki penyangga kayu. Kanvas putih yang sudah tercoret sebagian dengan cat air. Lukisan dahan kopi yang belum terselesaikan.


“Ini galeri mommy,” jelas Ditya.


Hampir sepanjang hari mommy menghabiskan waktunya di sini,” jelas Ditya kembali.


Frolline mengedarkan pandangannya, menelusuri ruangan bernuansa kekuningan. Bingkai-bingkai lukisan yang berwarna keemasan, begitu menyilaukan mata saat tersorot cahaya matahari.


Frolline masih setia mengikuti suaminya, dengan tangan masih tergenggam erat saat Ditya mendorong sebuah pintu kayu yang membawa mereka ke ruangan lain.


“Mom,” sapa Ditya, membawa masuk istrinya saat pintu kayu itu terdorong dan membuka.


Terlihat wanita tua yang dipanggil Ditya itu sedang duduk di kursi depan pintu kaca yang terbuka dengan gorden putih transparan melambai tertiup angin.


“Kamu sudah datang. Aku harus memanggilnya apa, Ko?” ucap Nyonya Halim, dengan penuh kelembutan. Wanita itu hanya mengalihkan pandangannya sebentar kepada Frolline, kemudian melanjutkan kesenangannya menatap langit biru yang cerah.


“Fro saja, Tan..te” sahut Frolline terbata dan ragu.


“Panggil Mom, Fro,” ralat Ditya.


“Mom,” sapa Frolline mengulang. Menurut apa yang diminta suaminya.


Tampak Ditya menarik sebuah kursi. Meletakan di samping mommynya dan mempersilahkan Frolline duduk.


“Mom, aku mau memejamkan mata dulu. Silahkan kalian para wanita bicara dari hati ke hati,”ucap Ditya, melangkah menuju ke ranjang empuk berwarna cream berukir keemasan yang terdapat di tengah ruangan.


“Dit!” panggil Frolline, seketika menelan ludah dengan wajah kaku saat teringat ucapan Ditya yang memintanya tidak memanggil seperti itu di depan kedua mertuanya.


“Ko..ko,” ulang Frolline, meralat kembali panggilannya. Terdengar kaku dan datar menggantung. Pertama kali memanggil suaminya seperti itu, lidahnya masih belum terbiasa dan aneh.


Tentu saja Ditya menghentikan langkahnya. Cukup paham dengan kekhawatiran Frolline yang enggan ditinggal sendirian.


“Aku hanya berbaring di sini,” sahut Ditya, menunjuk ke arah tempat tidur.


“Aku tidak kemana-mana,” lanjut Ditya, sudah merebahkan diri di atas tempat tidur. Berbaring telentang dengan kedua tangan bertekuk menahan kepalanya. Kaki kiri menindih kaki kanannya, terjulur sepanjang tempat tidur sembari memejamkan mata. Menikmati saat-saat otaknya tidak difungsikan dengan sempurna.


Nyonya Halim menatap lekat pada menantunya yang tertunduk. Duduk di sampingnya dengan tangan sambil meremas.

__ADS_1


“Kamu sudah hamil?” tanyanya membuka pembicaraan.


Wanita itu tahu jelas bagaimana sepak terjang putranya. Bagaimana pemberitaan di media yang menyorot hubungan Ditya dengan banyak wanita. Apalagi, dia mendengar sendiri dari cerita sang suami, kalau Ditya dan Frolline sudah tinggal serumah sebelum mereka resmi menikah.


Halim mengetahui semua hal tentang kelakuan dan apa yang dikerjakan pewarisnya itu di luar sana. Bahkan dia tau berapa banyak yang dikeluarkan Ditya untuk membiayai pengobatan dan pemakaman mertuanya.


Pemilik Halim Group itu tahu banyak. Hanya saja dia menganggap Ditya sedang bermain-main dan menghamburkan uangnya seperti yang sudah-sudah, tidak serius dengan pernikahannya dengan gadis biasa itu. Di matanya, semua yang dilakukan Ditya, termasuk pernikahan diam-diam itu hanya omong kosong. Bagian dari kesenangan anak muda.


Namun, semuanya berbalik, saat dia mengetahui putranya akan membawa pulang istri dan mengenalkan secara resmi padanya. Disitu Halim tahu kalau, putranya serius. Dan mulai mengambil tindakan tegas.


Frolline tertegun dan menggeleng pelan.


“Belum Mom. Putramu tidak sehebat itu. Aku belum memiliki kemampuan super. Baru saja semalam menebar benih, pagi langsung jadi bayi,” sahut Ditya, ikut menjawab. Lelaki itu hanya memejamkan matanya, tetapi tidak menutup telinganya.


Nyonya Halim berbalik menatap putranya. Terkekeh.


“Dia masih sama,” celetuk Nyonya Halim. Pandangannya kembali beralih pada Frolline.


“Masuk ke keluarga Halim memang tidak mudah. Ada banyak aturan tidak tertulis yang harus dipatuhi. Dan Koko adalah salah satu pembangkang di keluarga Halim selain cicinya,” cerita Nyonya Halim.


“Setelah memiliki istri, mommy berharap anak nakal itu tidak pergi petang pulang pagi untuk bersenang-senang,” lanjut Nyonya Halim.


Wanita yang masih terlihat sehat di usia menjelang tujuh puluh tahun itu menggengam erat tangan menantunya, menebar kehangatan.


Terlihat dia menghela nafas.


“Mommy masih berada di tempat ini, karena kemurahan hati mamanya koko. Mommy tidak bisa membayangkan kalau wanita lain yang menempati posisinya apa bisa seikhlas itu menerima takdir hidup yang begitu rumit,” ucapnya lagi, menoleh ke arah Ditya sambil tersenyum.


“Kamu tentu sudah tahu kisahnya. Mommy yakin koko sudah bercerita banyak padamu,” tukas Nyonya Halim.


“Cara mommy berterimakasih pada mamanya koko adalah dengan menyayangi putranya seperti putra kandung sendiri,” jelas Nyonya Halim, dengan mata berkaca-kaca. Teringat kembali dengan putri kandunganya yang terbuang hampir tiga puluh tahun yang lalu.


“Ko, cicimu apa kabar?” tanya Nyonya Halim. Air yang mengkristal di pelupuk mata itu terjatuh sudah. Meninggalkan jejak di pipi keriput yang masih mulus di usia rentanya. Tidak bisa dipungkiri, bagi sebagian orang, uang memang bisa membeli segalanya, termasuk kecantikan.


“Cici juga merindukanmu, Mom,” sahut Ditya.


“Dia masih belum menyelesaikan dendamnya pada daddy, jadi belum mau pulang ke rumah menjengukmu,” lanjut Ditya.


“Nanti kalau daddy sudah terbujur kaku, mungkin dia akan pikir-pikir lagi dan menyesal di sisa hidupnya,” sahut Ditya.


“Cicimu itu sama kerasnya dengan daddy. Darah memang tidak bisa menipu,” ucap Nyonya Halim.

__ADS_1


“Mom bisa menemuinya kalau berkunjung ke tempatku di Jakarta. Fro itu sudah seperti putri Cici,” jelas Ditya.


“Benarkah?” tanya Nyonya Halim.


Frolline mengangguk. “Iya Mom,” sahut Frolline.


Wanita tua itu terlihat kembali menatap Frolline, kali ini bukan hanya menggengam. Dengan tangan bergetar, dia menangkup wajah cantik sederhana menantunya yang baru berani diakuinya di dalam kamar. Kekuasaan sang suami, membuatnya tidak bisa berbuat banyak selain menurut.


“Fro, kamu menantuku. Baik-baik dengan Koko. Akan ada hari dimana daddy kalian melunak. Sebenarnya daddy orang yang baik, hanya saja selama ini hatinya terlalu keras dan keadaan juga memaksanya harus bersikap seperti itu.”


“Jauh di dalam hatinya, dia tahu kamu gadis baik-baik. Dia tahu kamu terlahir di keluarga berada, hanya saja menurutnya belum sepadan dengan Koko, ahli waris dan putra satu-satunya. Tentunya dia memiliki kriteria yang tinggi untuk Koko,” ucapnya, tersenyum.


“Mommy berharap kalian tidak memilih cara yang Marisa lakukan. Itu hanya akan menyakiti keduanya. Bersabar saja, mommy yakin, daddy akan menerima pada akhirnya,” jelas Nyonya Halim.


Frolline mengangguk.


“Ko, daddymu bagaimana?” tanyanya lagi, belum sempat melihat keadaan suaminya. Dokter pribadi keluarga Halim memintanya keluar.


“Sudah sehat. Dia sudah bisa mengangkat stick golf dan memukulku,” ucap Ditya dengan santainya.


Nyonya Halim tertawa.


“Dandan cantik, nanti sore saat minum teh cobalah merebut hati Tuan Halim yang arogan itu” pinta Nyonya Halim pada menantunya.


***


Tepat pukul tiga sore, Ditya membawa turun istrinya menikmati acara minum teh keluarganya. Frolline dengan gaun putih sederhananya, terlihat gugup saat harus berhadapan kembali dengan mertuanya.


Tidak terbayang apa yang harus dilakukannya di sana, tetapi mau tidak mau dia harus melewatinya. Sebuah ruangan semi outdoor di belakang bangunan utama dengan pemadangan kolam ikan dan taman yang luas menjadi tempat tujuan mereka sore ini.


Sebuah meja kayu panjang dengan deretan kursi tersusun rapi di kiri dan kanan. Ada dua buket bunga tertancap cantik di dalam vas keramik diletakan di atas meja. Cangkir dan teko dengan motif senada sudah tertata rapi memenuhi meja. Disana juga terdapat piring-piring cantik berisi kue-kue tradisional yang dibuat oleh para koki yang dipekerjakan khusus di keluarga Halim.


Saat mereka tiba disana belum ada siapa-siapa. Ditya memilih mengajak Frolline, berjalan-jalan keliling taman sambil menunggu daddy dan para ajudannya tiba. Sang mommy juga belum terlihat.


Lima belas menit mengitari halaman belakang, mereka kembali. Semuanya sudah duduk manis mengelilingi meja. Namun, yang membuat langkah kaki Ditya terhenti adalah kehadiran sosok asing, duduk di antara daddy dan mommynya.


“Sandra...”


***


T b c

__ADS_1


Love you all.


Terima kasih


__ADS_2