Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 110 : Meminta restu kembali


__ADS_3

Sebuah restoran di salah satu hotel berbintang yang terletak Jakarta Pusat menjadi pilihan Ditya. Ia sengaja datang lebih awal dari janji, tidak mau membiarkan Pram menunggu. Dua hari yang lalu melalui asistennya Matt, ia meminta bertemu dengan Reynaldi Pratama alias Pram. Pemilik sekaligus Presdir RD Group itu baru memberi kabar tadi pagi melalui sekretarisnya.


“Matt, kamu tidak salah, kan?” Ditya melirik Patek Philippe yang melingkar di pergelangan tangannya. Tersembunyi di balik lengan kemeja biru tua bermotif. Ia masih harus menunggu sepuluh menit lagi dari jam yang disepakati.


“Tidak Bos. Sesuai dengan yang disampaikan oleh sekretarisnya Pak Pram. Pria tampan pemilik hati Nona Kailla Riadi Dirgantara.” Matt masih sempat mengingatkan masa lalu majikannya. Setidaknya untuk mengisi waktu kosong sambil menunggu, ia bisa menggoda Ditya.


“Apa-apaan kamu, Matt!” gerutu Ditya, melempar buku menu ke atas meja dengan kasar.


“Aku teringat setahun yang lalu, selalu saja Pak Pram yang meminta bertemu denganmu, Bos. Coba Bos ingat-ingat, berapa kali dia minta bertemu dan selalu membahas hal yang sama. Bahkan dia menawarimu istrinya.” Matt tergelak.


“Itu masa lalu, Matt. Lagi pula aku tidak mungkin menikahi istri orang.” Ditya menjawab dengan penuh keyakinan.


“Lalu?” Matt menyatukan kedua ujung telunjuknya. Memainkan kedua alisnya, menggoda Ditya.


“Kami hanya terbawa perasaan saja.” Ditya beralasan.


Godaan demi godaan dilontarkan Matt. Obrolan majikan dan asisten itu terhenti saat derap langkah kaki terdengar berjalan mendekat. Berat dengan ketukan pelan dan teratur.


“Ada apa mencariku?” Tiba-tiba terdengar suara bariton menyela di tengah obrolan.


Ditya dan Matt mengalihkan pandangan bersamaan. Wajah tampan Pram muncul dengan senyuman datar mengisi pandangan mereka. Pria 45 tahun itu menarik kursi dan duduk dengan nyaman tepat di hadapan Ditya. Tatapannya sedikit tertunduk mengarah pada minuman di dalam cangkir.


“Matt, tinggalkan kami!” perintah Ditya bersuara.


Setelah memastikan tertinggal berdua dengan tamunya, Ditya membuka obrolan. “Mau pesan apa?”


"Aku tidak bisa lama-lama. Masih ada meeting satu jam lagi.” Pram menjawab dengan tegas.


“Baiklah, to the point saja.” Ditya menelan saliva. Memulai pembicaraan dengan kedua tangan saling menggenggam di atas meja.


Siang itu suasana restoran cukup ramai, meskipun tidak sesesak restoran umumnya. Ditya tidak memesan tempat khusus, sehingga mereka bisa melihat pelanggan restoran lainnya yang sebagian besar berpenampilan hampir sama seperti mereka. Ya, restoran ini sangat nyaman. Suasananya sangat mendukung untuk para eksekutif muda atau pekerja kantoran melakukan meeting atau pembicaraan bisnis dengan suasana santai. Apalagi letaknya di jantung ibu kota, di kawasan perkantoran.


“Em ... ini mengenai istri kita.” Terdengar helaan napas berat, sebelum Ditya memulai ke inti cerita.

__ADS_1


Pram masih menyimak. Duduk bersandar dengan kaki terlipat, jemari tangannya mengetuk perlahan meja kaca di hadapannya. Rautnya begitu tenang dengan sorot mata teduh tertuju pada vas kaca di tengah meja.



“Aku yakin kamu sudah mengetahui semuanya. Dan ....” Jeda sejenak, Ditya meneliti ekspresi lawan bicaranya.


“Aku tidak ingin istriku tahu mengenai masa lalunya. Karena menurutku ... itu bukan sesuatu yang akan membuatnya nyaman.” Kalimat itu meluncur dengan lancar.


Sejak mengetahui Frolline hamil, kisah masa lalu istrinya ini sangat mengganggu pikirannya. Sebisa mungkin Ditya akan menutupinya, tidak ingin Frolline dan anak mereka terluka. Bukan hal yang membanggakan tetapi itu pasti akan membuat Frolline terguncang.



Ditya menutup kalimatnya dengan raut datar. Tatapannya kosong. Tidak ada senyuman lebar seperti biasanya.


"Jangan khawatir, aku sudah berada di posisi ini lebih dulu darimu. Aku tahu apa yang kamu pikirkan, pertimbangan apa yang membuatmu memilih langkah ini. Aku juga melakukan hal yang sama. Sampai detik ini aku masih menyimpan sebagian rahasia masa lalu mama Kailla." Pram merespon ucapan Ditya. Kalimat-kalimat itu meluncur lancar dari bibirnya. Walau Ditya tidak mengurai jelas, namun ia paham arah pembicaraan sekaligus tujuan Ditya mengajaknya bertemu hanya dengan satu kalimat.


"Aku senang, kita bisa menjadi keluarga." Ditya mengangkat pandangannya sekilas. Tangannya meraih gagang cangkir dan menyerutup kopi hitam pesanannya yang mulai dingin.


"Baik, terima kasih." Ditya tersenyum menyudahi.


"Ada lagi?" Pram melempar pertanyaan.


"Hanya itu saja." Ditya menjawab singkat.


"Baiklah, kalau tidak ada lagi. Aku harus kembali ke kantor." Pram bangkit dari duduknya. Pria itu baru saja berdiri dan merapikan kembali jas yang dikenakannya. Tiba-tiba, Ditya sudah berjalan menghampirinya.


"Terima kasih." Ditya menyodorkan tangannya. Mungkin ini pertama kalinya mereka bertemu tanpa ada ketegangan. Tanpa menyimpan kecewa dan sakit hati.


"Don’t mention it." Pram tersenyum lepas menyambut uluran tangan Ditya, menepuk pelan pundak pria yang usianya jauh lebih muda darinya.


"Tidak perlu khawatir, sebagai suami Kailla Riadi Dirgantara, aku juga memilih bungkam. Semua kulakukan untuk istri dan anak-anakku. Aku juga tidak bisa membuka semuanya secara terang-terangan." Pram bersuara.


"Aku harap istriku bisa mengenal istrimu walau hanya sebatas teman baik. Itu sudah cukup. Tidak perlu mengetahui kalau mereka adalah saudara," lanjut Pram lagi.

__ADS_1


Ditya tersenyum. "Maafkan aku untuk ...."


"Aku sudah melupakannya. Aku tidak bisa memulai kembali dengan Kailla kalau terus mengingat kesalahan kalian berdua." Pram memotong. Pria itu menolak cerita masa lalu istrinya dibuka kembali. Sama saja mengorek luka lama yang sudah sembuh.


Ditya mengangguk. "Terima kasih."


"Baiklah aku permisi." Pram berpamitan sambil mengenakan kembali kacamata hitamnya, tersenyum sekilas sebelum meninggalkan restoran.



***


Di hari yang sama, Ditya yang memang sudah merencanakan banyak hal setelah mengetahui kehamilan Frolline, memboyong istrinya pulang ke Surabaya untuk minta restu dan mengabarkan kehamilan Frolline. Ia berharap daddy akan melunak dan menurunkan restunya setelah mendengar kabar bahagia ini.


Jujur saja, ia bisa saja membawa Frolline pergi seperti yang dilakukan Marisa. Namun sebagai putra tunggal Halim Hadinata, ia memiliki tanggung jawab lebih. Ia bukan hanya milik keluarganya. Ia bukan hanya milik Frolline, tetapi ia milik Halim Group. Daddy sudah terlalu tua untuk berada di perusahaan. Ia tidak bisa melepas semua tanggung jawabnya begitu saja.


Dalam penerbangan Jakarta-Surabaya, Frolline lebih memilih tidur. Sejak mengetahui kehamilannya, entah kenapa Ditya merasa Frolline tidak seperti biasanya. Dua hari ini, Ditya melihat sendiri tingkat kemanjaan istrinya meningkat. Bahkan sering mengeluh kelelahan. Kemarin, seharian Frolline memilih tidur di rumah dibanding mengurus perusahaan.


"Kamu baik-baik saja, Fro?" tanya Ditya setelah melihat mata yang biasanya berbinar saat menikmati perjalanan udara dengan jet mewah itu terpejam. Frolline memilih bersandar di pundaknya.


"Hmm ... aku lelah, Ko." Ucapan itu terdengar pelan. Wanita cantik dengan gaun selutut bermotif bunga itu terlihat memeluk erat Ditya.


"Hahaha ... kamu seharian hanya tiduran di kamar. Apa yang membuatmu lelah?" todong Ditya.


"Jangan berisik, Ko. Aku mau tidur lagi."


"Tidur di kamar saja, lebih nyaman." tawar Ditya sembari merapikan rambut pirang Frolline yang tergerai menutupi wajah.


"Hmmm ...." gumam Frolline menggelengkan kepala. Ekspresinya begitu lucu, manja dan menggemaskan.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2