Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 70 : Kekacauan yang sama


__ADS_3

Sepasang anak manusia itu sudah dimabuk hasrat, dilanda gairah. Keengganan Frolline setiap akan memulai, pada akhirnya luluh lantah saat sentuhan lembut Ditya menyerang sekujur tubuh indahnya. Usapan dan belaian lembut, kecupan dan ciuman meninggalkan jejak memerah di kulit mulus.


Desahan tertahan berganti jeritan kecil saat klimaks dicapai gadis manis itu dengan sempurna. Ditya masih berkutat dengan tubuh sang istri yang memabukan. Memainkan area inti yang membuat istrinya melayang ke awang-awang.


Tidak butuh waktu lama, laki-laki itu kembali mendengar pekik tertahan keluar dari bibir mungil istrinya. Kaki istrinya bertekuk menahan hasrat membuncah yang siap meledak.


“Keluarkan saja, Fro.” Laki-laki itu berbisik mesra. Wajah tampan itu sudah tertutup kabut gairah, mengabaikan semesta.


Ditya merasa sempurna saat istrinya berada di puncak berulang kali. Meski pendakian itu cukup terjal, laki-laki itu merasa bahagia. Bagaimana tidak, kulit punggungnya terasa nyeri terkelupas saat kuku-kuku panjang istrinya menancap di sana tanpa permisi. Belum lagi pundaknya berjejak gigi, akibat gigitan istrinya saat menerima hantaman kenikmatan bertubi-tubi.


Setelah merasa Frolline terpuaskan, barulah laki-laki itu mendapat gilirannya. Melakukan penyatuan, menyempurnakan apa yang mereka sudah lakukan sebelum ini. Desahan-desahan yang sebelumnya terdengar pelan kembali mendominasi, kecipak asmara bercampur deru napas, keduanya siap terbang bersama. Saling memeluk, bertukar peluh. Saling memuaskan, beradu rasa.


Ketika hentakan-hentakan itu kian nyata, diiringi alunan desahan bercampur erangan. Semuanya terdengar merdu di telinga dua insan yang sedang dimabuk cinta, dilanda banjir asmara. Suara-suara itu bak musik pengantar malam. Deru-deru napas saling memburu itu bagai irama drum, berdegup kencang memacu adrenalin keduanya.


Keduanya sudah bersiap lepas landas, saling memeluk dan melempar kecup. Akan tetapi, saat deru napas itu semakin tersengal, bunyi ketukan di pintu membuyarkan semua.


“Ko, ada yang mengetuk pintu.” Frolline menghentikan pergerakan suaminya.


Ditya memasang telinga, sejak tadi suara berisik di kamar mereka, menyamarkan suara dari luar.


Hening—


Ditya mengeleng, tersenyum memandang wajah cantik istrinya yang belum sepenuhnya terpuaskan.


Satu detik, dua detik, tiga detik, lima detik, tidak ada suara apa pun. Hanya sunyi menyapa dalam kegelapan malam.


Baru saja laki-laki itu akan memulai, menuntaskan apa yang sudah terlanjur dimulainya. Kembali Frolline protes.

__ADS_1


“Ko, serius. Aku mendengar suara ketukan di pintu.”


Laki-laki itu menajamkan kembali pendengarannya. Menunggu beberapa detik ... dan benar saja. Samar terdengar suara Matt memanggil. Mendayu-dayu pelan sekali.


“Matt ....” cicit Frolline, panik saat menyadari keadaannya. Melempar pandangan ke sekeliiling.


“Ko ....” panggilnya pelan. Menatap Ditya yang tidak kalah panik darinya. Suaminya meloncat turun dari atas tubuhnya, masih dengan peluh membanjiri meraih celana panjang dan memakainya asal.


Bahkan Ditya tidak sempat mengancing, hanya tertutup seadanya. Menatap istrinya dalam pose yang begitu menggoda, dengan tubuh memar kemerahan karena ulahnya, lengkap dengan kilap keringat membanjiri.


“Tutup tubuhmu, Fro! Sepertinya itu Matt.” Ditya meraih seprai hotel yang teronggok pasrah di kaki ranjang. Sembari tersenyum, membayangkan kegilaan yang mereka berdua lakukan sebelumnya, sampai seprai saja turun dari takhtanya. Menikmati kasta terendah bergabung dengan permadani bulu.


Ya, ketika logika terkalahkan oleh rasa, gairah menguasai keduanya, semua sudah tidak bisa berada di tempatnya. Bahkan gaun ratusan juta yang dikenakan Frolline selama di pesta, disimpannya dengan perlakuan khusus selama beberapa hari ini. Sekarang tinggal kenangan, bagai sampah tak bernilai. Taburan swarovski itu hanya tergeletak pasrah dan tak berdaya bersama debu, menghuni lantai.


Begitu pintu kamar itu terbuka, muncul Matt di ambang pintu dengan senyum khasnya. Menyodorkan sekantong besar pakaian dan barang-barang penting Ditya dan Frolline.


“Bos ....” Lidah Matt keluh, senyum itu menghilang saat menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada majikannya. Matt memandang Ditya dari ujung rambut sampai mata kaki. Bosnya tampil acak-acakan tanpa atasan. Bulir-bulir keringat masih menetes turun dari leher memberi jejak di dada bidang. Bekas gigitan memerah tampak jelas di pundak Ditya.


“Ma ... af, Bos. Aku tidak ....” Matt terbata. Perasaannya makin tidak enak saat mengintip sekilas kondisi di dalam kamar. Selimut bermekaran di lantai bergabung dengan pakaian yang ikut bertebaran di mana-mana. Bahkan Matt tanpa sengaja melihat segitiga bermuda milik istri majikannya ikut terjun bebas di tempat terendah, bergabung dengan kemeja Ditya.


“Gila! Kondisi kamar sama kacaunya dengan ballroom tempat pesta ulang tahun perusahaan. Parah! Setelah membuat kekacauan di pesta, bos masih sanggup bercinta dengan istrinya sampai begitu panasnya. Gila! Ini benar-benar gila!” Matt membatin.


“Masih ada yang ingin aku sampaikan, tetapi sebaiknya Bos tuntaskan saja dulu! Dari luar sini tidak terdengar apa-apa, asal Nyonya tidak berteriak kekencangan pas di puncak Rinjani,” ucap Matt, menyimpan tawanya saat menyadari kalau kedatangannya di saat yang tidak tepat.


Bola mata Ditya membulat sempurna, berbalik menatap istrinya. Frolline masih berbalut seprai hotel, merona malu-malu membalas tatapannya.


“Tunggu aku sebentar. Aku berpakaian dulu. Kamu tunggu di sini. Aku tidak bisa membiarkanmu masuk ke dalam, Matt. Istriku dalam keadaan sangat cantik dan menggoda.” Ditya berkata, tersenyum usil pada Matt.

__ADS_1


“Ya. Bos. Saya memaklumi.”


***


“Fro, aku harus menemui Matt sebentar di luar. Kamu tidak apa-apa, aku tinggal sendirian?” Tanya itu keluar dari bibir Ditya.


“Ya, Ko.” Frolline menjawab sembari mendekap erat seprai yang menutup tubuh polosnya.


“Melorot pun tidak apa-apa, Fro, kalau bersamaku. Koko tidak akan bangkrut. Melorot di tempat umum baru kerugian besar untukku, Fro,” goda Ditya, melihat seberapa erat istrinya mendekap seprai.


Gadis itu tersenyum malu-malu, tertunduk dengan rona pipi memerah bak delima.


“Nanti kita lanjutkan lagi, tetapi sekarang Koko masih ada urusan dengan Matt dulu.”


Frolline mengangguk.


“Tetap seperti ini, jangan kenakan pakaianmu dulu. Tunggu aku,” pinta Ditya. Mengecup bibir dan kening istrinya sekilas. Sebelum berjalan, laki-laki itu masih sempat menepuk pelan pipi istrinya.


Begitu sampai di luar, terlihat Matt bersandar di dinding dengan mata terpejam.


“Ada apa Matt?” tanya Ditya.


“Tuan Halim, masuk rumah sakit. Kalau sempat, luangkan waktu untuk menengoknya sebentar. Pernyataan dan pengunduran dirimu di pesta tadi, berpengaruh pada perusahaan. Begitu Bos meninggalkan ballroom suasana pesta kacau saat itu juga.” Matt bercerita.


“Tolong menjenguk daddy di rumah sakit. Itu pesan Nyonya Halim tadi di telepon.”


Ditya mengangguk.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2