
Ditya mengenggam tangan istrinya turun ke lobi. Wajah putra mahkota Halim Group itu masih saja datar, bahkan dia tidak menjawab sapaan karyawan yang menyapanya silih berganti. Hanya Frolline yang sejak tadi menebar senyuman.
Begitu keluar dari pintu, Han sudah siap dengan Mercedes E-Class hitam mengkilap. Lelaki yang umurnya tidak terlalu jauh dari Matt dan Ditya itu menyunggingkan senyuman pada kedua majikannya. Dengan sopan membuka pintu khusus untuk sang nyonya. Ditya sendiri mengitari mobil sembari membuka kancing jasnya, masuk dari sisi lain.
“Kita jalan, Han!” perintah Ditya.
Tangan Matt baru menggapai gagang pintu, tetapi dia harus menelan kecewa. Mobil Ditya sudah terlanjur maju meninggalkannya sendirian. Tidak memberinya kesempatan masuk ke dalam, menemani tuannya seperti yang biasa dilakukan.
“Ckckckck.” Matt berdecak kesal. Terpaksa lelaki itu menaiki mobil yang dikemudikan Zoe.
“Bos kenapa, Matt?” tanya Zoe, saat rekan seprofesinya itu sudah duduk di sebelah.
“Biasa, istrinya yang datang bulan, suaminya yang sensi!” gerutu Matt, masih menyimpan kesal. Bukannya dia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi tidak menyangka efek yang berimbas kepadanya.
Dulu sebelum menikah, setiap bad mood Ditya akan menumpahkannya ke minuman, tetapi sejak menikah majikannya itu sudah tidak bisa melakukannya. Dan akhirnya, sebagai asisten, dia yang menjadi pelampiasan.
“Aku serius, Matt!” Zoe mengomel.
“Bos itu kalau kerja tidak bisa setengah-setengah. Dia paling tidak mau menunda kerjaan.”
“Lalu?” tanya Zoe heran.
“Sesuai perintah Bos Nyonya, berkas-berkasnya Pak Bos disuruh beresin. Aku kan hanya bisa menurut, Zoe. Sekarang, coba aku tanya padamu, di antara Bos Nyonya sama Pak Bos, mana yang lebih didengar perintahnya?” tanya Matt.
“Aku kerjanya dengan Bos Nyonya, otomatis pasti mengikuti perintah Bos Nyonya. Beda denganmu Matt,” sahut Zoe.
“Sama Zoe. Bagaimana aku bisa membantah Bos Nyonya. Lah, Pak Bos saja kalau sama Bos Nyonya pasti mengkerut. Masa aku yang hanya cecurutnya Bos, mau membantah,” jelas Matt, memberi gambaran.
Di tengah kekesalan Matt, tiba-tiba ponsel di saku kemejanya berdering. Wajah kesal yang tadi mendominasi, berganti dengan senyum manis memancarkan aura positif di wajah.
“Halo Ran-Ran,” sapa Matt, sontak membuat Zoe mencebikan bibir. Mual di lambungnya bergejolak seketika, melihat suara dan wajah Matt yang tiba-tiba jadi semanis gulali.
“Teo, lagi dimana?” tanya Rania dari seberang.
“Teo lagi di jalan, ini mau pulang ke rumah,” sahut Matt, berbalik menghadap jendela, berbicara pelan supaya suaranya tidak terdengar Zoe.
“Teo...” Zoe mengulang, bingung sendiri dengan kata Teo yang disebut Matt.
“Ran-Ran sudah pulang sekolah?” tanya Matt lagi. Lupa hari ini sudah menjelang sore.
“Ini sudah sore Teo, mana ada lagi sekolah yang buka. Sebentar lagi juga daddy pulang kerja,” cerita Rania.
__ADS_1
“Daddy macan masih suka marah-marah?” tanya Matt, mengingat setiap kali ketahuan daddy Rania, dia selalu mendapat omelan bahkan ancaman.
“Masih Teo. Bahkan semalam, daddy sama mommy bertengkar gara-gara Rania,” cerita gadis manis dari seberang.
“Bagaimana bisa? Terus siap yang menang gelutnya, Ran-Ran?” tanya Matt usil.
“Mommy lah, daddy cuma menang suara sama teriakannya. Kalau sudah dipelototin mommy, Daddy kayak ban mobil keabisan angin. Menciut kempes, Teo,” sahut Rania, sontak membuat Matt bersorak-sorai, tanpa berani bersuara.
“Yes!Yes!” ucap Matt, tanpa suara mengepalkan tangannya ke udara.
Zoe hanya bisa geleng kepala melihat kegilaan Matt saat sudah berhadapan dengan Rania. Gadis SMA yang dipacarinya diam-diam. Matt seperti orang yang berbeda. Kembali jadi abg alay bin lebay.
“Memang bertengkar karena apa?” tanya Matt penasaran.
“Ingat kan, waktu Teo jemput Ran-Ran di sekolah. Paginya Ran-Ran sudah izin ke mommy. Nah belakangan ketauan daddy, jadi mereka bertengkar,” jelas Rania.
“Terus daddy macan keok seketika?” tanya Matt lagi. Dia paling senang mendengar berita kekalahan daddy Rania. Ingin rasanya berteriak kegirangan.
“Iya Teo. Daddy dibawain kaca sama mommy, disuruh ngaca. Kata mommy, dulu waktu mommy dinikahi daddy juga masih SMA. Daddy malahan lebih tua dari Teo sekarang, sudah duda lagi.”
“Terus?”
“Mommy dinikahi daddy itu, masih seumuran Ran-Ran. Kalau pilek, ngelap ingusnya masih pakai lengan baju, belum pakai tisu. Begitu cerita mommy,” ucap Rania dari seberang.
“Oh ya Ran, nanti sambung lagi ya. Teo sudah mau sampai rumah,” putus Matt.
Begitu sambungan ponsel terputus, Zoe langsung bersuara. Sejak tadi dia heran dengan Teo yang disebut-sebut.
“Matt, Teo siapa? Jangan katakan kalau kamu mengaku ke anak ingusan itu namamu Teo,” tanya Zoe.
“Panggilan sayangnya Ran-Ran. Teo itu dari Matteo. Tidak mungkin juga aku mengaku Rahmatt Hidayat. Umur boleh tua, tetapi nama harus mengikuti perkembangan zaman.” Matt membela diri.
***
Ditya masuk ke penthouse dengan langkah gontai. Lelaki itu langsung menjatuhkan tubuhnya berbaring di sofa ruang tamu. Mereka tidak jadi makan di luar, istrinya berubah pikiran. Frolline memilih memesan makanan lewat aplikasi online, jadi secepatnya mereka bisa tiba di rumah.
“Ko, kalau drivernya menghubungi, Koko ambil makanan ke lobi ya,” pinta Frolline, berdiri di samping sofa tempat suaminya berbaring.
“Memang kamu mau kemana, Fro?” tanya Ditya membuka mata.
“Mau mandi,” jawab Frolline, menyerahkan ponselnya ke tangan Ditya.
__ADS_1
Mendengar kata mandi, otak kotor Ditya langsung bereaksi. Bukan ponsel, tetapi lelaki itu sudah meraih tangan istrinya dan menariknya jatuh menimpa tubuhnya. Secepat kilat, sebelum Frolline memberontak, Ditya sudah mengunci pinggang ramping Frolline dengan kedua tangan.
“Lepasin Ko,” protes Frolline, tiba tiba sudah berada dalam pelukan suaminya.
“Ayo kita mandi bersama. Kita baru menikah, tetapi rasanya tidak seperti pengantin baru lainnya,” protes Ditya. Belakangan hubungan suami istri memburuk sejak sang daddy tidak menurunkan restu untuk pernikahan mereka.
“Kalau begini caranya, kapan akan jadinya Ditya Halim Hadinata Junior,” ucap Ditya menggoda.
Wajah Frolline memerah. Dia cukup mengerti arah pembicaraan suaminya.
“Ayo Ko, lepaskan. Nanti asistenmu tiba-tiba masuk,” ucap Frolline, masih berusaha berontak dari dekapan erat suaminya.
“Tidak akan. Matt sedang falling in love. Dia tidak akan menganggu kita,” bisik Ditya, pelan. Sengaja menghembuskan nafas kasar di telinga istrinya.
“Jam segini biasanya dia sudah kembali ke apartemennya. Menunggu instruksi baru berani masuk ke tempat kita,” lanjut Ditya.
Frolline masih berusaha melepaskan diri dari pelukan erat suaminya.
“Ayo, Fro mau disini apa di kamar mandi?” tawar Ditya, kembali membuat pipi istrinya merona.
“Di pinggir swimming pool juga boleh. Sensasinya berbeda,” ucap Ditya asal. Tawanya hampir pecah saat melihat rona malu-malu istrinya.
“KO!!” pekik Frolline, semakin dibuat kesal.
“Iya, Sayang. Mau dimana jadinya?” goda Ditya kembali.
“Aku tidak mau,” tolak Frolline.
“Mana boleh tidak mau. Tidak ada aturannya seorang istri menolak suaminya,” seringai licik terlihat jelas di wajah Ditya. Lelaki itu sudah bersiap membuka kancing kemeja istrinya.
“Tidak!” tolak Frolline, mengenggam erat pakaiannya.
“Tidak?” tanya Ditya memastikan. Raut wajahnya mengerikan, terlihat siap menerkam.
“Mak-maksudku, tidak disini,” jelas Frolline, terbata. Dia sudah bisa membaca, tidak akan menang melawan Ditya kali ini.
“Ayo kalau begitu kita ke, kamar saja,” ajak Ditya. Sekali sentak, dia sudah menggendong istrinya, membawa Frolline ke kamar. Mengunci istrinya di atas tempat tidur.
***
__ADS_1
TBC